Sebuah Perjalanan Panjang

An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang…

Hari ini Minggu, tanggal 5 September 2010 atau merupakan hari ke 26 dari bulan Ramadlan 1431 H. Bulan yang sangat istimewa, karena dibulan itulah saya dilahirkan sehingga namanyapun Ahmad Ramadlan.

Pada hari ini saya mencoba membuat Blog, sebuah niatan lama yang baru terealisasi sekarang. Dulu pernah register untuk sebuah akun Blog, yang karena saking lamanya, nama website-nyapun lupa. Kasihan website-nya, sudah disampahi dengan akun yang gak bermanfaat, hehehe…

Waktu bikin Blog ini di Google, pada tahap ‘Beri Nama Blog Anda’, saya agak tertegun lama, bingung atas pertanyaan ini, karena harus memberi nama atas Blog saya. Saya tinggalkan taraweh dulu, dan pada saat Shalat Taraweh (yang berarti Shalat Tarawehnya kurang khusuk nih, maafkan ya Allah!) saya teringat untuk memberi nama Odyssey, perjalanan panjang, dan biar rada sastra dikit diberi label An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Sengaja pakai bahasa Inggris, karena lebih representatif. Representatif maksudnya, cukup dengan satu kata mempunyai makna yang lebih.

Nama Odyssey awalnya saya tidak tahu artinya. Pertama melihat dari sebuah seri mobil buatan Honda; Odyssey. Karena bentuknya pas dihati, tergelitik untuk mencari apa artinya, saya coba buka di kamus dan artinya adalah: Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Saya kagum pada orang Honda yang telah memberi nama mobil itu dengan Odyssey, karena bentuk mobil itu yang panjang (tetapi tidak terlalu panjang juga), kokoh dan stabil yang sengaja diciptakan untuk  siap  menempuh sebuah perjalanan panjang penuh makna dengan kenyamanan dan rasa aman.

Dan, demikianlah maksud dan keinginan Blog ini dibuat. Blog ini akan bercerita ‘ngalor-ngidul’ gak tentu arah yang merupakan mosaik dari perjalanan saya. Perjalanan yang perlu saya tuliskan karena saya rasa sangat bermanfaat, utamanya untuk saya sendiri. Kalaupun kemudian ada yang mengambil manfaat dari Blog ini, Alhamdulillah!

Ini alamat email saya: ahmadramadlan@yahoo.com

Selamat menikmati Blog saya!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 5 Komentar

Menghitung Jumlah Massa Aksi Super Damai 212…

212_5

Dalam hitungan saya, jumlah total peserta Aksi 212 berkisar antara 1.800.000 – 2.000.000 orang. Jumlah massa itu sama seperti jumlah kapasitas masjidil haram setelah diekspansi yang dapat menampung sampai 1.8 juta Jemaah. Luar biasa!!

Sebagai ilustrasi, total luas Masjidil Haram setelah renovasi adalah 1.100.000 M2 yang dapat menampung 1.800.000 Jemaah Shalat. Kalo misalkan 1.100.000 M2 itu berupa jalan raya, maka jika lebar jalan raya tersebut 55 M, maka panjangnya adalah 20.000 M atau 20 KM, Luar biasa!

Aksi 212 telah usai, dan komentar yang banyak muncul: luar biasaaaa!!! Luar biasa dari segala segi, ketertiban, tidak ada sampah, orasi dari para ulama yang menggetarkan, doa-doa yang menyentuh, kehadiran Pak Jokowi, peserta yang jalan kaki dari Ciamis, makanan yang melimpah dan yang paling mencengangkan jumlah pengunjuk rasa yang luar bisa banyaknya.

Mengenai jumlah, itu yang banyak diperdebatkan. Diluar maksud politis, seperti ada pihak yang mengecilkan jumlahnya atau ada juga yang terlalu membesarkan jumlahnya, sebenarnya jumlah peserta aksi 212 dapat dihitung dengan berbagai pendekatan:

  1. Transportasi yang digunakan:
    1. Jumlah penumpang KRL Commuter Line. Saya yakin, bahwa jumlah peserta terbesar berasal dari Jabodetabek. Dan pilihan peserta aksi yang menggunakan KRL saya rasa termasuk yang dominan. Pada saat aksi 212, dibeberapa stasiun disekitar lokasi aksi ada lonjakan sampai 4 kali lipat. Stasiun tempat menurunkan peserta aksi: Juanda, Pasar Baru, Sawah Besar, Gondangdia, Sudirman dan juga Gambir (dari luar kota).
    2. Jumlah Bis dan kendaraan pribadi yang masuk Ibukota pada tanggal aksi 212. Kalo untuk Bis bisa lebih terpantau, mereka biasanya terkoordinir dan melapor ke Pantia GNPF. Sehari sebelum pelaksanaan, panitia GNPF melaporkan bahwa perkiraan jumlah peserta yang terdaftar diatas 2 juta peserta.
    3. Kendaraan pribadi yang masuk Jakarta, sekitar area Jabotabek. Untuk yang menggunakan kendaraan pribadi, baik mobil atau motor jumlahnya susah dipantau dan mereka kebanyakan tidak melapor ke panitia GNPF. Kebanyakan yang menggunakan kendaraan pribadi berada di seputaran Jabodetabek.
    4. Jalan kaki. Wah ini fenomena baru sebagai buah dari ‘Ciamis Effect’. Selain dari Ciamis yang berjalan kaki karena penyebab yang tidak biasa, peserta yang jalan kaki pasti yang berada di seputaran lokasi tempat aksi 212 di Monas, atau karyawan kantor yang ‘nekat’ masih buka di tanggal 212.
  1. Jumlah area yang ditempati untuk dibagi dengan kebutuhan area masing-masing orang. Luas area yang ditempati bisa dihitung dengan aplikasi google earth, kemudian dikali dengan asumsi pemakaian luas per orang. Asumsi yang paling masuk akal menurut saya, pada waktu berdiri, kepadatan per M2 sekitar 3-4 orang, sedang pada waktu shalat kepadatan per M2 sekitar 2 orang. Anda bisa membayangkan sendiri, 1 M2 adalah area segi empat selebar 1 M dengan panjang 1 M juga. Dan bisa kita simulasikan diisi dengan jumlah 1 – 2 orang per area tersebut, yang saya rasa cukup longgar. Selain itu dikurangi dengan fasilitas umum yang ada disitu, seperti kendaraan bis, pos-pos makanan, pos-pos untuk wudhu dan toilet.

Sebagai contoh, luas area Monas adalah 80 Hektar, jika 1 hektar sama dengan 10.000 M2, maka luas monas keseluruhan adalah 800.000 M2. Dari keterangan yang disampaikan oleh pihak Kepolisian, area Monas mempunyai daya tampung 600.000 – 700.000 orang, dengan catatan area rumput juga dipergunakan, berarti asumsi 1 M2 untuk 1 – 2 orang jamaah shalat sudah sesuai.

212_3

Nah, dari pendekatan-pendekatan itu, kita bisa mengambil perkiraan yang lebih teliti jumlah peserta aksi 212. Beberapa perkiraan yang menjadi viral di medsos saya rasa terlalu berlebihan, perkiraan itu adalah:

  1. Untuk aksi 411, jumlah massa yang ikut diperkirakan adalah 2.245.000 orang, seperti pada berita pada salah satu media online dan menjadi viral. Asumsi yang dipakai adalah luas area yang terpakai seluas 280.650M2, dan setiap 1 M2 dapat menampung 8 orang, yang kemudian dikalikan, hasilnya adalah 2.245.000 orang. Asumsi setiap 1M2 dapat menampung 8 orang terlalu berlebihan, anda dapat bayangkan berada di area panjang 1 M dan lebar 1 M, yang diisi oleh 8 orang. Bayangkan, 1M2 dipakai 8 orang, terlalu berdesakan, selain itu juga tidak memperhitungkan area lain yang dipakai untuk fasilitas umum.
  1. Untuk aksi 212, jumlah massa yang ikut diperkirakan mencapai 7.434.757 orang, dan jumlah ini menjadi viral kemudian dicopas dibeberapa media online. Pendekatannya adalah dengan mendata jumlah bis yang terdata akan masuk Jakarta untuk mengikuti aksi serta ditambah perkiraan-perkiraan dari beberapa daerah. Salah satu kelemahan dari data itu, kesalahan terbesar adalah memasukkan jemaah Adz Zikra sebanyak 6.000.000 orang dan unsur HMI sebanyak 1.000.000 orang, asumsi ini sungguh terlalu besar. Apabila klaim 7.424.757 dikurangi Adz Zikra dan HMI berarti hanya tinggal 434.757 orang saja. Tetapi ada yang luput dari pencatatan, yaitu datanya terlalu rendah untuk asumsi peserta dari Jabodetabek, yang merupakan peserta terbesar karena akses transportasi yang paling mudah.

Sekarang, berapakah perkiraan yang lebih mendekati jumlah sebenarnya untuk peserta aksi 411 dan 212? Kalo menurut saya, inilah perkiraan yang lebih presisi dan mendekati kebenaran:

  1. Untuk aksi 411. Perkiraan dari PT IndoAtlas Geo Solusi, sebuah perusahaan yang sangat kompeten dibidang survey dan pemetaan. Pendekatan yang digunakan adalah luas areal yang dipadati massa yang diperoleh dari Google Earth dengan aplikasi berbasis GIS (Geographic Information System) seluas 117.719 M2 dengan kepadatan 4 orang per M2, sehingga total 470.876, dan belum ditambah dengan yang standby di Masjid Istiqlal, Tugu Tani dan sisa lainnya yang luput dari perhatian. Saya rasa, jumlah yang mendekati kebenaran berkisar antara 500.000 – 550.000 orang. Jumlah tersebut sudah LUAR BIASA banyak, sama seperti penduduk kota menengah seperti Jambi.
  2. Untuk aksi 212. Terus terang, belum ada yang menghitung luas area keseluruhan khusus untuk aksi 212, tetapi beberapa asumsi moderat ini bisa dijadikan patokan:
    1. Perkiraan kasar, untuk yang aksi di dalam area Monas apabila lapangan rumput dipakai, kapasitasnya adalah 600 – 700.000 orang seperti yang disampaikan Kapolri. Tetapi kita lihat bahwa area hijau tidak dipakai, perkiraan yang dipakai adalah 60%, sehingga yang ada diarea Monas berkisar 60% x 650.000 = 390.000 orang.
    2. Kapasitas Masjid Istiqlal yang ideal adalah 120.000 orang. Memang, pada saat aksi 212, Masjid Istiqlal tidak menjadi sentra kegiatan, karena posisi Imam yang ada di Monas. Tetapi Istiqlal penuh sampai ke pelataran dan halamannya. Anggap saja, total massa di Istiqlal 120.000 orang. Disekitar masjid Istiqlal seperti di area Jalan Juanda, Katedral, Lapangan Banteng sampai ke daerah dekat Gambir nyambung ke Medan Merdeka, perkiraan 200.000. Sehingga total area dekat Istiqlal sekitar 320.000 massa.
    3. Kapasitas jalan yang dipakai untuk area Jalan Medan Merdeka Utara, Medan Merdeka Timur, Medan Merdeka Selatan, Medan Merdeka Barat dan MH Thamrin adalah 280.000 M2. Yang belum terhitung adalah disekitar Tugu Tani, Ridwan Rais, Kwitang dan juga Sudirman, serta area jalan sekitar Sarinah yang mempunyai kisaran yang sama, maka luas total adalah 560.000 M2. Dan jika kepadatannya adalah 2 orang per M2, maka jumlah total adalah 1.120.000 orang.
    4. Total jumlah a + b + c = 1.830.000 orang.

