Sebuah Perjalanan Panjang

An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang…

Hari ini Minggu, tanggal 5 September 2010 atau merupakan hari ke 26 dari bulan Ramadlan 1431 H. Bulan yang sangat istimewa, karena dibulan itulah saya dilahirkan sehingga namanyapun Ahmad Ramadlan.

Pada hari ini saya mencoba membuat Blog, sebuah niatan lama yang baru terealisasi sekarang. Dulu pernah register untuk sebuah akun Blog, yang karena saking lamanya, nama website-nyapun lupa. Kasihan website-nya, sudah disampahi dengan akun yang gak bermanfaat, hehehe…

Waktu bikin Blog ini di Google, pada tahap ‘Beri Nama Blog Anda’, saya agak tertegun lama, bingung atas pertanyaan ini, karena harus memberi nama atas Blog saya. Saya tinggalkan taraweh dulu, dan pada saat Shalat Taraweh (yang berarti Shalat Tarawehnya kurang khusuk nih, maafkan ya Allah!) saya teringat untuk memberi nama Odyssey, perjalanan panjang, dan biar rada sastra dikit diberi label An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Sengaja pakai bahasa Inggris, karena lebih representatif. Representatif maksudnya, cukup dengan satu kata mempunyai makna yang lebih.

Nama Odyssey awalnya saya tidak tahu artinya. Pertama melihat dari sebuah seri mobil buatan Honda; Odyssey. Karena bentuknya pas dihati, tergelitik untuk mencari apa artinya, saya coba buka di kamus dan artinya adalah: Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Saya kagum pada orang Honda yang telah memberi nama mobil itu dengan Odyssey, karena bentuk mobil itu yang panjang (tetapi tidak terlalu panjang juga), kokoh dan stabil yang sengaja diciptakan untuk  siap  menempuh sebuah perjalanan panjang penuh makna dengan kenyamanan dan rasa aman.

Dan, demikianlah maksud dan keinginan Blog ini dibuat. Blog ini akan bercerita ‘ngalor-ngidul’ gak tentu arah yang merupakan mosaik dari perjalanan saya. Perjalanan yang perlu saya tuliskan karena saya rasa sangat bermanfaat, utamanya untuk saya sendiri. Kalaupun kemudian ada yang mengambil manfaat dari Blog ini, Alhamdulillah!

Ini alamat email saya: ahmadramadlan@yahoo.com

Selamat menikmati Blog saya!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 5 Komentar

Penghematan rupiah dengan berkendara secara hemat BBM…

Tol Cipularang 2

Sumber Gambar: http://iwing.wordpress.com

Dalam suatu kesempatan pergi ke Bandung mengendarai mobil sendiri, dan kebetulan tidak ada acara yang mendesak, karena hanya pergi jalan-jalan saja, saya ingin test drive dengan cara berkendara yang hemat BBM.

Cara berkendara yang hemat BBM banyak ditulis di media otomotif. Yang paling utama, cara gas kendaraan yang pelan dan tidak tiba-tiba, kemudian putaran mesin dipertahankan pada kisaran 2000 – 3000 RPM, dan tidak berhenti atau berangkat dengan tiba-tiba.

Gampang kan caranya, yang sulit untuk dipraktekkan langsung, karena ‘berkendara’ adalah karakter kita. Apabila kita suka ngebut, pasti tips-tips itu bakalan lewat begitu saja, tidak diindahkan!

Saya juga tipe pengendara yang ‘tidak suka berlama-lama’ di jalan apalagi dengan mengekor kendaraan yang berjalan lambat didepan. Walau juga tidak dibilang ngebut, kalo saya berkendara, minimal kecepatan 100 KPJ, dan apabila terus tidak dikontrol, biasanya sampai sekitar 130 – 160 KPJ. Tentu, apabila kita ikutan tips-tips berkendara hemat BBM, ada hasrat yang harus dikorbankan oleh saya, kecepatan harus lebih lambat, dan woles bro, hehehe, nah sekarang apakah penghematan yang saya lakukan memberikan penghematan uang yang sesuai dengan hasrat yang saya korbankan, mari kita lihat.

Berangkat dari Bogor, mobil saya ini bensin premium full tank! Kemudian tripmeter saya reset ke posisi 0 (nol). Tujuan ke arah bandung, rute melalui Tol Cipularang. Waktu itu, pagi, 17 Juli 2015, adalah lebaran hari pertama, suasana di tol ramai lancar, tidak ada kemacetan panjang, hanya sedikit waktu mau masuk Bandung di Pintu Tol Pasteur. Kalau saya lihat, meski ini lebaran hari pertama, lalu lintas juga normal, tidak terlalu sepi, tidak seperti dugaan saya yang mengira jalanan bakal lengang.

