Sebuah Perjalanan Panjang

An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang…

Hari ini Minggu, tanggal 5 September 2010 atau merupakan hari ke 26 dari bulan Ramadlan 1431 H. Bulan yang sangat istimewa, karena dibulan itulah saya dilahirkan sehingga namanyapun Ahmad Ramadlan.

Pada hari ini saya mencoba membuat Blog, sebuah niatan lama yang baru terealisasi sekarang. Dulu pernah register untuk sebuah akun Blog, yang karena saking lamanya, nama website-nyapun lupa. Kasihan website-nya, sudah disampahi dengan akun yang gak bermanfaat, hehehe…

Waktu bikin Blog ini di Google, pada tahap ‘Beri Nama Blog Anda’, saya agak tertegun lama, bingung atas pertanyaan ini, karena harus memberi nama atas Blog saya. Saya tinggalkan taraweh dulu, dan pada saat Shalat Taraweh (yang berarti Shalat Tarawehnya kurang khusuk nih, maafkan ya Allah!) saya teringat untuk memberi nama Odyssey, perjalanan panjang, dan biar rada sastra dikit diberi label An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Sengaja pakai bahasa Inggris, karena lebih representatif. Representatif maksudnya, cukup dengan satu kata mempunyai makna yang lebih.

Nama Odyssey awalnya saya tidak tahu artinya. Pertama melihat dari sebuah seri mobil buatan Honda; Odyssey. Karena bentuknya pas dihati, tergelitik untuk mencari apa artinya, saya coba buka di kamus dan artinya adalah: Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Saya kagum pada orang Honda yang telah memberi nama mobil itu dengan Odyssey, karena bentuk mobil itu yang panjang (tetapi tidak terlalu panjang juga), kokoh dan stabil yang sengaja diciptakan untuk  siap  menempuh sebuah perjalanan panjang penuh makna dengan kenyamanan dan rasa aman.

Dan, demikianlah maksud dan keinginan Blog ini dibuat. Blog ini akan bercerita ‘ngalor-ngidul’ gak tentu arah yang merupakan mosaik dari perjalanan saya. Perjalanan yang perlu saya tuliskan karena saya rasa sangat bermanfaat, utamanya untuk saya sendiri. Kalaupun kemudian ada yang mengambil manfaat dari Blog ini, Alhamdulillah!

Ini alamat email saya: ahmadramadlan@yahoo.com

Selamat menikmati Blog saya!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 5 Komentar

Musholla di Terminal 3 Ultimate…

Bangunan Terminal 3 Ultimate di Bandara Soekarno Hatta memang sangat mengagumkan. Terlihat megah dan menyenangkan. Meski masih terus didalam penyelesaian, bangunan Terminal yang didirikan sejak pemerintahan SBY, sudah memperlihatkan bentuknya yang megah.

Musholla sebagai salah satu fasilitas umum, juga menampilkan keindahannya. Letaknya ada di beberapa tempat dan semuanya terletak ditempat yang strategis. Yang biasa saya datangi adalah di sekitar area check in dan didalam lounge Garuda Indonesia (khusus untuk Gold & Platinum GFF dan Business Class).

Untuk yang terletak di sekitar area check in, berjejer dengan toilet dan dekat dengan counter Roti O dan Starbucks, yang merupakan jalan ke arah boarding lounge. Semua musholla terbagi terpisah, untuk Pria dan Wanita.

Tempatnya benar-benar nyaman. Ada penyimpanan sandal, tempat wudhu yang bagus, interior yang menawan dan juga karpet yang tebal. Membuat betah berlama-lama.

Pengunjungnya juga lumayan banyak, kunjungan terakhir pada tanggal 8 Mei yang lalu, suara air wudhu gak henti-hentinya mengalir dikucurkan dari kran yang menandakan banyaknya pengunjung yang memanfaatkan meski saat itu bukan waktu shalat fardhu (sekitar jam 0800 pagi).

Berikut gambar-gambarnya. Oh ya, ada juga sertifikat arah kiblat dari Kementrian Agama mengenai kalibrasi arah kiblat dari musholla itu. Baru tahu kalo kiblat ternyata ada sertifikasinya, hehehe, bagus juga untuk menjamin keakuratan.

 

Dipublikasi di Perjalanan | Tag , | Meninggalkan komentar

Semangatnya Jamaah Tabligh…

jamaah-tabligh-facebook

Gambar diambil dari: kabar24.bisnis.com

Tak terasa bulan Ramadlan mau memasuki puluhan hari terakhir Jika Ramadlan tahun ini adalah tahun 1438 H, maka saya yang lahir pada 8 Ramadlan 1391 H, telah mengalami 47 kali bulan puasa. Dan puasa tahun yang lalu, adalah salah satu puasa saya yang berkesan.

Berkesan karena saya bisa mengenal lebih dekat mengenai Jamaah Tabligh atau Jamaah Dakwah. Beberapa hari ikut itikaf di Masjid pada waktu 10 hari terakhir bersama mereka di beberapa masjid di Kota Bogor. Dari situlah saya mengenal mereka lebih jauh.

Perkenalan saya dengan saudara-saudara Jamaah Tabligh, pertama kali waktu SD. Saya tinggal di Kamal – Madura. Pada waktu itu, kira-kira 30 menit menjelang shalat Ashar, ada dua orang berpakaian putih, asing, menghampiri saya. Dengan wajah ramah, mereka mendatangi tiap rumah di gang rumah saya. Hanya satu pesan yang disampaikan, mengajak kita untuk shalat berjamaah di masjid yang gak jauh dari rumah.

Saya merasa aneh, ada orang ngajak shalat ke Masjid, tidak pernah ada ajakan seperti itu sebelumnya!  Ada rasa ‘digurui’, kok sesama muslim masih ajak-ajak sih, kan juga udah tahu kalo shalat jemaah lebih baik, tapi kan selama ini ya suka-suka saja, mau shalat jemaah atau shalat sendirian ya silahkan, gak ada paksaan, dan kali ini saya merasa sedikit ‘dipaksa’. Saya mengiyakan, dan ‘terpaksa’-lah waktu itu saya berangkat ke masjid. Bukan karena termotivasi ibadah berjemaah lebih baik, tapi karena sudah kadung ‘janji’ akan datang ke masjid ke dua orang yang ngajak tadi.

Sesudahnya, saya tidak ada minat untuk mengetahui lebih jauh mengenai Jemaah Tabligh. Saya hanya sering melihat: jika ada beberapa orang yang jalan kaki, pake baju putih, membawa ransel dan kadang juga peralatan kayak mau kemping, itulah Jamaah Tabligh! Kesan dari saya: kok cari sengsara ya, banyak mobil tapi malah berjalan kaki, bawa kompor segala, kan tinggal beli di warung kalo mau makan, intinya menurut saya: anti kemajuan dus juga pasti anti keterbukaan.

Waktu kuliah beberapa kali mendengar mengenai Jamaah Tabligh ini. Beberapa teman ikutan Jamaah Tabligh ini, dan anehnya, kebanyakan yang ikut Jamaah Tabligh ini adalah anak-anak yang bandel. Sebagai mahasiswa yang merasa sok pintar (padahal bodoh, hehehe) saya menganalisa kalo metamorfosa dari teman-teman ini hanya sesaat. Mereka yang bandel serasa menemukan oase kesejukan dengan dakwah model ini, dan biasanya hanya sesaat disamping karena ingin coba-coba saja.

Salah satu yang ikut adalah sahabat saya, dia pernah saya marahi karena nakal bawa teman perempuan ke kamarnya, eh entah kena apa dia bisa jadi berubah, ikutan Jamaah Tabligh ini, hadehh, nih pasti sudah dicuci otaknya, dan juga sikapnya yang labil, sehingga mudah dimasuki dogma-dogma seperti itu, pikirku. Sedang saya, sudah merasa cukup dapat bekal agama dari orang tua (wuih sombongnya!!), dan juga sudah diwanti-wanti sama ortu agar jangan ikut-ikutan ajaran yang gak jelas.

Satu yang membekas dalam pikiran saya, kok aneh ya, bisa berubah gitu, dari bandel jadi alim mendadak!!

Lama kemudian, saya mendengar beberapa saudara jauh ikutan kelompok Jamaah Tabligh ini, kesannya masih tetap miring, sering meninggalkan keluarga untuk kegiatan berdakwah! Rumornya, kenapa jauh-jauh berdakwah tetapi keluarga yang ditinggalkan malah telantar?!?

Lebih intens berhubungan dengan anggota Jamaah Tabligh ketika berhaji tahun 2013. Saya memperoleh kesan yang lebih positif dibandingkan dengan yang sebelum-sebelumnya. Waktu saya duduk di dalam Masjid Nabawi, ada seorang anak muda mendatangi saya. Awalnya ngobrol biasa saja, basa-basi, dari mana, kerjaannya apa, gimana keluarganya dan lainnya. Terus kemudian ngobrol lebih spesifik mengenai ibadah haji. Dia dari Yaman dan sedang kuliah di Madinah, namanya Hamzah. Dia menyampaikan ingin membantu para jamaah lain untuk pelaksanaan ibadahnya baik di Madinah maupun Makkah. Dia menyampaikan siap mendampingi kita apabila ada hal yang tidak dimengerti. Dan kemudian iapun memberikan nama dan nomer hapenya juga tempat dimana biasanya berkumpul.

Dan, ia kemudian aktif menghubungi saya. Tidak memaksa dan tulus untuk membantu. Saya juga ketemu dengan kelompoknya, dan  saya ngajak teman-teman untuk ikutan ngobrol dan berdiskusi. Haji memang merupakan tempat untuk bersilaturahmi antar bangsa, dan momen itu saya manfaatkan penuh.

Saya dan teman-teman juga merasa terbantu, mereka menerangkan detail ibadah haji dan juga tentang hal lain mengenai keseharian. Kita diajak juga ke markas-nya. Disebuah tempat di Madinah, sekitar 10 menit dari Masjid Nabawi , diajak sarapan bareng dan ngobrol-ngobrol.

Untungnya diantara teman kita satu rombongan ada yang fasih berbahasa Arab, jadi komunikasi lebih lancar. Kalo saya berkomunikasi dengan bahasa Inggris, tetapi mereka tidak sepenuhnya mengerti, hanya satu dua orang saja yang lumayan fasih ngomong Inggris.

Sungguh, ini termasuk makan pagi yang istimewa dan tidak akan saya lupakan dalam hidup saya. Makanan ala arab, ada roti dan gulai kambing, kita makan bareng-bareng dalam satu talam. Satu talam dikerubutin 3 – 5 orang. Asyik juga.

Salah satu yang dianggap ketua rombongan dari mereka menyampaikan, apabila ingin ada layanan bimbingan ibadah haji, mereka juga bisa mengirim anggotanya ke kamar hotel. Awalnya bingung, kok kamar hotel, privacy banget, emang mau ngapain?!? Ternyata ada alasannya. Kerajaan Arab Saudi sering mengadakan razia apabila ada kajian-kajian keagamaan yang tidak resmi dari Kerajaan, untuk mencegah adanya aliran-aliran sesat. Trus apakah Jamaah Tabligh termasuk sesat, gak juga, Saudi itu termasuk yang kaku dalam menetapkan aturan, dan sering gak babibu lagi menanyakan lebih detail. Saya pikir langkah preventif ini juga perlu, mengingat jumlah jemaah haji yang berjuta dari ratusan negara, sehingga kadang tidak sempat lagi menelaah satu persatu.

