Sebuah Perjalanan Panjang

An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang…

Hari ini Minggu, tanggal 5 September 2010 atau merupakan hari ke 26 dari bulan Ramadlan 1431 H. Bulan yang sangat istimewa, karena dibulan itulah saya dilahirkan sehingga namanyapun Ahmad Ramadlan.

Pada hari ini saya mencoba membuat Blog, sebuah niatan lama yang baru terealisasi sekarang. Dulu pernah register untuk sebuah akun Blog, yang karena saking lamanya, nama website-nyapun lupa. Kasihan website-nya, sudah disampahi dengan akun yang gak bermanfaat, hehehe…

Waktu bikin Blog ini di Google, pada tahap ‘Beri Nama Blog Anda’, saya agak tertegun lama, bingung atas pertanyaan ini, karena harus memberi nama atas Blog saya. Saya tinggalkan taraweh dulu, dan pada saat Shalat Taraweh (yang berarti Shalat Tarawehnya kurang khusuk nih, maafkan ya Allah!) saya teringat untuk memberi nama Odyssey, perjalanan panjang, dan biar rada sastra dikit diberi label An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Sengaja pakai bahasa Inggris, karena lebih representatif. Representatif maksudnya, cukup dengan satu kata mempunyai makna yang lebih.

Nama Odyssey awalnya saya tidak tahu artinya. Pertama melihat dari sebuah seri mobil buatan Honda; Odyssey. Karena bentuknya pas dihati, tergelitik untuk mencari apa artinya, saya coba buka di kamus dan artinya adalah: Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Saya kagum pada orang Honda yang telah memberi nama mobil itu dengan Odyssey, karena bentuk mobil itu yang panjang (tetapi tidak terlalu panjang juga), kokoh dan stabil yang sengaja diciptakan untuk  siap  menempuh sebuah perjalanan panjang penuh makna dengan kenyamanan dan rasa aman.

Dan, demikianlah maksud dan keinginan Blog ini dibuat. Blog ini akan bercerita ‘ngalor-ngidul’ gak tentu arah yang merupakan mosaik dari perjalanan saya. Perjalanan yang perlu saya tuliskan karena saya rasa sangat bermanfaat, utamanya untuk saya sendiri. Kalaupun kemudian ada yang mengambil manfaat dari Blog ini, Alhamdulillah!

Ini alamat email saya: ahmadramadlan@yahoo.com

Selamat menikmati Blog saya!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 5 Komentar

Cashless…

EMoney

Ini gue banget. Boros, itu alasannya kenapa jarang ada banyak uang tunai di dompet saya. Paling banyak sekitar Rp 200.000,-, selebihnya saya lebih suka menggunakan transaksi non tunai.

Dan bersyukur, karena sekarang semakin banyak transaksi tanpa menggunakan uang tunai. Dulunya non tunai hanya berarti memakai Kartu Kredit, sekarang sudah ada debit card yang merupakan kartu tabungan multi fungsi yang tidak hanya untuk ATM saja. Debit card-pun semakin meluas penggunaannya, dengan memanfaatkan jaringan Visa dan Master yang sebelumnya telah ada untuk Kartu Kredit.

Yang terbaru adalah Uang Elektronik atau e-money (dan di adopt menjadi brand uang elektronik yang dikeluarkan oleh bank Mandiri). Uang elektronik adalah segala jenis uang yang tersimpan didalam sebuah sistem seperti server ataupun chip. Yang terbanyak penggunanya dalam bentuk kartu dengan chip didalamnya. Nilai nominal uangnya diisi melalui Bank penyedia layanan melalui ATM ataupun tempat tertentu.

Saya sering menggunakan KRL Jabodetabek, sudah setahun belakangan ini semua transaksinya cashless. Sangat menyenangkan, tidak perlu antre di loket, tidak perlu struk ataupun tiket dan tidak ada lagi pemeriksaan tiket waktu berangkat maupun datang, cukup hanya menempelkan kartu e-money semuanya beres.

Banyak hal yang bisa dihemat jika transasksi dilakukan tanpa menggunakan uang tunai. Misal saya mau bepergian dengan KRL, maka perjalanan ‘fisik uang’ saya sangat panjang. Pertama saya akan ambil uang saya di ATM, saya hitung uang saya dan saya masukkan kedalam dompet saya. Sampai didepan loket tiket, saya mengeluarkan uang untuk membeli tiket, saya dapat tiket dan kasir mendapatkan uang saya. Uang saya oleh kasir dihitung kembali kemudian ditaruh dan dikumpulkan. Saat kasirnya pergantian petugas, uangnya diserahkan ke kasir pengganti, dihitung kembali dan kasir pengganti akan menghitung ulang. Setelah selesai jam operasi KRL, kasir menyerahkan kepada atasannya, setelah dihitung lagi, dan atasannya akan menghitungnya ulang. Pada setiap hari tertentu, uangnya dikumpulkan untuk disetor ke Bank, bagian petugas keuangan akan menghitungnya kembali. Sampai di Bank, uang diserahkan kepada Teller, dan sudah menjadi prosedur, Teller pasti akan menghitungnya lagi. Ingin cerita ini dilanjutkan? Gak bakalan selesai selesai sampai akhirnya uangnya lecek dan dimusnahkan, hehehe.

Jika uangnya dari Bank dan akhirnya kembali juga ke Bank, lalu kenapa tidak menggunakan uang elektronik saja? Dengan memakai uang elektronik, jika saya menggunakan KRL, saya cukup menempelkan ke gerbang masuk untuk membuka pintunya. Saldo uang elektronik saya berkurang, pindah ke rekening PT KAI sebagai penyelenggara KRL, titik! Praktis dan efisien!

Tidak perlu lagi membuat fisik dari uangnya dalam bentuk logam dan kertas, tidak ada biaya untuk pencetakan tiket, tidak perlu ada petugas yang memeriksa tiket waktu masuk, di kereta ataupun waktu kedatangan. Tidak perlu banyak petugas yang menghitung uang berkali-kali dan sangat riskan terjadi kesalahan dan pencurian. Tidak ada penyebaran penyakit melalui fisik uang yang berpindah tangan berkali-kali.

Disamping keuntungan diatas, karena lagi digalakkan penggunaannya, menggunakan uang elektronik lebih dimanjakan. Banyak promosi dan diskon jika menggunakan uang elektronik, tempat yang dipisahkan dan dikhususkan, seperti jika kita membayar di Tol yang ada gerbang khusus untuk pembayaran dengan uang elektronik.

Sekarang banyak Bank yang menyediakan Uang Elektronik. Persaingannya juga lumayan ketat, dengan memberikan diskon dan memperbanyak gerai yang bisa menerima uang elektronik. Yang terbesar dan paling awal sepertinya BCA dengan brand Flazz-nya, kemudian Bank Mandiri dengan ragam brand Uang Elektronik. Yang lainnya, masih menjadi figuran, pemain tidak penting!

Susahnya, kadang Uang Elektronik bekerjasama dengan suatu penyedia jasa yang memberikan hak eksklusif hanya menerima Uang Elektronik tertentu. Seperti jalan Tol di Lingkar Luar, Lingkar Dalam, Cikampek, Jagorawi dan Merak yang hanya khusus menerima uang elektronik dari Bank Mandiri. Ini membuat kita terpaksa membeli Uang Elektronik dari Bank itu jika sering menggunakan tol tersebut. Itu yang membuat Bank Mandiri uang elektronik pertamanya dinamai E-toll Card.

Kalo KRL Jabodetabek lebih fleksibel, dia memberikan banyak keleluasaan bagi pelanggannya untuk menggunakan beragam Uang Elektronik, bisa dari BCA, Bank Mandiri, Bank BRI ataupun Bank BNI.

Sejauh ini, yang pertama, yang paling agresif, yang paling banyak menawarkan diskon dan promosi, dan paling banyak bisa diterima di berbagai tempat adalah Flazz dari BCA. Dan, sampai saat ini, sepertinya hanya BCA yang bekerja sama dengan Secure Parking, sehingga memudahkan pelanggan tidak perlu mencari uang recehan untuk bayar parkir. Membayar uang parkir termasuk transaksi yang paling sering kita lakukan.

Uang Elektronik, pasarnya memang diarahkan untuk menggantikan transaksi dengan ‘uang recehan’. Tapi siapa sangka, volumenya terus menggelembung. Jika di tahun 2007 volume uang elektronik hanya Rp 5 Milyar, sekarang sudah tembus angka Rp 30 Trilyun di tahun 2013.

Oya, jika kita kehilangan Uang elektronik kita, sisa saldo yang ada di Uang Elektronik tersebut tidak bisa kita klaim lagi ke Bank. Artinya, jika kita kehilangan Uang Elektronik kita, orang lain dapat menggunakannya untuk dibelanjakan, karena itu, hati-hatilah dalam menyimpannya!

Mungkin karena faktor keamanan dan memang diarahkan untuk transaksi recehan, saldo uang elektronik juga dibatasi oleh Bank, saat ini untuk Bank Mandiri dan BCA hanya memberikan batas saldo maksimal Rp 1 juta.

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , , , , , , , , , , , | Tinggalkan komentar

Service plus plus..

Tiba-tiba indikator bensin mobil Nissan Grand Livina saya ngadat. Jarumnya sama sekali tidak bergerak, selalu dibawah dengan lampu indikator kuning yang menyala menandakan bensin sudah habis walau tangki sudah diisi penuh. Harus dibawa ke bengkel nih…

Ke bengkel Nissan harus janjian dulu, kalo go show sering telantar karena antriannya yang panjang. Setelah janjian dua hari sebelumnya tibalah hari H-nya. Saya ke bengkel Nissan di Jalan Pajajaran Bogor.

Sebenarnya sudah berkali-kali saya ke bengkel Nissan untuk pemeliharaan rutin, dan jika ke bengkel Nissan ada satu yang sangat saya suka, ruang tunggunya!!

Wah, gedung khusus service-nya sekarang baru, berdiri disebelah gedung lama. Setelah diterima oleh Service Advisor-nya saya dipersilahkan menunggu. Saya pun ke lantai atas ke ruang tunggu.

Dibandingkan dengan merk ATPM lain yang saya kenal dan pernah ke bengkelnya (yang otomatis menunggu), ruang tunggu Nissan-lah yang saya ketahui paling bagus, sangat memanjakan pelanggannya. Bahkan, dibandingkan dengan Executive Lounge di Bandara yang berbayar-pun, ruang tunggu Nissan jauh lebih baik.

Semua fasilitas ada, saya tulis satu persatu ya biar komplit:

  1. Ruang shalat atau mushalla (saya salut nih, jadi gak usah keluar cari tempat shalat selagi nunggu),
  2. Wifi dan TV Cable (sebelumnya ada internet dengan computer station, tetapi mungkin karena sekarang kebanyakan bawa sendiri gadget-nya akhirnya ditiadakan),
  3. Area bermain anak (nih baru, sebelumnya di gedung lama gak ada),
  4. Koran dan majalah terbaru (saya pernah di ruang tunggu suatu bengkel ATPM, majalahnya lama-lama dan ditumpuk gitu aja),
  5. Kursi pijat (nih yang paling favorit buat saya, hehehe),
  6. Charger box dan colokan listrik yang tersebar dimana-mana,
  7. Makanan kecil beberapa jenis (saya lihat waktu itu ada 3 jenis kue basah dan 1 jenis kue kering),
  8. Dispenser Aqua dan juga dispenser minuman untuk kopi, capucino dan lainnya, selain itu ada teh, kopi dan gulanya,
  9. Makan siang dalam kotakan (saya gak tahu yah nih insidentil apa memang standarnya begitu, kunjungan saya sebelumnya sepertinya gak ada, atau mungkin waktu itu pas bukan waktunya makan siang, hebat juga kalo memang standarnya disediakan makan siang!).

Satu lagi, Office Boy-nya selalu dalam keadaan stand by untuk memeriksa ketersediaan makanan, membersihkan bekas-bekas makanan di meja dan juga menjaga kebersihan ruangan.

Oh ya, kalo di bengkel Nissan, biasanya pada waktu daftar juga dikasih welcome drink berupa juice atau lainnya. Sekarang welcome drink-nya ditaruh di dispenser berupa Milo dan Juice Blueberry, lumayan bisa sampai mabuk ngambilnya, hehehe.

Selain itu, setelah mobil selesai di-service, kita bisa milih apakah mau dicuci sekalian atau gak, tentunya gratis!!

Dijamin gak mati gaya jika kita menunggu kendaraan kita yang diservice di bengkel Nissan.

Tidak terasa menunggu 3 jam (dengan 1 jam waktu istirahat), akhirnya mobil selesai dalam keadaan sudah kinclong!

Biayanya? Cukup Rp 142.500,- saja untuk ongkos memperbaiki indikator bensin saya. Sudah sama dicuciin, dapet makan siang dan badan seger setelah dipijat di kursi pijat, hehehe!

Nissan Waiting 3

Nissan Waiting 2

Nissan Waiting Room 4

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , | 2 Komentar

Membuka dan Membungkus Mobil…

Dulu waktu saya mau membungkus atau membuka bungkus mobil sedikit merepotkan. Kalau kita membuka bungkus mobil dengan sembarangan, biasanya kita susah untuk menaruhnya dalam tas, itu terjadi karena ada udara yang terperangkap dalam bungkus mobil. Juga, jika kita membuka bungkus mobil dengan sembarangan, pada waktu mau membungkus lagi akan kesulitan, karena bentuk cover yang terlipat sembarangan dan juga susah untuk menemukan bagian depan bungkus mobil yang dijadikan patokan. Pada waktu membungkus mobil, pastikan mobil telah dicuci dahulu. Lebih baik mobil tidak dibungkus apabila mobil belum dicuci bersih, ini karena debu yang ada di mobil juga akan menempel di bungkus mobil dan akan mengotori badan mobil jika kita memakai bungkus tersebut nantinya. Selain itu, bagian luar dan dalam bungkus mobil tidak boleh bertemu. Bagian luar dari bungkus mobil tentu lebih kotor dari bagian dalam bungkus mobil. Apabila membungkus sembarangan, bagian luar dan dalam bungkus mobil akan bertemu dan tentunya kotoran akan saling menempel. Pada gambar, bagian dalam bungkus mobil berwarna hitam, dan bagian luar bungkus mobil berwarna silver. Sebelum membuka bungkus mobil, sebaiknya bungkus mobil dibersihkan dahulu dari debu dengan sulak atau kemoceng. Mobil yang telah terbungkus berhari-hari akan membuat bagian luar bungkus mobil menjadi berdebu, karena itu bersihkanlah. Nah berikut cara membuka bungkus mobil.