Jadi estimasi saya, jumlah total peserta Aksi 212 berkisar antara 1.800.000 – 2.000.000 orang. Jumlah massa itu sama seperti jumlah kapasitas masjidil haram setelah diekspansi yang dapat menampung sampai 1.8 juta Jemaah. Luar biasa!!!

Sebagai ilustrasi, total luas Masjidil Haram setelah renovasi adalah 1.100.000 M2 yang dapat menampung 1.800.000 Jemaah Shalat. Kalo misalkan 1.100.000 M2 itu berupa jalan raya, maka jika lebar jalan raya tersebut 55 M, maka panjangnya adalah 20.000 M atau 20 KM, Luar biasa!!

Jumlah sebenarnya? Hanya Allah yang Maha Tahu!!

212_1

212_4

Dipublikasi di Uncategorized | 2 Komentar

Hati-hati memilih investasi…

i_warrenKalo kasus Kanjeng Dimas, sudah pasti saya katakan sebagai penipuan, bukan termasuk investasi. Mungkin orang yang telah tertipu menganggapnya sebagai investasi, tetapi bagaimana mungkin menggandakan uang tanpa adanya suatu proses atau usaha. Peribahasa di berbagai belahan dunia juga sudah mengatakan hal tersebut: Jer Basuki Maya Bea, No Pain No Gain atau Man Jadda Wajada artinya kira-kira sama aja: hasil akan didapatkan bila kita berusaha dengan sungguh-sungguh.

Sering saya mendapat tawaran untuk investasi dan kerjasama usaha dengan sistem bagi hasil, seperti kebanyakan promosi lainnya, terlihat menggiurkan. Tapi seiring dengan perjalanan waktu, beberapa tawaran itu, ternyata kemudian terbuka kedoknya, tidak sesuai dengan iming-iming awalnya, bahkan ada yang berakhir dengan kaburnya pengelola.

Inilah beberapa hal yang saya jadikan pedoman, sehingga tidak tertipu iming-iming investasi bodong:

Hati-hati jika ada tabungan atau deposito dengan bunga tinggi. Biasanya ditawarkan oleh Koperasi atau kadang BPR. Dulu memang pernah BI memberikan bunga sampai 60% pertahun, atau sampai 5% perbulan. Itu terjadi tahun 1997, ketika krisis moneter melanda Indonesia. Kejadian ini termasuk kejadian luar biasa, dan tidak bisa dijadikan pedoman. Nah, sekarang di tahun 2016 ini, BI Rate sekitar 6 – 7%, dan deposito dari Bank terkemuka ya sekitar 10% pertahun. Biasanya Koperasi atau BPR tersebut, mengiming-imingi dengan bunga sampai 2 kali lipat dari bunga Bank pada umumnya, bahkan, ada yang memberikan bunganya dimuka.

Saya punya pengalaman, saya mendapat tawaran untuk deposito di suatu Koperasi X di kota Bogor pada waktu memberikan tawaran bunga 15% pertahun disekitar tahun 2013, dan diberikan dimuka bunganya. BI Rate waktu itu tidak jauh beda dengan sekarang, sekitar 6 – 7%. Benar, beberapa dua tahun kemudian saya lihat Koperasi itu perkembangannya menurun, dan kelihatannya pengembalian uang ke nasabah bermasalah. Jika ada Koperasi atau BPR dengan memberikan tawaran bunga lebih dari 2 kali lipat BI Rate, maka berhati-hatilah.

Hati-hati jika ada tawaran kerjasama dan bagi hasil. Pernah suatu perusahaan transportasi yang sebenarnya cukup dikenal, menawarkan pola kerjasama bagi hasil untuk pembelian mobil-mobil dan alat-alat berat. Mobil-mobil dan alat-alat berat tersebut kemudian rencananya akan disewakan, dan hasil dari sewa tersebut akan dibagi hasil dengan nasabah. Prospektus yang ditawarkan kelihatan sangat menguntungkan, return on investment sekitar 5 – 7 tahun. Tapi ada suatu hal yang membuat saya waktu itu agak ragu, kelihatannya perusahaan ini terlalu ekspansif, dengan proyek-proyek yang spektakuler. Yang saya khawatirkan dari perusahaan yang terlalu ekspansif, biasanya tidak siap dari segi manajemen. Manajemen bukan suatu hal yang mudah, apabila kita mendapatkan dana yang besar dan memulai suatu usaha, perlu waktu untuk menyiapkan sumber daya manusia (merekrut dan melatihnya), perlu waktu untuk pengadaan barangnya (mobil dan alat berat), perlu waktu untuk mendapatkan kontrak, menyiapkan sistem informasi ataupun SOP, perijinan dan perangkat keras lainnya, sehingga logikanya, apabila kita menjalankan sendiri usaha ini, seharusnya pada masa-masa awal kita tidak langsung mendapatkan hasil atau profit. Dan benar, beberapa tahun kemudian perusahaan tersebut bermasalah.

i_kalkulator

Hati-hati pada investasi agroindustri. Ada tawaran investasi untuk bagi hasil budidaya tanaman Jabon. Saya mempelajari tawaran tersebut, dan hitung-hitungannya sungguh masuk akal. Dalam prospektus ditawarkan investasi senilai Rp 25 juta, maka akan mendapatkan areal penanaman pohon Jabon seluas 5.000 M2. Setelah 6 tahun, dalam hitungan, diperkirakan akan mendapatkan hasil senilai sekitar Rp. 120 juta dari penjualan kayu Jabon tersebut. Sekilas tidak ada masalah dan sangat masuk akal hitung-hitungannya, karena sudah dihitung secara moderat dengan asumsi harga kayu yang juga sudah minimal. Untuk meyakinkan calon investor, mereka biasanya selalu mengatakan ada penjanjian didepan Notaris.

Setelah berjalan berapa sekitar 3 tahun, saya membutuhkan uang untuk suatu keperluan, dan saya ingin menarik dana investasi tersebut karena didalam perjanjiannya memungkinkan hal itu. Dan terbongkarlah kelemahan dari investasi ini. Ternyata tanaman Jabon yang dijanjikan tidak memberikan hasil yang maksimal dan bahkan boleh dibilang gagal. Untung uang investasi saya tarik ditengah perjanjian. Dan sulitnya minta ampun untuk menarik uang investasi saya tersebut, butuh waktu hampir 1 tahun, itupun setelah saya dengan ‘tabah’ (hehehe) menghubungi perusahaan pengelolanya hampir tiap hari. Dan juga, gak ngefek ada perjanjian di depan Notaris. Notaris hanyalah pencatat perjanjian, dan tidak bertanggung-jawab atas isi perjanjian.

Tawaran kerjasama dibidang agro industri seperti ini sangat rawan. Kita harus melihat perusahaan pengelolanya, haruslah yang benar-benar berpengalaman dan telah lama di agroindustri. Gangguan pada tanaman juga sangat rawan, pada usia 1 – 2 tahun bisa saja dalam keadaan sehat, tapi kemudian terserang hama dan mati dalam waktu singkat, untuk itu perawatannya harus konsisten. Belum lagi gangguan keamanan dari penjarahan jika telah mencapai usia panen. Saya belum pernah mendapat testimoni yang positif yang saya dengar langsung dari ex investor agroindustri ini.

Hati-hati dengan tawaran investasi logam mulia dalam bentuk saham. Teman dekat saya mempromosikan pembelian saham yang kemudian dikonversi dengan berat emas yang disesuaikan dengan harga emas yang berlaku dan asumsi lainnya. Seperti biasa, tawaran hasilnya menggiurkan. Tetapi saya ragu dengan keamanannya, karena tawaran investasi ini tidak umum. Mungkin perusahaan ini menangkap keraguan calon konsumen, makanya kemudian di prospektusnya diperlihatkan foto-foto dari petinggi perusahaan ini dengan petinggi negara. Saya tetap ragu, dan dengan halus menolak tawaran ini. Benar, beberapa saat kemudian terbukti bahwa perusahaan ini collapse dan tidak mampu bayar. Dan petinggi yang foto-foto dengan petinggi negara itu juga sudah tidak di Indonesia lagi.

Secara umum, pilihlah instrumen investasi yang sudah jelas keamanannya. Jangan tergiur dengan iming-iming hasil yang tinggi. Instrumen investasi yang sudah umum misalnya: deposito, saham, SUN atau ORI, unit link dari asuransi, logam mulia atau tanah.

Kalau ingin mendapatkan hasil yang cepat (dan tentunya juga dengan resiko yang tinggi) adalah dengan menjadi pengusaha langsung. Anda bisa menjadi boss dari usaha sendiri, mengetahui dan belajar secara langsung bisnis anda dan yang paling utama juga adalah, anda menciptakan lapangan kerja abgi orang lain. Sangat mungkin anda memperoleh return on investment dalam waktu kurang dari 1 tahun apabila anda menjalankan bisnis anda sendiri.

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , , , | 2 Komentar

Betapa kayanya Indonesia-ku…

bki_pantai

Setiap perjalanan ke Jambi, menuju tempat kerja, saya merasakan betapa kayanya Jambi. Jambi adalah salah satu daerah penghasil migas. Dari perut bumi Jambi, jutaan barrel minyak dan gas dikeluarkan, menghasilkan pendapatan negara yang tidak sedikit.

Diatasnya adalah lahan subur yang hampir bisa ditanami apa aja. Tongkat saja bisa menjadi tanaman, seperti lagu lebay-nya Koes Plus, untuk menggambarkan betapa suburnya tanah Jambi. Tetapi sayangnya (menurut saya), keanekaragaman hayati yang telah digusur dari ratusan ribu hektar hutan yang dikonversi menjadi lahan tanaman industri (pohon Akasia, untuk bahan baku kertas, utamanya untuk PT Wira Karya Sakti, Sinar Mas Group) hanya menghasilkan kayu-kayu yang diolah menjadi pulp dan kertas.

Menyisakan lahan yang sedikit, beragam jenis tanaman yang dijadikan sumber penghidupan masyarakat Jambi. Sebagian besar Kelapa Sawit, juga ada Kelapa, Pinang, Karet, Kopi dan tanaman kebun lainnya. Ada juga beragam rempah dan tanaman sayur. Hamparan sawah, dengan padi menghampar juga banyak terdapat di Jambi. Buah-buahan juga banyak, saya paling senang berada di Jambi jika musim Durian, hobi makan Durian terpenuhi dengan harga yang murah, dan setelah musim Durian biasanya musim Duku. Buah-buahan lain seperti Rambutan, Pisang, Nangka dan Jambu Air juga tumbuh dengan subur.