Akhirnya kami sepakat mereka akan kirimkan satu orang ustadz, dan alhamdulillah animo teman-teman lumayan juga, tidak jadi di kamar, tapi di lorong gang antar kamar mengingat jumlah pesertanya lumayan banyak. Dan yang diajarkan gak aneh-aneh, kita dapat tambahan ilmu mengenai sejarah kota dan tempat ziarah, hal yang biasanya tidak kita dapatkan di manasik haji.

Jumlah mereka di tanah suci (Mekkah dan Madinah) juga lumayan banyak. Pada waktu saya di Mekkah, saya pernah disapa salah satu dari mereka. Mereka menyapa melihat saya yang wajah Indonesia, dan menyampaikan akan berkunjung ke Indonesia dalam rangkaian ibadah tabligh. Wah, saya melihat antusiasnya yang terpancar seakan pengin cepat-cepat datang ke Indonesia, padahal usianya bisa dibilang tidak muda.

Kesan saya mengenai mereka juga mulai berubah. Ingin menjadikan dakwah sebagai ladang amalnya, berdiaspora keliling dunia untuk dakwah, anggotanya juga sangat heterogen dari segi usia maupun status sosialnya.

Sampai sekarang, saya tetap berkomunikasi dengan Hamzah, walaupun sekedar kirim WA untuk say hello.

Di tempat tinggal Bogor, ada satu sahabat saya yang aktif banget di Jamaah Tabligh. Metamorfosa-nya juga luar biasa, saya kenal dia sebelumnya karena sering ditawarin untuk ikut Amway, MLM dari Amerika. Kegigihannya patut diacungi jempol pada waktu dia di Amway, beragam materi promosi diberikan ke saya, buku-buku, leaflet dan juga CD. Dan itupun saya tidak terpengaruh, hehehe.

Dari Amway yang sangat hedonis, kemudian tiba-tiba ia tampil berjanggut dan memakai gamis. Pada waktu sudah berubah, saya juga tetap berkomunikasi dengan dia. Pembicaraannya sudah pasti berubah topik, yang sebelumnya ngajak ke pertemuan-pertemuan MLM, sekarang ngajak ke pengajian.

Ok-lah saya turutin, apa salahnya sih ikut pengajian, dapat pahala, hehehe. Saya beberapa kali ikut pengajiannya, dan semakin memahami gerakan dakwah mereka. Betapa mereka sangat bergairah untuk berdakwah karena itu merupakan ladang amal dan jihad fisabilillah, juga sekaligus untuk mengontrol diri sendiri. Saya semakin salut. Setelah pengajian kemudian ada makan bersama, pakai nampan, dan satu nampan bisa sekitar 3 – 5 orang yang makan disitu, terus terang untuk yang kebiasaan ini saya masih belum bisa beradaptasi, rasanya agak risih sih. Tapi anehnya makan jadi nikmat, karena rame-rame dan sambil ngobrol itu.

Naah, kemudian saya di ajak untuk ikut itikaf di 10 malam terakhir. Itu terjadi pada waktu bulan puasa tahun 2015 yang lalu. Itulah salah satu itikaf yang berkesan buat saya. Berkesan bukan hanya karena suasananya yang baru tetapi juga dari kualitas ibadahnya yang benar-benar beda.

Itikaf 10 malam terakhir saya biasanya tidak marathon, hanya pilih yang ganjil saja, sedangkan mereka biasanya full 10 hari. Mereka biasanya juga pindah-pindah tempat, saya 2 kali ikutan di masjid yang berbeda.

Itikaf yang pertama waktu itu di sebuah masjid komplek yang terletak ditengah-tengah perumahan padat penduduk di Bogor. Oleh sahabat, saya diperkenalkan dengan ketua rombongan (Amir Shaf istilahnya) yang membuat saya kaget luar biasa.

Waktu saya datang memang sudah agak malam, saya lihat ada anak muda bersurban, dan kupingnya ada bekas tindik yang besar. Kemudian saya shalat tahiyatul masjid, dan sesudahnya ngaji.

Sesudah ngaji, anak muda bersurban masih berdzikir dengan khusuk. Sementara saya buka-buka handphone. Sesudah dia selesai, kemudian saya diperkenalkan dengannya, ternyata dia adalah Amir Shaf untuk kegiatan itikaf ini. Berhadapan dengannya bikin merinding. Tangannya penuh tatto kelihatan dari sela-sela baju lengan panjangnya. Melihat penuhnya tatto sampai ketangan, saya pastikan sekujur tubuhnya juga penuh tatto, karena dilehernya juga ada tato. Wow, ternyata dia Amir Shaf-nya.

Badan yang penuh tatto, kuping yang berlubang, persis anak punk seperti dijalanan, cuman yang ini pakai jubah dan surban. Saya membayangkan proses metamorfosanya, kok bisa ya?!? Itulah kalo sudah mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

Waktu berbicara, suaranya agak cadel. Orangnya bicara seperlunya saja, dan ada kharisma tersembunyi karena rata-rata orang-orang yang berbicara dengan dia selalu mendengarkan apa yang dikatakan, entah antara kharisma atau keheranan mungkin, kok bisanya ada anak punk bersurban?!? Hehehe…

Pada waktu itikaf, setelah larut malam, mereka tidur, dan sekitar pukul setengah 3 pagi sudah dibangunkan lagi. Untuk shalat tahajud, dan juga untuk mempersiapkan makam sahur. Makan sahur ala kadarnya, hasil masakan mereka sendiri. Ada yang bertugas untuk memasak, ada yang bertugas menyajikan, dan saya sebagai tamu bertugas untuk makan saja, hehehe.

Setelah sahur, siap-siap untuk shalat Subuh. Setelah Subuh mereka isi dengan pengajian, mereka meminta kepada pengurus Masjid untuk mengisinya, dan bila tidak ada kegiatan rutin pengajian, mereka yang akan mengisinya. Kebetulan waktu itu Amir Shaf bertatto yang mengisi kultumnya. Orang-orang terpesona mendengarkan ceramah singkatnya, tentang keutamaan shalat jemaah. Mungkin sama seperti saya, antara terpesona, heran dan juga malu pada diri sendiri. Nih ada preman insyaf yang lagi ngisi ceramah, isinya bernas, dengan dalil-dalil agama yang fasih walau suaranya agak cadel bawaan lahir. Malu, karena preman bertato bisa insyaf, sedang para pendengar, meski kelihatan alim, merasa belum sempurna ibadahnya.

Setelah acara kultum, kemudian mereka ngaji, tadarus, dan sesudahnya membentuk lingkaran rapat koordinasi sebentar.

Rapat koordinasinya singkat dan berisi. Secara bergiliran ada yang ditugasin untuk memimpin rapat harian. Dan sesudahnya, setiap orang diberikan giliran untuk bicara. Yang dibicarakan, apa yang akan mereka lakukan pada hari ini. Ada yang menyampaikan target baca Al Qurannya, ada juga yang menyampaikan telah mengajak sekian orang untuk shalat berjamaah, ada juga yang melaporkan telah diskusi dengan beberapa masyarakat sekitar mengenai dakwah, ada yang melaporkan untuk diminta mengisi ceramah di suatu tempat. Dan terakhir, ada laporan mengenai kas keuangan mereka, kemudian kalo kurang minta sumbangan ala kadarnya.

Pada waktu ada kesempatan ngobrol dengan mereka, terungkap mereka mempunyai beragam profesi. Ada yang PNS, polisi, karyawan swasta, wiraswasta dan juga pelajar SMA maupun kuliah. Mereka bukan orang-orang pengangguran lho, sesuatu yang saya tuduhkan pada awalnya! Bahkan banyak nama pesohor yang ikutan seperti Anton Bahrul Alam (Jenderal Purnawirawan Polri), Derry Sulaiman dan Sakti ex SO7, dua musisi tersebut juga Jamaah Tabligh.

Saling bercerita mengenai kegiatan dakwah mereka. Biasanya dalam sebulan mereka mempunyai target untuk ‘keluar’ atau khuruj selama 3 hari. Atau dengan prosentase, 10% dari waktu mereka dikhususkan untuk dakwah. Tingkatan yang lebih besar lagi apabila mereka melakukan kegiatan dakwah selama 40 hari penuh, kemudian 4 bulan penuh, dan tingkatan tertinggi apabila mereka melakukan dakwah selama 1 tahun penuh secara terus menerus. Selama mereka melakukan dakwah, mereka benar-benar berusaha konsentrasi ke dakwah, termasuk seminimal mungkin kontak dengan ‘dunia luar’ seperti bisnis ataupun keluarga. Benar-benar untuk dakwah!

Mereka melaksanakan dakwah dengan penuh gairah tanpa harus memaksa. Sering mereka punya pengalaman ditolak untuk menginap disatu masjid, ataupun tidak diijinkan masuk didalam satu lingkungan. Bila ditolak, mereka gak akan memaksa, akan cari tempat lain yang menerimanya, karena mereka merasa, kewajiban mereka hanyalah menyampaikan, diterima tidaknya, itu adalah kuasa Allah SWT.

Ada beberapa hal yang mereka anggap ‘tabu’ untuk dibicarakan atau dilakukan. Mereka tabu untuk berbicara yang khilafiyah didalam agama karena jamaahnya beragam, tabu berbicara tentang politik dan memperdebatkannya, tabu berbicara mengenai jabatan seseorang dan tabu meminta sumbangan dari masyarakat.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat (jemaah) yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

QS Al Imran 104

Itulah salah satu dalil agama yang dijadikan pegangan oleh mereka. Umat islam pendahulu pada jaman rasul adalah para pendakwah. Mereka yang tinggal di Makkah dan Madinah menyebar keseluruh penjuru dunia untuk menyebarkan Islam.

Pahala yang tinggi untuk beribadah di Makkah dan Madinah, tidak menyurutkan para sahabat rasul untuk berdakwah diseluruh penjuru dunia. Itu berarti bahwa dakwah ke seluruh penjuru dunia mempunyai derajat tersendiri di sisi Allah SWT. Nabi Muhammad SAW bersabda,“Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1.000 salat di masjid lainnya selain Masjidilharam. Salat di Masjidilharam lebih utama daripada 100.000 salat di masjid lainnya.”

Saya merasa iri dengan mereka. Dengan semangat yang tinggi menyebarkan kebajikan ke semesta, meninggalkan jejak kebaikan yang menjadi amal jariah.

Menjelang 10 hari terakhir di bulan Ramadlan 1438 H, kenangan itikaf yang penuh makna lalu kembali muncul…

Dipublikasi di Opini | Tag , , | Meninggalkan komentar

Diabetes…

Kayu Manis

Bagi saya, diabetes ini adalah momok. Sudah jelas dari garis keturunan kalo Ibu saya mengidap diabetes, yang artinya secara ilmiah, saya mempunyai peluang untuk mengidap diabetes lebih besar dari orang lain yang tidak mempunyai garis keturunan diabetes.

Sayapun menjaganya, agar penyakit itu menjauh dari saya. Sejak usia 35 tahun, saya sudah berhenti minum soft drink, padahal dulunya maniak soft drink, Coca Cola dan Sprite! Juga, sudah sangat jarang minum yang manis-manis. Kalo habis nge-bakso, mintanya bukan lagi Es Campur, tapi cukup Teh Tawar Panas…

Dan lumayan berhasil, setiap di periksa gula darah, baik yang puasa maupun 2 jam setelah makan, semuanya normal, dibawah 160 – 200. Alhamdulillah…

Hingga suatu hari kemudian, saya periksa di Klinik Perusahaan, untuk gula darah puasa 172, dan untuk gula darah 2 jam sesudah makan, diatas 270, wow!!! Saya panik, lemas dan juga jadi terbayang masa depan yang suram.