Slide1 Slide2 Slide3 Untuk cara menutup atau membungkus mobil, maka kebalikannya. Cari terlebih dahulu tanda bagian depan mobil kemudian bungkus mobil dibuka dengan mengikuti arah belakang mobil, dan seterusnya.

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , | Tinggalkan komentar

Tangan dan kaki berbicara…

Normalnya, seperti pada umumnya yang dialami manusia yang masih hidup, semua anggota badan kita bisa dalam kontrol kita. Jika kita menghendaki membuka mata, maka kelopak mata membuka, jika kita mau melihat kearah kanan, bola matapun melirik kearah kanan. Demikian juga dengan tangan dan kaki kita. Apapun yang disuruh oleh kemauan kita, maka tangan dan kaki kita akan menurutinya.

Tangan akan meninju jika kita memintanya untuk meninju. Akan menempeleng seseorang, menggaruk kepala, membalik-balikan tangan, memegang cangkul dan mengayunkannya, memegang bolpen, memberi uang pada pengemis, membuka halaman buku, memencet-mencet tombol di ATM pada waktu kita mengambil uang, membersihkan badan, dan ribuan gerakan lain sesuai dengan keinginan kita. Demikian juga dengan kaki, apa yang kita inginkan, kita bayangkan gerakannya dan kemudian dilaksanakan dengan menggerakkan kaki sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh otak.

Kita bebas menggerakkan kaki dan tangan sesuai yang kita mau. Itu adalah normalnya, normal kehidupan di dunia.

Tapi, ada kalanya tangan dan kaki kita tidak dapat bergerak memenuhi keinginan kita.

Beberapa tahun yang lalu saya mengalami kecelakaan ringan. Tangan terkilir, karena pada saat kecelakaan, menjadi tumpuan ketika terjatuh, sehingga mengalami beban yang berlebih dan membuat urat serta syarafnya jadi bergeser.

Saya tidak dapat menggerakkan tangan kanan saya sama sekali. Saya ingin menggaruk, saya perintahkan untuk menggaruk, saya salurkan kekuatan ketangan kanan saya untuk menggaruk, tetapi tangan sama sekali tidak mau bergerak. Saya kaget, karena saya baru pertama kali mengalaminya.

Dibawa ke dukun pijat Cimande, ke fisio terapi dan akhirnya bisa sembuh total di therapis pijat di Bojonggede Bogor. Kenapa tangan gak bisa digerakkan walau kita menginginkannya? Ternyata urat tangan dan lengan saya ada yang bengkak, kemudian syaraf yang terjepit karena urat yang bergeser. Sehingga pada waktu otak saya memerintahkan tangan untuk bergerak, perintah tersebut terkendala dan tidak sampai, dan tanganpun akhirnya gak bisa digerakkan sesuai dengan keinginan kita. Otak menghendakinya, tetapi tangan kanan saya tidak bisa melaksanakannya.

Lain lagi dengan kasus mendiang Ibu saya. Sebelum wafat, ibu saya terkena stroke, dan anggota tubuh belahan kanan menjadi tidak berfungsi. Tangan dan kaki lumpuh, tapi sebenarnya Ibu masih bisa merasakan rangsangan yang diberikan jika tangan dan kakinya disentuh.

Kenapa tangan dan kaki Ibu saya tidak digerakkan? Kata dokter syaraf yang menanganinya, kendali otak Ibu yang khusus menangani gerakan kaki, tangan dan anggota tubuh bagian kanan terblokir, sehingga Ibu sama sekali tidak memerintahkan kaki dan tangan kanannya untuk melakukan gerakan. Padahal sebenarnya semua syaraf dan juga urat yang ada pada kaki dan tangan Ibu masih berfungsi penuh. Otak tidak bisa berkehendak, walau tangan dan kaki kanan berfungsi.

Karena itu, untuk menjaga agar fungsi dari syaraf-syaraf dibagian anggota tubuh sebelah kanan tetap berfungsi, maka harus sering diberi rangsangan. Rangsangan biasanya dapat berupa sentuhan, pijatan atau juga dengan elektris didaerah-daerah tertentu. Syaraf apabila tidak dirangsang dan tidak sering digunakan menyalurkan perintah dari otak, maka lama-lama syaraf tersebut tidak akan berkembang dan mati.

Syaraf-syaraf dibagian kanan tubuh Ibu dijaga untuk tetap selalu berfungsi, agar apabila suatu saat kendali syaraf kanan di otak sudah pulih dan tidak terblok lagi, maka Ibu akan normal lagi, otak dapat mengirimkan perintah untuk bergerak sedang kaki dan tangan kanannya dapat menerima perintah tersebut.

Pada waktu sakit dan mengamati orang sakit itulah saya merasakan karunia Allah SWT yang luar biasa yang tidak akan kita rasakan jika sehat. Gerakan kaki dan tangan yang terasa ringan dan sangat sederhana ternyata ada kompleksitas tinggi didalamnya.

Tangan dan kaki ternyata tidak bisa berdiri sendiri untuk dapat bergerak. Kadang otak kita menginginkan agar tangan dan kaki bergerak, tetapi keduanya tidak dapat berfungsi karena cidera. Tetapi bisa aja tangan dan kaki berfungsi normal dan tidak cidera, tetapi terputus dengan otak sehingga tidak pernah diperintahkan oleh otak untuk bergerak.

Dan, sangatlah pasti kalau suatu saat nanti tangan dan kaki kita bergerak sendiri dan bercerita sendiri tentang apa yang pernah kita lakukan walau mungkin kita tidak menghendakinya, tetapi yang Maha Berkehendak menghendakinya.

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” [QS. Yaasiin (36): 65]

Dipublikasi di Renungan | Tag | Tinggalkan komentar

Malas…

malas

Malas itu penyakit, dimusuhi tapi enggan dilepaskan. Malas itu menimbulkan banyak kerugian, disadari kalau bikin rugi, tapi tetap dipertahankan. Malas itu hilang timbul, kesuksesan seseorang ditentukan oleh bagaimana ia dapat sebanyak mungkin menghilangkan malas, sedang kemiskinan, keterpurukan, kebodohan, ketertinggalan karena juga seringnya menimbulkan rasa malas.

Dulu pada waktu kuliah, pada saat memasuki fase pembuatan Tugas Akhir, perlu setahun untuk menyelesaikan skripsi yang sejatinya makan waktu 2 bulan kalo tidak malas.

Saat itu mata kuliah yang diambil udah habis, kalopun ada paling ngulang-ngulang pelajaran lama yang nilainya rendah. Saat itu udah ambil Tugas Akhir, tercantum jelas di Kartu Rencana Studi. Tapi, rasa malas akut tiba-tiba datang melanda, bayangkan, satu semester skripsi dibiarkan gitu aja gak dikerjakan!

Seperti datangnya rasa malas yang tiba-tiba, demikian juga dengan keinginan untuk ‘rajin’ yang juga tiba-tiba!

‘Tiba-tiba rajin’ mungkin bagi orang yang melihatnya, tapi sebenarnya ‘rajin’ saya waktu itu setelah melakukan perenungan diri, kontemplasi. Loh kok udah mulai ditinggalkan teman-teman seangkatan yang pada lulus, keluarga dan kalangan dekat yang udah sering bertanya ‘kapan lulus’, dan juga keinginan untuk membahagiakan ortu biar cepat-cepat menuai benih harapannya yang sudah lama makan biaya kuliah.

Akhirnya diputuskan untuk ‘rajin’, dan hasilnya fantastis, skripsi selesai dalam 2 bulan! Dulu, sekitar tahun 1995-1996, ngerjakan skripsi biasanya di rental komputer yang banyak buka 24 jam disekitar kos-kosan. Setelah keputusan untuk musuhan dengan ‘malas’ mengerjakan skripsi, malam-malam datang ke rental komputer, kebetulan pas ada teman seangkatan yang lagi ngerjakan skripsi. Saya nanya ke dia ‘Ngerjakan bab berapa?, dia jawab ‘Bab 3!. ‘Wow’, dalam hati saya menyadari betapa tertinggalnya  karena baru akan memulai ‘Kata Pengantar’.

Akhirnya siang malam saya kerjakan skripsi dengan spartan. Siang-siang sering dikampus dan lab, untuk ngerjakan percobaan dan konsultasi ke dosen, dan malamnya ngetik di rental yang sering sampe adzan subuh berkumandang.

Dan hasilnya, dua bulan kemudian, ketika saya ke rental untuk ngerjakan sedikit perbaikan setelah ujian skripsi yang dinyatakan lulus, teman saya yang dua bulan lalu udah ‘Bab 3’, ternyata sekarang masih aja ‘Bab 4’, karena dia masih terjangkiti malas. Tertegun dan heran ketika saya bilang kalo mau mengetik untuk perbaikan skripsi!

Sekarang bayangkan kerugiannya jika saya gak malas, saya akan lebih cepat setahun lulusnya, juga saya akan bekerja lebih cepat setahun, biaya kuliah juga lebih hemat setahun, otomatis karena biaya lebih hemat, keluarga juga lebih bisa menggunakan keuangannya untuk keperluan yang lain. Dengan bekerja lebih cepat setahun, saya juga mendapatkan uang dan pengalaman yang lebih banyak, jenjang karier yang lebih tinggi dan sebagainya. Pokoknya rugi deh malas itu!!

Sekarang bayangkan betapa banyak kerugian yang kita timbulkan dengan kemalasan-kemalasan yang lain!

Seandainya dulu saya lebih rajin menabung dan dulu tidak merokok duitnya akan lebih banyak lho, mungkin sudah bisa dibelikan rumah dan mobil. Merokok sudah jelas-jelas tidak sehat dan makan duit!

Seandainya dulu juga lebih rajin ke fitnes, kayaknya perut tidak akan sebuncit sekarang, dan badan akan lebih terlihat bugar.

Seandainya saya lebih rajin menulis, tentu akan lebih tulisan yang saya buat dan memberikan manfaat, saya akan lebih banyak mendapatkan pahala.

Seandainya dan seandainya…

Harapan saya, semoga saat akhir saya tidak berada dalam keadaan malas, malas untuk beribadah kepada Allah SWT!

Makanya jangan malas ya!!

Dipublikasi di Renungan, Uncategorized | Tag , , | Tinggalkan komentar

Spektakuler Suramadu!! *

 
jembatan suramadu didit 2
Gambar: Suramadu di Malam Hari, oleh Didik Witono, di akun flickr Didik Witono.
 
*Syarat dan ketentuan berlaku. Suramadu sudah spektakuler, akan semakin spektakuler jika memenuhi syarat dan ketentuan ide-ide dibawah ini, hehehe kardhiman (kareppeh dhibi’ se paleng nyaman = Maunya sendiri yang paling enak)…
 

Saya adalah orang Madura yang dilahirkan di Madura, original 100%, tidak pake KW-KW an, hehehe. Mendiang Ibu dan Bapak saya, keduanya orang Madura, dan lebih banyak tinggal di Madura semasa hidupnya.

Waktu saya masih SD, Bapak sering bercerita tentang gagasan akan didirikannya Jembatan Suramadu (Suramadu), menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Bahkan, cerita Bapak saya, ide untuk Suramadu itu sudah lama digulirkan, sejak jaman Presiden RI Pertama, Ir Soekarno. Seiring waktu, menurut saya wajar jika Ir Soekarno yang menggulirkan ide tersebut, beliau mempunyai latar belakang pendidikan insinyur sipil, masih banyak yang bisa dilihat peninggalan bangunan-bangunan bersejarah yang merupakan idenya atau bahkan rancangannya sendiri!

Saya melihat, presiden pertama kita seorang yang visioner, pandangannya jauh menembus masa depan. Apa yang secara fisik baru kita lihat sejak tahun 2009 yaitu pada saat peresmian Suramadu, Ir Soekarno telah ‘melihat’-nya dalam bentuk ide dan gagasan bahkan mungkin rancangan kasar tentang Suramadu sejak puluhan tahun yang silam!

Setelah sekian lama saya bekerja di luar pulau Madura, akhirnya sejak 2009 saya bekerja dengan penugasan di Madura, hhmmm, kembali ke tanah air beta, pusaka abadi nan jaya, hehehe… Tahun 2009 juga tahun penyelesaian akhir dari Suramadu, dan peresmiannya di tanggal 10 Juni 2009.

Setelah ada Suramadu, terasa sekali manfaatnya! Setiap hari ke Madura, waktu kantor masih di Surabaya. Sebelumnya naik Kapal Feri ke Madura, perlu waktu minimal 2 jam, mulai dari antri, beli tiket, masuk kapal sampai turun dari kapal. Belum lagi pada musim-musim tertentu, antrian kendaraan menuju kapal mengular, yang menambah waktu tempuh menyeberangi selat Madura yang berjarak sekitar 5 KM itu jadi berjam-jam.

Dan ketika Suramadu diresmikan, semuanya jadi lancar! Gagasan Ir Soekarno yang dulu sering mendiang Bapak saya ceritakan, sekarang telah hadir nyata dan dapat dimanfaatkan. Selain Ir Soekarno, Bapak RPH Moh Noer, mantan Gubernur Jatim yang asli orang Madura termasuk yang getol mengusahakan agar Suramadu ini terwujud.