Mungkin anda mendengar, peribahasa ‘Bagai mendapat Durian runtuh’. Ternyata, memang begitu adanya. Di Jambi, pohon Durian banyak tumbuh dengan sendirinya (tidak dibudidayakan), dan apabila telah musim Durian, biasanya beberapa orang mendirikan pondok di sekitar lahan yang banyak tumbuh pohon Durian itu, kemudian apabila telah matang, Durian itu rontok dengan sendirinya, dan kemudian dikumpulkan untuk dijual. Namun sekarang, ‘Durian runtuh’ karena matang pohon sudah tidak banyak lagi, kebanyakan Durian dipetik dan dimatangkan diluar.

Saya senang mendengarkan cerita-cerita teman asli dari Jambi, yang bercerita mengenai Jambi jaman dahulu. Di sekitar tahun 1990-an sampai menjelang tahun 2000, ketika area Hutan masih ada belum tergusur oleh tanaman industri, Gajah, Harimau, Babi Hutan, Kijang dan hewan hutan lainnya masih banyak berkeliaran. Saya membayangkan, betapa mengerikannya pembantaian yang dilakukan terhadap jutaan binatang itu, ketika hutan rumah tinggal mereka mau dikonversi menjadi hutan tanam industri, pohon Akasia.

Hutan tanam industri, merupakan hutan monokultur, pohon Akasia saja yang tumbuh. Yang tidak memberikan makanan bagi hewan-hewan liar. Sisa hutan lindung di Jambi sangat sedikit. Sehingga, binatangnya juga sudah jauh berkurang. Sesekali saya melihat ular yang besar (pernah lihat ular melintas dengan panjang lebih dari 2 meter), monyet yang bergelantungan, buaya didaerah air payau, ataupun burung-burung yang indah beragam jenis. Teman saya yang di Jambi ada yang hobi berburu, katanya sering ia berburu Kijang dan Babi Hutan.

Teman saya juga bercerita, pada waktu awal ia bekerja di Jambi, dan musti kelapangan, ia masih sering melihat ada Gajah dan Harimau. Pada waktu penggundulan hutan disekitar tahun 1997 – 2000, ia melihat betapa banyaknya isi hutan yang dikuras, pohon-pohon besar berukuran 3 – 4 lingkaran orang dewasa, dengan panjang sampai puluhan meter. Pantaslah kalo dunia protes kala itu, tapi Indonesia beralasan, bahwa hutan harus memberikan manfaat ekonomi disamping sebagai paru-paru dunia.

Dan sekarang, saya hanya melihat sisa-sisanya saja…

Hutan yang tinggal sedikit masih memberikan manfaatnya bagi manusia. Di Jambi terkenal dengan Madu Hutannya. Mereka, para pengrajin, mengambil madu langsung dari hutan, tidak membudidayakannya seperti kebanyakan di Jawa. Jumlahnya sudah makin sedikit, dan kadang mencari yang benar-benar asli madu hutan tanpa campuran sudah sangat sulit.

Kadang saya lihat juga beberapa orang masuk ke hutan untuk mengambil rotan. Yang dikumpulkan untuk kemudian dijual dijadikan bahan baku perabotan ataupun tali. Di beberapa rumah makan Padang, kadang tersedia menu burung Punai. Saya pernah mencobanya, enak, hampir sama dengan burung Merpati tetapi lebih keras sedikit. Burung Punai tidak diternakkan, tetapi mereka mendapatkannya langsung dari berburu di hutan. Ada juga rumah makan yang menyediakan daging Rusa, yang menurut saya sangat enak, dagingnya empuk. Rusa juga didapat dari berburu dihutan.

Kayu di Jambi juga beragam. Ada namanya kayu Bulian, ukurannya tidak terlalu besar, tetapi lurus dan sangat kuat. Apabila dijadikan tonggak rumah panggung, kayu Bulian sangat tepat, ia tahan pada air, tidak lapuk. Tahan hingga puluhan tahun.

Hasil lautnya juga melimpah. Saya banyak mencoba beragam ikan laut di Jambi. Ada ikan Senangin, ikan Ekor Kuning, juga udang yang besar dan lainnya. Di Jambi banyak Kampung Nelayan, yang biasanya berupa rumah panggung di pesisir pantai. Katanya, hasil laut nelayan banyak yang tidak sampai ke daratan Jambi, karena udah dibeli pedagang Singapore pada waktu dilautan. Wah, gak perlu masarin sudah langsung laku. Yang tersisa biasanya sudah bukan kualitas yang terbaik, dan itu yang banyak dijual untuk konsumsi lokal. Kalo di biasanya didaerah daratan Jambi penduduknya jarang, tapi tidak dengan kampung nelayan yang banyak terdapat di dipesisir pantai. Kampung nelayan, biasanya berupa rumah panggung dan sangat padat.

Disamping pertanian, peternakan juga bisa dengan mudah berkembang di Jambi. Saya banyak melihat peternak sapi skala rumahan atau kelompok tani di Jambi. Satu kelompok memelihara beberapa ekor sapi, dan anggota bergiliran mencari rumput dan tanaman untuk makanan sapinya. Lahan di Jambi masih banyak yang belum dioptimalkan dan menjadi lahan tidur. Sangat mudah mencari rumput dan tanaman untuk makanan sapi. Sementara Indonesia masih impor daging sapi untuk kebutuhan dalam negeri. Sebuah paradoks!

Dari perut buminya mengalirkan jutaan barrel migas, daratannya semua tumbuhan dapat tumbuh dan berbagai komoditi mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan lautannya juga kaya. (Harusnya) penduduknya sudah makmur!

Tapi, saya tidak melihat kemakmuran di Jambi yang harusnya sebanding dengan kekayaan alamnya. Di Tanjung Jabung Timur dan Barat, yang merupakan dua daerah penghasil migas terbesar di Jambi, angka kemiskinannya juga paling tinggi di Jambi.

Miris, setiap hari dikota Tanjung Jabung Barat dan Timur pasti ada pemadaman listrik bergilir. Saya tanya-tanya ke warga, dalam sehari katanya biasanya antara 3 – 5 jam lampu mati. Bayangkan jika hal itu terjadi di Jawa, semua sudah protes, dan media-pun akan ramai memberitakan. Tapi ini (hanya) terjadi di Jambi, yang tidak perlu diberitakan, media hanya menyoroti politik yang tidak berkesudahan. Bayangkan, Jambi yang merupakan lumbung energi, tetapi tiap hari PLN-nya byar pet!!

Sepertinya ada yang salah dengan negeri ini…

Jambi adalah lumbung energi. Migas dari Tanjung Jabung Barat dan Timur sebagian besar dialirkan untuk menerangi Singapore, sementara kedua daerah tersebut tiap hari padam bergiliran. Ada beberapa kontraktor migas di Jambi yang ditunjuk oleh pemerintah untuk mengeksploitasi kekayaan bumi Jambi, mereka tentu gak bisa disalahkan. Kontraktor migas hanya bergerak sesuai dengan keinginan pemerintah, kemana hasil migasnya akan dialirkan. Ternyata pemerintah sudah terikat kontrak untuk penjualan gas dengan Singapore. Sehingga semua gas dijual ke Singapore, sementara daerahnya sendiri hanya mendapatkan gas sisa (flare gas) yang merupakan sisa gas yang dimanfaatkan daripada terbuang percuma.

Negara selama ini hanya menjual bahan mentah saja ke negara lain. Dan itu hanya memberikan kekayaan kepada negara lain, sedangkan sebagai negara penghasil bahan mentah terus berkubang dalam kemiskinan.

Migas adalah bahan mentah. Seharusnya tidak dijual begitu saja. Bayangkan, migas merupakan energi, dengannya dapat dijadikan sumber energi powerplant untuk mengaliri listrik bagi ratusan ribu rumah dan pabrik. Semua kegiatan ekonomi sangat tergantung pada listrik. Dengan listrik, industri mulai dari skala rumahan sampai besar akan tumbuh. Pendidikan, kesehatan, ketahanan dan keamanan juga sangat tergantung pada sumber energi yang memadai. Sangatlah lucu jika Tanjung Jabung Barat dan Timur bisa menerangi kota Singapore tetapi daerahnya sendiri sering dalam keadaan gelap gulita.

Jambi adalah penghasil Pinang. Bahkan asal kata Jambi, berasal dari Jambe, yang artinya pohon Pinang. Meski Jambi sudah melekat namanya dengan Jambe, dan berarti sudah lama dikenal sebagai penghasil Pinang, tapi sampai saat ini Jambi hanya mengirimkan biji Pinang saja untuk diekspor. Tidak ada nilai tambah lainnya!

Dinegara pengimpor biji Pinang seperti India, Pakistan dan Thailand, biji Pinang diolah untuk menjadi bedak, bahan baku kosmetik, bahan baku obat-obatan herbal dan juga dikonsumsi langsung. Kenapa sebagai penghasil Pinang tapi sampai sekarang Jambi hanya menjual biji Pinang saja? Kenapa tidak ada industri pengolahan Pinang di Jambi? Bukankah logikanya jika ada industri pengolahan biji Pinang, seharusnya bisa lebih bersaing karena bahan bakunya sudah ada di Jambi sehingga lebih murah dibandingkan dengan India dan negara lainnya.

Jambi juga terkenal dengan Kopra. Disamping diambil minyaknya, Kopra juga diolah untuk makanan ternak. Kopra dari olahan Kelapa. Sering dikatakan, tidak ada yang tidak berguna dari pohon Kelapa, tidak ada yang tersisa! Mulai akar, batang, daun dan buahnya. Untuk buahnyapun, mulai dari lapisan kelapanya yang dijadikan Kopra, airnya yang dijadikan minuman isotonik dan buat agar-agar, batoknya, juga sabut dan seratnya bermanfaat. Bahkan, pada waktu dibakarpun, arang batok kelapa, asapnya ‘ditangkap’ untuk dijadikan asap cair yang mempunyai beragam manfaat.

Tapi potensi dari pohon Kelapa di Jambi, lebih banyak yang terbuang. Yang banyak dimanfaatkan adalah daging buahnya yang dijadikan Kopra dan batok kelapa yang dijadikan arang. Kopra juga lebih banyak diekspor dalam bentuk bahan mentah, untuk kemudian dijadikan minyak dan pakan ternak. Sedangkan daging (cocopeat) dan serat sabut Kelapa (cocofiber) hanya terbuang percuma. Cocopeat dan cocofiber mempunyai beragam manfaat, seperti untuk media tanam, bahan tali, bahan kerajinan, kasur dan jok mobil, bahan akustik, bata, papan dan lainnya. Apabila ada, sebagian besar cocopeat dan cocofiber yang ada di Indonesia, kebanyakan diekspor sebagai bahan baku untuk pembuatan produk-produk lainnya di negara-negara lain seperti India, Pakistan dan China. ‘Rayuan Pulau Kelapa’ yang merupakan julukan bagi Indonesia karena mempunyai potensi pohon Kelapa disetiap pesisirnya, ternyata bukanlah raja yang menguasai pasar dunia dengan produk-produk derivatif dari pohon Kelapa.