Terbayang kalo diabetes ini akan terus bereskalasi, meningkat, dan menghancurkan organ-organ tubuh yang lain secara perlahan. Ujung-ujungnya, kualitas hidup di sisa umur yang buruk, siapa yang gak sedih membayangkan masa tua dengan luka diabetes yang gak sembuh-sembuh, atau mata yang rabun, atau si buyung yang gak bisa berdiri (hadeh, kok malah yang ini, hehehe), atau stroke di kursi roda, atau yang lainnya. Semua itu bisa saja terjadi, karena memang diabetes merupakan penyakit yang menahun dan akan menyerang organ tubuh yang lain…

Saya tercenung, tidak ada semangat hidup, dan ‘sedikit’ menggugat pada Tuhan, kok ya tega-teganya memberikan penyakit ini pada saya…

Hingga suatu waktu, Allah SWT yang Maha Membolak-balikkan kalbu, memberikan kesadaran kepada saya:

Bahwa kematian adalah suatu yang pasti di dunia ini. Semua orang akan mengalaminya. Tanpa atau dengan penyakit, dan bisa terjadi kapan saja! Okay, katakanlah saya tidak mengidap diabetes, bisa saja saya mati karena tertabrak, tersambar petir, jatuh, jadi korban gempa bumi atau yang lainnya yang datang tiba-tiba tanpa peringatan terlebih dahulu!! Sama saja kan!

Bahkan kalo dipikir-pikir, diabetes ini seolah-oleh blessing dari Allah kepada saya. Sebuah peringatan dini, untuk mempersiapkan bekal ke akhirat kelak dan menjadi orang yang lebih memberikan manfaat lagi.

Bila anda mahasiswa sebuah perguruan tinggi, pasti akan lebih senang kepada dosen yang memberikan info kapan akan ada ujian daripada dosen yang sering mengadakan ujian dadakan. Demikian juga dengan kehidupan, Allah seakan memberikan informasi, bahwa waktumu semakin habis, banyaklah mengingat (dzikir) dan jangan lalai, perbanyaklah memberi manfaat dan siapkan amal jariahmu untuk menjadi pohon pahala ketika dirimu sudah tiada.

Saya merasakan, peringatan Allah adalah rahmad-Nya, berbentuk diabetes yang secara halus dan kasih memberikan peringatan kepada saya.

Yang lainnya, diabetes saya jadi terkontrol. Saya banyak mencari buku-buku mengenai diabetes, mengubah pola hidup dan berusaha agar diabetes ini tidak semakin menggila.

Diabetes saya ternyata masih bisa dikendalikan dengan baik. Dengan mengubah pola makan, minum suplemen dan juga obat-obatan herbal, ternyata kadar gula masih bisa ditekan dalam batas normal. Alhamdulillah.

Saya semakin mengurangi makan karbohidrat, menyingkirkan gula dalam setiap minuman, diusahakan berolahraga dan banyak berdzikir untuk pikiran yang lebih tenang. Semoga bisa istiqomah menjalaninya.

Catatan:

Ada resep dengan menggunakan ‘Kayu Manis’ untuk mengontrol kadar gula darah. Resep ini manjur banget, bagi anda yang mempunyai masalah diabetes, bisa mencobanya!

Dipublikasi di Tips dan Trik, Uncategorized | Tag , , | 3 Komentar

Made in China…

tembok-besar-china-1780x390

Kenapa Tembok China dimasukkan sebagai tujuh keajaiban dunia? Karena Tembok China satu-satunya produk China yang awet dan dapat bertahan lebih dari satu bulan!

Hehehehe, itulah anekdot internasional, bukan hanya di Indonesia. Sarkastis tapi rasanya benar!

Produk China terkenal sebagai produk KW dan imitasi dari produk berkualitas dan bermerk tetapi dengan mutu yang lebih rendah. Walau begitu, untuk Indonesia yang mempunyai pendapatan perkapita rendah, harga dari produk China yang murah, lebih menjadi pertimbangan daripada kualitas, dan produk China-pun membanjiri Indonesia!!

Saya sering antar istri saya belanja di Thamrin City. Lokasinya strategis, harganya lebih mahal sedikit dari Tanah Abang, tetapi tempatnya lebih nyaman.

Untuk membunuh kebosanan nungguin istri yang dengan semangat dan tak kenal lelah mencari model dan harga yang sesuai, saya sering ngobrol dengan penjaga-penjaga toko disekitarnya. Dan, kebanyakan, mereka mengatkaan banyaknya produk yang berasal dari China. Bahkan Batik (kain batik cetak) yang diklaim merupakan warisan adiluhung nenek moyang bangsa Indonesia, ternyata juga banyak buatan China. Taplak meja, selimut, peralatan umrah dan haji, sepatu dan sandal, baju anak-anak sampai dewasa, jilbab juga banyak yang dibuat di China.

Sebagai wujud dari salah satu patriotisme ekonomi saya, kadang saya tanyain dulu, ini dapatnya dari mana? Kalau dibilangnya buatan China, biasanya saya bilang ‘Wah saya mau cari yang buatan Indonesia nih, biar orang-orang kita sendiri yang bekerja untuk membuatnya, daripada beli ke China, berarti kan orang China dong yang dapat pekerjaannya!’ Responnya, sang penjual biasanya tersenyum dan gak berkata apa-apa. Sedikitnya, saya ingin agar omongan saya membekas dalam benaknya, dan siapa tahu suatu saat menjadi kesadaran kolektif untuk mengutamakan produk dalam negeri.

Hal lain, bila saya liat dari labelnya jelas terpampang buatan China ataupun dengan merk China, saya dan istri tidak membelinya meski murah.

Dulu Tasikmalaya terkenal dengan kerajinan bordiran-nya. Tapi sekarang sudah mulai sirna, bordiran China juga membanjiri Thamrin City. Saya tanya ke penjualnya, kenapa lebih suka menggunakan jasa bordiran dari China dibandingkan dengan pesan ke Tasikmalaya? Jawabannya: bordiran China lebih murah dan rapi (memakai mesin bordir yang terprogram) dan salesnya aktif nawarin, bahan yang mau dibordir diambil dan sesudah selesai diantarkan!!

Wow, bayangkan, China yang terletak puluhan ribu kilometer dari Jakarta bisa menawarkan barang dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan produk sejenis dari Tasikmalaya yang hanya berjarak ratusan kilometer dari Jakarta. Luar biasa!!

Kalau untuk rukuh, istri saya biasanya masih beli produk dalam negeri, tapi untuk taplak meja bordir, terpaksa beli buatan China, mau gak mau akhirnya kita beli juga karena memang barang itu yang banyak nongol dipasarkan.

Agresifitas ekspansi produk China juga bias dilihat dari seringnya iklan untuk menjadi pemasar produk China, dan biasanya yang datang berjubel! Saya membayangkan keuntungan yang berlipat, dan tergerak untuk mengikutinya, tetapi setelah dipikirkan lagi, rasanya tidak tega membeli produk negara lain, sementara kita tahu bahwa banyak pekerja bangsa sendiri bekerja di pabrik-pabrik untuk membuat produk yang sama.

Saking banyaknya seminar yang menawarkan peluang untuk mengimpor produk China, banyak diantaranya yang hanya penipuan belaka. Menyelenggarakan seminar dengan tiket masuk yang murah sekitar Rp 100 – 250 ribu, tetapi setelahnya masih ditawarkan untuk mengikuti workshop dan grosir tour ke China dengan harga tiket jutaan.

Bagi anda yang akan mengikuti seminar tersebut, hati-hati didalam memilih seminar yang akan diikutinya, dan saran saya, lebih baik tidak usah ikut sama sekali, jadilah patriot bangsa dengan membeli produk-produk dalam negeri!

Dipublikasi di Sekelebatan, Uncategorized | Tag , | 1 Komentar

Mengambil manfaat dari media sosial…

Terutama Facebook, media sosial terlalu hingar bingar dengan politik dan provokasi. Yang hangat misalnya tentang kasus penistaan agama dengan Ahok pelakunya, kebijakan pemerintah yang sering dikritisi, tentang Suriah dan lain sebagainya. Kalopun bukan politik, biasanya tentang perbedaan dalam agama, suni dan syiah dan hal lain yang meruncingkan perbedaan. Yang membuat kita terkesan tidak aman dan penuh curiga dengan lingkungan sekitar.

Bertemanpun seakan sudah tidak seindah yang dulu lagi. Seakan saling curiga antar teman, karena perbedaan yang ditonjolkan!.

Sesungguhnya, medsos sangat banyak manfaatnya. Medsos hanyalah sarana yang memberikan berjuta alternatif, kitalah yang memutuskan jalan yang dipilih.

Bagaimana menjadikan medsos menjadi positif dan memberikan manfaat bagi kita? Ini mungkin tips-tips yang bisa saya berikan:

  1. Mulai dari diri kita. Jangan pernah memasang status yang provokatif dan memancing reaksi berlebihan dari publik dan teman-teman kita. Mungkin kita ingin menampilkan warna politik kita, dan menjagokan pilihan kita, tampilkanlah dengan kata-kata yang baik. Tampilkan sisi keunggulan dari calon kita dan jangan kemudian diperbandingkan dengan calon lain dengan kata-kata kasar.
  2. Jika melakukan kampanye negatif. Didalam kampanye, baik untuk pilpres maupun pilkada, diperkenankan untuk melakukan kampanye negatif, tetapi tidak boleh melakukan kampanye hitam. Bedanya, kampanye negatif, menampilkan kelemahan calon agar kita awas dan menjadi pertimbangan untuk tidak memilihnya, dan hal tersebut wajar terjadi, sedangkan kampanye hitam, berisi fitnahan terhadap calon lain dengan tuduhan yang tidak berdasar. Apabila ingin memberitakan kampanye negatif terhadap calon lain, usahakan agar memakai data yang akurat, misalnya mengenai kebijakan-kebijakannya di masa lalu dengan memakai referensi yang sahih. Dan biarkan data-data itu saja yang berbicara, janganlah kita yang menyimpulkan, karena bisa jadi data-data tersebut tidak komplit atau memerlukan data penunjang lainnya. Dengan penyampaian data-data saja, bisa jadi kita akan memperoleh masukan atau sanggahan dari publik atau teman-teman kita. Intinya adalah, janganlah kita menghakimi, biarkanlah kebenaran mencari jalannya sendiri. Karena bisa jadi pilihan kita salah, sehingga kita bisa merubahnya.
  3. Periksalah kebenaran berita sebelum meneruskannya. Pilihlah berita dari media yang jelas. Jangan meneruskan berita yang provoatif dari media abal-abal, atau Blog berisi coretan pribadi dari penulisnya, kebanyakan merupakan opini atau pendapatnya, blog yang baik berisi data dan referensi yang akurat dengan porsi yang lebih banyak dibandingkan hanya semata pendapat atau opini dari penulisnya semata. Kalau memang mau meneruskan berita dari blog, pilihlah blog dengan kriteria tersebut. Selain hal tersebut, lihatlah kredibilitas dari penulis blog-nya dengan menilai tulisan-tulisan lainnya di blog-nya.
  4. Pilihlah teman atau fanpage yang positif dan membangkitkan jiwa. Ada teman yang sangat provokatif, sebaiknya kita hindari dari pada bikin jantung kita deg-degan setiap melihat lini masanya, hehehe. Pilihlah teman yang rasional dalam berpikir dan mau menerima hal baru. Atau bisa juga kita ambil teman dari sisi yang berseberangan, agar kita memperoleh pemahaman dari dua sisi (cover bothside). Intinya, semua pemikiran teman, jangan kita telan mentah-mentah. Untuk fanpage, janganlah menyukai (like) fanpage yang provokatif, tapi pilihlah fanpage yang berisi motivasi, quote positif, tausyiah keagamaan, hobi seperti fotografi, travelling, kuliner, pertanian, musik, desain dan sebagainya. Fanpage positif banyak bertebaran di facebook, mengapa kita harus pilih yang negatif dan membikin gundah, jika masih ada yang positif dan menenteramkan jiwa?
  1. Jemarimu akan dimintai pertanggungjawaban. Bagi yang mengimani agama Islam, harus mempunyai keyakinan, bahwa segala perbuatan kita akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat nanti. Apabila kita menyebarkan hal yang positif, maka kita akan mendapatkan amal jariah, tetapi sebaliknya, sebaran yang negatif juga akan menimbulkan hal yang negatif yang kita berkontribusi mewujudkannya, sehingga akan dimintai pertanggungjawabannya juga. Meskipun sudah lama, tetapi hasil karya jemari kita dalam lini masa akun medsos kita apabila masih ada yang membukanya, dan kemudian memberikan manfaat ataupun mudharat, kita akan mendapatkan hasilnya, amal jariah ataupun dosa, hati-hatilah.