Pemerintah telah mewujudkan visi founding fathers kita untuk membangun Suramadu. Surabaya dan Madura terhubung dan semakin tak berjarak. Biaya pembangunan jembatan itu sangatlah besar, tidak mungkin ditutupi hanya dari perolehan karcis bagi mobil dan motor yang melintasinya dalam sepuluh – dua puluh tahun. Yang lebih diharapkan oleh pemerintah sebenarnya adalah efek bergulir (multiplier effect) dari Suramadu itu yang bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar.

Sekilas saya perhatikan, memang ada percepatan peningkatan arus lalu lintas dari dan menuju Madura. Peningkatan arus lalu lintas adalah salah satu ciri adanya pertumbuhan ekonomi. Dari Mess kantor saya yang terletak di jalan poros jalan pantai selatan Madura, jelas terdengar suara kendaraan yang saling menyambung hampir tak berjeda waktu walaupun ditengah malam, mengindikasikan banyaknya pengguna jalan. Keadaan ini jauh berbeda dengan lima tahun yang lalu.

Bagaimana dengan percepatan lainnya? Sepertinya, pengaruh Suramadu terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Madura belum optimal dan perlu dimaksimalkan lagi.

Kalau kita melihat kawasan kaki jembatan Suramadu sisi Madura (KKJSM), tanah-tanah kosong yang mungkin sedianya diperuntukkan untuk kawasan Industri, tidak banyak beranjak keadaannya dibandingkan dengan 5 tahun silam. Kalaupun ada, hanya satu dua bangunan baru yang dipergunakan untuk gudang atau kegiatan usaha lainnya. Katanya sih, karena tanah-tanah itu sudah dikuasai para spekulan yang dibeli pada waktu proses pembangunan Suramadu. Para spekulan mengharapkan untung yang tinggi dalam sekejap, akibatnya harga tanah melambung, sehingga untuk dibangun suatu kawasan industri, harganya sudah tidak kompetitif lagi. Impian untuk menciptakan suatu kawasan industri terpadu disisi Madura Suramadu sepertinya tidak akan tercapai dalam waktu dekat.

Dan kemudian, seperti kebanyakan manusia, akan mempertanyakan, siapa yang salah? Wah, kalo membicarakan siapa yang salah berarti akan merujuk kebelakang, dan kemudian akan banyak para pihak yang saling menyalahkan, hhmmm, sebuah energi negatif yang hanya saling menjatuhkan dan tidak membawa solusi. Suramadu terwujud adalah suatu anugerah, kalaupun ada kekurangan disana-sini dalam pengembangannya, mari kita diskusikan untuk mencari solusi!

Untuk wisata, Suramadu juga belum memberikan kontribusi yang maksimal. Rata-rata orang hanya senang melintasi Suramadu menuju Madura, kemudian makan di seputaran daerah Burneh sampai Bangkalan atau juga belanja Batik di pertokoan yang tumbuh menjamur dikawasan tersebut. Tidak lebih jauh dari itu!

Untuk membuat orang berminat menyusuri lebih jauh lagi Madura, harus diberikan rangsangan atraksi wisata. Atraksi wisata yang unik yang hanya ada di Madura!

Hobi saya jalan-jalan, banyak daerah di Indonesia yang telah saya kunjungi, dari ujung barat Sumatera sampai di Papua, dan menurut saya, Madura mempunyai kekhasan yang bisa dikembangkan menjadi daerah wisata unik yang akan mengundang banyak wisatawan melancong kesini.

Karena kebetulan saya bertugas di Madura, dan saya juga orang Madura, saya berkunjung ke banyak tempat di Madura yang menjadi tempat wisata ataupun layak dijadikan wisata.

Berikut objek wisata yang menurut saya layak untuk dikembangkan:

  • Wisata alam
    Gua Payudan di Guluk-Guluk Sumenep
    Api tak kunjung padam di Pamekasan
    Gua Jokotole di Geger Bangkalan
    Bukit Kapur Jaddih Bangkalan
    Bukit Kapur Bukit Panjalin Sumenep
    Hutan Kera Nipah Sampang

Pegunungan Kapur Jaddih Socah   Bukit panjalin

Gambar 1: Pebukitan Kapur Jaddih Bangkalan, perhatikan kolam renang dan ruangan-ruangan yang dibuat dengan menggali pebukitan kapur tersebut. Gambar koleksi pribadi.
Gambar 2: Pebukitan kapur Bukit Panjalin Sumenep. Gambar dari epicsumenep.wordpress.com
 
  • Wisata bahari
    Pantai Wisata Lombang Sumenep
    Pantai Wisata Selopeng Sumenep
    Pantai Wisata Camplong Sampang
    Pantai Wisata Talang Siring Pamekasan
    Pantai Wisata Siring Kemuning Bangkalan
    Mercusuar di Socah Bangkalan
    Pulau Gili Labak Sumenep
    Pulau Gili Iyang Sumenep
    (Ada beberapa kawasan pulau lain yang indah di kepulauan Sumenep, tapi tempat yang terlalu jauh akan memakan waktu lama dalam perjalanan
  • 6shelterwarno   5gililabakindra
Gambar 1: Rumah penduduk di Gili Labak yang sering dijadikan pesinggahan. Gambar koleksi pribadi.
Gambar 2: Salah satu sisi pantai Gili Labak. Gambar dari indraprawiranegara.wordpress.com
 
 
  • Wisata Budaya, Sejarah dan Pendidikan
    Kerapan Sapi disemua kabupaten Madura
    Sapi Sonok disemua kabupaten Madura
    Musium dan Keraton Sumenep
    Pembuatan batik tulis di Burneh, Tanjung Bumi dan Pamekasan
    Pembuatan keris di Desa Aeng Tongtong Sumenep (dan beberapa desa lainnya di Sumenep)
    Desa Wisata dan Budaya Semaan di Dasuk Sumenep

Kerapan Sapi

Gambar: Kerapan Sapi yang sudah terkenal di dunia. Gambar oleh: Arylay, dari akun flickr Arylay.
 
  • Wisata Religi
  • Pasarean Syaichona Cholil di Bangkalan
  • Pasarean Batu Ampar di Sampang
  • Pasarean Asta Tinggi di Sumenep
  • Pasarean Syeikh Yusup di Pulau Poteran Sumenep
  • Pasarean Aer Mata (Rato Ebu) Arosbaya Bangkalan
  • Masjid Jamik Sumenep
  • Masjid dan Penginapan Al Akbar Pantai Lombang Sumenep
  • Vihara Avalokitesvara Pamekasan

vihara avalokitesvara   IMG_2000

Gambar 1: Tampak depan Vihara Avalokitesvara Pamekasan. Gambar koleksi pribadi.
Gambar 2: Tampak depan Masjid Jamik Sumenep. Gambar koleksi pribadi.
 
  •  Wisata Kuliner
  • Di Daerah Bangkalan (Bebek Sinjay, Nasi Amboina dan Nasi Serpang)
    Di Daerah Sampang (Bebek Songkem, Kaldu)
    Di Daerah Pamekasan (Soto, Rujak, dan Kaldu)
    Di Daerah Sumenep (Soto, Rujak dan Kaldu)

Untuk wisata kuliner, Madura mempunyai beragam masakan yang  khas. Warung dan rumah makan khas Madura sekarang banyak tersedia. Beberapa makanan khas hanya tampil pada saat tertentu, dan alhamdulillah, sekarang ada momen Car Free Day di hari Minggu, biasanya ada makanan khas Madura seperti: Thopa’ Ladheh, Tajin Shobih, Campur Lorju’ dan lainnya.

Cukup banyak kan objek wisata di Madura! Artinya, apabila wisatawan berkunjung ke Madura, dalam sehari, beberapa tempat wisata sekaligus bisa dikunjungi. Sama seperti halnya di Bali yang mempunyai banyak tempat atraksi wisata sehingga mengundang minat orang untuk berkunjung kesana.

Dengan beragam objek wisata, sekarang tinggal bagaimana ‘menjual’ objek wisata tersebut sehingga bisa memikat wisatawan untuk berkunjung.

Khusus untuk Wisata Religi, mempunyai karakteristik khusus. Wisatawan yang berkunjung kesana sebelum ada Suramadu-pun sudah banyak, Suramadu telah meningkatkan jumlah wisatawan secara signifikan.

Industri wisata merupakan industri yang banyak menimbulkan multiplier effect yang positif. Ia akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menggerakkan industri pendukungnya yang banyak membuka lapangan kerja.

Jika banyak kunjungan wisatawan, akan banyak industri pendukung yang tumbuh. Akan tumbuh banyak hotel untuk akomodasi, diperlukan alat transportasi untuk perhubungan, rumah makan yang menyediakan makanan, industri rumahan yang menyediakan cendera mata dan berbagai keperluan para wisatawan lainnya. Tenaga kerja akan banyak terserap. Daerah tujuan wisata jadi sejahtera. Wisatawan adalah berkah, mendatangkan rejeki!

Efek jungkit terhadap perekonomian itu yang mengundang banyak Negara memberikan prioritas pada pariwisata. Malaysia misalnya, sekarang jumlah kunjungan wisatawannya jauh melebihi Indonesia, padahal pada tahun 1980-an Indonesia masih kampiun di pariwisata Asia Tenggara dengan Bali sebagai maskotnya. Salah satu yang membuat pariwisata Malaysia sukses adalah banyaknya penerbangan murah yang menuju ke Malaysia dengan Air Asia-nya. Dengan tiket yang murah, merangsang orang berkunjung ke Malaysia, dan kalau sudah di Malaysia, dengan sendirinya mereka akan berjalan-jalan menghabiskan uang dengan berwisata. Kalau dihitung, mungkin perusahaan penerbangannya mengambil untungnya setipis silet atau bahkan disubsidi, tapi multiplier effect-nya akan menggiring pada keuntungan disektor lain.

Salah satu perlombaan dibidang pariwisata antar Negara Asean adalah keinginan untuk menjadi penyelenggara event Internasional. Malaysia ngotot untuk bisa menjadi penyelenggara Formula 1 dengan membangun fasilitas Sirkuit Sepang yang diresmikan pada tahun 1999. Bahkan, Singapore, negeri liliput di Asia yang sadar tidak mempunyai lahan untuk membangun sirkuit, juga ‘maksa’ menjadi penyelenggara Formula 1 (mulai tahun 2008) dengan menjadikan jalan raya sebagai sirkuit seperti di Monaco, dengan kekhasan: balap di malam hari!!

Juga untuk tempat hiburan, Malaysia dan Singapore berlomba-lomba, sementara Indonesia semakin tertinggal. Mereka berlomba untuk mendirikan tempat hiburan (amusement park) dengan brand internasional. Legoland di Malaysia dibuka pada September 2012 untuk menyaingi kemasyhuran Universal Studio di Singapore yang dibuka pada Januari 2010. Kedua tempat itu terbukti sukses mengundang wisatawan untuk berkunjung!

Contoh pengembangan pariwisata dinegara-negara tersebut memberikan gambaran, bagaimana peran pemerintah dan swasta merangsang pertumbuhan wisata dinegaranya. Tidak ada kendala yang tidak bisa diselesaikan, bahkan kadang ‘masalah’ bisa menjadi suatu ‘keunggulan’. Singapore tidak punya lahan untuk sirkuit, tapi bisa menyelenggarakan Formula 1, juga lalu-lintasnya yang terlalu padat di siang hari untuk dijadikan sirkuit, maka jadilah sirkuit malam hari yang pertama!!

Bagaimana sekarang Indonesia? Bagaimana sekarang Madura? Think globally, act locally. Berpikir global dan bertindak lokal. Untuk Indonesia sudah ada Kementrian khusus kepariwisataan yang merencanakannya, karena saya tinggal di Madura saya fokus untuk ide-ide wisata di Madura. Lagian tulisan ini kan untuk lomba ‘Ide untuk Suramadu’, hehehe.

Saya juga lebih fokus ke Madura daripada Surabaya. Surabaya relatif sudah lebih tertata dibandingkan dengan Madura.

Idenya juga gak boleh mahal apalagi menuntut pembangunan fasilitas yang lebih mahal lagi, tapi yang kira-kira bisa dijalankan dengan murah dengan fasilitas yang telah ada atau menambah fasilitas dengan biaya yang tidak mahal. Suramadu sudah merupakan anugerah yang sangat berharga bagi Madura, kita harus mengoptimalkannya.

Apa yang bisa kita lakukan?

Pelatihan pelayanan bagi pelaku pariwisata. Apa yang menjadi salah satu titik lemah pariwisata di Madura? Kalau saya mendapat pertanyaan seperti itu, akan saya jawab: manusianya! Karakter asli orang Madura, masih perlu polesan untuk dapat beradaptasi dengan dunia pariwisata. Dalam Sapta Pesona Pariwisata, unsur Ramah menjadi salah satu faktor untuk memikat para wisatawan. Karakter orang Madura cenderung apa adanya, jarang senyum dengan gerakan yang kaku dan tegas. Sebenarnya, orang Madura juga tidak bisa dikatakan tidak ramah, tapi lebih cenderung apa adanya dan tidak banyak basa-basi.

Yang mungkin agak membedakan, orang Madura itu gengsinya sangat tinggi. Harga dirinya merasa jatuh jika ada yang membantah atau terasa seperti melawannya. Padahal, ada pepatah ‘Pembeli adalah Raja’, mungkin bagi orang Madura hal itu tidak berlaku.

Pernah dengar anekdot tentang tukang buah dari Madura yang melayani keluhan pembelinya? Ceritanya, seorang pembeli yang pernah belanja di tukang buah mengeluh tentang semangka yang dibelinya masih pucat ketika dibuka dirumah, ‘Bu’, ini saya belanja kemaren, semangkanya kok masih belum matang begitu, saya buka kemaren dirumah masih pucat!’, apa jawab ibu penjualnya ‘Bo abbo, sampeyan beli satu aja udah ngeluh, saya beli satu pikap aja gak papa!!’