Contoh yang kontras tapi nyata: Indonesia setiap tahun menjual 3 juta lembar kulit ular dan buaya, dengan pendapatan hanya Rp 90 Milyar setahun. Singapore, memberi nilai tambah dengan menyamaknya terlebih dahulu kulit reptil tersebut sebelum dilempar kepasaran dunia, dan bisa memberikan pendapatan Rp 9 Trilyun. Dan negara-negara seperti Perancis, Italia dan Eropa lainnya menjadikan kulit reptil ini sebagai bahan dasar untuk pembuatan tas-tas edisi terbatas seperti Hermes, Louis Vuitton dan Gucci. Kulit reptil yang dijadikan bahan dasar tas tersebut dibuat bermutu tinggi, karena telah dilapisi polyurethane dengan semprotan indah warna-warna dari teknologi nanopartikel, dan Perancis mendapatkan ratusan trilyun darinya.

Kulit ular phyton atau buaya yang dijual ke Singapore oleh pemburu reptil di Indonesia dan dihargai ratusan ribu rupiah saja, bisa jadi telah menjelma menjadi tas Hermes yang dihargai sampai Rp. 900.000.000,- hanya untuk satu buah tas, sedangkan untuk tas Hermes yang belum di nanocoating masih laku dan diburu walau dengan harga Rp. 240.000.000,- perbuahnya.

Dari dulu Indonesia hanya membuat kaya negara lain, sedangkan warganya sendiri banyak yang hidup dalam kemiskinan. Indonesia yang kaya dengan sumber daya alam, hanya mengekspor barang mentah ke negara lain. Negara lain, meski tidak mempunyai sumber daya alam yang besar, bisa memberikan nilai tambah pada bahan mentah tersebut menjadi barang yang bernilai ekonomis jauh lebih tinggi.

Dari dulu Indonesia hanya membuat kaya negara lain, sedangkan warganya sendiri banyak yang hidup dalam kemiskinan. Sungguh ironi, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, dengan jumlah penduduk yang juga sangat besar, terbanyak no 4 sedunia. Untuk tenaga kerja, yang seharusnya bisa berkarya di Indonesia, Indonesia juga mengekspornya keluar negeri sebagai ‘bahan mentah’, dengan menjadikan mereka TKI dan TKW. Di negara tujuan TKI dan TKW, mereka adalah tenaga produktif, menjadi karyawan di perusahaan-perusahaan di negara tersebut, ataupun menjadi pembantu rumah tangga. Tenaga produktif yang seharusnya bisa menjadi penunjang pembangunan di Indonesia, malah diekspor keluar negeri, menjadi sumber daya manusia negara lain sehingga meningkatkan produktifitas negara tersebut.

Dari dulu Indonesia hanya membuat kaya negara lain, sedangkan warganya sendiri banyak yang hidup dalam kemiskinan. Selama lebih dari 300 tahun dijajah oleh VOC Belanda, Indonesia telah membuat Belanda kaya raya. Pada saat mereka menjajah Indonesia, pembangunan infrastruktur di Belanda sangatlah gencar. Lihatlah gedung-gedung yang ada di Belanda, yang dibuat antara tahun 1600 – 1900, masa ketika mereka menjajah Indonesia, gedung-gedung itu banyak bertebaran di Belanda, dan itulah hasil penjajahan mereka di Indonesia.

bki_stasiun-jakartaGambar: Kemegahan Stasiun Jakarta Kota peninggalan Belanda

Kalau mau dibandingkan antara jaman penjajahan Belanda dulu dengan jaman kemerdekaan kini, meski Indonesia telah diperas habis kekayaannya, dari segi materi, mungkin Indonesia lebih kaya waktu jaman penjajahan dulu. Infrastruktur peninggalan jaman penjajahan masih gagah mentereng berdiri, seakan mengejek infrastruktur yang dibuat jaman sekarang yang kondisinya sangat ringkih. Stasiun Kereta Api dan rel kereta yang sampai sekarang masih terlihat megah, jalan-jalan raya, jembatan-jembatan, fasilitas umum sekolah dan perkantoran, pabrik-pabrik pengolahan hasil sumber daya alam seperti Pabrik Gula, Pabrik Teh, Pengolahan Tembakau dan lainnya. Dan ingat, pada waktu jaman penjajahan belanda dulu, Indonesia tidak punya hutang, sedangkan sekarang Indonesia adalah negara penghutang terbesar dengan jumlah hutang ribuan trilyun!

bki_stasiunjakartaGambar: Stasiun Jakarta Kota tempo dulu.

Tidak ada salahnya kita meniru Belanda dalam mengeksploitasi dan mengatur kekayaan alam di negara ini. Hanya bedanya, orientasinya yang harus dirubah. Kalau dahalu Indonesia dikeruk kekayaannya kemudian hasilnya dibawa ke negara Belanda, sekarang hasil eksploitasi kekayaan itu dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Kepiawaian penjajah Belanda dalam mengeksploitasi dan mengatur kekayaan alam di Indonesia ini membuat Indonesia dikenal dunia sebagai eksportir terbesar untuk: gula, kopi, teh, coklat, tembakau dan rempah-rempah.

Untuk daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah misalnya, difokuskan untuk menjadi sentra penghasil gula. Banyak sekali Pabrik Gula yang didirikan di daerah Jawa Timur, kabupaten Mojokerto, Sidoarjo, Jombang, Malang, Tulung Agung dan Pasuruan merupakan kabupaten penghasil gula yang ditandai dengan puluhan pabrik gula yang ada didaerah tersebut. Banyak dari pabrik-pabrik gula tersebut masih beroperasi sampai sekarang. Kalau dilihat dari sisa-sisa gedung yang ada, terlihat betapa pabrik tersebut merupakan state of the art pada jamannya. Dan untuk mengangkut hasil tebu dari perkebunan, dibuat alat trasnportasi berbasis rel yaitu lori-lori, yang mengangkut tebu langsung menuju pabrik gula. Sebuah pabrik yang telah terintegrasi dan dipikirkan matang-matang dalam perencanaan pembuatannya. Sekarang? Bukannya pabrik gula semakin bertambah, tetapi malah pabrik gula peninggalan Belanda yang ada semakin banyak yang tutup tidak beroperasi. Dan Indonesia dari negara pengekspor gula menjadi negara pengimpor gula.

bki_pg-kebon-agungGambar: Pabrik Gula Kebun Agung Malang peninggalan Belanda yang telah direnovasi.

Sistem ‘Cultuur Stelsel’ atau ‘tanam paksa’ yang dibuat oleh penjajah Belanda, mengharuskan petani Indonesia menanam tanaman komoditas ekspor sesuai dengan yang ditentukan oleh Belanda. Sistem ini menuai sukses besar dan membuat kerajaan Belanda kaya raya, bahkan ada referensi yang mengatakan, pada saat kejayaannya, pendapatan Belanda disumbang 70% dari Indonesia (Oost Indische, Hindia Belanda) pada tahun 1831-1871, yang menyelamatkan Belanda dari krisis karena perang dan membangun infrastruktur di negerinya. (http://www.markijar.com/2015/10/sistem-tanam-paksa-lengkap-penjelasan.html).

Ada beberapa filosofi ‘cultuur stelsel’ yang baik dan perlu diperhitungkan untuk dilaksanakan lagi, dengan penyesuaian dan harus berorientasi untuk kemakmuran rakyat. Pada cultuur stelsel, penjajah Belanda memaksa petani untuk menanam jenis tanaman tertentu untuk diekspor. Seperti pada cultuur stelsel, seharusnya pemerintah yang mengarahkan komoditas apa yang akan ditanam oleh petani. Pemerintahlah yang mempunyai data komoditas apa yang diperlukan untuk memenuhi pasar dalam negeri dan juga untuk memenuhi pasaran ekspor. Disamping itu juga, pemerintahlah yang mempunyai data hasil analisa, jenis tanaman apa yang sesuai dengan daerahnya.

Untuk daerah Jambi misalnya, sekarang banyak ditanami dengan kelapa sawit. Harga kelapa sawit pernah mencapai kejayaan dengan harga TBS (tandan buah segar) yang tinggi perkilonya, tetapi sekarang, dengan banyaknya petani yang menanam kelapa sawit membuat harga TBS kelapa sawit anjlok, karena jumlahnya melimpah. Jumlah kelapa sawit yang melimpah tidak diiringi dengan pembuatan pabrik pengolahan kelapa sawit (menjadi minyak), yang bisa menampung hasil kelapa sawit dari petani. Akibatnya produk jadi melimpah, harga anjlok dan petani rugi. Sementara sudah banyak petani yang mengalihkan lahannya menjadi kebun kelapa sawit, karena tergiur keuntungan dari menanam kelapa sawit pada saat harga TBS masih tinggi. Dulu, daerah Tanjung Jabung Timur, dikenal dengan daerah penghasil padi. Tetapi karena konversi lahan menjadikan hamparan sawah padi disulap menjadi perkebunan kelapa sawit. Dan sekarang, harga komoditi kelapa sawit rendah sedangkan Indonesia malah mengimpor padi untuk konsumsi dalam negeri. Petani Indonesia semakin menderita, bukan karena mereka tidak bekerja keras, tetapi karena mereka tidak tahu komoditi apa yang tepat untuk ditanam, mereka tidak diarahkan!

Pada jaman penjajahan Belanda, VOC Belanda bertindak sebagai marketing dari hasil-hasil pertanian dan perkebunan. Seharusnya, sekarang, pemerintahlah yang bertindak sebagai tenaga penjual dari produk pertanian dalam negeri. Petani hanyalah orang yang mempunyai lahan dan mempunyai semangat untuk bekerja keras mengolah lahannya. Petani tidak tahu kebutuhan pasar dan juga tidak mengetahui pasar mana yang memerlukan produknya. Petani, adalah seorang pekerja keras yang tahu bagaimana cara mengolah tanahnya dan merawat tanamannya, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara memasarkannya.

Pemerintahlah yang tahu, negara mana yang mempunyai kebutuhan komoditi pertanian tertentu. Indonesia, yang mempunyai lahan yang luas dengan sumber daya manusia yang terbanyak bekerja di sektor pertanian, tentunya bisa memenuhi kebutuhan komoditi pertanian bila diatur dengan baik.

Mungkin, untuk tahap pertama, gak usahlah bermimpi indah untuk memenuhi kebutuhan ekspor, fokus dulu pada kebutuhan dalam negeri yang juga besar. Indonesia sampai sekarang adalah negara pengimpor: gula, bawang, beras, jagung, daging, gandum dan buah-buahan.

Jambi hanya salah satu contoh. Masih banyak daerah lain di Indonesia yang mempunyai potensi sumber daya alam yang tak kalah besar tetapi masih menjadi lahan tidur.

Betapa kayanya negeri ini, sehingga telah banyak membuat negara lain kaya. Belanda jaya karena Indonesia, ribuan trilyun uang di Bank-Bank Singapore dan negara lainnya hasil dari pengusaha mendapatkan kekayaan dari bumi Indonesia. Belum lagi para koruptor trilyunan yang uangnya rahib dibawa pergi keluar Indonesia, juga hasil dari kekayaan bumi Indonesia.

Indonesia sangat kaya sumber daya alam negaranya, tetapi belum sejahtera penduduknya!