Salah satu manfaat medsos adalah beritanya yang sangat aktual, kadang malah live report. Selain itu, banyak berita yang tidak terdapat di media massa konvensional, tersebar dengan baik di media sosial.

nusron-wahid

Misal, pada waktu Parade Kebhinekaan Indonesia tanggal 4 Desember 2016 yang lalu, menjadi viral di medsos bagaimana Nusron Wahid yang membersihkan sampah (sendirian!!) yang sangat kontras dengan sekitarnya yang seakan tidak peduli, semua terekam dengan baik di foto-fotonya. Pada awalnya, saya sangka itu hoax yang berasal dari foto editan photoshop. Tetapi ternyata foto-foto tersebut benar adanya, dan gambar-gambar itu tidak mungkin kita dapatkan di media massa konvensional.

setyanov-n-konglo

Ada juga foto beberapa konglomerat yang sedang foto bersama dengan petinggi partai disebuah hotel pada saat Parade Kebhinekaan tanggal 4 Desember 2016 yang lalu. Kita tahu bahwa para konglomerat itu adalah yang mensponsori Parade Kebhinekaan. Dan gambar tersebut berbicara banyak hal, yang seakan merangkai dan melengkapi berita-berita tentang Parade tersebut.

ahok-411

Juga ketika Ahok dengan timses-nya dan terlihat juga seorang pengamat politik yang sedang selfie dengan ceria pada saat Aksi Damai 4 November yang menuntut keadilan untuk kasus penistaan agama yang dilakukan olehnya, foto ini hanya bisa ditemui di media sosial, tidak akan pernah ada foto itu di media massa konvensional. Itulah keunggulan dari media sosial.

Disaat media massa mainstream tidak lagi menampilkan kejujuran dalam beritanya, kita dapat berharap memperolehnya dari media sosial, dengan catatan, kita harus bijaksana menseleksinya!

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag | Meninggalkan komentar

Ber-uang tanpa Uang dengan E-Money…

p_20161214_055147

Gambar: Cukup dengan satu kartu e-money, sama seperti kita membawa uang senilai Rp 1.000.000,- di dompet.

Lagi digalakkan Gerakan Nasional Non Tunai nih, masyarakat sangat dianjurkan untuk memilih transaksi non tunai daripada tunai, sehingga akan terbentuk Less Cash Society yang terus membesar!

Gerakan ini gue banget! Saya paling tidak suka ada uang berjubel dengan rupa dan kondisi yang berbeda didompet. Ribet, apalagi kalo ada recehan logam. Biasanya, saya menyiapkan paling banyak sekitar Rp 200.000,-, didompet, selebihnya saya lebih suka menggunakan transaksi non tunai.

Dan bersyukur, karena sekarang semakin banyak transaksi tanpa menggunakan uang tunai. Dulunya non tunai sering hanya berarti memakai Kartu Kredit, sekarang sudah ada debit card atau Kartu Debit yang merupakan kartu tabungan multi fungsi yang penggunaannya tidak hanya untuk transaksi di ATM saja, tetapi diperluas juga untuk dapat dipakai berbelanja, dan sekarang gerai atau toko yang bisa menerimanya semakin luas, dengan memanfaatkan jaringan yang telah ada dari Kartu Kredit seperti Visa dan Master. Transaksi non tunai lainnya, SMS Banking atau Internet Banking.

Yang relatif baru adalah Uang Elektronik atau e-money (dan di adopt menjadi brand uang elektronik yang dikeluarkan oleh salah satu Bank). Uang elektronik adalah segala jenis uang yang tersimpan didalam sebuah sistem seperti server ataupun chip. Yang terbanyak penggunanya dalam bentuk kartu dengan chip didalamnya. Nilai nominal uangnya diisi melalui Bank penyedia layanan melalui ATM ataupun tempat tertentu.

Saya sering menggunakan KRL Jabodetabek atau Commuter Line, sudah sekitar dua tahun belakangan ini semua transaksinya tanpa uang tunai. Sangat menyenangkan! Tidak perlu antre di loket, tidak perlu struk ataupun tiket dan tidak ada lagi pemeriksaan tiket waktu berangkat maupun datang, cukup hanya menempelkan kartu e-money semuanya beres.

Banyak hal yang bisa dihemat jika transaksi dilakukan tanpa menggunakan uang tunai.

Misal saya mau bepergian dengan KRL, dengan menggunakan transaksi uang tunai, maka perjalanan ‘fisik uang’ saya sangat panjang. Pertama, saya akan ambil uang saya di ATM, saya hitung uang saya dan saya masukkan kedalam dompet. Sampai didepan loket, saya mengeluarkan uang untuk membeli tiket, saya dapat tiket dan kasir mendapatkan uang saya dan memberikan uang kembaliannya. Uang saya oleh kasir dihitung kembali kemudian ditaruh dan dikumpulkan. Saat kasirnya pergantian petugas, uangnya diserahkan ke kasir pengganti, dihitung kembali dan kasir pengganti akan menghitung ulang. Setelah selesai jam operasi KRL, kasir menyerahkan kepada atasannya, setelah dihitung lagi, dan atasannya akan menghitungnya ulang. Pada setiap hari tertentu, uangnya dikumpulkan untuk disetor ke Bank, bagian petugas keuangan akan menghitungnya kembali. Sampai di Bank, uang diserahkan kepada Teller, dan sudah menjadi prosedur, Teller pasti akan menghitungnya lagi sebelum menerimanya. Ingin cerita ini dilanjutkan? Gak bakalan selesai-selesai sampai akhirnya uangnya lecek dan dimusnahkan, hehehe.

Jika uangnya dari Bank dan akhirnya kembali juga ke Bank, lalu kenapa tidak menggunakan uang elektronik saja? Dengan memakai uang elektronik, jika saya menggunakan KRL, saya cukup menempelkan ke gerbang masuk untuk membuka pintunya. Saldo uang elektronik saya berkurang, pindah ke rekening PT KAI sebagai penyelenggara KRL, titik! Praktis dan efisien!

Tidak perlu lagi membuat fisik dari uangnya dalam bentuk logam dan kertas, tidak ada biaya untuk pencetakan tiket, tidak perlu ada petugas yang memeriksa tiket waktu masuk, di kereta ataupun waktu kedatangan. Tidak perlu banyak petugas yang menghitung uang berkali-kali dan sangat riskan terjadi kesalahan dan pencurian. Tidak ada penyebaran penyakit melalui fisik uang yang berpindah tangan berkali-kali.

Disamping keuntungan diatas, karena lagi digalakkan penggunaannya, menggunakan uang elektronik lebih dimanjakan. Banyak promosi dan diskon jika menggunakan uang elektronik, tempat yang dipisahkan dan dikhususkan, seperti jika kita membayar di Tol yang ada gerbang khusus untuk pembayaran dengan uang elektronik.Melewati gerbang tol khusus non tunai biasanya lebih cepat karena sedikit antrian, dan ada tambahan lagi, kita akan lebih bangga karena bisa melewati puluhan kendaraan lainnya dibelakang, serasa pribadi yang istimewa, hehehe.

Sekarang sudah banyak Bank yang mengeluarkan uang elektronik. Persaingannya juga lumayan ketat, dengan berlomba memberikan diskon yang berlaku di gerai tertentu, dan juga  memperbanyak gerai yang bisa menerima uang elektronik tersebut. Untuk pemasarannya, uang elektronik kadang co-branding dengan produk lain, seperti dengan kartu anggota suatu organisasi, kartu mahasiswa ataupun dengan produk barang.

Susahnya, kadang Uang Elektronik bekerjasama dengan suatu penyedia jasa yang memberikan hak eksklusif hanya menerima Uang Elektronik tertentu. Seperti jalan Tol di Lingkar Luar, Lingkar Dalam, Cikampek, Jagorawi dan Merak yang hanya khusus menerima Uang Elektronik dari Bank tertentu saja, sebuah Bank BUMN. Ini membuat kita ‘terpaksa’ membeli Uang Elektronik dari Bank itu saja jika sering menggunakan tol tersebut.

Kalo KRL Jabodetabek lebih fleksibel, dia memberikan banyak keleluasaan bagi pelanggannya untuk menggunakan beragam Uang Elektronik, bisa dari Bank manapun, dan ini lebih menyenangkan!

Oya, jika kita kehilangan uang elektronik kita, sisa saldo yang ada di Uang Elektronik tersebut tidak bisa kita klaim lagi ke Bank. Artinya, jika kita kehilangan Uang Elektronik kita, maka sama seperti kita kehilangan uang tunai juga, orang lain dapat menggunakannya untuk dibelanjakan, karena itu, hati-hatilah dalam menyimpannya!

Mungkin karena faktor keamanan dan memang diarahkan untuk transaksi recehan, saldo uang elektronik juga dibatasi oleh Bank, saat ini uang elektronik dari beberapa Bank yang saya miliki, kompak hanya memberikan batas saldo maksimal Rp 1 juta saja.

Uang Elektronik, pasarnya memang diarahkan untuk menggantikan transaksi ‘uang recehan’. Tapi siapa sangka, volumenya terus menggelembung seiring dengan perkembangan jaman dan kemajuan bangsa Indonesia. Semakin maju suatu Negara, volume transaksi tanpa menggunakan uang tunai semakin besar pula.

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , , , , , | 4 Komentar

Menghitung Jumlah Massa Aksi Super Damai 212…

212_5

Dalam hitungan saya, jumlah total peserta Aksi 212 berkisar antara 1.800.000 – 2.000.000 orang. Jumlah massa itu sama seperti jumlah kapasitas masjidil haram setelah diekspansi yang dapat menampung sampai 1.8 juta Jemaah. Luar biasa!!

Sebagai ilustrasi, total luas Masjidil Haram setelah renovasi adalah 1.100.000 M2 yang dapat menampung 1.800.000 Jemaah Shalat. Kalo misalkan 1.100.000 M2 itu berupa jalan raya, maka jika lebar jalan raya tersebut 55 M, maka panjangnya adalah 20.000 M atau 20 KM, Luar biasa!