Di Bandung kemudian check in di Citarum Hotel, hotelnya bagus dan bersih, breakfastnya juga lumayan. Beruntung dapat hotel ini, karena dalam perjalanan waktu saya telpon beberapa hotel, semuanya penuh. Hotel yang saya telpon: Amaris, Fave, Whiz dan Rumah Tawa (ini hotel saya iseng nelpon karena namanya yang aneh, hehehe, juga hotel syariah dan di trip advisor comment-nya lumayan bagus!).

Habis check in gak keluar-keluar lagi, sampai keesokan harinya, keliling-keliling kota Bandung, kearah Cibaduyut, Cihampelas dan Jalan Juanda.

Nginap hanya 2 malam, pada hari ketiga keluar ke arah Cileunyi, kemudian balik lagi ke arah Pasteur untuk masuk tol menuju arah pulang, Bogor!!

Di Tol Cipularang arah Jakarta, lalu-lintas ramai lancar, lebih padat sedikit dibandingkan dengan waktu berangkatnya, dari arah Jakarta – Bandung.

Seperti di tips-tips yang biasa kita baca di media otomotif, saya atur agar RPM berkisar antara 2000 -3000 RPM. Berarti kecepatan saya konstan sekitar 80 – 100 KPJ. Pada waktu pulang di Tol Cipularang arah Jakarta, jalanan menurun, sehingga sering gas tidak saya injak, saya biarkan saja, dan itu juga sudah memberikan putaran mesin sekitar 2500 RPM pada kecepatan sekitar 90 KPJ.

Nah tibalah saat pembuktian, moment of the truth. Begitu di Bogor, bensin saya isi penuh lagi, dan waktu itu diisi sebanyak 30.8 Liter dengan tripmeter menunjukkan di angka 438.8 KM.

Berarti perhitungannya:

Konsumsi BBM dengan Fuel Saving Mode = Jarak tempuh / Konsumsi BBM = 438.8 KM / 30.8 Liter, atau sekitar 14.247 KM per Liter BBM.

Apabila saya berkendara dengan cara yang biasa, biasanya untuk luar kota, konsumsi BBM saya berkisar 11 – 12 KM per Liter. Anggaplah, 12 KM/Liter, maka konsumsi BBM untuk jarak 438.8 KM, adalah: 438.8 KM/12 KM per Liter = 36.57 Liter.

Jika berkendaraan biasa = 36.57 Liter untuk jarak 438.8 KM dan,

Jika berkendaraan dengan cara hemat BBM = 30.8 Liter untuk jarak yang sama 438.8 KM.

Diperoleh penghematan sebanyak = 36.57 – 30.80 = 5.77 Liter atau 15.8% dari pemakaian normal.

Bila diuangkan, harga premium saat ini Rp. 7.400,- sehingga total penghematan Rp. 42.698,-. Hhmmm sebuah angka yang lumayan hanya untuk satu trip perjalanan, apabila kita melakukan sehari-hari, dalam setahun lumayan juga kan angkanya. Hehehe…

Kesimpulan saya, dengan berkendara cara hemat BBM, penghematan yang diperoleh lumayan menguntungkan, ditambah lagi dengan penghematan yang lain seperti umur mesin dan spare part lain yang lebih panjang. Nah, apabila ini menjadi suatu gerakan nasional, hasil penghematan yang diperoleh lumayan juga kan!!
Sepertinya, saya akan berkendara dengan cara hemat BBM setelah menghitung sendiri penghematan yang bisa kita peroleh!

Oya, kendaraan yang dipakai adalah Grand Livina 1500 CC, Type Ultimate, Transmisi Matic, tahun pembuatan Desember 2011.

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Mobil berkelambu, agar tidur tak terganggu…

Berawal dari saya yang harus nungguin Ibu waktu dirawat inap di sebuah Rumah Sakit di Surabaya. Jarak yang cukup jauh dari rumah dengan Rumah Sakit, membuat mobil menjadi posko, tempat segala macam barang keperluan dan juga untuk tidur.

Tidur di mobil, harus menghidupkan AC mobil biar nyaman, tapi tentunya tidak bisa terus menerus berjam-jam, karena berada dalam mobil dengan mesin yang hidup tetapi dalam keadaan tidak berjalan, terasa kurang aman. Jika jendela dibuka, agar tidak terasa panas dan udara tetap masuk, tapi jadinya nyamuk dan serangga lainnya akan masuk dengan leluasa, tahu sendiri Surabaya kan, nyamuknya ganas-ganas!!