Dipublikasi di Opini, Perjalanan | Tag , | Meninggalkan komentar

Jika Allah berkehendak…

Allah Maha Berkehendak. Semua yang terjadi di dunia ini atas kehendak-Nya, bahkan untuk setiap gerak-gerik dan desah nafas kita juga kehendak-Nya.

Kita sering mengatakan bahwa apa yang kita kerjakan adalah ‘kehendak’ kita sendiri, karena biasanya, apa yang kita inginkan sesuai dengan yang kita rencanakan. Dan ketika apa yang kita inginkan tidak tercapai, kita sering mengatakan bahwa itu adalah kehendak Allah. Padahal semua, baik tercapai atau tidak tercapai kehendak kita, semua adalah atas kehendak-Nya.

Suatu hari saya berlibur ke Yogyakarta, di akhir Desember 2012, menjelang pergantian tahun ke 2013. Waktu itu hari Jumat, saya sudah berniat jauh-jauh hari sebelumnya untuk jumatan di Masjid Kampus UGM. Sebelumnya saya pernah ke masjid Kampus UGM, dan saya suka pada arsitektur masjidnya, juga aktifitas masjid yang hidup, yang mengingatkan suasana masa kuliah dulu (yang bukan di UGM!).

Entah kenapa, saya merasakan banyak gangguan untuk menuju ke masjid UGM tersebut. Seharusnya saya menyiapkan waktu yang lebih luang untuk perjalanan menuju masjid itu, tapi ternyata mepet baru menuju kesana. Kemudian lalu lintas juga tidak terlalu bersahabat, yang membuat masjid kampus UGM terasa semakin jauh.

Gerbang PHIN.jpg

gerbang-phin2

Akhirnya, karena waktu jumatan yang sudah dekat, saya lihat ada beberapa orang masuk sebuah sekolahan untuk Jumatan. Ada perasaan ‘menyuruh’ dari dalam untuk ke sekolahan tersebut. Perasaan itu sangat kuat, mengalahkan keinginan untuk Jumatan di Kampus UGM yang sudah dirancang jauh hari sebelumnya. Sayapun masuk kedalam. Parkir mobil, ambil wudhu dan duduk diberanda masjid karena didalam udah penuh.

Saya perhatikan kesekeliling. Bangunan masjid dan sekolah dalam kawasan itu tidak sepenuhnya bangunan baru, punya halaman yang cukup luas untuk upacara ataupun olahraga. Sekolah yang cukup maju dengan fasilitas yang memadai. Aneh juga, saya merasakan sentuhan ‘seakan sudah lama’ mengenal sekolah itu.

Selesai Jumatan, bergegas mobil keluar untuk cari makan siang. Penginnya udah pasti yang khas Yogya, mumpung ada di Yogya. Tapi jalanan macet, dan entah kenapa, saya seakan ‘disuruh’ untuk makan siang diwarung depan gerbang sekolahan itu. Sayapun makan soto. Nah waktu di warung soto itulah saya melihat ada board penunjuk kecil di dekat pintu gerbang masuk: MAN I Yogyakarta (ex PHIN). Subhanallah, saya terperanjat!!

Mungkin banyak orang tidak tahu lagi singkatan PHIN, kalo saya sangat familiar. PHIN adalah Pendidikan Hakim Islam Negeri. Bapakku adalah salah satu alumninya, dan juga bapak mertuaku, juga alumni di sekolah yang sama (adik kelas Bapakku).

Bapakku kuliah disini setelah menyelesaikan PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri) di Pamekasan. Semua siswa di PHIN waktu itu adalah penerima beasiswa dari seluruh Indonesia, sehingga seleksinya sangat ketat. Seingat cerita Bapakku, hanya 3 atau 4 siswa angkatannya dari PGAN Pamekasan yang diterima di PHIN waktu itu.

Juga mengenai mendiang Bapak mertua, mendiang adalah alumni PHIN juga. Sebenarnya saya memendam keinginan untuk mengajak mendiang bernostalgia berjalan-jalan ke Yogya yang pasti akan membangkitkan memorinya mengenai masa-masa mudanya dulu, tetapi tidak sempat karena beliau wafat pada tahun 2009.

Jadi, terjawablah sudah, kenapa seakan saya ‘diarahkan’ untuk Jumatan di tempat tersebut, dan juga makan di Warung Soto depannya, sehingga tahu bahwa inilah sekolah almamater kedua Bapakku.

Saya merasakan langsung ‘tangan’ Allah mengarahkan saya ketempat tersebut, karena saya memang tidak merencanakannya. Kalo mengingat kejadian tersebut, saya masih merasakan bagaimana seakan-akan saya digerakkan untuk menuju kesana, sehingga saya menuliskannya di blog ini.

Allah Maha Berkehendak!

Website MAN I Yogyakarta: http://www.manyogya1.sch.id/man1new/?module=c2VqYXJhaA==

Dipublikasi di Perjalanan, Sekelebatan | Tag , | Meninggalkan komentar

Bentuk baru industri migas…

Roda berputar, tahun-tahun terakhir ini merupakan tahun berat bagi industri migas dunia.

Sebelumnya, industri migas terkenal sebagai industri ekslusif, premium dan anti resesi, akhirnya terkena juga! Perusahaan-perusahaan yang bergerak di industri migas merupakan nama-nama terkenal yang sering dilindungi oleh pemerintahnya karena perputaran cashflow dan nilai politisnya yang tinggi. Ada Shell di Belanda, Total di Perancis, Caltex,Exxon Mobil dan Chevron di America, dan yang terakhir perusahaan-perusahaan China seperti CNOOC, Sinopec dan Petrochina. Belum lagi puluhan perusahaan lain yang juga tidak kalah raksasa seperti Aramco, British Petroleum, AMOCO, Petronas dan tentunya Pertamina.

Perputaran uang untuk satu pelaku usaha industri migas raksasa saja, seperti Exxon, dalam tahunannya bisa sampai 2 kali lipat dari nilai APBN Indonesia! Mencapai ribuan trilyun!

Tapi tiba-tiba industri migas sempoyongan. Penyebabnya harga minyak yang melorot tajam, sehingga margin yang semakin tipis, dan memaksa pelaku industri migas untuk melakukan efisiensi dan ongkos produksi ditekan serendah mungkin, untuk tetap mempertahankan keuntungan.

Gelombang PHK di kalangan industri migas kemudian terjadi, dan perusahaan migas tidak banyak melakukan langkah ekspansi, yang membuat industri pendukungnya juga menjadi mati suri. Penghematan di dalam perusahaanpun sudah menyentuh ke hal yang bersifat kebutuhan dasar, seperti fasilitas buat pegawai dan operasional kantor.

Bahkan, untuk negara seperti Saudi Arabia yang pemasukan negaranya hampir seluruhnya dari migas, sampai memotong gaji mentrinya karena imbas turunnya pemasukan dari jualan minyaknya.

Turunnya harga migas juga diprediksi berlangsung lama, bahkan naik turunnya sudah sangat tipis, sudah sama seperti barang-barang industri massal yang  mudah tersedia di pasaran seperti mobil, elektronik bahkan baju dan makanan. Migas sudah bukan lagi barang ekslusif dan premium!.

Amerika Serikat adalah negara yang boros energi, merupakan negara industri yang konsumsi migasnya sangat besar dan karenanya mempengaruhi harga minyak dunia. Amerika, sebagai negara adidaya, tentu sangat tidak mau menjadi negara yang tergantung pada negara lain dalam hal energi. Pengembangan teknologi terus dilakukan, dan akhirnya ditemukan teknologi untuk mengeksploitasi shale gas dengan biaya yang sangat murah.

Teknologi konvensional migas melakukan pemboran migas pada titik-titik yang telah diidentifikasi mempunyai kandungan migas. Proses identifikasi titik-titik kaya potensi migas dilakukan dengan operasi seismik. Operasi seismik pada dasarnya sama seperti melakukan proses USG pada tubuh manusia untuk mengetahui gambaran dalam tubuh manusia. Dengan operasi seismik, gambaran perut bumi dapat diketahui. Dibaca oleh para ahli, dan diketahui bagian-bagian yang kemungkinan mengandung potensi migas. Migas didalam perut bumi merupakan suatu aliran seperti sungai, dan pada  titik-titik tertentu membentuk suatu kantong atau cekungan yang merupakan penampungan dari aliran migas tersebut. Kantong-kantong yang diduga berisi kandungan migas itulah yang kemudian dilakukan pemboran untuk mengetahui isi kandungan yang sebenarnya. Bisa berupa air, gas, minyak, dan kondisinya bervariasi mana yang dominan, apakah minyaknya, air, atau gasnya. Tentu, yang akan kemudian dieksploitasi adalah yang mengandung minyak atau gas dengan jumlah yang ekonomis.

Sampai saat ini, teknologi yang ada belum bisa menentukan apakah cekungan atau kantong dalam lapisan bumi itu berupa air, minyak atau gas kecuali dengan pemboran. Hanya dengan pemboran bisa diketahui apa isi cekungan dalam perut bumi tersebut. Karenanya, proses pemboran mengandung unsur resiko juga, sebab tidak semua cekungan mengandung potensi migas. Secara kasar, hanya 3 dari 10 pemboran yang cekungannya berisi migas. Dan dari 3 tersebut, hanya 1 yang secara ekonomis dapat dilakukan eksploitasi migas. Yang lainnya biasanya ditinggal dan ada kemungkinan dilakukan eksploitasi suatu saat nanti bila kandungan migasnya sudah ekonomis untuk dieksploitasi.

Cekungan-cekungan yang kaya minyak tersebut, bisa dimisalkan sebagai kantong penyimpan migas, dan tidak semua cekungan dapat menyimpan dengan rapat-rapat migas yang ada didalamnya karena struktur batuannya. Pada lokasi geografis tertentu, potensi migas juga ditemukan pada batuan serpihan yang dikenal dengan istilah shale gas.

Shale gas adalah gas alam yang terdapat di dalam batuan shale, yaitu sejenis batu lunak (serpih) yang kaya akan minyak ataupun gas. Oil shale merupakan batuan sedimen yang mengandung material organik. Dengan teknologi baru, serpihan-serpihan minyak dan gas alam diekstrak setelah air, pasir, dan zat-zat kimia dipompa ke bawah tanah pada tekanan tinggi agar batu-batu terpecah. Proses ini umumnya disebut sebagai teknologi Hydraulic Fracturing atau lebih dikenal dengan ‘fracking’. (Referensi lebih detail mengenai shale gas bisa di-googling, berikut yang menurut saya termasuk lengkap: http://www.migasreview.com/post/1422425864/teknik-shale-gas-butuh-reservoir-seperti-kerupuk.html)

Eksploitasi migas selama ini hanya dilakukan dengan proses pemboran ke kantung-kantung migas yang ada dalam perut bumi. Pemboran dilakukan bisa sampai puluhan kilometer untuk menuju titik kantong migas. Dan itu membutuhkan biaya investasi yang sangat besar.

proses-shale-gas

Dan, Amerika menemukan teknologi untuk memanfaatkan shale gas dalam skala industri. Amerika kemudian berjaya dan berswasembada di bidang energi. Kebutuhan energi dalam negerinya terpenuhi. Pasar kelebihan pasokan, sehingga minyakpun dijual dengan murah.