Aksi 212 telah usai, dan komentar yang banyak muncul: luar biasaaaa!!! Luar biasa dari segala segi, ketertiban, tidak ada sampah, orasi dari para ulama yang menggetarkan, doa-doa yang menyentuh, kehadiran Pak Jokowi, peserta yang jalan kaki dari Ciamis, makanan yang melimpah dan yang paling mencengangkan jumlah pengunjuk rasa yang luar bisa banyaknya.

Mengenai jumlah, itu yang banyak diperdebatkan. Diluar maksud politis, seperti ada pihak yang mengecilkan jumlahnya atau ada juga yang terlalu membesarkan jumlahnya, sebenarnya jumlah peserta aksi 212 dapat dihitung dengan berbagai pendekatan:

  1. Transportasi yang digunakan:
    1. Jumlah penumpang KRL Commuter Line. Saya yakin, bahwa jumlah peserta terbesar berasal dari Jabodetabek. Dan pilihan peserta aksi yang menggunakan KRL saya rasa termasuk yang dominan. Pada saat aksi 212, dibeberapa stasiun disekitar lokasi aksi ada lonjakan sampai 4 kali lipat. Stasiun tempat menurunkan peserta aksi: Juanda, Pasar Baru, Sawah Besar, Gondangdia, Sudirman dan juga Gambir (dari luar kota).
    2. Jumlah Bis dan kendaraan pribadi yang masuk Ibukota pada tanggal aksi 212. Kalo untuk Bis bisa lebih terpantau, mereka biasanya terkoordinir dan melapor ke Pantia GNPF. Sehari sebelum pelaksanaan, panitia GNPF melaporkan bahwa perkiraan jumlah peserta yang terdaftar diatas 2 juta peserta.
    3. Kendaraan pribadi yang masuk Jakarta, sekitar area Jabotabek. Untuk yang menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil atau motor jumlahnya susah dipantau dan mereka kebanyakan tidak melapor ke panitia GNPF. Kebanyakan yang menggunakan kendaraan pribadi berada di seputaran Jabodetabek.
    4. Jalan kaki. Wah ini fenomena baru sebagai buah dari ‘Ciamis Effect’. Selain dari Ciamis yang berjalan kaki karena penyebab yang tidak biasa, peserta yang jalan kaki pasti yang berada di seputaran lokasi tempat aksi 212 di Monas, atau karyawan kantor yang ‘nekat’ masih buka di tanggal 212.
  1. Jumlah area yang ditempati untuk dibagi dengan kebutuhan area masing-masing orang. Luas area yang ditempati bisa dihitung dengan aplikasi google earth, kemudian dikali dengan asumsi pemakaian luas per orang. Asumsi yang paling masuk akal menurut saya, pada waktu berdiri, kepadatan per M2 sekitar 3-4 orang, sedang pada waktu shalat kepadatan per M2 sekitar 2 orang. Anda bisa membayangkan sendiri, 1 M2 adalah area segi empat selebar 1 M dengan panjang 1 M juga. Dan bisa kita simulasikan diisi dengan jumlah 1 – 2 orang per area tersebut, yang saya rasa cukup longgar. Selain itu dikurangi dengan fasilitas umum yang ada disitu, seperti kendaraan bis, pos-pos makanan, pos-pos untuk wudhu dan toilet.

Sebagai contoh, luas area Monas adalah 80 Hektar, jika 1 hektar sama dengan 10.000 M2, maka luas monas keseluruhan adalah 800.000 M2. Dari keterangan yang disampaikan oleh pihak Kepolisian, area Monas mempunyai daya tampung 600.000 – 700.000 orang, dengan catatan area rumput juga dipergunakan, berarti asumsi 1 M2 untuk 1 – 2 orang jamaah shalat sudah sesuai.

212_3

Nah, dari pendekatan-pendekatan itu, kita bisa mengambil perkiraan yang lebih teliti jumlah peserta aksi 212. Beberapa perkiraan yang menjadi viral di medsos saya rasa terlalu berlebihan, perkiraan itu adalah:

  1. Untuk aksi 411, jumlah massa yang ikut diperkirakan adalah 2.245.000 orang, seperti pada berita pada salah satu media online dan menjadi viral. Asumsi yang dipakai adalah luas area yang terpakai seluas 280.650M2, dan setiap 1 M2 dapat menampung 8 orang, yang kemudian dikalikan, hasilnya adalah 2.245.000 orang. Asumsi setiap 1M2 dapat menampung 8 orang terlalu berlebihan, anda dapat bayangkan berada di area panjang 1 M dan lebar 1 M, yang diisi oleh 8 orang. Bayangkan, 1M2 dipakai 8 orang, terlalu berdesakan, selain itu juga tidak memperhitungkan area lain yang dipakai untuk fasilitas umum.
  1. Untuk aksi 212, jumlah massa yang ikut diperkirakan mencapai 7.434.757 orang, dan jumlah ini menjadi viral kemudian dicopas dibeberapa media online. Pendekatannya adalah dengan mendata jumlah bis yang terdata akan masuk Jakarta untuk mengikuti aksi serta ditambah perkiraan-perkiraan dari beberapa daerah. Salah satu kelemahan dari data itu, kesalahan terbesar adalah memasukkan jemaah Adz Zikra sebanyak 6.000.000 orang dan unsur HMI sebanyak 1.000.000 orang, asumsi ini sungguh terlalu besar. Apabila klaim 7.424.757 dikurangi Adz Zikra dan HMI berarti hanya tinggal 434.757 orang saja. Tetapi ada yang luput dari pencatatan, yaitu datanya terlalu rendah untuk asumsi peserta dari Jabodetabek, yang merupakan peserta terbesar karena akses transportasi yang paling mudah.

Sekarang, berapakah perkiraan yang lebih mendekati jumlah sebenarnya untuk peserta aksi 411 dan 212? Kalo menurut saya, inilah perkiraan yang lebih presisi dan mendekati kebenaran:

  1. Untuk aksi 411. Perkiraan dari PT IndoAtlas Geo Solusi, sebuah perusahaan yang sangat kompeten dibidang survey dan pemetaan. Pendekatan yang digunakan adalah luas areal yang dipadati massa yang diperoleh dari Google Earth dengan aplikasi berbasis GIS (Geographic Information System) seluas 117.719 M2 dengan kepadatan 4 orang per M2, sehingga total 470.876, dan belum ditambah dengan yang standby di Masjid Istiqlal, Tugu Tani dan sisa lainnya yang luput dari perhatian. Saya rasa, jumlah yang mendekati kebenaran berkisar antara 500.000 – 550.000 orang. Jumlah tersebut sudah LUAR BIASA banyak, sama seperti penduduk kota menengah seperti Jambi.
  2. Untuk aksi 212. Terus terang, belum ada yang menghitung luas area keseluruhan khusus untuk aksi 212, tetapi beberapa asumsi moderat ini bisa dijadikan patokan:
    1. Perkiraan kasar, untuk yang aksi di dalam area Monas apabila lapangan rumput dipakai, kapasitasnya adalah 600 – 700.000 orang seperti yang disampaikan Kapolri. Tetapi kita lihat bahwa area hijau tidak dipakai, perkiraan yang dipakai adalah 60%, sehingga yang ada diarea Monas berkisar 60% x 650.000 = 390.000 orang.
    2. Kapasitas Masjid Istiqlal yang ideal adalah 120.000 orang. Memang, pada saat aksi 212, Masjid Istiqlal tidak menjadi sentra kegiatan, karena posisi Imam yang ada di Monas. Tetapi Istiqlal penuh sampai ke pelataran dan halamannya. Anggap saja, total massa di Istiqlal 120.000 orang. Disekitar masjid Istiqlal seperti di area Jalan Juanda, Katedral, Lapangan Banteng sampai ke daerah dekat Gambir nyambung ke Medan Merdeka, perkiraan 200.000. Sehingga total area dekat Istiqlal sekitar 320.000 massa.
    3. Kapasitas jalan yang dipakai untuk area Jalan Medan Merdeka Utara, Medan Merdeka Timur, Medan Merdeka Selatan, Medan Merdeka Barat dan MH Thamrin adalah 280.000 M2. Yang belum terhitung adalah disekitar Tugu Tani, Ridwan Rais, Kwitang dan juga Sudirman, serta area jalan sekitar Sarinah yang mempunyai kisaran yang sama, maka luas total adalah 560.000 M2. Dan jika kepadatannya adalah 2 orang per M2, maka jumlah total adalah 1.120.000 orang.
    4. Total jumlah a + b + c = 1.830.000 orang.

Jadi estimasi saya, jumlah total peserta Aksi 212 berkisar antara 1.800.000 – 2.000.000 orang. Jumlah massa itu sama seperti jumlah kapasitas masjidil haram setelah diekspansi yang dapat menampung sampai 1.8 juta Jemaah. Luar biasa!!!

Sebagai ilustrasi, total luas Masjidil Haram setelah renovasi adalah 1.100.000 M2 yang dapat menampung 1.800.000 Jemaah Shalat. Kalo misalkan 1.100.000 M2 itu berupa jalan raya, maka jika lebar jalan raya tersebut 55 M, maka panjangnya adalah 20.000 M atau 20 KM, Luar biasa!!

Jumlah sebenarnya? Hanya Allah yang Maha Tahu!!

212_1

212_4

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Hati-hati memilih investasi…

i_warrenKalo kasus Kanjeng Dimas, sudah pasti saya katakan sebagai penipuan, bukan termasuk investasi. Mungkin orang yang telah tertipu menganggapnya sebagai investasi, tetapi bagaimana mungkin menggandakan uang tanpa adanya suatu proses atau usaha. Peribahasa di berbagai belahan dunia juga sudah mengatakan hal tersebut: Jer Basuki Maya Bea, No Pain No Gain atau Man Jadda Wajada artinya kira-kira sama aja: hasil akan didapatkan bila kita berusaha dengan sungguh-sungguh.

Sering saya mendapat tawaran untuk investasi dan kerjasama usaha dengan sistem bagi hasil, seperti kebanyakan promosi lainnya, terlihat menggiurkan. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, beberapa tawaran itu, ternyata kemudian terbuka kedoknya, tidak sesuai dengan iming-iming awalnya, bahkan ada yang berakhir dengan kaburnya pengelola.

Inilah beberapa hal yang saya jadikan pedoman, sehingga tidak tertipu iming-iming investasi bodong:

Hati-hati jika ada tabungan atau deposito dengan bunga tinggi. Biasanya ditawarkan oleh Koperasi atau kadang BPR. Dulu memang pernah BI memberikan bunga sampai 60% pertahun, atau sampai 5% perbulan. Itu terjadi tahun 1997, ketika krisis moneter melanda Indonesia. Kejadian ini termasuk kejadian luar biasa, dan tidak bisa dijadikan pedoman. Nah, sekarang di tahun 2016 ini, BI Rate sekitar 6 – 7%, dan deposito dari Bank terkemuka ya sekitar 10% pertahun. Biasanya Koperasi atau BPR tersebut, mengiming-imingi dengan bunga sampai 2 kali lipat dari bunga Bank pada umumnya, bahkan, ada yang memberikan bunganya dimuka.

Saya punya pengalaman, saya mendapat tawaran untuk deposito di suatu Koperasi X di kota Bogor pada waktu memberikan tawaran bunga 15% pertahun disekitar tahun 2013, dan diberikan dimuka bunganya. BI Rate waktu itu tidak jauh beda dengan sekarang, sekitar 6 – 7%. Benar, beberapa dua tahun kemudian saya lihat Koperasi itu perkembangannya menurun, dan kelihatannya pengembalian uang ke nasabah bermasalah. Jika ada Koperasi atau BPR dengan memberikan tawaran bunga lebih dari 2 kali lipat BI Rate, maka berhati-hatilah.