Hehehe, jawabannya bikin jengkel pembeli kan, jangankan mendengarkan keluhan apalagi meminta maaf, malah disangkal dan dibantah sama penjualnya.

Perilaku seperti ini sebenarnya sering saya denger langsung dari teman-teman yang bukan orang Madura, mereka takut mendatangi warung atau toko yang penjualnya orang Madura. Jangankan melihat-lihat dan nanya-nanya harga, mendatangipun sudah takut. Seorang teman saya bercerita, ia pernah ikut rombongan bis wisata yang mengunjungi Madura. Disekitar kawasan Suramadu, banyak penjual cindera mata, batik ataupun makanan. Banyak yang ingin beli cindera mata seperti perahu-perahuan, layangan atau celurit hiasan, tapi mereka mengurungkan niatnya karena stereotip penjual Madura yang seperti itu.

Apakah karakter ini bisa dirubah? Saya yakin menjawabnya: bisa! Dengan pelatihan dan pembinaan khusus bagi frontliner pariwisata seperti para penjual, pelayan toko, pemandu wisata, sopir rental mobil, pekerja seni dan budaya, pekerja hotel dan lainnya.

Bila kita pergi ke Ind*m*ret atau Alf*m*ret di Madura, waktu kita membuka pintu tokonya saja kita sudah langsung disambut dengan sapaan energik dari para pelayanya ‘Selamat datang di Ind*m*ret selamat berbelanja!’. Dan terakhir, waktu kita mau meninggalkan toko mereka akan bertanya untuk mengingatkan mungkin ada yang kurang belanjaannnya: ‘Tambah pulsanya Pak?’ dan ‘Tambah rokoknya Pak?’. Hehehe, walaupun standar jawaban saya untuk kedua pertanyaan itu sama: TIDAK, karena memang tidak merokok dan bukan pengguna operator pra bayar.

Para pelayan ditoko itu adalah contoh SDM Madura yang sudah mendapatkan pelatihan bagaimana melayani pelanggan dengan baik. Pelatihannya saya yakin tidak lama, mungkin sekitar 2 – 3 hari. Materi pelatihannya mengenai dasar-dasar service excellence (pelayanan prima) bagaimana melayani pelanggan, seperti sikap melayani pelanggan, apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan pada pelanggan, psikologi dari pelanggan dan bahkan pelatihan tersenyum!

Tidak usah malu untuk mengakui suatu kelemahan asalkan kita mau untuk belajar dan mengkoreksi diri sendiri. Tiongkok saat ini gencar melatih warganya utamanya para pelaku pariwisata untuk bisa tersenyum dengan menggunakan chopstick. Semua dilakukan dengan satu tujuan: mendongkrak turis sebanyak mungkin masuk ke Tiongkok.

Latihan tersenyum 1  Latihan tersenyum 2

Gambar: Pelatihan tersenyum dengan menggunakan alat bantu chopstick untuk remaja Tiongkok. Sumber: dailymail.co.uk
 

Hal lain yang perlu dijadikan materi dalam pelatihan ‘pelayanan prima’ mengenai pelayanan ke pelanggan untuk tawar-menawar harga atau mungkin juga standarisasi harga. Nih yang bikin saya sebagai orang Madura juga jengkel, kebanyakan penawaran awal dari penjual orang Madura itu terlalu tinggi, sehingga kita nawarnya juga harus ‘berani’. Bagi saya yang orang Madura, mungkin bisa saya ‘lawan’, tapi bagi orang lain mungkin akan membuatnya keder dan tidak berani nawar, ya akhirnya gak jadi beli!

Teman sekantorku yang dari Jakarta pernah bercerita mengenai kesialannya membeli jambu air Sampang Madura. Pada waktu musim jambu air ia membeli sebanyak satu dus aqua, dia bawa pulang ke Jakarta, dan ia kaget waktu belanja di supermarket Jakarta ternyata malah lebih murah dikit dibandingkan dengan yang di Madura. Hehehe, saya tertawa geli mendengar cerita temanku, walau dalam hati merasa ironis.

Seperti halnya sifat buruk, sifat baik itu juga menular. Semakin banyak fronliner pariwisata yang mendapatkan pelatihan, maka para alumni pelatihan itu akan menularkan sifat-sifat baiknya kepada pelaku pariwisata yang lain. Sehingga semakin lama, budaya lama akan terkikis tergantikan oleh budaya baru yang lebih baik. Persaingan dagang juga membuat para penjual berkompetisi memberikan yang terbaik, termasuk keramah-tamahan, dan saya melihat bahwa semakin lama penjual di Madura sudah semakin menyesuaikan.

Perbanyak event. Terutama untuk atraksi yang menjadi maskot Madura, kerapan Sapi!! Teman saya banyak bertanya, kapan akan ada Kerapan Sapi? Dan jawabannya mengecewakan, karena memang jarang. Untuk tingkat nasional (se-Madura) biasa diadakan di bulan Oktober, untuk tingkat kabupaten gak tahu tuh kapan. Sebenarnya kadang sering saya lihat kerapan sapi di kecamatan-kecamatan. Tapi tidak direncanakan untuk ‘dijual’ sebagai atraksi wisata ke luar daerah. Padahal gak kalah menarik lho, meski Kerapan Sapi itu di kecamatan! Saya juga pernah melihat Kerapan Sapi yang khusus dipertunjukkan bagi para turis di alun-alun Bangkalan. Kerapan Sapi itu atas permintaan khusus dari Biro Wisata.

Pernah saya jalan-jalan kedaerah pantai utara Sumenep, saya lihat ada pengumuman sederhana tentang acara ‘Sapi Sonok’, wah sayang sudah kelewat waktunya. Saya hanya berpikir, sebenarnya banyak acara yang bisa dijual tetapi kurang direncanakan untuk menjadi atraksi wisata, kurang terorganisasi!

Untuk Kerapan Sapi, yang telah mendunia namanya, harus lebih sering diadakan. Misal dijadikan agenda tetap di tiap minggu ke 2 setiap bulan. Jadi, bagi orang yang merencanakan untuk melihat Kerapan Sapi, bila tidak bisa bulan ini, bisa di bulan berikutnya dan seterusnya. Dengan pengemasan yang baik dan juga promosi yang dipadupadankan dengan wisata lainnya seperti kuliner dan budaya, saya yakin Kerapan Sapi akan menjadi atraksi yang diminati.

Kebanyakan orang telah mendengar tentang ‘Kerapan Sapi’, tapi sebagian besar dari mereka belum pernah melihatnya! Persepsi bahwa ‘Kerapan Sapi’ adalah ‘Madura’ sudah sangat kuat walau ternyata Bali mempunyai tradisi yang sama.

Madura beruntung karena mempunyai event yang bisa dijadikan maskot wisata! Jadi kita tinggal mengemasnya dan mempromosikannya.

Jember perlu beberapa tahun mulai dari awal menggagas dan menggelar perdana pada tahun 2003 sampai kemudian menjadikan Jember Fashion Carnaval sebagai event yang dinanti dan dikenal dunia. Juga Banyuwangi, mulai merintis Banyuwangi Ethno Carnaval sejak tahun 2012 untuk menjadi event bertaraf internasional. Banyuwangi memang sedang gencar membikin banyak event, misal Banyuwangi Jazz Festival, dan sekarang Banyuwangi Tour de Ijen, sejak 2012 merupakan event balap sepeda yang sudah masuk dalam agenda balap sepeda internasional.

Madura sudah mempunyai tradisi pertunjukan Sapi Sonok, acara kesenian ‘Semalam di Madura’ dan kemudian ‘Kerapan Sapi’ dalam satu rangkaian. Mungkin tinggal perlu mengemas ulang dan membenahinya lagi untuk dijadikan event yang menjual.

Sapi SonokGambar: Salah satu Sapi Sonok yang ditampilkan. Gambar koleksi pribadi.
 

Ngomong-ngomong tentang ‘Sapi Sonok’, itu acara yang sangat bagus, berfoto dekat sapi yang dihias juga dengan tim kerapan sapinya, juga bisa mengetahui lebih jauh mengenai sapi kerapan, perawatan dan hal lainnya.

Promosi out of the box. Memasang baliho dan memasang iklan di media elektronik atau cetak, itu adalah contoh-contoh promosi yang sudah biasa. Biayanya lumayan mahal, dan apabila di media cetak dan elektronik perlu kampanya besar-besaran dan promosi dalam rentang waktu yang cukup untuk membuat pendengar atau pembacanya memperoleh kesan yang dalam dan tergerak untuk berwisata.

Ada cara promosi sederhana tetapi sangat ampuh. Melalui blog, seperti yang telah dirintis oleh BPWS ini. Saya pernah menulis di blog dengan judul ‘Wonderful Gili Labak!’, ternyata dari tulisan itu berhasil ‘meracuni’ pikiran beberapa pembaca untuk berangkat kesana. Saya tahu karena saya memasang email saya apabila ada yang ingin ditanyakan tentang Gili Labak, dan sukses, puluhan orang telah berangkat ke Gili Labak setelah nanya-nanya ke saya. Belum lagi bila yang berkunjung kesana juga menulis hal yang sama tentang Gili Labak, getok tular, akan semakin banyak yang berwisata kesana!

Penulis blog biasanya akan menuliskan testimoni setelah mengunjungi suatu tempat wisata. Testimoni atau kesaksian di blog pribadi terkesan lebih jujur, apa adanya dan kadang dengan bahasa yang lebih gaul, sehingga lebih banyak dijadikan referensi oleh para calon wisatawan, beda dengan penulisan atau artikel yang memang dimaksudkan untuk promosi pariwisata yang terkesan melebih-lebihkan.

Promosi lain adalah mengundang public figure atau selebriti untuk berkunjung ke tempat tujuan wisata yang akan dipromosikan. Inget waktu Maria Sharapova, petenis jelita dari Rusia datang mengunjungi Borobudur tahun 2013 yang lalu? Foto Maria dengan pose-pose berlatar Borobudur mejeng dibanyak majalah traveler dunia, otomatis mengangkat Borobudur untuk lebih banyak dikunjungi wisatawan.

Juga ketika Mark Zuckerberg, pendiri dan pemilik Facebook Inc. ke Borobudur Oktober 2014 yang lalu, statusnya di Facebook tentang Borobudur merupakan promosi gratis bagi Borobudur. Jutaan follower-nya akan bertanya-tanya tentang Borobudur, kemudian googling dan lebih mencari tahu tentang Borobudur, dan diantaranya pasti ada yang kemudian berangkat ke Borobudur!

Kalo untuk tahap awal tidak perlu sekelas Maria Sharapova atau Mark Zuckerberg yang didatangkan kesini, mungkin selebriti nasional yang diajak berlibur ke Madura atau dijadikan Duta Wisata Madura, misalnya Syahrini atau Raffi Ahmad, hehehe…

Libatkan Masyarakat dan perbanyak muatan lokal! Kunjungan saya ke Desa Wisata dan Budaya Semaan Sumenep, memberikan kesan mendalam. Dalam kesederhanaannya, dan cenderung apa adanya, justru memberikan pengalaman yang luar biasa yang sulit dilupakan.

Pada waktu datang saya diberi Odheng (kain penutup kepala) khas Madura dan memasuki Gerbang Desa Wisata (yang sangat sederhana), saya disambut oleh iringan musik tradisional, wah rasanya gimana gitu, hehehe.

Terus kemudian saya diajak mellihat Bato Cenneng (Batu yang apabila ditabuh akan menimbulkan bunyi yang menggema, hampir sama seperti suara logam yang dipukul). Bato Cenneng itu sarat dengan cerita legenda yang terkait dengan penamaan desa tersebut, Semaan (dalam bahasa Indonesia, Semaan berarti ‘mendekatlah!’). Legenda tersebut juga mempunyai pesan moral yang baik.

Ukiran MaduraGambar: Ukiran khas Madura disalah satu kamar penginapan Al Akbar, Pantai Lombang. Gambar koleksi pribadi
 

Di lokasi Bato Cenneng juga ada acara ‘story telling’, anak-anak kecil yang bercerita mengenai legenda batu tersebut. Dari Bato Cenneng kemudian diajak makan siang dengan menu ala Madura di rumah tradisional Madura. Menu yang sederhana tetapi menerbitkan selera makan! Selagi makan siang, kita bisa mendapatkan cerita mengenai makanan khas yang kita santap tersebut juga mengenai arsitektur rumah tradisional Madura yang ditempati makan siang tersebut.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Mata Air Somber Kecceng yang merupakan urat nadi mata air didesa tersebut. Sebelum sampai ke sumber air tersebut, kita akan ditunjukkan bagian-bagian atau nomenklatur dari bajak sawah dan sapi yang dipakai, lumayan mendapat pengetahuan!

Mata air Somber Kecceng airnya memang mengalir terus, walau di musim kemarau panjang (saya kesana pas musim kemarau). Airnya jernih, dipakai oleh penduduk mulai dari untuk masak sampai mengairi sawah. Di sumber air dibangun kolam pemandian, dan bagian atasnya terdapat bangunan masjid. Somber Kecceng juga mempunyai legenda yang tidak kalah menariknya, mirip-mirip dengan cerita Joko Tarub dengan bidadari itu.

Dari Somber Kecceng kemudian diajak ke sekolah SD setempat dan menyaksikan tari-tarian yang dibawakan oleh anak-anak SD disana. Dan terakhir, waktu pulang diantar oleh iringan Sapi Sonok dengan musik tradisional saronen-nya. Waah, sangat berkesan!

Kita bisa mengetahui adat istiadat, budaya, kuliner dan arsitektur yang khas Madura dalam sekali kunjungan!