Apa efek berantai yang kemudian terjadi dengan turunnya harga migas? Akibat langsung sudah pasti, konsumen dapat membeli bahan bakar dengan harga yang lebih bersahabat, harapannya industri lain juga meningkat, karena energi merupakan penggerak utama sektor industri lainnya. Selain itu, industri-industri sampingan dari minyak juga menjadi murah. Industri karet mendapatkan keuntungan dengan harga karet sintetis (yang merupakan produk sampingan dari minyak bumi) yang lebih murah, membuat karet alam harganya jatuh dan petani karetpun terkena imbasnya.

Efek lain, usaha-usaha riset untuk menemukan energi alternatif juga melambat kalau tidak mau dikatakan terhenti. Dulu pada waktu harga minyak diatas USD 100 per barrel, riset untuk energi alternatif bermunculan, seperti energi surya, energi panas bumi, energi angin dan lainnya. Bahkan, ada usaha bio-diesel, dimana menggunakan minyak nabati dari tumbuhan sebagai campuran dari minyak bumi, walau kadar minyak nabatinya hanya sekitar 5%.

Efek yang lain, seperti dikatakan di awal artikel ini, industri migas tidak lagi menjadi industri yang ekslusif, premium dan digdaya seperti sebelum-sebelumnya. Ia sama seperti industri massal lainnya, seperti otomotif, elektronik, tekstil dan lainnya yang harus menekan biaya produksi karena kerasnya persaingan.

Sejatinya hal ini lumrah dalam perjalanan sebuah bisnis. Awal kemunculan suatu produk biasanya mahal, karena pengusaha yang bermain masih dapat dihitung dengan jari. Tetapi kemudian bila produknya sudah menjadi produk massal, dimana cara memproduksi barang tersebut sudah banyak diketahui oleh yang lainnya, maka ketersediaan barang menjadi berlimpah, dan harganya akan otomatis turun. Konsumen diuntungkan!

Dulu otomotif hanya dikuasai oleh segelintir negara Eropa dan Amerika, kemudian Jepang juga bisa memproduksi, dan menyusul Korea setelahnya India, China dan bahkan Malaysia. Harga semakin murah, karena produknya sudah menjadi produk massal.

Barang elektronikpun juga begitu. Merk-merk awal peralatan elektronik seperti Radio, Televisi dan peralatan rumah tangga adalah merk-merk Eropa dan Amerika, sekarang hampir semua negara sudah bisa memproduksi. Produsen barang elektronik sudah tidak ekslusif lagi, semua bisa membikin, menjadi produk massal, dan hargapun murah.

Dibidang jasa, pelayanan penerbangan pada jaman dahulu merupakan pelayanan transportasi hanya untuk kalangan atas. Ongkos untuk mendapatkan pelayanan sangatlah mahal. Perusahaan penerbangan merupakan usaha yang ekslusif dan premium, tetapi sekarang sudah terbalik, bahkan perusahaan penerbangan-pun bersaing dengan perusahaan moda transportasi lainnya dalam penentuan harga. Tiket pesawat tidaklah lebih mahal dari tiket kereta api ataupun tiket kapal laut.

Pergeseran itu sekarang menimpa industri migas. Ia tidak lagi menjadi industri yang ekslusif dan premium, tetapi menjadi industri yang juga harus bersaing menekan ongkos produksi untuk tetap mendapatkan margin yang bagus karena harga keekonomiannya yang terus menurun.

Dan industri migaspun tidak lagi menjadi kampiun sebagai industri papan atas, itu sangat jelas terlihat dari penurunan nilai perusahaan migas dari segi kapitalisasi pasar dalam deretan indstri dunia lainnya. Jika pada tahun 2006 masih ada 3 perusahaan migas, sekarang hanya 1 perusahaan migas yang bercokol dalam 6 besar deretan perusahaan dengan kapitalisasi terbesar di dunia.

chartoftheday_5403_most_valuable_companies_2006_vs_2016_n

Industri migas telah menjadi industri yang lebih ‘inklusif’ dan harus lebih berkompetitif. Konsumen diuntungkan, dengan harga migas yang lebih bersahabat.

Dipublikasi di Opini | Tag , | Meninggalkan komentar

Prabowo, Anies, Sandiaga dan Pertemuan Hambalang…

Momen itu pasti tidak saya lupakan, salah satu sejarah dalam hidup saya. Akhirnya saya bisa ketemu langsung dengan Pak Prabowo Subianto. Sudah setahun yang lalu, dibulan September juga.

Bagi saya, yang pernah punya ‘kebencian’ terhadap sosok PS, berada di Hambalang, dirumahnya, saya merasakan sebagai suatu keajaiban. Memang tidak diterima khusus sih, bersama ratusan masyarakat lainnya, dalam berbagai wadah organisasi, tetapi itu sudah membuatku melayang bangga, hehehe…

Tahu dapat kesempatan ketemu dengan PS, saya minta tambahan satu seat untuk sohib saya yang juga pernah punya kebencian yang sama terhadap PS, tapi sayangnya ditolak, ternyata ketemu dengan PS tidak gampang, disamping karena kesibukannya, permintaan untuk bertemu dengan dia udah segunung, hadeh, akhirnya saya sendiri yang berangkat…

Dan momen itu seakan berputar dan hadir kembali didepan mata ketika saya melihat PS di TV mengangkat tangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, waktu keduanya diumumkan sebagai Cagub – Cawagub DKI Jakarta, tanggal 23 September kemarin.

Setahun yang lalu, ketika saya bertemu langsung dengan PS, beliau dengan bergelora dan dengan stamina yang tinggi berpidato dan berdiskusi selama sekitar 4 jam! Selama 4 jam, ratusan audiens seolah tersihir, diam mendengarkan, karena memang pidatonya bernas, menginspirasi dan penuh wawasan, dan tak satupun yang ingin meninggalkan aula Hambalang.

Ketika saya melihat TV, dan juga putusan PS untuk memilih Anies dan Sandiaga seakan-akan mengkonfirmasi beberapa hal tentang PS pada pertemuan Hambalang setahun yang lalu.

prabowo-anies-uno

Foto PS dengan Anies dan Sandiaga dengan background Jenderal Sudirman, seakan simbol kepercayaan beliau kepada generasi muda.

PS sangat suka pada anak muda, generasi muda dan generasi penerus. Dia suka menyemangati anak muda dan memberi kepercayaan kepada anak muda.

Pada diskusi di pertemuan tersebut, beberapa orang yang termasuk generasi senior meminta PS untuk lebih aktif mengkritisi pemerintah dan mereka siap mendukungnya termasuk juga misal diperlukan untuk berdemo. PS-pun menjawab, bahwa kalah dan menang merupakan konsekwensi dari demokrasi, dan yang lebih penting dilakukan adalah, untuk jangka pendek bagaimana Gerindra dapat memenangkan sebanyak mungkin calon yang diusungnya di Pilkada serentak 2016, serta bagaimana dapat memenangkan Pileg 2019, dengan Gerindra mendapatkan suara mutlak sehingga dapat mengusung presiden sendiri, untuk hal tersebut PS meminta dukungan dari audiens. Jawaban yang normatif dari seorang pemimpin parpol, sama sekali tidak terprovokasi dan menganggap sepi tawaran siap demo dari pendukungnya.

Lain ketika seorang generasi muda menanyakan hal yang senada, dan meminta petunjuk apa yang harus dilakukannya untuk menghadapi tantangan dimasa depan. Jawaban PS lebih bergelora! Dia sangat mengharapkan generasi muda sebagai agen perubahan dan selalu berada di garis terdepan perjuangan bangsa. Dia mencontohkan dengan fasih, pahlawan-pahlawan bangsa yang masih belia seperti: Daan Mogot, Bung Tomo, Usman – Harun, Wolter Monginsidi dan Jendral Sudirman.

PS menyebutkan bahwa ditangan pemuda-lah perubahan suatu bangsa. Diusia sekitar 20 – 30 tahun, merupakan usia yang sangat produktif. Satu persatu pejuang muda yang disebut diatas, dikisahkan oleh PS dengan detail. Daan Mogot gugur di usia 17 tahun, Monginsidi gugur di usia 24 tahun, Usman – Harun di usia 25 dan 21 tahun. Bung Tomo waktu memimpin perlawanan di Surabaya masih sangat belia, di usia 25 tahun, dan Sudirman, yang menyandang gelar Jenderal Besar, pun juga masih belia, karena beliau wafat masih di usia 34 tahun.

Saya kaget waktu itu, mengetahui betapa belianya tokoh-tokoh yang disebutkan PS. Saya menyangka nama-nama pahlawan tersebut direntang usia 40 tahun keatas, karena ketokohannya dan juga kapabilitasnya yang jauh melampaui usianya.

Tokoh-tokoh muda seakan-akan menginspirasi perjalanan hidup PS. Orang-orang disekitar PS adalah anak-anak muda. Tokoh-tokoh Gerindra kebanyakan anak muda. Dan dia tidak ragu memberikan kepercayaan kepada anak muda, termasuk kepada Sandiaga Uno. Dia juga lebih memilih Anies Baswedan daripada Yusril Ihza Mahendra untuk mendampingi Sandiaga Uno. Sama seperti ketika PS memilih Jokowi dan Ahok pada pilkada DKI 2012 yang lalu.

Sekarang kenapa Anies Baswedan? Kenapa PS tidak dendam kepada Anies Baswedan, yang berseberangan pada waktu pilpres? Bahkan Anies Baswedan produktif menyerang PS sewaktu pilpres yang lalu.

Jangankan untuk dendam, saya yakin, bahkan PS pun tidak tahu pernyataan-pernyataan apa yang dilontarkan oleh Anies kepada dirinya. PS adalah kepribadian yang selalu berpikiran besar, berbicara tentang masa depan dan gagasan-gagasan, daripada ngerasanin tentang orang perorang. Selama 4 jam lebih pertemuan Hambalang, tidak satupun PS berbicara tentang kekalahannya di Pilpres, atau menjelek-jelekkan lawan politiknya atau pemerintahan yang sekarang. Padahal saat itu ia berada di tengah pendukungnya, yang bahkan ada yang menawarkan siap demo segala, dan ia tidak terpengaruh sedikitpun!

PS, dalam istilah Stephen Covey adalah seorang yang efektif dan menang dalam hidupnya, karena dia lebih memperbesar lingkar pengaruh (circle of influence) daripada lingkar peduli (circle of concern).

Dalam bukunya ‘Seven Habits of Highly Effective People’ yang terkenal, Covey berpendapat bahwa dalam kehidupan pribadi maupun profesional, setiap orang selalu dikelililngi oleh dua lingkaran, yaitu lingkar pengaruh dan lingkar peduli. Lingkar pengaruh adalah hal-hal yang bisa dikendalikan dan dikerjakan oleh masing-masing individu, sedangkan lingkar peduli adalah hal-hal yang setiap individu peduli, namun hal itu diluar kendali mereka.

Orang yang reaktif, lingkar pedulinya sangat besar, dan dalam bertindak dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya yang tidak bisa dikendalikannya, sehingga hal itu akan menjadi energi negatif yang memperkecil lingkar pengaruhnya. Semakin kita peduli kepada omongan orang yang negatif terhadap kita, membuat kita sibuk dan menghabiskan waktu untuk menjawab tudingan orang tersebut.