Hati-hati jika ada tawaran kerjasama dan bagi hasil. Pernah suatu perusahaan transportasi yang sebenarnya cukup dikenal, menawarkan pola kerjasama bagi hasil untuk pembelian mobil-mobil dan alat-alat berat. Mobil-mobil dan alat-alat berat tersebut kemudian rencananya akan disewakan, dan hasil dari sewa tersebut akan dibagi hasil dengan nasabah. Prospektus yang ditawarkan kelihatan sangat menguntungkan, return on investment sekitar 5 – 7 tahun. Tapi ada suatu hal yang membuat saya waktu itu agak ragu, kelihatannya perusahaan ini terlalu ekspansif, dengan proyek-proyek yang spektakuler. Yang saya khawatirkan dari perusahaan yang terlalu ekspansif, biasanya tidak siap dari segi manajemen. Manajemen bukan suatu hal yang mudah, apabila kita mendapatkan dana yang besar dan memulai suatu usaha, perlu waktu untuk menyiapkan sumber daya manusia (merekrut dan melatihnya), perlu waktu untuk pengadaan barangnya (mobil dan alat berat), perlu waktu untuk mendapatkan kontrak, menyiapkan sistem informasi ataupun SOP, perijinan dan perangkat keras lainnya, sehingga logikanya, apabila kita menjalankan sendiri usaha ini, seharusnya pada masa-masa awal kita tidak langsung mendapatkan hasil atau profit. Dan benar, beberapa tahun kemudian perusahaan tersebut bermasalah.

i_kalkulator

Hati-hati pada investasi agroindustri. Ada tawaran investasi untuk bagi hasil budidaya tanaman Jabon. Saya mempelajari tawaran tersebut, dan hitung-hitungannya sungguh masuk akal. Dalam prospektus ditawarkan investasi senilai Rp 25 juta, maka akan mendapatkan areal penanaman pohon Jabon seluas 5.000 M2. Setelah 6 tahun, dalam hitungan, diperkirakan akan mendapatkan hasil senilai sekitar Rp. 120 juta dari penjualan kayu Jabon tersebut. Sekilas tidak ada masalah dan sangat masuk akal hitung-hitungannya, karena sudah dihitung secara moderat dengan asumsi harga kayu yang juga sudah minimal. Untuk meyakinkan calon investor, mereka biasanya selalu mengatakan ada penjanjian didepan Notaris.

Setelah berjalan berapa sekitar 3 tahun, saya membutuhkan uang untuk suatu keperluan, dan saya ingin menarik dana investasi tersebut karena didalam perjanjiannya memungkinkan hal itu. Dan terbongkarlah kelemahan dari investasi ini. Ternyata tanaman Jabon yang dijanjikan tidak memberikan hasil yang maksimal dan bahkan boleh dibilang gagal. Untung uang investasi saya tarik ditengah perjanjian. Dan sulitnya minta ampun untuk menarik uang investasi saya tersebut, butuh waktu hampir 1 tahun, itupun setelah saya dengan ‘tabah’ (hehehe) menghubungi perusahaan pengelolanya hampir tiap hari. Dan juga, gak ngefek ada perjanjian di depan Notaris. Notaris hanyalah pencatat perjanjian, dan tidak bertanggung-jawab atas isi perjanjian.

Tawaran kerjasama dibidang agro industri seperti ini sangat rawan. Kita harus melihat perusahaan pengelolanya, haruslah yang benar-benar berpengalaman dan telah lama di agroindustri. Gangguan pada tanaman juga sangat rawan, pada usia 1 – 2 tahun bisa saja dalam keadaan sehat, tapi kemudian terserang hama dan mati dalam waktu singkat, untuk itu perawatannya harus konsisten. Belum lagi gangguan keamanan dari penjarahan jika telah mencapai usia panen. Saya belum pernah mendapat testimoni yang positif yang saya dengar langsung dari ex investor agroindustri ini.

Hati-hati dengan tawaran investasi logam mulia dalam bentuk saham. Teman dekat saya mempromosikan pembelian saham yang kemudian dikonversi dengan berat emas yang disesuaikan dengan harga emas yang berlaku dan asumsi lainnya. Seperti biasa, tawaran hasilnya menggiurkan. Tetapi saya ragu dengan keamanannya, karena tawaran investasi ini tidak umum. Mungkin perusahaan ini menangkap keraguan calon konsumen, makanya kemudian di prospektusnya diperlihatkan foto-foto dari petinggi perusahaan ini dengan petinggi negara. Saya tetap ragu, dan dengan halus menolak tawaran ini. Benar, beberapa saat kemudian terbukti bahwa perusahaan ini collapse dan tidak mampu bayar. Dan petinggi yang foto-foto dengan petinggi negara itu juga sudah tidak di Indonesia lagi.

Secara umum, pilihlah instrumen investasi yang sudah jelas keamanannya. Jangan tergiur dengan iming-iming hasil yang tinggi. Instrumen investasi yang sudah umum misalnya: deposito, saham, SUN atau ORI, unit link dari asuransi, logam mulia atau tanah.

Kalau ingin mendapatkan hasil yang cepat (dan tentunya juga dengan resiko yang tinggi) adalah dengan menjadi pengusaha langsung. Anda bisa menjadi boss dari usaha sendiri, mengetahui dan belajar secara langsung bisnis anda dan yang paling utama juga adalah, anda menciptakan lapangan kerja abgi orang lain. Sangat mungkin anda memperoleh return on investment dalam waktu kurang dari 1 tahun apabila anda menjalankan bisnis anda sendiri.

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , , , | 2 Komentar

Betapa kayanya Indonesia-ku…

bki_pantai

Setiap perjalanan ke Jambi, menuju tempat kerja, saya merasakan betapa kayanya Jambi. Jambi adalah salah satu daerah penghasil migas. Dari perut bumi Jambi, jutaan barrel minyak dan gas dikeluarkan, menghasilkan pendapatan negara yang tidak sedikit.

Diatasnya adalah lahan subur yang hampir bisa ditanami apa aja. Tongkat saja bisa menjadi tanaman, seperti lagu lebay-nya Koes Plus, untuk menggambarkan betapa suburnya tanah Jambi. Tetapi sayangnya (menurut saya), keanekaragaman hayati yang telah digusur dari ratusan ribu hektar hutan yang dikonversi menjadi lahan tanaman industri (pohon Akasia, untuk bahan baku kertas, utamanya untuk PT Wira Karya Sakti, Sinar Mas Group) hanya menghasilkan kayu-kayu yang diolah menjadi pulp dan kertas.

Menyisakan lahan yang sedikit, beragam jenis tanaman yang dijadikan sumber penghidupan masyarakat Jambi. Sebagian besar Kelapa Sawit, juga ada Kelapa, Pinang, Karet, Kopi dan tanaman kebun lainnya. Ada juga beragam rempah dan tanaman sayur. Hamparan sawah, dengan padi menghampar juga banyak terdapat di Jambi. Buah-buahan juga banyak, saya paling senang berada di Jambi jika musim Durian, hobi makan Durian terpenuhi dengan harga yang murah, dan setelah musim Durian biasanya musim Duku. Buah-buahan lain seperti Rambutan, Pisang, Nangka dan Jambu Air juga tumbuh dengan subur.

Mungkin anda mendengar, peribahasa ‘Bagai mendapat Durian runtuh’. Ternyata, memang begitu adanya. Di Jambi, pohon Durian banyak tumbuh dengan sendirinya (tidak dibudidayakan), dan apabila telah musim Durian, biasanya beberapa orang mendirikan pondok di sekitar lahan yang banyak tumbuh pohon Durian itu, kemudian apabila telah matang, Durian itu rontok dengan sendirinya, dan kemudian dikumpulkan untuk dijual. Namun sekarang, ‘Durian runtuh’ karena matang pohon sudah tidak banyak lagi, kebanyakan Durian dipetik dan dimatangkan diluar.

Saya senang mendengarkan cerita-cerita teman asli dari Jambi, yang bercerita mengenai Jambi jaman dahulu. Di sekitar tahun 1990-an sampai menjelang tahun 2000, ketika area Hutan masih ada belum tergusur oleh tanaman industri, Gajah, Harimau, Babi Hutan, Kijang dan hewan hutan lainnya masih banyak berkeliaran. Saya membayangkan, betapa mengerikannya pembantaian yang dilakukan terhadap jutaan binatang itu, ketika hutan rumah tinggal mereka mau dikonversi menjadi hutan tanam industri, pohon Akasia.

Hutan tanam industri, merupakan hutan monokultur, pohon Akasia saja yang tumbuh. Yang tidak memberikan makanan bagi hewan-hewan liar. Sisa hutan lindung di Jambi sangat sedikit. Sehingga, binatangnya juga sudah jauh berkurang. Sesekali saya melihat ular yang besar (pernah lihat ular melintas dengan panjang lebih dari 2 meter), monyet yang bergelantungan, buaya didaerah air payau, ataupun burung-burung yang indah beragam jenis. Teman saya yang di Jambi ada yang hobi berburu, katanya sering ia berburu Kijang dan Babi Hutan.

Teman saya juga bercerita, pada waktu awal ia bekerja di Jambi, dan musti kelapangan, ia masih sering melihat ada Gajah dan Harimau. Pada waktu penggundulan hutan disekitar tahun 1997 – 2000, ia melihat betapa banyaknya isi hutan yang dikuras, pohon-pohon besar berukuran 3 – 4 lingkaran orang dewasa, dengan panjang sampai puluhan meter. Pantaslah kalo dunia protes kala itu, tapi Indonesia beralasan, bahwa hutan harus memberikan manfaat ekonomi disamping sebagai paru-paru dunia.

Dan sekarang, saya hanya melihat sisa-sisanya saja…

Hutan yang tinggal sedikit masih memberikan manfaatnya bagi manusia. Di Jambi terkenal dengan Madu Hutannya. Mereka, para pengrajin, mengambil madu langsung dari hutan, tidak membudidayakannya seperti kebanyakan di Jawa. Jumlahnya sudah makin sedikit, dan kadang mencari yang benar-benar asli madu hutan tanpa campuran sudah sangat sulit.

Kadang saya lihat juga beberapa orang masuk ke hutan untuk mengambil rotan. Yang dikumpulkan untuk kemudian dijual dijadikan bahan baku perabotan ataupun tali. Di beberapa rumah makan Padang, kadang tersedia menu burung Punai. Saya pernah mencobanya, enak, hampir sama dengan burung Merpati tetapi lebih keras sedikit. Burung Punai tidak diternakkan, tetapi mereka mendapatkannya langsung dari berburu di hutan. Ada juga rumah makan yang menyediakan daging Rusa, yang menurut saya sangat enak, dagingnya empuk. Rusa juga didapat dari berburu dihutan.

Kayu di Jambi juga beragam. Ada namanya kayu Bulian, ukurannya tidak terlalu besar, tetapi lurus dan sangat kuat. Apabila dijadikan tonggak rumah panggung, kayu Bulian sangat tepat, ia tahan pada air, tidak lapuk. Tahan hingga puluhan tahun.