Semua rentetan kunjungan tersebut melibatkan peran aktif masyarakat setempat. Semua dilakukan dengan semangat dan antusias, mereka tidak merasa terpinggirkan, justru menjadi pelaku!

Wisata yang berbasiskan penduduk lokal akan lebih kuat. Jadikanlah penduduk setempat sebagai pelaku wisata, bukan sebagai penonton! Semua pekerjaan yang dibutuhkan dalam sebuah objek wisata sebisa mungkin diserap dari penduduk setempat!

Salah satu peran aktif pemerintah didalam meningkatkan muatan lokal adalah dengan membuat aturan-aturan yang pro kebijakan muatan lokal. Mewajibkan pakaian dengan batik Madura, membawa tamu pemerintah ke tempat wisata lokal, mempertontonkan atraksi budaya (musik atau tarian) lokal pada setiap tamu pemerintah, mengadakan rapat-rapat ditempat wisata lokal adalah contoh-contoh kebijakan yang pro muatan lokal.

Perbanyak Rambu Objek Wisata dan Tonjolkan Ciri Wisata. Hampir disetiap kabupaten di Madura, ada baliho besar berisikan peta dengan foto-foto beragam tempat tujuan wisata. Sayangnya, kadang hanya berhenti di baliho itu saja. Apabila kita akan mengunjungi tempat tujuan wisata tersebut, tidak ada rambu-rambu yang memadai. Atau, kalaupun ada rambu, biasanya kurang informatif, karena rambu tersebut tidak tersedia sampai mengantar kita ke tempat tujuan. Rambu hanya tersedia di satu atau dua tempat, selebihnya wisatawan dibuat bingung kearah mana lagi untuk sampai ke tujuan wisata tersebut. Apabila Pemda menginginkan ‘Tempat Pembuatan Batik Tulis di Klampar Pamekasan’ misalnya, menjadi tujuan wisata, seharusnya mulai dari masuk Pamekasan sudah diarahkan untuk menju kesana dengan memasang rambu-rambu sampai ketempat tujuan. Rambu petunjuk sangat penting! Malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya mending gak usah ketempat tujuan! Hehehe…

Baliho PariwisataGambar: Baliho Peta Petunjuk Pariwisata sebelum memasuki Kota Pamekasan. Gambar koleksi pribadi.
 

Buatlah rambu yang standar dan terbaca dengan jelas. Setahu saya, untuk rambu wisata biasanya mempunyai latar coklat, ini sudah menjadi standar dimana-mana.

Oh ya, mengenai rambu-rambu (khususnya untuk wisata kuliner), Pemda Pamekasan bisa dicontoh tuh. Disetiap warung yang menyajikan makanan khas Madura, dan rasanya memang lumayan top markotop, kemudian cukup dikenal didaerah itu, Pemda Pamekasan memberikan rambu berupa ‘Wisata Kuliner’. Dengan referensi itu, saya biasanya suka mendatangi tempat-tempat tersebut, dan memang rasanya lumayan nendang dan bisa direferensikan ke yang lain.

Walau semua Kabupaten di Madura mempunyai sentra kerajinan batik, Kabupaten Pamekasan sepertinya yang paling getol berpromosi untuk memperoleh kesan sebagai ‘Kabupaten Batik’. Pasar khusus batik ada, juga Galeri Batik yang dibuatkan khusus oleh Pemda-nya. Beberapa dinding di kota dibuatkan lukisan batik, dan disetiap kantor pemerintah juga ada lukisan batiknya.

Mural2Gambar: Mural di salah satu dinding di sudut kota Pamekasan. Di Pamekasan banyak dijumpai Mural bermotif batik. Gambar koleksi pribadi.
 

Ini salah satu usaha dari Pemda Pamekasan untuk menonjolkan ciri wisata didaerahnya. Dan saya melihatnya: cukup berhasil!

Kebersihan dan sarana minimal yang harus ada. Gili Labak itu sangat eksotik! Berwisata kesana serasa mengunjungi pulau pribadi yang masih perawan. Penduduknya ramah dan tulus menerima kita jika mau menginap disana, mereka akan menyediakan rumah atau ‘kobung’-nya (Kobung adalah bahasa Madura untuk semacam rumah panggung atau mirip gazebo dengan satu ruangan yang biasanya multifungsi, mulai dari buat shalat, menerima tamu atau buat tiduran) untuk kita inapi. Sayang, disana tidak ada fasilitas untuk buang air besar yang memadai. Kemana para penduduk untuk menunaikan kewajiban rutin itu? Ya kalau gak kelaut ya gali tanah, hehehe.

12finding nemoGambar: Mejeng bareng ikan hias Nemo sebelum dilepas kembali. Ikan hias seperti ini banyak dijumpai di terumbu karang Pantai Gili Labak. Gambar koleksi pribadi.
 

Ketiadaan toilet ini bikin saya kebingungan waktu diminta bantuan teman untuk mengatur kunjungannya kesana bersama beberapa orang Jepang. Saya jelasin diawal kalo tidak ada toilet biar mereka gak kecewa nantinya, karena mereka berniat untuk menginap. Semula mereka sempat bimbang, tapi ‘racun’ bayangan indah Gili Labak yang mereka baca di blog saya membuat mereka berkompromi, gak apa-apalah tanpa toilet, pengalaman seru juga, hehehe!! Overall, mereka puas, dan meminta saya untuk mengatur keberangkatan trip rombongan kedua.

Padahal, berapa-lah biaya untuk membuat sebuah toilet? Dibuat yang sederhana tapi bersih. Dirancang yang bernuansa alam dan ramah lingkungan. Toilet adalah fasilitas minimal yang harus ada di setiap daerah tujuan wisata!

Kebersihan juga syarat utama. Bersih juga merupakan bagian dari Sapta Pesona Wisata. Sapta Pesona wisata itu: Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Kenangan.
Sederhana tapi bersih itu lebih baik daripada dibangun dengan biaya mahal, cukup megah tetapi tidak terawat dan kumuh.

Dan mimpi saya sederhana saja, saya memimpikan di sisi Madura dari Suramadu, ada rest area atau tempat peristirahatan dan terletak cukup tinggi, dengan latar belakang Suramadu dengan tempat parkir yang luas dan rindang, ada banyak toko souvenir dan juga makanan Madura, SPBU, tempat bermain anak, toilet dan sarana ibadah. Tempat tersebut ramai dikunjungi, terlihat dari banyaknya kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil pribadi sampai bis dengan berbagai kode plat nomer dari berbagai daerah yang parkir di tempat peristirahatan tersebut, kendaraan-kendaraan tersebut istirahat setelah seharian jalan-jalan beli batik di Tanjung Bumi, ke Pantai Lombang atau habis menginap dari Gili Labak, dan sebelum menyeberangi Suramadu kembali ke Jawa mereka sempatkan mampir di rest area tersebut. Sebagian penumpang dari kendaraan-kendaraan yang parkir tersebut beli cindera mata dari kios-kios yang pelayannya ramah, atau juga mendatangi Rumah Makan yang banyak tersedia untuk mengisi perut dengan aneka masakan Madura dan dilayani dengan senyum yang ramah, sebagian yang lain ke toilet-toilet yang tersedia dan dijaga kebersihannya, dan sebagian yang lain shalat di mushalla yang tak kalah bersihnya dan wangi. Yang paling banyak dilakukan adalah berfoto-foto, bernarsis ria dengan latar belakang Suramadu, berfoto dengan leluasa tanpa khawatir ditilang seperti halnya kalau berfoto ditengah Suramadu seperti saat ini. Mereka semua terlihat lelah tapi tetap dengan wajah yang ceria dan puas, sambil tak putus-putusnya saling bercerita tentang pesona dari tempat wisata yang dikunjunginya.

Rest area tersebut menggantikan rangkaian toko-toko cindera mata dan makanan sepanjang jalan menuju Suramadu di Madura yang sepi pengunjung yang ada saat ini. Toko-toko tersebut kumuh dengan memakai dinding dari bilik bambu, dan kadang-kadang disela-sela toko ada toilet yang kotor yang dikunjungi orang bila benar-benar terpaksa saja. Penerangan seadanya di malam hari, parkiran juga semrawut dan kadang memakan bahu jalan.

Hhmmm, saya yakin mimpi saya akan menjadi nyata, bila kita semua segera bangun dan bergerak untuk mewujudkannya, karena saya yakin semuanya mempunyai mimpi indah yang sama, Suramadu yang spektakuler!!

—-
Tulisan saya yang lain di Blog mengenai Wisata di Madura:

BANNER_widget

Dipublikasi di Perjalanan, Uncategorized | Tag , , | 3 Komentar

Antara seorang Bapak dan Ibu…

Prabowo Kopiah
Menarik mencermati pola pikir dari pasangan capres yang berkompetisi di tahun 2014 ini antara Prabowo dan Jokowi.

Saya mengamati dengan melihat debat yang telah diadakan 3 kali (satu kali capres dan cawapres), juga berita seputar kampanye mereka yang berkeliling mengunjungi nusantara. Dan akhirnya saya melihat bahwa karakter Bapak dan karakter Ibu-lah yang sedang bertarung. Karakter Bapak ada pada Prabowo Subianto sedangkan karakter Ibu ada pada Joko Widodo.

Kenapa begitu? Inilah yang saya amati:

Bapak adalah kepala rumah tangga. Seorang Bapak bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya. Dengan sendirinya, Bapak-lah yang bekerja mencari nafkah. Sama seperti Prabowo, beliau menekankan adanya ‘kebocoran’ berkali-kali sehingga menimbulkan polemik. Tidak hirau dengan polemik, bahkan pada debat yang ketigapun ia mengulanginya. Pada debat ketiga, Prabowo lebih spesifik mengatakan apa yang akan ia lakukan terhadap keuangan Negara: penghematan, menutup kebocoran pemakaian anggaran dan disisi lain mengejar uang Negara yang lari keluar negeri.

Lain Bapak lain Ibu. Seorang Ibu lebih focus ke dalam rumah tangganya. Ia bukan orang yang mencari penghasilan, tetapi yang mengurus rumah tangganya. Karenanya Ibu akan tahu secara detail apa yang harus dikerjakan dan dibelanjakan untuk kebutuhan rumah tangganya. Ia mempunyai shopping list yang komplit untuk membuat rumah tangganya nyaman, kadang tanpa terpikir dapat dari mana uangnya!

Jika Prabowo mengatakan akan mencetak sawah 2 juta hektar, dalam bayangannya adalah mencetak lapangan pekerjaan dan sumber penghasilan baru. Sedang Jokowi mengatakan ia akan membangun bendungan 25 buah dalam 5 tahun. Jokowi sudah punya shopping list untuk bidang pertanian, yaitu bendungan!

Bapak lebih bicara pada global, sedangkan Ibu akan bicara detail dan pelaksanaan dilapangan. Pada Prabowo dan Jokowi-pun juga demikian.

Mencetak sawah 2 juta hektar sawah adalah sasaran globalnya, dan pasti memerlukan irigasi dan pengairan, dan hal itu lebih teknis akan dibicarakan ditingkatan yang bawahnya, pada level Menteri dan Gubernur. Sedang Jokowi memulai dari bawah, bahwa pada saat sekarang, kekurangan pertanian di Indonesia dan hasil pertanian yang belum maksimal karena belum banyaknya bendungan untuk mengairi sawah, sehingga ia mengatakan akan membangun bendungan 25 buah dalam 5 tahun.

Jika Bapak lebih mengutamakan kebutuhan dasar dan apa adanya, maka Ibu kadang masih bisa memperhatikan hal-hal kecil yang mengundang perhatian. Hal itu juga tercermin pada Prabowo dan Jokowi. Prabowo sebagai cerminan figure Bapak tampil sesuai dengan apa yang dia miliki, benar-benar tanpa polesan. Dia punya helicopter, ya kemana-mana pake helicopter, meskipun ia sadar akan timbul stigma negative, dia punya mobil yang dipake untuk kegiatan sehari-hari, ya mobil itu pulalah yang mengantarkannya bolak-balik ke KPU. Sedang Jokowi lebih dipoles, dan sadar bahwa dirinya sedang menjadi sorotan dan berusaha mendapatkan suara dari masyarakat kecil, maka mulai dari kendaraan yang dia pakai waktu ke KPU ia atur betul, kadang memakai sepeda kemudian bajaj, minum jamu pada waktu test kesehatan, dan juga baliho dan banner kampanyenya juga memajang foto dirinya yang mengenakan barang yang harganya murah, sampai jas dan baju batik yang dikenakan pada waktu debat.

Jokowi Kopyah

Terlihat perihal sifat Bapak dan Ibu ketika Prabowo dan Jokowi menjawab pertanyaan moderator pada debat ketiga. Pada waktu tersebut, moderator bertanya, ‘Bagaimana bapak membuat kebijakan untuk mengambil peran penting membuat Indonesia disegani termasuk di luar kawasan termasuk menjadi pemimpin di Asean? Menjawab terlebih dahulu adalah Jokowi dengan jawaban: ‘ Dengan menjadi ketua konferensi seperti ketua KTT Asia, bisa membuat bangsa Indonesia dihargai oleh bangsa-bangsa lain, karena Negara-negara tersebut dengan sendirinya akan datang mendekat, butuh dengan kita, jadi konferensi semacam ini harus lebih sering kita adakan dan kita galakkan!’, kelihatan bahwa jawaban Jokowi mencerminkan seorang Ibu, yang senang kenduri dan perayaan-perayaan, terlibat dalam hal seperti arisan, sehingga kelihatan eksis ditetangga sekitar.

Sedangkan sifat Bapak tercermin pada jawaban Prabowo berikut: ‘Indonesia akan dihargai oleh bangsa lain bukan dengan banyaknya konferensi yang kita adakan, tapi Indonesia akan dihargai dan berwibawa dimata Negara lain jika ekonomi kita kuat, rakyat sejahtera dan hidup makmur!’. Bapak adalah orang yang mencari penghasilan, ia tahu kebutuhan dasar apa yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk Indonesia yang masih termasuk Negara berkembang.