Akhirnya terpikir untuk membuat kelambu mobil, ide sederhana, murah tetapi sangat efektif untuk membuat tidur nyenyak tanpa gangguan nyamuk!

Biayanya sekitar Rp. 20.000,- saja, beli kain brokat, yang biasanya buat kebaya atau pakaian buat ibu-ibu, terus kemudian dijahit atau dineci berbentuk kantong yang ukurannya menyesuaikan dengan pintu mobil. Sesudah jadi, bisa langsung dipasangkan pada pintu mobil (lebih baik pada pintu penumpang), dan kemudian kaca mobil bisa diturunkan untuk membuat udara leluasa masuk. Usahakan agar kaca mobil jangan terlalu turun untuk menjaga keamanan. Dan tidurpun tidak terganggu!!

Bagi anda yang lagi mudik atau suka bepergian dengan mobil dan sering menginap, kelambu ini wajib dimiliki, hehehe, murah meriah!!

Cara Kelambu Modil     Cara Kelambu Modil2

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Amal yang Saleh, Bukan Amal yang Salah!

Malam di Hongkong

Saya pernah tinggal di Denpasar Bali selama hampir setahun. Dibandingkan dengan kebanyakan daerah lain di Indonesia, tinggal di Bali sangatlah berbeda suasananya. Bali dikenal sebagai tempat tujuan wisata internasional, dan penduduk Bali juga mayoritas adalah Hindu yang berbeda dengan mayoritas agama penduduk Indonesia. Itulah yang membuat suasananya sangat berbeda.

Jika orang Minang mempunyai peribahasa ‘Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah’ yang artinya bahwa setiap aktifitas hidup dari orang Minang harus berdasarkan atas tuntunan dan syariat agama Islam, menandakan bahwa suku Minang identik dengan Islam, atau (dulunya) orang Minang 100% menganut agama Islam. Demikian juga dengan orang Bali dengan Hindu-nya, bisa dikatakan bahwa (dulunya) orang Bali 100% menganut agama Hindu. Semua aktifitas hidup dari orang Bali kebanyakan berdasarkan atas tuntunan agama Hindu.

Yang saya kagumi selama saya tinggal di Denpasar adalah banyaknya perayaan adat yang harus mereka jalankan sesuai dengan ajaran Hindu. Dan kebanyakan dari perayaan itu sifatnya adalah berjemaah atau kolosal. Teman-teman kantor yang di Bali bercerita, betapa mereka menghargai setiap perayaan hari besar agamanya, tidak ingin melewatkan, dan seakan mendapat ‘hukuman sosial’ dari warga bila tidak menghadirinya.

Banyaknya perayaan itu mengharuskan mereka saling bertemu. Dalam persiapan perayaan, biasanya mereka akan membuat hidangan atau persiapan acara lainnya berupa tarian dan budaya lainnya yang dilakukan bersama-sama. Banjar, atau semacam balai RW akan sering menjadi media untuk bertemu. Untuk kota besar seperti Denpasar, banyaknya aktifitas di Banjar atau Balai RW yang merupakan ruang publik mungkin akan jarang ditemui di kota besar lainnya di Indonesia.

Dengan seringnya mereka bertemu antar warga, efek positifpun mulai mengalir.

Sering bertemu akan membuat mereka saling mengenal, sehingga orang Bali sangat percaya dengan keamanan lingkungannya, sampai dulu ada kepercayaan diantara mereka bahwa jika ada pencurian atau kejahatan lainnya, pasti dilakukan oleh orang luar Bali. Yang saya rasakan pada waktu itu, memang Bali relatif aman dengan tingkat kejahatan yang rendah meski menampung jutaan turis dari luar dan dalam Indonesia.

Dengan sering bertemu, saling mengenal maka komunikasi bisnis juga terjalin diantara mereka. Semua orang di Bali seakan menjadi ‘calo’ atau ‘makelar’. Jika kita butuh sewa mobil, sepeda motor ataupun hotel, orang Bali pasti akan bisa menunjukkannya. Jika misal mobil yang ditempat sewanya habis, segera mereka akan menghubungi temannya untuk memenuhi orderan itu. Mereka juga tidak terlalu banyak mengambil untung, meski udah lewat makelar, sehingga tidak memberatkan pada konsumen. Rejekipun mengalir, karena pesanan akan berulang oleh pelanggan yang puas yang kemudian akan bercerita kepada lainnya dan akan memberikan pelanggan baru.