Sementara orang yang proaktif, alih-alih mempedulikan omongan orang, ia sibuk dengan gagasan-gagasan, terus bekerja dan berbuat maksimal sejauh yang ia bisa, dengannya orang akan melihat hasil yang nyata, dan memperbesar lingkar pengaruhnya.

Sering kita tidak menyadari, lingkar peduli kita yang terlalu besar sehingga menjadikan kita pribadi yang tidak produktif. Kita terlalu peduli dengan gosip-gosip tentang orang, yang bahkan tidak kita kenal secara langsung, seperti tentang gosip artis dan para pesohor lainnnya. Kita kadang juga sibuk menghabiskan waktu dengan mengomentari harusnya si A begini dan si B begitu. Padahal itu semua diluar kendali kita dan kadang tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan kita.

Jadi kalo orang berpikiran, kenapa PS tidak dendam pada Anies? Setelah saya tahu PS, saya mellihat, bahkan untuk ‘sempat dendam’-pun PS tidak pernah, karena jangankan untuk dendam, dia malah mungkin tidak tahu apa yang harus didendamkan?

Melihat PS pada waktu deklarasi Anies – Sandiaga, membuat kenangan saya pada pertemuan Hambalang setahun yang lalu berputar kembali. PS yang percaya pada anak muda dan PS yang berjiwa besar!.

Oh ya, ada hal yang kelihatannya sepele dan selalu dilakukan PS, ia selalu berterima kasih atas kedatangan kita, minta maaf kepada kita dan selalu menanyakan apakah sudah makan? Hehehe, pada waktu di Hambalang begitu, dan terlihat kembali pada waktu deklarasi Anies – Uno. PS mengapresiasi dan berterima kasih pada para wartawan yang telah gigih menunggu deklarasi ini, minta maaf karena telah menunggu lama dan menanyakan: “Sudah dikasih makan kan tadi?!?”.

Hal kecil yang membawa makna besar karena kita merasa di-orangkan!

Sempat minta foto-foto juga, dapat tanda-tangan dan pesan setelah mengetahui saya memulai suatu usaha di perikanan. Nih dia pesannya (untuk foto yang dengan PS buat koleksi pribadi aja ya, gak perlu dimuat, hehehe)

sign-prabowo

Dipublikasi di Opini | Tag | 1 Komentar

Inovasi…

Steven Jobs

Inovasi, itulah yang membedakan antara Pemimpin dan Pengikut. Steven Jobs.

Steven Jobs yang menyatakan Quote itu, dan saya melihatnya, ia tidak hanya menyatakan, tetapi telah membuktikan apa yang dikatakannya adalah benar.

Steven Jobs adalah CEO dari Apple Inc, produknya sangat inovatif (pada jamannya), sehingga selalu ditunggu dan bahkan pre-sale nya selalu menumpuk, meski pelanggan belum tahu seperti apa sebenarnya kinerja dari produk yang ia pesan. Pada waktu launching hari pertama produknya, orang antri mengular untuk menjadi barisan para pemakai yang pertama.

Seperti misalnya pada saat peluncuran iPhone pada tahun 2007, langsung menyedot perhatian publik, dan langsung nama iPhone menjadi nama yang bergengsi untuk smartphone. Padahal, itu kali pertama Apple mengeluarkan smartphone, setelah sebelumnya konsentrasi di bisnis PC.

iPhone sangat pantas untuk dimiliki pada saat itu. Tersemat banyak inovasi didalamnya. Mulai dari layar sentuh, pilihan aplikasi yang beragam, push mail, dan lainnya.

Setelahnya juga muncul iPad, dan langsung menyodok perhatian para pengguna gadget dan smartphone waktu itu. iPad lahir dengan inovasi yang luar biasa, dan masih sangat jarang waktu itu. Layar touch screen, tombol yang sederhana (hanya satu tombol), aplikasi yang banyak dan juga micro SIM Card yang semuanya pertama ada pada sebuah gadget. Disamping itu, Apple seakan menjawab keinginan masyarakat pengguna gadget, yang memungkinkan bentuk antara smartphone dengan laptop dengan fungsi yang optimal. Langsung iPad menjadi primadona bagi pemburu gadget, dan menempatkan Apple sebagai pemimpin untuk pasar tablet.

Dan sebelum iPhone dan iPad, Apple dikenal dengan iPod-nya. Bentuknya yang mini, tetapi mampu memainkan ratusan lagu dengan format MP3, langsung menyisihkan produk sejenis yang waktu itu masih berukuran besar. Alatnya sangat kecil, bahkan disimpan disakupun juga tidak terlalu menonjol.

Selain Apple, nama BlackBerry juga sempat menjadi sebuah fenomena. Inovasinya adalah: push mail dan BBM. Bagi orang kantoran yang setiap hari berkorespondensi dengan email, perangkat BlackBerry sangat membantu. Saya termasuk pengguna BlackBerry generasi awal, sangat merasakan manfaatnya. Apabila kita berlangganan secara corporate, ada banyak fasilitas lain yang bisa kita dapatkan. Semua alamat email yang ada di-server kantor kita juga terintegrasi dengan perangkat BlackBerry yang ada di pemakainya, jadi kita tidak perlu mencatat alamat email lagi apabila sudah ada di-server kantor, dan juga terintegrasi dengan scheduler yang ada di Microsoft Outlook, yang mengingatkan kita apabila ada agenda-agenda kerjaan kantor.  Fasilitas desktop yang diboyong ke sebuah smartphone!!

Steven Jobs sudah meninggal, dan sepertinya inovasi-inovasi baru jarang bermunculan di produk-produk Apple yang baru, mahkota leader sepertinya tidak lagi ditangannya, pangsa pasarnya semakin tertinggal.

Demikian juga dengan BlackBerry, yang kembang kempis mempertahankan eksistensinya. Aplikasi BBM yang menjadi andalannya, sudah dijual secara terpisah, dan bisa digunakan oleh perangkat android yang lain. Push mail yang dulu juga menjadi andalannya, juga sangat mudah diaplikasikan di Android, dan sepertinya BlackBerry juga lebih ‘gagap’ dibandingkan hape Android jika dipasang aplikasi sosial media yang sedang menjamur: Line, Path, Instagram, Telegram, Whatsapp dan lainnya. Tidak ada lagi keunggulan pada BlackBerry yang memberikan alasan kepada penggunanya untuk terus memakainya.

Perlu memunculkan inovasi-inovasi baru untuk tetap menjadi leader, dan itu perlu stamina kreatifitas yang mumpuni!!

Dipublikasi di Motivasi, Uncategorized | Meninggalkan komentar

Sial, membeli power bank abal-abal!!

Teknologi batere hape sepertinya masih terengah-engah dan belum bisa memenuhi kebutuhan smartphone yang multifungsi. Akibatnya, sampai sekarang, tidak ada smartphone yang bisa ON terus seharian penuh apabila kita pakai dalam keadaan normal sekalipun.

Kebanyakan smartphone, batere-nya akan habis sekitar 8 jam untuk pemakaian normal, seperti nelpon, chating dan browsing. Apabila ‘data selular’ dimatikan, dan hanya untuk terima telpon dan sms-an aja, maka bisa seharian penuh. Karenanya power bank menjadi jawabannya…

Suatu hari, tanpa direncanakan sebelumnya, saya membeli power bank merk ASUS, dengan harga Rp 130.000,- Pada waktu beli, penjaga tokonya sudah menyampaikan bahwa merk ASUS tersebut bukan merk original. Saya berpikir, OK-lah, meski gak original, karena harganya yang murah, saya beli saja, dan saya berpikir, ya bisa-lah untuk nge-charge batere hape minimal 1 kali sampai penuh.

Tapi ternyata memang benar-benar mengecewakan, jangankan mengisi 1 kali penuh batere hape, saya coba ternyata hanya bisa meningkatkan kapasitas batere sekitar 20-30%. Kebangetan!

Agar pembaca tidak tertipu –seperti saya-, ini saya beri tipsnya untuk memilih power bank yang bagus:

  1. Power bank yang baik itu tidak ringan, harus berat. Sebagai perbandingan, berat dari smartphone itu sekitar 40 – 60%-nya adalah berat dari batere-nya. Jadi bila batere kita mempunyai kapasitas sekitar 2000 mAH, dan jika kita membeli power bank dengan kapasitas 6000 mAH, maka beratnya sekitar 1.5 kali berat hape kita.
  2. Beli yang ber-merk dan bergaransi. Rata-rata merk bagus ada garansinya. Merk-merk bagus yang sudah terkenal seperti ASUS Zen Power, Sony, Panasonic ataupun Energizer memang bagus, tapi harganya lumayan mahal. Merk yang bagus dengan harga menengah yaitu: Hippo, Yoobao, Vivan, wellcome dan Advance juga memberikan garansi (kebanyakan 1 tahun) yang artinya mereka pede dengan produknya, dan harganya juga gak mahal-mahal amat. Saya membeli salah satu dari merk tersebut, dan kwalitasnya cukup bagus, harganya juga beda tipis dengan merk abal-abal yang saya beli itu.
  3. Harganya diatas Rp 100.000,-. Untuk tipe kecil dengan kapasitas 3000 mAH dijual sekitar Rp. 100.000,- dan apabila untuk 6000 mAH kisaran Rp. 150.000,- keatas. Bila kurang dari itu, rasanya harus dipertimbangkan kembali, kecuali memang lagi ada diskon besar-besaran atau bundling dengan pembelian lain. Setidaknya harga patokan ini untuk saat ini, ada kemungkinan memang harga batere semakin murah, seperti kecenderungan harga elekronik lainnya.

Sekedar tips memilih power bank, dan tidak tertipu seperti saya, hehehe…

Berikut gambar dari power bank abal-abal saya, jangan beli yang seperti ini ya, bentuknya sih stylish dan tipis, juga sangat ringan. Saya bongkar dan saya bandingkan isinya dengan batere Samsung Grand Duos 2100 mAH. Bagaimana mungkin, power bank yang tipis bisa nge-charge batere sampai penuh yang ukurannya lebih besar dan berat….

Power Bank 2Power Bank 1

Dipublikasi di Tips dan Trik, Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Semua ditundukkan oleh Allah untuk manusia…

Lukisan Gua 2

Pernahkah anda membayangkan, awal kehidupan manusia ketika pertama kali kita diciptakan? Saya membayangkan yang ada hanyalah daratan dengan hutan yang masih perawan. Ada beragam jenis hewan yang tumbuh didalamnya. Juga ada lautan yang membentang luas, yang didalamnya terdapat ikan dan binatang lainnya. Kemudian udara segar, dengan ragam burung beterbangan bebas di angkasa. Tidak lebih dari itu!

Saya membayangkan pakaian yang saya kenakan hanyalah dari kulit binatang yang berhasil saya buru. Dagingnya untuk dimakan, dan kulitnya untuk dibuat pakaian. Saya juga makan buah-buahan dari tanaman yang tumbuh subur. Minum dengan mengambil air disungai, dan juga mandi di sungai. Rumah dari kayu, dengan atap dari daun-daun yang disusun. Jika saya bepergian, tidak ada kendaraan lain, selain dengan jalan kaki, atau naik kuda. Peralatan untuk berburu juga sangat sederhana, langsung dari alam, mengambil berbagai macam bentuk batu untuk kemudian menjadi senjata.