Sama halnya ketika seorang anak dari keluarga sederhana ingin dirayakan ulang tahunnya, sang Bapak mungkin akan menjawab ‘Lebih baik ulang tahunmu ganti dengan beli buku atau sepatu saja!’, sedangkan sang Ibu berpikiran, ingin menyenangkan anaknya sekali-kali, yah tidak apalah kalau dirayakan dengan sederhana!

Rumah tangga akan hidup bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Seorang Bapak adalah symbol dari rumah tangga tersebut. Apabila ada hal yang mengganggu dari luar, maka kewajiban Bapak-lah yang harus berperan aktif. Karena itu, Bapak terlihat lebih galak keluar sedang Ibu biasanya lebih kompromistis. Dalam paparan visi-misinya untuk hubungan internasional, Prabowo, sang Bapak terlihat tegas dan dengan nada bergetar mengatakan ‘Tidak sejengkal tanahpun akan dibiarkan lepas dari wilayah NKRI, tidak sejengkal tanahpun akan dibiarkan lepas dari wilayah NKRI!’ jarang-jarang Prabowo mengatakan sesuatu hal sampai dua kali dalam waktu yang sama sebagai tanda bahwa ia benar-benar menitikberatkan hal tersebut. Beda dengan Jokowi yang lebih menekankan diplomasi dan diplomasi, sebagaimana layaknya seorang Ibu.

Seorang Bapak adalah ‘anjing penjaga’ bagi rumah tangganya, sedangkan seorang Ibu menjadi pemanis hubungan bertetangga dengan bersosialisasi!
Mengenai geopolitik, yang merupakan politik dalam kehidupan bertetangga. Sama seperti halnya keterampilan seseorang dalam pengenalan ruang tiga dimensi. Seorang Bapak mempunyai pengenalan ruang tiga dimensi yang lebih baik daripada seorang Ibu. Bapak lebih hafal jalan-jalan daripada Ibu yang lebih suka tersesat jika pergi ke suatu kota. Bapak lebih sering berada diluar, sedangkan Ibu bertugas di bagian domestic.

Hal itu juga tercermin pada sifat antara Prabowo dan Jokowi ketika menjawab mengenai konflik Laut China Selatan. Ketika menjawab tentang konflik di Laut China Selatan, Jokowi menjawab dengan normatif kalau ia akan melihat kasusnya terlebih dahulu dan seberapa jauh konflik itu berpengaruh terhadap Indonesia, apakah menguntungkan apa tidak, terlihat bahwa Jokowi belum paham situasi disekitar ASEAN. Sedang Prabowo, yang kelihatan penguasaan ruang tiga dimensinya lebih baik dan paham tentang politik lingkungan sekitar, mengingatkan Jokowi, bahwa salah satu wilayah Indonesia ikut-ikutan diklaim dan menjadi salah satu potensi konflik di area Laut China Selatan.

Seorang Bapak jarang berkeluh kesah, tetapi seorang Ibu sering berkeluh kesah agar ia dimengerti. Jika Prabowo mempunyai sifat memuji orang lain, seperti pemerintahan SBY dan malah juga tanpa ragu memuji jawaban dari Jokowi apabila ia setuju dengannya, maka kalau Jokowi sering terlihat pasrah dan ‘berkeluh kesah’. Untuk suatu permasalahan, Jokowi sering mengatakan bahwa itu bukan salah dirinya, sebenarnya adalah hal yang wajar, karena ia ingin dimengerti bahwa ia telah bekerja keras tetapi ada hal yang diluar kuasanya yang tidak bisa ia pecahkan.

Cara berkampanyepun juga sangat berbeda. Jika Prabowo sering berorasi didepan banyak massa dilapangan dengan atribut yang laki banget, seperti membawa kuda, kacamata hitam atau berdiri di atas mobil, sedang Jokowi lebih terlihat tenang dan kikuk berorasi serta senang mendatangi pasar dan tempat keramaian. Meski Jokowi penggemar music rock, tetapi ia terlihat tenang dan mudah tersenyum.

Kalau dari segi fisik dan gesture, sangat mudah terlihat, kalau Prabowo mewakili seorang Bapak yang cara bicaranya lebih tegas dan percaya diri sedang Jokowi terlihat lebih kikuk, malu-malu dan dengan nada suara rendah.

Hobinyapun sangat berbeda, jika Prabowo mempunyai hobi pencak silat, terjun payung dan berkuda juga dikenal sangat aktif waktu muda, sedang Jokowi mempunyai hobi bersepeda dan jogging, dan pada masa mudanya relatif lebih tenang. Representasi yang sangat pas untuk Bapak dan Ibu.

Jika kita datang pada seorang Bapak, ia akan bercerita tentang cita-cita yang setinggi langit, ia akan mengajak kita berdiskusi tentang dunia luar dan menyemangati kita, ia juga akan menanyakan keadaan kita diluar seperti disekolah untuk memastikan tidak ada yang mengganggu kita, dan memberikan tips dan trik kepada kita untuk melawan hambatan dan gangguan dari luar. Figur Bapak adalah seorang yang visioner, berwibawa dan heroik dimata anggota keluarganya.

Hal yang berbeda akan kita rasakan jika datang pada seorang Ibu. Ia adalah pengawas kita untuk hal-hal yang kecil dalam keseharian, mengatur jadwal kita, peduli pada kesehatan kita, jam belajar kita dan segala etika yang harus ditegakkan. Wajah Ibu tidak akan seseram Bapak, ia menjadi tempat yang nyaman untuk mengadu bahkan Ibu dan anak juga sering saling berkeluh-kesah. Dalam beberapa hal ibu lebih permisif kepada anaknya, karena sifat kasihnya untuk menyenangkan anaknya. Figur Ibu adalah seorang yang ramah dan menjadi tempat mengadu.

Seorang Bapak mempunyai visi atau cita-cita, mengusahakan agar mendapatkan penghasilan untuk membiayai visinya, dan mempunyai jiwa kepemimpinan untuk ‘memaksa’ bagian dibawahnya dapat berjalan sesuai arah visinya. Seorang Bapak juga menjadi ‘anjing penjaga’ bagi rumah tangganya, harus tampil garang dan berwibawa, dan tidak boleh terlihat ‘menangis’. Ia menjadi pelindung bagi anggota keluarganya, memberikan rasa aman dan kebanggaan!

Sedang seorang Ibu mempunyai program-program kerja yang akan dilaksanakan sesuai arah dan tujuan rumah tangga tersebut, membagi pendapatan dengan baik agar semua program berjalan dan kemudian Ibu juga yang harus mengawasi agar program-program dapat terlaksana. Seorang Ibu akan tampil lebih lembut dan mengayomi, ia menjadi comforter bagi semua anggota keluarganya.

Seorang Bapak dan seorang Ibu tidak seharusnya bersaing, tetapi menjadi suatu mitra untuk membangun rumah tangga bersama.
Beberapa pengamat mengatakan bahwa perbedaan antara Prabowo dan Jokowi sama seperti perbedaan seorang Leader dengan Manager. Saya mempunyai pendapat yang berbeda, membandingkan mereka sama seperti membandingkan antara Bapak dan Ibu.

Keduanya sama-sama baik, tentu disesuaikan dengan kondisi kapan kita memerlukan porsi yang lebih banyak antara Leader dan Manager dan antara Bapak dan Ibu.

Pendapat saya, saat ini Ibu pertiwi lebih memerlukan figur seorang Bapak untuk menjadi kepala negaranya!

Salam Indonesia Raya!

Dipublikasi di Opini | Tag , , | 3 Komentar

Kebocoran dan mental inlander…

Prabowo-Subianto

Pertama dengar kebocoran yang disampaikan oleh Prabowo pada waktu debat yang ke dua dari capres, pada tanggal 15 Juni 2014, saya kaget. Menurut KPK, seperti yang ia dengar, kebocoran dari Negara bisa sampai Rp 7200 Trilyun dalam setahun. Sedangkan Prabowo, dari angka tersebut, mamakai kisaran angka yang menurutnya moderat tapi masih terdengar fantastis, Rp. 1.000,- Trilyun yang bisa diselamatkan!

Asosiasi saya, kebocoran adalah inefisiensi dari APBN, sementara APBN sendiri ada pada kisaran Rp 1.800,- Trilyun. Bagaimana mungkin?

Saya berusaha mencernanya dan mencari referensi yang ada. Banyak ekonom yang berpendapat tentang kebocoran ini, tetapi saya pandang kurang tepat, karena kalau bisa kita mendapatkan dari sumbernya langsung yaitu Prabowo, atau minimal dari Hatta Rajasa. Prabowo sendiri sampai saat ini belum pernah menjelaskan rinciannya. Petunjuk pertama datang dari Hatta Rajasa, cawapres yang mendampingi Prabowo dalam pertarungan pilpres 2014 ini.

Beliau mengatakan, yang pertama adalah, pendapatan Negara harus ditingkatkan dengan peningkatan pertumbuhan, trus yang kedua pendapatan Negara dapat bertambah dengan mencegah terjadinya kebocoran, misal dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dengan memaksimalkan pengawasan agar kebocoran penyelundupan SDA keluar Indonesia bisa diminimalkan.

Pikiran saya mulai mendapatkan pencerahan. Dan kemudian ada petunjuk yang lain, teringat bahwa Prabowo menanyakan kepada Jokowi dalam debat itu ‘Bagaimana Jokowi akan menyikapi terhadap kontrak-kontrak yang dinilai merugikan kepada Bangsa Indonesia?’ Jokowipun memberikan jawaban: apabila dalam kontrak itu memungkinan Indonesia merenegosiasi dan pemerintah mampu membelinya maka hal itu akan dilakukan, namun dia mengingatkan apabila dalam kontrak kerja sama itu tidak ada peluang Indonesia untuk renegosiasi maka pemerintah harus memberi penghormatan terhadap kontrak tersebut.

Dengan melemparkan pertanyaan tersebut, Prabowo dengan cara yang elegan, sebenarnya sedang membandingkan sikap antara dirinya dengan pihak Jokowi. Jokowi lebih normative, mengikuti apa yang telah tercantum didalam kontrak. Sedang Prabowo, sejak awal dikenal dengan keinginannya untuk merenegosiasi kontrak yang dipandang merugikan. Dan menurut saya, hal itu sangat mungkin dilakukan! Apabila kita berbicara berdasarkan kontraktual, maka hal tersebut jelas tidak (jarang) memberikan peluang untuk dilakukan renegosiasi, tetapi apabila hal itu didasarkan kepada kemauan politik dengan alasan yang sangat jelas dan berani mengajak pihak luar untuk duduk bersama lagi membicarakan renegosiasi kontrak untuk kepentingan kedua bangsa, maka hal itu sangat mungkin untuk dilakukan! Pemimpinlah yang harus mampu mengolah isu lokal maupun internasional untuk menaikkan posisi tawar didalam melakukan renegosiasi dengan Negara lain.

Buktinya, pemerintahan SBY pernah melakukannya pada tahun 2008, untuk melakukan renegosiasi harga gas tangguh meski hasilnya sangat sedikit. Jusuf Kalla, wapres pada waktu itu, mengatakan bahwa potensi kerugian atas kontrak penjualan rugi yang ditandatangani Megawati pada tahun 2002 itu mencapai USD 75 Milyar, dalam rupiah angka tersebut melebihi Rp 850 trilyun selama masa kontrak (25 tahun).

Kontrak penjualan gas tangguh terjadi pada era Megawati, yaitu di tahun 2002. Gas tangguh dibuatkan kontrak untuk penjualan ke China dengan harga tetap, tidak mengikuti harga pasar, yaitu sebesar USD 3.35,- per MMBTU (setelah renegosiasi), sedangkan harga pasaran ini mencapai kisaran USD 15,- per MMBTU. Selisih itulah yang menjadi perhitungan kerugian yang dialami bangsa Indonesia selama kontrak berjalan. Saking murahnya, bahkan Pertamina sendiri rela membeli gas tangguh itu tiga kali lipat harganya.

Itu baru dari satu kontrak Gas Tangguh, sudah mempunyai nilai fantastis kerugian sebesar itu, belum kontrak-kontrak migas yang lain, dan masih diperparah seperti penyelundupan pasir ke Singapore, penyelundupan minyak bersubsidi keluar, kebocoran dari mineral lain seperti batubara, kayu-kayu di Indonesia yang diselundupkan, potensi kelautan yang banyak dijarah dari negara lain, penyelundupan barang-barang impor dari China dan Malaysia di perbatasan, pemalsuan cukai, pajak-pajak yang dikemplang. Rasanya kemudian, angka Rp 1.000,- Trilyun kebocoran menjadi sangat realistis.

Mari kita melihat data-data untuk membuka mata kita:

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara RI tahun 2014 adalah Rp 1.842.5 Trilyun sesuai data dari Kementrian Keuangan. Inilah besaran APBN untuk Indonesia yang mempunyai penduduk 240 juta jiwa. Bandingkan dengan Jepang, dengan penduduk yang hanya sekitar 130 juta jiwa, tetapi mempunyai APBN sampai USD 1.02 Trilyun, atau sekitar Rp. 11.500,- Trilyun. Jepang  mempunyai sumber daya alam yang terbatas, luasan wilayah yang lebih sempit, garis pantai yang jauh bila dibandingkan dengan Indonesia, dan juga hutan yang tidak sebanyak Indonesia,  tetapi dia unggul dibidang industri sehingga bisa memberikan kontribusi pendapatan kepada negaranya yang besar.

Bahkan, dibandingkan dengan perusahaan migas kelas dunia seperti SHELL dan EXXON, pendapatan negara Indonesia  masih dibawahnya.