Kehidupan di Bali

Saya juga pernah tinggal sekitar 2 tahun di daerah pinggiran timur Jakarta. Yang saya rasakan adalah keamanan yang semakin tidak terjamin dibandingkan antara pada saat saya masuk dengan pada saat saya mau pindah dari daerah tersebut. Beberapa hari sebelum pindah, saya dikejutkan dengan penjambretan dijalan umum yang dilakukan pada pagi hari sekitar jam 6. Malamnya saya ikutan ngumpul-ngumpul dengan warga dan membicarakan penjambretan tersebut. Pada waktu itu kita berkesimpulan bahwa semakin banyaknya warga pendatang yang membuat mereka saling tidak mengenal lagi sehingga keamanan menjadi lebih rawan. Awalnya mereka adalah warga yang guyub, tetapi semakin lama semakin menjadi terasa asing di kampung sendiri, ketika semakin banyak warga luar yang kost atau membangun rumah dan pindah kesitu dan mereka saling hidup sendiri-sendiri.

Dari dua fenomena tersebut, saya merasakan besarnya manfaat silaturahmi. Silaturahmi sangat dianjurkan dalam Islam. Fenomena pertama menunjukkan kerukunan warga dan seringnya mereka saling bertemu bersilaturahmi berpengaruh terhadap keamanan dan masalah sosial lainnya, sedangkan fenomena kedua memberikan gambaran hilangnya tali silaturahmi yang tergerus oleh arus urbanisasi berdampak negatif pada lingkungan tersebut.

Islam sangat memperhatikan hubungan sosial, seperti penghormatan kepada tetangga dan tamu, yang merupakan bagian dari silaturahmi.

Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi. (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557).

Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia mengucapkan perkataan yg baik atau diam. Dan barangsiapa yg beriman kepada Allah & hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tetangganya. Dan barangsiapa beriman kepada Allah & hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya. (HR. Muslim No.67).

Dalam Islam, pelaksanaan ibadah sangat dianjurkan untuk dilakukan secara berjemaah atau bersama-sama. Ibadah shalat dianjurkan untuk berjemaah, dan bagi laki-laki disunahkan untuk dilaksanakan berjemaah di Masjid.

Apabila sunah untuk melaksanakan shalat berjemaah di Masjid banyak yang melaksanakan, dengan sendirinya silaturahmi akan berjalan, sehingga manfaatpun akan banyak dirasakan, warga saling mengenal, dengan mengenal mereka akan saling menjaga sehingga keamanan lebih terjamin, dan dengan seringnya berkomunikasi manfaat sosial lainpun akan dipetik, kesalahpahaman antar warga bisa dihindari, masalah bersama bisa segera dipecahkan, kebersamaan dalam membangun lingkungan dan insya Allah rejeki akan lebih berkah dan mengalir.

Apabila kita perhatikan, didalam Rukun Islam, pelaksanaan ibadah agama Islam mengalir dari dalam ke luar. Dimulai dari membaca kalimah syahadah, yang merupakan kalimat persaksian dan komitmen diri untuk mempercayai Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Kemudian setelahnya adalah kewajiban melaksanakan Shalat lima waktu. Didalam pelaksanaan ibadah shalat ini, bisa dilaksanakan sendiri tetapi lebih dianjurkan atau disunahkan untuk dilaksanakan berjemaah di Masjid. Dari yang semula persaksian diri, sekarang sudah melebar ke sosial dengan melibatkan orang sekitar untuk melaksanakan ibadah bersama.

Setelah shalat lima waktu, muslim diwajibkan untuk melakukan puasa di bulan Ramadhan. Kalau pada waktu shalat, pelibatan ibadahnya hanya dengan masyarakat sekitar dan dengan waktu yang berbeda-beda, pada ibadah puasa lebih membesar lagi, melibatkan seluruh muslim di penjuru dunia dalam waktu yang relatif bersamaan.

Setelah puasa penuh selama bulan Ramadhan, kemudian muslim diwajibkan untuk membayar zakat yang merupakan bentuk kepedulian sosial.

Dan terakhir adalah kewajiban untuk beribadah haji bagi muslim yang mampu melaksanakannya. Haji hanya diadakan bulan tertentu, dan pada saat itu, muslim seluruh dunia berkumpul pada saat dan tempat yang sama, untuk menjalankan ibadah Allah, dan pada waktu itu kesempatan bagi muslim seluruh dunia untuk bertatap muka dan bersilaturahmi.

Semua pelaksanaan ibadah dalam agama Islam, sarat dengan nuansa sosial dan silaturahmi. Silaturahmi didalam Islam merupakan salah satu amal saleh yang sangat dianjurkan.