Hasil lautnya juga melimpah. Saya banyak mencoba beragam ikan laut di Jambi. Ada ikan Senangin, ikan Ekor Kuning, juga udang yang besar dan lainnya. Di Jambi banyak Kampung Nelayan, yang biasanya berupa rumah panggung di pesisir pantai. Katanya, hasil laut nelayan banyak yang tidak sampai ke daratan Jambi, karena udah dibeli pedagang Singapore pada waktu dilautan. Wah, gak perlu masarin sudah langsung laku. Yang tersisa biasanya sudah bukan kualitas yang terbaik, dan itu yang banyak dijual untuk konsumsi lokal. Kalo di biasanya didaerah daratan Jambi penduduknya jarang, tapi tidak dengan kampung nelayan yang banyak terdapat di dipesisir pantai. Kampung nelayan, biasanya berupa rumah panggung dan sangat padat.

Disamping pertanian, peternakan juga bisa dengan mudah berkembang di Jambi. Saya banyak melihat peternak sapi skala rumahan atau kelompok tani di Jambi. Satu kelompok memelihara beberapa ekor sapi, dan anggota bergiliran mencari rumput dan tanaman untuk makanan sapinya. Lahan di Jambi masih banyak yang belum dioptimalkan dan menjadi lahan tidur. Sangat mudah mencari rumput dan tanaman untuk makanan sapi. Sementara Indonesia masih impor daging sapi untuk kebutuhan dalam negeri. Sebuah paradoks!

Dari perut buminya mengalirkan jutaan barrel migas, daratannya semua tumbuhan dapat tumbuh dan berbagai komoditi mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan lautannya juga kaya. (Harusnya) penduduknya sudah makmur!

Tapi, saya tidak melihat kemakmuran di Jambi yang harusnya sebanding dengan kekayaan alamnya. Di Tanjung Jabung Timur dan Barat, yang merupakan dua daerah penghasil migas terbesar di Jambi, angka kemiskinannya juga paling tinggi di Jambi.

Miris, setiap hari dikota Tanjung Jabung Barat dan Timur pasti ada pemadaman listrik bergilir. Saya tanya-tanya ke warga, dalam sehari katanya biasanya antara 3 – 5 jam lampu mati. Bayangkan jika hal itu terjadi di Jawa, semua sudah protes, dan media-pun akan ramai memberitakan. Tapi ini (hanya) terjadi di Jambi, yang tidak perlu diberitakan, media hanya menyoroti politik yang tidak berkesudahan. Bayangkan, Jambi yang merupakan lumbung energi, tetapi tiap hari PLN-nya byar pet!!

Sepertinya ada yang salah dengan negeri ini…

Jambi adalah lumbung energi. Migas dari Tanjung Jabung Barat dan Timur sebagian besar dialirkan untuk menerangi Singapore, sementara kedua daerah tersebut tiap hari padam bergiliran. Ada beberapa kontraktor migas di Jambi yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengeksploitasi kekayaan bumi Jambi, mereka tentu gak bisa disalahkan. Kontraktor migas hanya bergerak sesuai dengan keinginan pemerintah, kemana hasil migasnya akan dialirkan. Ternyata pemerintah sudah terikat kontrak untuk penjualan gas dengan Singapore. Sehingga semua gas dijual ke Singapore, sementara daerahnya sendiri hanya mendapatkan gas sisa (flare gas) yang merupakan sisa gas yang dimanfaatkan daripada terbuang percuma.

Negara selama ini hanya menjual bahan mentah saja ke negara lain. Dan itu hanya memberikan kekayaan kepada negara lain, sedangkan sebagai negara penghasil bahan mentah terus berkubang dalam kemiskinan.

Migas adalah bahan mentah. Seharusnya tidak dijual begitu saja. Bayangkan, migas merupakan energi, dengannya dapat dijadikan sumber energi powerplant untuk mengaliri listrik bagi ratusan ribu rumah dan pabrik. Semua kegiatan ekonomi sangat tergantung pada listrik. Dengan listrik, industri mulai dari skala rumahan sampai besar akan tumbuh. Pendidikan, kesehatan, ketahanan dan keamanan juga sangat tergantung pada sumber energi yang memadai. Sangatlah lucu jika Tanjung Jabung Barat dan Timur bisa menerangi kota Singapore tetapi daerahnya sendiri sering dalam keadaan gelap gulita.

Jambi adalah penghasil Pinang. Bahkan asal kata Jambi, berasal dari Jambe, yang artinya pohon Pinang. Meski Jambi sudah melekat namanya dengan Jambe, dan berarti sudah lama dikenal sebagai penghasil Pinang, tapi sampai saat ini Jambi hanya mengirimkan biji Pinang saja untuk diekspor. Tidak ada nilai tambah lainnya!

Dinegara pengimpor biji Pinang seperti India, Pakistan dan Thailand, biji Pinang diolah untuk menjadi bedak, bahan baku kosmetik, bahan baku obat-obatan herbal dan juga dikonsumsi langsung. Kenapa sebagai penghasil Pinang tapi sampai sekarang Jambi hanya menjual biji Pinang saja? Kenapa tidak ada industri pengolahan Pinang di Jambi? Bukankah logikanya jika ada industri pengolahan biji Pinang, seharusnya bisa lebih bersaing karena bahan bakunya sudah ada di Jambi sehingga lebih murah dibandingkan dengan India dan negara lainnya.

Jambi juga terkenal dengan Kopra. Disamping diambil minyaknya, Kopra juga diolah untuk makanan ternak. Kopra dari olahan Kelapa. Sering dikatakan, tidak ada yang tidak berguna dari pohon Kelapa, tidak ada yang tersisa! Mulai akar, batang, daun dan buahnya. Untuk buahnyapun, mulai dari lapisan kelapanya yang dijadikan Kopra, airnya yang dijadikan minuman isotonik dan buat agar-agar, batoknya, juga sabut dan seratnya bermanfaat. Bahkan, pada waktu dibakarpun, arang batok kelapa, asapnya ‘ditangkap’ untuk dijadikan asap cair yang mempunyai beragam manfaat.

Tapi potensi dari pohon Kelapa di Jambi, lebih banyak yang terbuang. Yang banyak dimanfaatkan adalah daging buahnya yang dijadikan Kopra dan batok kelapa yang dijadikan arang. Kopra juga lebih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah, untuk kemudian dijadikan minyak dan pakan ternak. Sedangkan daging (cocopeat) dan serat sabut Kelapa (cocofiber) hanya terbuang percuma. Cocopeat dan cocofiber mempunyai beragam manfaat, seperti untuk media tanam, bahan tali, bahan kerajinan, kasur dan jok mobil, bahan akustik, bata, papan dan lainnya. Apabila ada, sebagian besar cocopeat dan cocofiber yang ada di Indonesia, kebanyakan diekspor sebagai bahan baku untuk pembuatan produk-produk lainnya di negara-negara lain seperti India, Pakistan dan China. ‘Rayuan Pulau Kelapa’ yang merupakan julukan bagi Indonesia karena mempunyai potensi pohon Kelapa disetiap pesisirnya, ternyata bukanlah raja yang menguasai pasar dunia dengan produk-produk derivatif dari pohon Kelapa.

Contoh yang kontras tapi nyata: Indonesia setiap tahun menjual 3 juta lembar kulit ular dan buaya, dengan pendapatan hanya Rp 90 Milyar setahun. Singapore, memberi nilai tambah dengan menyamaknya terlebih dahulu kulit reptil tersebut sebelum dilempar kepasaran dunia, dan bisa memberikan pendapatan Rp 9 Trilyun. Dan negara-negara seperti Perancis, Italia dan Eropa lainnya menjadikan kulit reptil ini sebagai bahan dasar untuk pembuatan tas-tas edisi terbatas seperti Hermes, Louis Vuitton dan Gucci. Kulit reptil yang dijadikan bahan dasar tas tersebut dibuat bermutu tinggi, karena telah dilapisi polyurethane dengan semprotan indah warna-warna dari teknologi nanopartikel, dan Perancis mendapatkan ratusan trilyun darinya.

Kulit ular phyton atau buaya yang dijual ke Singapore oleh pemburu reptil di Indonesia dan dihargai ratusan ribu rupiah saja, bisa jadi telah menjelma menjadi tas Hermes yang dihargai sampai Rp. 900.000.000,- hanya untuk satu buah tas, sedangkan untuk tas Hermes yang belum di nanocoating masih laku dan diburu walau dengan harga Rp. 240.000.000,- perbuahnya.

Dari dulu Indonesia hanya membuat kaya negara lain, sedangkan warganya sendiri banyak yang hidup dalam kemiskinan. Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam, hanya mengekspor barang mentah ke negara lain. Negara lain, meski tidak mempunyai sumber daya alam yang besar, bisa memberikan nilai tambah pada bahan mentah tersebut menjadi barang yang bernilai ekonomis jauh lebih tinggi.

Dari dulu Indonesia hanya membuat kaya negara lain, sedangkan warganya sendiri banyak yang hidup dalam kemiskinan. Sungguh ironi, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, dengan jumlah penduduk yang juga sangat besar, terbanyak no 4 sedunia. Untuk tenaga kerja, yang seharusnya bisa berkarya di Indonesia, Indonesia juga mengekspornya keluar negeri sebagai ‘bahan mentah’, dengan menjadikan mereka TKI dan TKW. Di negara tujuan TKI dan TKW, mereka adalah tenaga produktif, menjadi karyawan di perusahaan-perusahaan di negara tersebut, ataupun menjadi pembantu rumah tangga. Tenaga produktif yang seharusnya bisa menjadi penunjang pembangunan di Indonesia, malah diekspor keluar negeri, menjadi sumber daya manusia negara lain sehingga meningkatkan produktifitas negara tersebut.

Dari dulu Indonesia hanya membuat kaya negara lain, sedangkan warganya sendiri banyak yang hidup dalam kemiskinan. Selama lebih dari 300 tahun dijajah oleh VOC Belanda, Indonesia telah membuat Belanda kaya raya. Pada saat mereka menjajah Indonesia, pembangunan infrastruktur di Belanda sangatlah gencar. Lihatlah gedung-gedung yang ada di Belanda, yang dibuat antara tahun 1600 – 1900, masa ketika mereka menjajah Indonesia, gedung-gedung itu banyak bertebaran di Belanda, dan itulah hasil penjajahan mereka di Indonesia.

bki_stasiun-jakartaGambar: Kemegahan Stasiun Jakarta Kota peninggalan Belanda

Kalau mau dibandingkan antara jaman penjajahan Belanda dulu dengan jaman kemerdekaan kini, meski Indonesia telah diperas habis kekayaannya, dari segi materi, mungkin Indonesia lebih kaya waktu jaman penjajahan dulu. Infrastruktur peninggalan jaman penjajahan masih gagah mentereng berdiri, seakan mengejek infrastruktur yang dibuat jaman sekarang yang kondisinya sangat ringkih. Stasiun Kereta Api dan rel kereta yang sampai sekarang masih terlihat megah, jalan-jalan raya, jembatan-jembatan, fasilitas umum sekolah dan perkantoran, pabrik-pabrik pengolahan hasil sumber daya alam seperti Pabrik Gula, Pabrik Teh, Pengolahan Tembakau dan lainnya. Dan ingat, pada waktu jaman penjajahan belanda dulu, Indonesia tidak punya hutang, sedangkan sekarang Indonesia adalah negara penghutang terbesar dengan jumlah hutang ribuan trilyun!

bki_stasiunjakartaGambar: Stasiun Jakarta Kota tempo dulu.