SHELL, perusahaan migas Belanda, pada tahun buku 2013, mempunyai total pendapatan sebesar USD 481.7,- Miliar (sekitar Rp. 5.500,- Trilyun, dengan kurs Rp. 11.500,-) dan keuntungan USD 26.6 Milyar (sekitar Rp. 305 Trilyun) dengan total pegawai seluruh dunia sekitar 87.000 orang.

Sedangkan EXXON, perusahaan migas Amerika, pada tahun buku 2013, mempunyai total pendapatan sebesar USD 449.9 Miliar (sekitar Rp. 5.163,- Trilyun) dan keuntungan sebesar USD 44.9 Miliar (sekitar Rp. 516 Trilyun) dengan total pegawai seluruhnya sekitar 88 ribu orang.

Memang tidak bisa membandingkan antara pendapatan negara dengan pendapatan Multi National Company (MNC). Karena ada parameter lain misal Produk Domestik Bruto yang mengukur keseluruhan nilai pasar dan barang yang diproduksi oleh suatu Negara ataupun Pendapatan Asli Daerah yang dikelola oleh daerah sendiri. Atau bisa juga secara mudahnya, untuk mengetahui pendapatan seluruh bangsa Indonesia dengan mengalikan pendapatan perkapita diklikan jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan.  Karena pendapatan Negara adalah pendapatan yang diperoleh Negara dari pajak-pajak yuang ditarik oleh Negara kepada rakyatnya, royalty atau hasil pengelolaan sumber daya alamnya dan hasil pendapatan lain dari BUMN dan sebagainya.

Tetapi bagaimanapun juga terlihat sangat jomplang!!

Saya hanya mau memberikan gambaran, sebuah perusahaan besar dunia saja mampu menghasilkan keuntungan sebesar seperempat dari total pendapatan Negara besar seperti Indonesia. Dan, perusahaan tersebutpun bukan mempunyai kekayaan alam sendiri. Kebanyakan, ia hanya mengolah kekayaan alam di Negara-negara lain. Logikanya, yang mempunyai sumber kekayaan seharusnya bisa mempunyai pendapatan yang lebih besar!!

Pendapatan Negara tahun 2014 sebesar Rp 1842.5 Trilyun, sedangkan pendapatan EXXON sampai mencapai Rp. 5.143,- Trilyun dengan keuntungan sebesar Rp 516 Trilyun. Bayangkan, keuntungannya saja Rp 516 Trilyun!

Pendapatan sebesar Rp 1.842.5 Trilyun itulah yang dipakai untuk membayar gaji PNS, TNI-Polri, anggota DPR,  membangun rumah sakit, kantor, sekolah, jalan, jembatan, pasar, membeli pesawat tempur, kapal perang, tank, dana bencana alam, subsidi BBM dan pupuk dan sebagainya, dan itu untuk keperluan seluruh bangsa Indonesia yang berjumlah 250 juta jiwa!

Sedangkan Exxon, dengan pendapatan sebesar hampir 3 kali pendapatan Negara Indonesia, dan keuntungannya mencapai Rp 516 Trilyun, itu adalah sebuah perusahaan dengan kemampuan sebuah Negara!!

Karena mempunyai kemampuan seperti Negara itulah, dengan kekuatan modal yang dimilikinya, ia akan terus berusaha mempertahankan sumber-sumber pendapatannya dibanyak Negara sekuat mungkin!

Kwik Kian Gie, mantan Mentri Negara PPN / Kepala Bappenas,  menceritakan pengalamannya di kabinet selama pemerintahan Gus Dur dan Megawati, bagaimana ia ditekan dari rekan bangsanya sendiri dan juga tekanan dari pemerintahan Amerika ketika ia menolak untuk memperpanjang kontrak EXXON di blok Cepu – Bojonegoro.

EXXON adalah perusahaan dengan kemampuan seperti Negara, tentu tidak rela salah satu sumber pendapatannya lenyap, dan ia berani melakukan segala cara untuk mempertahankannya!

Kwik Kian Gie, merasa heran, bagaimana ia dikeroyok oleh bangsanya sendiri yang ia sebut mempunyai mental inlander, dalam mempertahankan agar perpanjangan kontrak Exxon di blok Cepu tidak diperpanjang!

Mental inlander adalah mental inferior atau rendah diri dan tidak percaya diri sebagai sebuah bangsa dan memandang bangsa lain jauh lebih maju!

Blok Cepu kemudian diperpanjang, untuk dikelola lagi oleh Exxon sampai tahun 2030, memupus harapan untuk dikelola sendiri oleh ibu pertiwi.

Kwik Kian Gie-pun berkesimpulan dan mengatakan ‘Dibutuhkan pemimpin yang revolusioner untuk melakukan renegosiasi atas kontrak-kontrak asing!’

Pemimpin yang revolusioner disini adalah Presiden, karena untuk negosiasi dengan perusahaan raksasa tentulah bukan hanya level dari seorang menteri seperti dirinya!

Negara kapitalis asing pemilik banyak perusahaan raksasa, perusahaan dengan kekuatan seperti Negara,  berharap agar kepentingannya di Indonesia tetap aman tidak terganggu, sehingga tidak menginginkan terciptanya pemimpin yang oleh Kwik Kian Gie digambarkan sebagai Pemimpin yang Revolusioner!

Ketika Prabowo Subianto, menyatakan adanya kebocoran dana Rp. 7.200,- Trilyun dan dia memprogramkan untuk menyelamatkan Rp. 1.000,- Trilyun-nya saja, orang-orang terpana dan terkejut. Kalau orang awam mungkin wajar bila dia terkejut, tetapi apabila banyak pelaku ekonomi dan para elitis juga tidak mengerti dan ikut mempertanyakannya juga, sepertinya mereka sudah terjangkit mental inlander. Mereka sibuk dan berpolemik dengan istilah ‘kebocoran’ daripada memperhatikan substansinya, bagaimana cara menutup dan mendapatkannya kembali!

Prabowo Subianto menyadarkan bangsa Indonesia, bahwa kita hidup dialam yang sangat kaya raya, yang belum tergarap maksimal dan mampu membuat rakyatnya makmur dan sejahtera!

Saatnya anda memilih, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita, siapa lagi!!

Salam Indonesia Raya!

 

Referensi:

Ini Penjelasan Hatta Rajasa Soal Kebocoran Anggaran Rp 1.000,- Trilyun

Potensi Rugi Rp 750 Trilyun, Harga Gas Tangguh Harus Tinggi

Fortune Global 500, daftar perusahaan kelas dunia.

Kwik Kian Gie: Renegosiasi Kontrak Asing Butuh Pemimpin Revolusioner

Kwik Kian Gie: Terjajah Exxon Mobil di Cepu

Dipublikasi di Opini | Tag , | Tinggalkan komentar

Prabowo-ku, Prabowo-mu dan ‘Prabowo sendiri’…

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

There are three sides to every story, your sides, their sides and the truth. Anonymous.

Tiga kali saya menuliskan tentang Jokowi di blog saya ini, semua tentang hal positif dari dia, kekaguman saya kepadanya. Tulisan terakhir saya dibuat bulan Maret 2013, atau sekitar 5 bulan setelah Jokowi dilantik, saya sudah mulai khawatir, karena konsentrasi dia sudah diganggu, menggadang-gadang dia untuk maju di Pilpres. Harapan saya agar dia tetap menjalankan amanahnya, karena dengan dia di Jakarta (dan terutama terbantu dengan Ahok-nya), saya seakan melihat kota Jakarta yang akan seperti kota-kota dunia lainnya: mempunyai MRT, lalu-lintas lancar, taman kota yang banyak dan bersih. Harus ada pembuktian dahulu, meninggalkan Jakarta kurang dari dua tahun karena Pilpres, saya melihatnya bukan rekam jejak yang baik!

Sebaliknya tentang Prabowo. Ada seorang temenku, seorang marinir, yang kebetulan menjaga ibukota pada waktu krisis Mei 1998. Dulu, ketika 1998, marinir termasuk pasukan yang disenangi oleh para demonstran, karena aksinya yang lebih simpatik. Temenku, walaupun tidak secara langsung berhubungan dengan Prabowo, mendengar sepak terjang Prabowo, dan dimata kebanyakan prajurit, Prabowo melegenda, dan beritanya positif!

Setiap kali, temenku marinir tersebut selesai berbicara tentang Prabowo, saya selalu katakan padanya, bahwa Prabowo adalah pelanggar HAM! Sama sekali tidak tertarik untuk membahas seorang pelanggar HAM, itu sekitar 1-2 tahun yang lalu! Dalam hati saya berucap, kekaguman seperti temenku marinir tersebut sifatnya emosional, dan biasanya saya tidak terlalu suka karena kandungan subjektifitasnya yang tinggi.

Sahabatku lain lagi, dia ceritakan, bahwa sejak 2009 ia telah memilih Prabowo, meski kala itu bersanding dengan Megawati. Ia melihat sosok Prabowo-nya, bukan Megawatinya! Wow, sejak 2009?!? Ini menarik, pasti ada alasan ideologis yang lebih dalam tentang Prabowo, dan saya mulai berminat untuk lebih menyimaknya.

Dan kemudian seorang yang lain yang sangat dekat dengan saya, seorang aktifis, bercerita tentang Prabowo. Iya diundang oleh Prabowo kerumahnya di Hambalang. Aktifis ini kegiatannya kerap berseberangan dengan kebijakan pemerintah, utamanya dibidang migas. Yang menarik, gagasan-gagasan seperti itu ternyata mengundang minat seorang Prabowo!

Dan dimulailah pencarian dan pengamatan sosok Prabowo!

Tentang HAM, seribu kalipun Prabowo berbicara pasti tidak akan mengubur masalah HAM yang melekat padanya untuk peristiwa tahun 1998. Dijaman yang kebebasan persnya sudah ‘melewati batas’ ini, opini dari seorang yang tidak relevanpun bisa masuk dalam sebuah pemberitaan. Seorang saja yang menggugat tentang HAM pada Prabowo bisa menjadi pemberitaan nasional.

Tentang HAM, saya melihatnya sebagai sebuah kesalahan institusional. Ada adagium, tidak pernah ada penyebab tunggal didalam sebuah kecelakaan, semuanya bersebab-musabab yang saling berkaitan satu sama lainnya. Apalagi kalau dilihat bahwa konteksnya pada waktu itu adalah ‘krisis’ yang hampir mengarah kepada ‘chaos’, dimana segala tindakan pencegahan harus dilakukan.

Untuk sebuah kesalahan ‘institusional’ harus ditebus dengan harga yang mahal karena menyangkut integritas TNI dan kepercayaan masyarakat padanya. Karena itu diperlukanlah sebuah kambing hitam, yang kemudian dilekatkan pada seorang Prabowo. Dan, Prabowo adalah kambing hitam yang sangat baik dalam arti yang sesungguhnya. Dia rela tidak bersuara karena alasan sumpah Sapta Marga, dan yang lebih dari itu adalah, karena ia sadar bahwa dengan kesediaannya menjadi ‘kambing hitam’ permasalahan bisa dianggap selesai, bangsa Indonesia tidak larut didalam energi negatif penghujatan yang menguras produktifitas bangsa.

Ada satu tulisan yang merekonstruksi secara bagus peristiwa 1998. Tulisan itu dibuat oleh media luar Asiaweek, No. 8/Vol. 26, 3 March 2000. inilah tulisan yang menurut saya mempunyai kadar objektifitas yang lebih baik. Terjemahannya dapat dibaca disini.

Kemudian akhir-akhir ini, keluarlah salinan surat rekomendasi dari DKP untuk pemecatan Prabowo. Surat yang semestinya termasuk dalam kategori Rahasia Negara ini beredar, dan menambah keyakinan saya kalau Prabowo adalah kambing hitam, ia menjadi sasaran tembak dari mantan oknum korpsnya sendiri yang saat ini sedang menjadi timses dari kubu sebelah. Isu HAM sama sekali tidak pernah diutak-atik ketika Prabowo menjadi cawapresnya Megawati pada tahun 2009.

Satu hal lagi yang membuat keyakinan saya bahwa Prabowo tidak bersalah adalah kedekatannya dengan aktivis sejak lama. Banyak aktivis 98 dan bahkan korban penculikan yang ada di Partai Gerindra, seperti Fadli Zon, Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam, Desmon J Mahesa dan Aan Rusdiana. Dan bahkan, terungkap bahwa ia juga akrab dengan Soe Hok Gie, seperti tertulis pada Koran Sinar Harapan disini. Kemudian saya teringat, pada seorang sahabat yang aktifis yang saya sebut dimuka yang pernah diundang kerumahnya di Hambalang, hal ini mengkonfirmasi bahwa Prabowo adalah sosok yang sangat peduli terhadap permasalahan bangsa ini.

Permasalahan HAM-nya Prabowo kemudian saya anggap selesai!.

Aristides Katoppo

Pencarian saya kemudian, menyoal Prabowo dari segi leadership-nya, karena kita akan mencari pemimpin nasional.

Prabowo mulai kerap terpampang di media ketika partainya sibuk mencari teman koalisi. Dan akhirnya, dengan tambahan suara dari Golkar, PPP, PKS, PAN, PBB dan terakhir Demokrat, koalisi merah putih ini berhasil mengusung Prabowo menjadi capres tahun 2014.

PDIP selalu mengibaratkan bahwa koalisi yang diusungnya adalah koalisi ramping dan merupakan koalisi kerakyatan, sedangkan utnuk koalisi yang mengusung Prabowo, PDIP menyebutnya sebagai koalisi elit.

Sekilas terlihat benar, apa yang ‘dituduhkan’ oleh PDIP pada koalisi merah putih ini. Tetapi saya melihatnya dari sisi yang berbeda. Prabowo selalu menegaskan bahwa ia membutuhkan sebanyak-banyaknya dukungan anak bangsa untuk koalisinya, ia tidak membatasinya, ia mengatakan sebanyak-banyaknya!