Kemudian diwahyukan kepada manusia, agar manusia membuat api. Api adalah salah satu penemuan manusia yang sangat revolusioner. Nyala api yang berasal dari tumpukan kayu-kayu kering yang dinyalakan dengan percikan api dari dua batu yang bertumbukan, membuat nyala api  yang bisa dimanfaatkan. Dengan api daging bisa dilunakkan untuk kemudian dimakan, api juga membuat penerangan dimalam hari, dan api juga banyak mengubah bentuk benda menjadi benda yang lain, yang padat menjadi cair dan yang cair menjadi uap, semua karena api.

Beribu tahun kemudian, kehidupan kita berubah drastis. Pagi kita dibangunkan oleh jam weker yang kita set sebelumnya. Kemudian kita masuk kekamar mandi, memutar kran air dan memilih untuk mandi dengan air hangat yang dihasilkan dari waterheater yang kita pasang. Kemudian kita mengusap seluruh tubuh dengan sabun, juga shampoo untuk rambut dan menggosok gigi.

Selesai mandi kemudian shalat, dan bersiap-siap untuk kekantor. Kita kenakan baju dan celana dengan mode dan warna yang terang. Melilitkan sabuk ke pinggang, mengenakan arloji, mamakai parfum dan deodorant dan gak lupa bawa handphone dan tablet.

Sarapan dengan nasi yang diambil dari Rice Cooker, dengan daging atau ikan yang diawetkan di lemari es dan dimasak dengan menggunakan kompor gas.  Dan kemudian berangkatlah kita menuju kekantor. Berkendaraan dengan mobil, sambil mendengarkan informasi lalulintas dari radio, dan juga memantau kemacetan dari GPS yang terpasang di dashboard.

Di kantor kita masuk ke dalam ruangan melalui lift, kemudian ke ruangan kerja, duduk  dan berhadapan dengan komputer yang sudah ada jaringan internet, menerima telpon ataupun rapat internal maupun dengan klien. Demikian terus berjalan, kehidupan yang ada disekeliling kita saat ini.

Bandingkan antara kehidupan kita dijaman purba dengan kehidupan jaman modern sekarang!

kehidupan desa

Lalu dari manakah datangnya semua yang ada di jaman sekarang dan gak ada di jaman dulu seperti: jam, kran air, water heater, sabun, shampoo, pasta gigi, baju, celana, ikat pinggang, handphone, rice cooker, dispenser, lemari es, mobil, radio, GPS, lift, komputer dan lainnya?

Bukankah kita, manusia, saat ini hanya ‘sendiri’ di jagat ruang angkasa yang sangat luas dan kita tidak punya saudara lain yang tinggal di planet lain? Tidak pernah kita mendapatkan kiriman dari planet lain berupa barang-barang yang kemudian kita pakai. Kiriman dari ruang angkasa, sesekali berupa meteorit yang masih berupa bahan baku.

Bahkan, tidak pernah ada setetes airpun kiriman dari planet lain. Air yang kita pakai sekarang, adalah air yang dipakai oleh nabi Adam dan leluhur-leluhur kita sebelumnya, tidak berkurang dan juga tidak bertambah.

Semua sudah tersedia di bumi, Allah sudah menyediakan semuanya didalam bumi ini!

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya).

Qs An Nahl (16) : 12

Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.

Qs An Nahl (16) : 13

Didalam bumi sudah ada minyak, besi, baja, aluminium, kaca, nikel, perunggu, emas dan plastik. Kemudian dari tumbuhan kita bisa dapatkan kayu, kapas, karet, minyak goreng, kertas, bedak, obat, juga kita mendapatkan bahan-bahan lainnya dari hewan.

Tetapi semuanya masih berupa bahan baku semua. Allah tidak memberikan besi langsung berupa batangan, tidak juga memberikan kaca yang sudah siap pakai, atau juga karet yang sudah jadi ban mobil. Tetapi semuanya harus melalui proses.

Proses itu adalah usaha dan akal untuk berpikir menciptakan sesuatu dari bahan baku yang sudah disediakan oleh Allah.

Dulu komunikasi hanya bisa dilakukan ketika kita berhadap-hadapan dan berbicara langsung, kemudian berevolusi komunikasi jarak jauh melalui perantara alat seperti kentongan dengan kode-kode tertentu. Kemudian diciptakan telegram dan morse, karena waktu itu suara belum bisa dikirimkan, dengan kode tertentu ditransmisikan kemudian diubah menjadi kata kata. Kemudian ditemukan telepon dan suarapun bisa ditransmisikan sehingga komunikasi bisa jarak jauh. Berkembang, bukan hanya suara yang bisa ditrasnmisikan, tetapi juga data yang bisa berupa gambar ataupun video.  Dan teknologi-pun semakin canggih, karena keinginan untuk menuju sempurna sehingga data yang dikirim bisa cepat dan jelas. Dan berkembanglah teknologi, dari semula yang tidak bisa mengirimkan data, kemudian bisa, lalu dengan pesat berkembang teknologi GSM, EDGE, 2G, 3G dan 4G LTE dan sebagainya.

Dengan perkembangan teknologi tersebut seperti GSM, EDGE, 2G, 3G, 4G LTE dan entah apa lagi nanti, apakah ada udara atau susunan atmosfir yang menjadi media dari transmisi data tersebut ada yang berubah? Tidak sama sekali, semua persis seperti jaman dahulu. Atmosfir jaman dulu sama seperti sekarang, tetapi dulu belum ada teknologi pengiriman transmisi data lewat udara. Dan kita tidak tahu teknologi transmisi data apalagi yang bisa dikembangkan dengan atmosfir yang seperti sekarang. Artinya, Allah telah menyediakan semuanya melebihi apa yang diketahui manusia saat ini.

inside-dubai-international-airport

Dulu waktu jaman purba tidak ada handphone canggih, tetapi ternyata Allah telah menyediakan handphone canggih tersebut tetapi kita belum menemukannya. Allah selalu menantang manusia untuk berpikir, dan Allah sangat menghargai orang yang berilmu dengan menempatkannya pada posisi yang lebih tinggi derajatnya.

Dulu waktu jaman purba tidak ada mobil, kapal selam, pesawat terbang, satelit, kapal induk, smartphone, komputer, kamera, listrik dan lainnya, tetapi ternyata Allah telah menyediakan semua bahan bakunya sejak dari dulu untuk kita semua, dan kita baru menemukannya pada jaman sekarang, dan kita tidak tahu potensi apa lagi yang terus bisa dikembangkan dari bahan baku yang disediakan dimuka bumi ini dan telah ditundukkan oleh Allah SWT untuk kepentingan manusia.

Untuk hal yang sederhana, tapi sering membikin saya takjub, bagaimana Allah memberikan kecukupan makanan kepada manusia. Allah menciptakan beragam bibit tanaman yang kemudian menghasilkan beragam buah-buahan untuk dimakan. Tanaman pepaya menghasilkan buah pepaya, dan dari biji pepaya dapat dibuat tanaman pepaya lagi sehingga menghasilkan banyak buah pepaya.

Hanya dengan satu biji kecil buah pepaya yang ditanam ditanah, kemudian tumbuhlah pohon pepaya. Biji kecil tersebut seolah-olah suatu pabrik yang mengubah kandungan nutrisi dalam tanah menjadi sebuah tanaman pepaya yang kemudian bekerja untuk menghasilkan buah pepaya yang dimakan untuk manusia. Ditempat yang sama, apabila kita menanam biji yang lain, seperti misalkan biji tomat, akan menghasilkan tanaman tomat yang bekerja untuk menghasilkan buah tomat. Dari tanah yang sama kandungannya, tetapi karena bijinya berbeda, maka akan menghasilkan tanaman yang berbeda dengan buah yang berbeda. Subhanallah!!

Dipublikasi di Renungan, Uncategorized | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Teladan…

teladan

Kadang, kita terlalu melambung tinggi, mencari teladan dari orang terkenal, sosialita, selebriti atau pesohor yang namanya selalu menghiasi jagad informasi. Dan kemudian kita hanya kecewa, karena orang-orang yang kita kagumi jauh dari sikap teladan. Mungkin kita pernah ngotot mati-matian membela seorang calon Kepala Daerah pada waktu Pilkada, tapi ternyata setelah terpilih, Kepala Daerah yang mati-matian untuk diusung, seorang yang ingkar janji. Atau kita kagum pada seorang selebritis yang pemberitaannya hampir tanpa cela, tetapi kemudian suatu hari ditangkap karena skandal seks yang gak wajar, dan sebagainya…

Sesungguhnya, sering sosok teladan ada di sekitar kita! Hanya kita tidak memperhatikannya.

Ada seorang sopir yang sering melayani saya pada waktu saya bekerja disebuah kantor disuatu daerah. Dari sopir tersebut saya mendapatkan teladan: selalu mengucapkan ‘Terima Kasih’ atas pemberian atau ketika ia habis diajak makan. Sebenarnya, suatu ‘kewajiban’ dari pengguna mobil untuk memberi atau mengajak sopirnya makan jika sudah waktunya. Dan sah-sah aja apabila menganggap hal ini sebagai suatu kebiasaan dan tidak perlu ‘berterima-kasih’ dengan diucapkan.

Tapi sopir yang satu ini sangatlah istimewa!

Rasanya tak satupun luput ia untuk mengucapkan ‘Terima Kasih’ sesudah makan selama sekitar 4 tahun ia bersama saya! Setiap habis dari Restoran besar, makan di Hotel, di Rumah Makan, Warung pinggir jalan ataupun dari rumah orang-tua saya, ia akan bilang ‘Terima kasih boss!’.

Satu teladan lain yang ia tunjukkan lagi adalah bagaimana caranya ‘mengisi waktu luang’. Sopir bisa dikatakan adalah pekerjaan yang mempunyai ‘waktu luang’ atau ‘waktu tunggu’ yang lumayan banyak.  Biasanya, kebanyakan sopir akan memanfaatkan waktu luangnya dengan merokok, ngobrol ngalor-ngidul, tiduran atau kegiatan tidak produktif lainnya.

Dan, sopir yang satu ini beda, disela ‘waktu tunggu’-nya untuk menyupiri mobil dinas saya, sangatlah produktif. Ia menanami halaman di sekitar kantor dengan tanaman cabe, pepaya dan lainnya. Ia membuat bangku yang dipakai duduk-duduk oleh Sekuriti, ada kalanya ia memangkas rambut temannya. Kalo waktu luangnya banyak, ia pergi memancing dibelakang kantor, ikannya buat tambahan lauk. Pernah juga ia saya lihat memijat anak sekuriti yang terkilir jatuh, dan kelihatannya cukup berhasil karena kemudian pasiennya juga bertambah, hehehe. Mencuci mobil bila terlihat berdebu, atau terlihat sedang membaca koran dan yang paling luar biasa adalah kebiasaan membaca Al Quran disela-sela waktunya.

Orang seperti dia, adalah teladan buat saya!

Dipublikasi di Renungan | Tag , , | 5 Komentar