Tidak ada salahnya kita meniru Belanda dalam mengeksploitasi dan mengatur kekayaan alam di negara ini. Hanya bedanya, orientasinya yang harus dirubah. Kalau dahalu Indonesia dikeruk kekayaannya kemudian hasilnya dibawa ke negara Belanda, sekarang hasil eksploitasi kekayaan itu dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kepiawaian penjajah Belanda dalam mengeksploitasi dan mengatur kekayaan alam di Indonesia ini membuat Indonesia dikenal dunia sebagai eksportir terbesar untuk: gula, kopi, teh, coklat, tembakau dan rempah-rempah.

Untuk daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah misalnya, difokuskan untuk menjadi sentra penghasil gula. Banyak sekali Pabrik Gula yang didirikan di daerah Jawa Timur, kabupaten Mojokerto, Sidoarjo, Jombang, Malang, Tulung Agung dan Pasuruan merupakan kabupaten penghasil gula yang ditandai dengan puluhan pabrik gula yang ada didaerah tersebut. Banyak dari pabrik-pabrik gula tersebut masih beroperasi sampai sekarang. Kalau dilihat dari sisa-sisa gedung yang ada, terlihat betapa pabrik tersebut merupakan state of the art pada jamannya. Dan untuk mengangkut hasil tebu dari perkebunan, dibuat alat trasnportasi berbasis rel yaitu lori-lori, yang mengangkut tebu langsung menuju pabrik gula. Sebuah pabrik yang telah terintegrasi dan dipikirkan matang-matang dalam perencanaan pembuatannya. Sekarang? Bukannya pabrik gula semakin bertambah, tetapi malah pabrik gula peninggalan Belanda yang ada semakin banyak yang tutup tidak beroperasi. Dan Indonesia dari negara pengekspor gula menjadi negara pengimpor gula.

bki_pg-kebon-agungGambar: Pabrik Gula Kebun Agung Malang peninggalan Belanda yang telah direnovasi.

Sistem ‘Cultuur Stelsel’ atau ‘tanam paksa’ yang dibuat oleh penjajah Belanda, mengharuskan petani Indonesia menanam tanaman komoditas ekspor sesuai dengan yang ditentukan oleh Belanda. Sistem ini menuai sukses besar dan membuat kerajaan Belanda kaya raya, bahkan ada referensi yang mengatakan, pada saat kejayaannya, pendapatan Belanda disumbang 70% dari Indonesia (Oost Indische, Hindia Belanda) pada tahun 1831-1871, yang menyelamatkan Belanda dari krisis karena perang dan membangun infrastruktur di negerinya. (http://www.markijar.com/2015/10/sistem-tanam-paksa-lengkap-penjelasan.html).

Ada beberapa filosofi ‘cultuur stelsel’ yang baik dan perlu diperhitungkan untuk dilaksanakan lagi, dengan penyesuaian dan harus berorientasi untuk kemakmuran rakyat. Pada cultuur stelsel, penjajah Belanda memaksa petani untuk menanam jenis tanaman tertentu untuk diekspor. Seperti pada cultuur stelsel, seharusnya pemerintah yang mengarahkan komoditas apa yang akan ditanam oleh petani. Pemerintahlah yang mempunyai data komoditas apa yang diperlukan untuk memenuhi pasar dalam negeri dan juga untuk memenuhi pasaran ekspor. Disamping itu juga, pemerintahlah yang mempunyai data hasil analisa, jenis tanaman apa yang sesuai dengan daerahnya.

Untuk daerah Jambi misalnya, sekarang banyak ditanami dengan kelapa sawit. Harga kelapa sawit pernah mencapai kejayaan dengan harga TBS (tandan buah segar) yang tinggi perkilonya, tetapi sekarang, dengan banyaknya petani yang menanam kelapa sawit membuat harga TBS kelapa sawit anjlok, karena jumlahnya melimpah. Jumlah kelapa sawit yang melimpah tidak diiringi dengan pembuatan pabrik pengolahan kelapa sawit (menjadi minyak), yang bisa menampung hasil kelapa sawit dari petani. Akibatnya produk jadi melimpah, harga anjlok dan petani rugi. Sementara sudah banyak petani yang mengalihkan lahannya menjadi kebun kelapa sawit, karena tergiur keuntungan dari menanam kelapa sawit pada saat harga TBS masih tinggi. Dulu, daerah Tanjung Jabung Timur, dikenal dengan daerah penghasil padi. Tetapi karena konversi lahan menjadikan hamparan sawah padi disulap menjadi perkebunan kelapa sawit. Dan sekarang, harga komoditi kelapa sawit rendah sedangkan Indonesia malah mengimpor padi untuk konsumsi dalam negeri. Petani Indonesia semakin menderita, bukan karena mereka tidak bekerja keras, tetapi karena mereka tidak tahu komoditi apa yang tepat untuk ditanam, mereka tidak diarahkan!

Pada jaman penjajahan Belanda, VOC Belanda bertindak sebagai marketing dari hasil-hasil pertanian dan perkebunan. Seharusnya, sekarang, pemerintahlah yang bertindak sebagai tenaga penjual dari produk pertanian dalam negeri. Petani hanyalah orang yang mempunyai lahan dan mempunyai semangat untuk bekerja keras mengolah lahannya. Petani tidak tahu kebutuhan pasar dan juga tidak mengetahui pasar mana yang memerlukan produknya. Petani, adalah seorang pekerja keras yang tahu bagaimana cara mengolah tanahnya dan merawat tanamannya, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara memasarkannya.

Pemerintahlah yang tahu, negara mana yang mempunyai kebutuhan komoditi pertanian tertentu. Indonesia, yang mempunyai lahan yang luas dengan sumber daya manusia yang terbanyak bekerja di sektor pertanian, tentunya bisa memenuhi kebutuhan komoditi pertanian bila diatur dengan baik.

Mungkin, untuk tahap pertama, gak usahlah bermimpi indah untuk memenuhi kebutuhan ekspor, fokus dulu pada kebutuhan dalam negeri yang juga besar. Indonesia sampai sekarang adalah negara pengimpor: gula, bawang, beras, jagung, daging, gandum dan buah-buahan.

Jambi hanya salah satu contoh. Masih banyak daerah lain di Indonesia yang mempunyai potensi sumber daya alam yang tak kalah besar tetapi masih menjadi lahan tidur.

Betapa kayanya negeri ini, sehingga telah banyak membuat negara lain kaya. Belanda jaya karena Indonesia, ribuan trilyun uang di Bank-Bank Singapore dan negara lainnya hasil dari pengusaha mendapatkan kekayaan dari bumi Indonesia. Belum lagi para koruptor trilyunan yang uangnya rahib dibawa pergi keluar Indonesia, juga hasil dari kekayaan bumi Indonesia.

Indonesia sangat kaya sumber daya alam negaranya, tetapi belum sejahtera penduduknya!

Dipublikasi di Opini, Perjalanan | Tag , | Meninggalkan komentar

Jika Allah berkehendak…

Allah Maha Berkehendak. Semua yang terjadi di dunia ini atas kehendak-Nya, bahkan untuk setiap gerak-gerik dan desah nafas kita juga kehendak-Nya.

Kita sering mengatakan bahwa apa yang kita kerjakan adalah ‘kehendak’ kita sendiri, karena biasanya, apa yang kita inginkan sesuai dengan yang kita rencanakan. Dan ketika apa yang kita inginkan tidak tercapai, kita sering mengatakan bahwa itu adalah kehendak Allah. Padahal semua, baik tercapai atau tidak tercapai kehendak kita, semua adalah atas kehendak-Nya.

Suatu hari saya berlibur ke Yogyakarta, di akhir Desember 2012, menjelang pergantian tahun ke 2013. Waktu itu hari Jumat, saya sudah berniat jauh-jauh hari sebelumnya untuk jumatan di Masjid Kampus UGM. Sebelumnya saya pernah ke masjid Kampus UGM, dan saya suka pada arsitektur masjidnya, juga aktifitas masjid yang hidup, yang mengingatkan suasana masa kuliah dulu (yang bukan di UGM!).

Entah kenapa, saya merasakan banyak gangguan untuk menuju ke masjid UGM tersebut. Seharusnya saya menyiapkan waktu yang lebih luang untuk perjalanan menuju masjid itu, tapi ternyata mepet baru menuju kesana. Kemudian lalu lintas juga tidak terlalu bersahabat, yang membuat masjid kampus UGM terasa semakin jauh.

Gerbang PHIN.jpg

gerbang-phin2

Akhirnya, karena waktu jumatan yang sudah dekat, saya lihat ada beberapa orang masuk sebuah sekolahan untuk Jumatan. Ada perasaan ‘menyuruh’ dari dalam untuk ke sekolahan tersebut. Perasaan itu sangat kuat, mengalahkan keinginan untuk Jumatan di Kampus UGM yang sudah dirancang jauh hari sebelumnya. Sayapun masuk kedalam. Parkir mobil, ambil wudhu dan duduk diberanda masjid karena didalam udah penuh.

Saya perhatikan kesekeliling. Bangunan masjid dan sekolah dalam kawasan itu tidak sepenuhnya bangunan baru, punya halaman yang cukup luas untuk upacara ataupun olahraga. Sekolah yang cukup maju dengan fasilitas yang memadai. Aneh juga, saya merasakan sentuhan ‘seakan sudah lama’ mengenal sekolah itu.

Selesai Jumatan, bergegas mobil keluar untuk cari makan siang. Penginnya udah pasti yang khas Yogya, mumpung ada di Yogya. Tapi jalanan macet, dan entah kenapa, saya seakan ‘disuruh’ untuk makan siang diwarung depan gerbang sekolahan itu. Sayapun makan soto. Nah waktu di warung soto itulah saya melihat ada board penunjuk kecil di dekat pintu gerbang masuk: MAN I Yogyakarta (ex PHIN). Subhanallah, saya terperanjat!!

Mungkin banyak orang tidak tahu lagi singkatan PHIN, kalo saya sangat familiar. PHIN adalah Pendidikan Hakim Islam Negeri. Bapakku adalah salah satu alumninya, dan juga bapak mertuaku, juga alumni di sekolah yang sama (adik kelas Bapakku).

Bapakku kuliah disini setelah menyelesaikan PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) di Pamekasan. Semua siswa di PHIN waktu itu adalah penerima beasiswa dari seluruh Indonesia, sehingga seleksinya sangat ketat. Seingat cerita Bapakku, hanya 3 atau 4 siswa angkatannya dari PGAN Pamekasan yang diterima di PHIN waktu itu.

Juga mengenai mendiang Bapak mertua, mendiang adalah alumni PHIN juga. Sebenarnya saya memendam keinginan untuk mengajak mendiang bernostalgia berjalan-jalan ke Yogya yang pasti akan membangkitkan memorinya mengenai masa-masa mudanya dulu, tetapi tidak sempat karena beliau wafat pada tahun 2009.

Jadi, terjawablah sudah, kenapa seakan saya ‘diarahkan’ untuk Jumatan di tempat tersebut, dan juga makan di Warung Soto depannya, sehingga tahu bahwa inilah sekolah almamater kedua Bapakku.

Saya merasakan langsung ‘tangan’ Allah mengarahkan saya ketempat tersebut, karena saya memang tidak merencanakannya. Kalo mengingat kejadian tersebut, saya masih merasakan bagaimana seakan-akan saya digerakkan untuk menuju kesana, sehingga saya menuliskannya di blog ini.

Allah Maha Berkehendak!

Website MAN I Yogyakarta: http://www.manyogya1.sch.id/man1new/?module=c2VqYXJhaA==

Dipublikasi di Perjalanan, Sekelebatan | Tag , | Meninggalkan komentar