Didalam membangun, diharapkan semua elemen bangsa dapat berpartisipasi, dan itu tidak boleh dibatasi. Gesekan-gesekan yang terjadi antar elemen bangsa, itu sangat wajar, dan disinilah dibutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk menjadikan perbedaan itu sebagai sebuah kekuatan, dan itu ada pada Prabowo Subianto.

Apabila ada yang bangga mengatakan bahwa ia hanyalah koalisi yang ramping, tidak membagi-bagi kekuasaan dan membatasi jumlah koalisinya, justru itulah koalisi yang bersifat elitis!

Dan terbukti, dukungan dari elemen masyarakat yang non parpol mengalir deras ke Prabowo. Pendukungnya sangat bervariasi, artis, penyanyi dan seniman lebih banyak yang mendukung Prabowo, buruh juga mendukung Prabowo karena Prabowo satu-satunya capres yang datang pada waktu aksi buruh May Day 2014 di GBK dan menandatangani kontrak politik, para kiai dan ulama dengan para santrinya yang jauh lebih banyak jumlahnya daripada dukungan kepada pasangan capres yang lain, ibu-ibu dengan berbagai atribut, seperti kelompok pengajian dan arisan, tukang becak, para petani dan nelayan, Aktivis 98, bahkan dari elemen bangsa yang kerap bertampang sangar seperti FPI, FBR, Pemuda Pancasila dan FKPPI juga mendukung Prabowo. Hal itu menunjukkan bahwa Prabowo mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi yang dipercaya oleh semua elemen bangsa untuk memimpin Negara ini.

Sifat kepemimpinan yang lain yang saya lihat ada pada Prabowo adalah passion-nya, gairahnya! Ngomongnya selalu berapi-api, berenergi! Ada jiwa didalam setiap kata-katanya, dan jiwa itu menular kepada pendengarnya, apalagi kalau ia menjadi presiden, jiwa itu akan menular kepada seluruh elemen bangsa! Pemimpin adalah pembawa semangat, memang terasa tidak adil, tapi kita tidak ingin mendengar seorang pemimpin itu mengeluh dan masa bodoh. Pemimpin itu harus bisa membangkitkan jiwa yang lemah, dan membuat orang bergerak untuk berbuat mencapai tujuannya. Saya sama sekali tidak suka kepada pemimpin yang pasrah dan sederhana, yang biasanya terungkap dari kata-katanya: rapopo, capek, bukan urusan saya, gak mikir dan semacamnya.

Determinasi adalah konsistensi dan tekad yang kuat untuk mencapai tujuannya. Banyak orang yang sinis kepada Prabowo, karena sudah bertahun-tahun memimpikan menjadi seorang Presiden. Untuk adat ketimuran seperti Indonesia, hal seperti itu memang terasa lancang. Padahal, di Amerika, seorang Presiden bukan didapat secara kebetulan. Ia telah berpeluh mensosialisasikan dirinya jauh hari sebelumnya, sampai 5 – 10 tahun sebelumnya. Sedangkan di Indonesia, masyarakat terasa lebih menghargai pernyataan ‘Yah, kalau masyarakat Indonesia memberi amanah, saya siap!’ atau ‘Yah, kita lihat dulu dinamika yang ada di masyarakat Indonesia!’ atau yang lebih parah lagi ‘Saya gak memikirkannya!’ yang terasa lebih sopan ketika seorang tokoh diberi pertanyaan ‘Apakah anda siap untuk jadi Presiden?’

Prabowo telah mencanangkannya jauh hari sebelumnya. Karena itu ia telah mempersiapkannya. Pada waktu debat kandidat, terasa penguasaannya pada materi visi dan misinya karena hal itu lahir dari dalam jiwanya. Sama halnya seperti para siswa yang akan mengikuti ujian, bisa dibedakan penguasaan materi antara siswa yang belajar baru semalam dengan siswa yang telah belajar jauh hari sebelumnya.

Mungkin ini terkait dengan ‘adat ketimuran’ yang saya rasa negatif. Ketika anak seorang yang pas-pasan mempunyai cita-cita yang tinggi, orang-tuanya kadang telah membendung cita-citanya yang dipandang berlebihan. Orang tua akan berkata pada anaknya seperti ‘Yang penting hidupmu enak, jangan mikirin yang tinggi-tinggi, kalau jatuh sakit!’. Sifat ini terus berkembang menjadi sifat komunal, diantara anak-anak sering mereka merasa iri dan berusaha ‘mematikan bakat’ jika melihat anak lain yang menonjol. Seiring dengan perkembangan kesejahteraan dan pendidikan, sifat itu perlahan akan mengikis.

Yang tak kalah pentingnya dari sifat kepemimpinan adalah gesture, bahasa tubuh. Apabila memperhatikan Prabowo, kita akan melihat sikap tubuh yang tidak pernah berhenti untuk bergerak. Tidak pernah terlihat bengong, selalu aktif dengan mengambil inisiatif duluan (seperti memberikan salam penghormatan terlebih dahulu kepada Megawati cs waktu di KPU, atau berinisiatif mengangkat tangan Jokowi pada waktu deklarasi damai dan sebagainya), kalau tubuhnya diam, akan kelihatan bahwa tatapan matanya tidak kosong. Perhatikan pada waktu debat kedua capres yang diadakan 15 Juni 2014 yang lalu, sikap Prabowo pada waktu belum mendapat giliran berbicara,  terlihat ia menyimak dengan seksama pertanyaan atau pernyataan dari Jokowi, tidak ada kesan mencibir, tetapi semuanya disimak, sesekali ia mencatat, dan kadang ia memainkan jari kedua tangannya yang menunjukkan ia berpikir. Bahasa tubuh yang aktif dan dinamis.

Satu hal lagi yang saya sendiri kaget ketika mengetahuinya, Prabowo suka membaca! Dalam pandangan saya, seorang yang suka membaca lebih bersifat objektif, karena ia dapat dan mau ‘dimasuki’ oleh pendapat-pendapat lain yang ia peroleh dari membaca. Seseorang yang biasanya bekerja dengan mengutamakan fisik dan kekuatan, maka biasanya jarang mempunyai kebiasaan membaca. Pekerja yang pemikir dan pemikir yang pekerja adalah suatu yang ideal. Biasanya jika seorang menjadi pekerja, ia tidak terlalu pemikir, dan juga seorang pemikir sering hanya jago di atas kertas, karena ia bukan seorang pekerja.

Passion, determinant dan gesture yang memang berkelas Pemimpin, itulah yang membuat saya berkesimpulan bahwa Prabowo-lah yang layak memimpin bangsa ini!

Inilah Prabowo-ku, tentu berbeda dengan Prabowo-mu dan Prabowo itu sendiri.

——

Pemenang Pertama Blog Kontes http://bloggerindonesiasatu.org/pengumuman-pemenang/

brosur-lomba-blog-kontes-prabowo-hatta-225x300

Dipublikasi di Opini | Tag , , , | 20 Komentar

Wonderful Gili Labak!!

Berawal dari message seorang temen lewat WA, untuk mencoba mengunjungi Pulau Gili Labak. Hhmmm, namanya aja baru denger, disangka pertama nama pulau sekitar Lombok, ternyata ada di Madura!!

Kemudian saya googling di internet dengan keyword ‘Gili Labak’, dan komentarnya, sungguh menakjubkan!! Rata-rata mereka yang telah berkunjung kesana dibuat takjub dengan keindahan alam terutama pantainya dengan airnya yang bening, pasir pantai yang lembut dan landai dan terumbu karang yang masih ada.

Penasaran karena saya orang Madura dan ada Pulau yang bagus di Madura, hari Sabtu Minggu 18-19 April, kemaren saya mengunjunginya dan meng-explore pesona pulau tersebut, saya dan rombongan putuskan untuk menginap semalam. Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan disana. Mengelilingi Pulau Gili Labak hanya perlu waktu 20 menitan. Dari segala sisi, pulau ini memang sangat menawan. Pasirnya juga berbeda disetiap sisinya, pada sisi barat sangat lembut tetapi di sisi timur butirannya agak kasar. Beberapa ada pohon yang telah tumbang karena abrasi pantai, pohon tumbang yang tinggal rantingnya itu menjadi spot foto yang sangat menarik. Juga beberapa perahu nelayan yang bersandar dan diikatkan ke pohon kelapa, terlihat melayang karena airnya yang bening, bagus juga untuk difoto. Disisi barat ada pasir pantai yang agak menjorok ketengah, sehingga terkesan ada pulau didalam pulau. Banyaknya spot foto,  menjadikan Gili Labak layak dijadikan tempat pengambilan foto pre-wedding seperti yang saya lihat pada saat saya berkunjung kesana.

Kita juga bisa menikmati matahari terbenam dan terbit sekaligus. Pulaunya yang hanya seluas 5 hektar juga menyajikan pemandangan 360o, hanya tinggal geser sedikit saja kita akan menyaksikan pemandangan yang berbeda.

Pada waktu malam, menyaksikan langit yang bertabur milyaran bintang akan membuat kita takjub akan kebesaran Ilahi. Pulau ini hanya diterangi dengan lampu tenaga diesel dan tenaga surya. Sehingga membuat malam yang pekat dan kita dapat menyaksikan bermilyar bintang yang sangat terang. Sudah lama saya tidak melihat bintang, jika melihat bintang, saya selalu teringat masa kecil ketika diajak ke tempat nenek didesa yang memiliki cakrawala luas dan dapat melihat bintang dengan leluasa. Suasananya hening, suara yang ada hanya suara motor diesel untuk penerangan lampu.

Waktu malam kita juga dapat bakar ikan dengan biaya yang sangat murah. Pulau Gili Labak adalah desa nelayan dan juga menjadi transit para nelayan dari pulau lain waktu mencari ikan. Jadi ikan berlimpah dan sangat murah dan kita bisa langsung membakarnya.

Penduduknya juga sangat ramah, sangat membantu dan gak pamrih. Sebagai tamu tentu kita harus sok akrab terlebih dahulu dan menyapa mereka, karena mereka penduduk desa yang lugu dan kadang terlihat ‘rendah diri’ untuk menyapa kita. Pada waktu kita kesana, niatnya nginap, tetapi sama sekali gak terbayang akan menginap dimana? Sesampainya disana, penduduk sangat ramah dan mempersilahkan kita menginap, tentu dengan fasilitas yang seadanya. Bisa juga tidur di mushalla atau masjid disana. Bermalam dengan fasilitas minim akan memberikan pengalaman yang sangat berharga serta berbeda, kita akan terkenang selamanya.

Keesokan harinya, pagi-pagi saya sudah siap-siap berburu matahari terbit. Sayang, cuaca terlihat mendung dan mataharinya bersembunyi malu. Setelah itu dilanjutkan dengan main-main air sampai ke daerah yang ada terumbu karangnya. Keindahan bawah laut yang menawan. Temen saya berhasil menangkap ikan hias Nemo, setelah jadi model foto beberapa saat, ikan Nemo tersebut kita lepaskan kembali. Mungkin bulan April seperti saat saya berkunjung ini termasuk bulan yang tepat kesana. Suhu air pada waktu saya berenang disana, sangat pas, sehingga betah untuk berlama-lama. Disamping juga pasirnya yang enak dikaki, pantainya yang landai dan gelombang laut yang sangat tenang. Pada waktu malampun juga anginnya sangat bersahabat, tidak membuat kita masuk angin.

Btw, Gili Labak memang belum banyak dikenal, pada waktu saya ke pelabuhan Kalianget – Sumenep pun lebih banyak orang yang bengong jika ditanyain Gili Labak. Ada beberapa cara untuk menuju kesana. Bisa dari desa Tanjung Kecamatan Saronggi, bisa dari Kalianget, dan jarak yang paling dekat dari Desa Kombang di Pulau Talango. Dari Desa Kombang menuju ke Gili Labak hanya memerlukan waktu 1 jam dengan perahu motor, sedangkan dari tempat lain bisa 2 – 4 jam perjalanan laut.

Satu informasi yang saya dapatkan pada waktu saya googling mengatakan kalau disana sulit air, sehingga saya bawa banyak persediaan air dan juga makanan untuk malam. Tapi informasi itu tidak sepenuhnya benar, ada toko sederhana di Gili Labak yang jual air minum dan bahkan juga menyiapkan makan malam yang sangat khas. Cuman memang tidak banyak yang tahu, karena toko tersebut tidak kelihatan, dan mengenai makan malam itu biasanya mereka tawarkan jika kita sudah akrab.

Dan kalau menginap, usahakan agar batere kamera dan handphone terisi penuh. Karena disana hanya ada diesel dan listrik tenaga surya. Waktu saya kesana, belum sampai tuntas ambil gambar, batere kamera dua-duanya habis, terpaksa banyak keindahan yang tidak terekam. Saya juga ambil 2 gambar dari blog yang berbeda, yah untuk menggambarkan pemandangan yang memang saya lihat dan tidak sempat terekam.

Kalau mau kesana, baik untuk menginap ataupun pulang hari, usahakan bisa dengan teman atau ditemani guide yang bisa berbahasa Madura dan sudah paham pulau tersebut. Bisa menghubungi saya via email untuk informasi lebih lanjut bila diperlukan: ahmadramadlan@yahoo.com.

Semua pengalaman selama berlibur disana, sangat berkesan, priceless!!

Catatan:

Foto No 4, Sumber: epicsumenep.wordpress.com

Foto No 5, Sumber: indraprawiranegara.wordpress.com


1sebelumberangkat 2diatas perahu 3GiliLabakdarijauh 4Gili Labak Epic Sumenep 5gililabakindra 6shelterwarno 7preweding 8tanjung 9sunset 10jernih 11pelangi

12finding nemo

Dipublikasi di Perjalanan | Tag , , , | 6 Komentar