Panorama SZGM

Didalam Al Quran, kerap disebutkan berdampingan antara Iman dan Amal Saleh:

Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. QS Al Baqarah 2 : 82

Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim. QS Ali Imran 3 : 57

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, QS Al Kahfi 18 : 107

Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik. QS Ar Ra’d 13 : 29

Maka orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia. QS Al Hajj 23 : 50

Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh telah beramal saleh, maka mereka itulah orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang tinggi (mulia), QS Thaha 20 : 75

Selain ayat-ayat tersebut diatas, masih ada puluhan ayat lagi firman Allah SWT yang menyebutkan Iman dan Amal Saleh secara berdampingan. Memakai kata penghubung ‘dan’ yang berarti bahwa bukan hanya Iman yang diperlukan untuk beribadah kepada Allah SWT tetapi mempunyai persyaratan lain yaitu Amal Saleh.

Amal saleh adalah perbuatan yang mendatangkan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, lingkungan, bangsa dan negara, baik berupa perbuatan, ucapan maupun sikap. Disebutkan berdampingan dengan Iman, berarti amal saleh tersebut didasarkan kepada Iman dengan tuntunan syariah Islam.

Banyak sekali contoh dari perbuatan amal saleh. Kepada diri sendiri, contoh amal saleh adalah tidak merokok, tidak minum minuman keras, memakan makanan yang baik dan halal, berolah-raga, istirahat yang cukup dan tidak tidur larut malam bila tidak memberikan manfaat, disiplin pribadi, menjaga kebersihan badan, rajin, tekun, hemat dan tidak berlebihan dan sebagainya.

Perbuatan amal saleh kepada lingkungan sekitar dan tetangga contohnya: tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon di rumah dan lingkungan kita, pengaturan septic tank dengan sumur di lingkungan tetangga, menjaga hak-hak tetangga, tidak berbuat gaduh di lingkungan, ikut berpartisipasi di kegiatan lingkungan, dan sebagainya.

Sedangkan perbuatan amal saleh untuk tempat kerja, bangsa dan negara misalnya: tidak korupsi di tempat kerja, tidak mengurangi timbangan, tidak menggelembungkan harga, membayar pajak-pajak dengan baik seperti pajak bumi dan bangunan, pajak penghasilan, pajak kendaraan bermotor dan lainnya, memiliki identitas penduduk KTP, memiliki SIM bila diperlukan, mematuhi peraturan lalu lintas, disiplin,  antri ditempat umum, dan sebagainya.

Banyak orang yang telah beriman, tetapi perbuatan amalnya salah. Banyak juga orang yang beramal yang saleh, meski ia tidak beriman.

Tempat kerja saya yang dulu mempunyai beberapa cabang dikawasan Asia Pasifik dengan pusat komando di Hongkong.  Beberapa kali saya perjalanan dinas ke Hongkong dan sebaliknya seringkali juga mereka berkunjung ke kantor Jakarta.

Kolega saya di Hongkong, kebanyakan mereka mengaku bukan orang yang beragama, tidak seperti dugaan saya yang menduga mereka menganut agama Budha.

Walaupun mereka mengaku tidak beragama ataupun beragama non Islam, saya lebih banyak melihat amal yang saleh dalam keseharian mereka di kota Hongkong. Waktu saya berjalan di area pedagang kaki lima di Hongkong, suasananya bersih, banyak pedagang makanan yang menggelar dagangan disana, dan kita tidak merasa jijik untuk makan disitu. Saya juga ke Toilet Umum yang ada disekitar area itu, bersih dan wangi, dan selalu terlihat petugas yang membersihkannya, dan yang penting tidak perlu bayar. Lalu lintasnya lancar dan pengemudinya disiplin, di kereta Mass Rapid Transport (MRT) atau tempat umum, antrian terlihat tertib mengular dan tidak menggerombol.

Di escalator atau tangga berjalan, yang banyak sekali terdapat disana, terutama didaerah stasiun MRT, aliran manusia yang menggunakan escalator itu terlihat lancar. Ternyata disana ada semacam peraturan tidak tertulis, waktu kita di escalator apabila kita ingin diam saja dan tidak berjalan, maka kita diam di sisi kiri, tetapi apabila kita di escalator sambil terus berjalan, maka kita berjalan di sisi kanan. Dengan demikian, orang yang diam di escalator tidak akan mengganggu arus orang yang berjalan di escalator itu. Perbuatan atau amal saleh yang sederhana, tetapi banyak mendatangkan manfaat untuk kepentingan bersama.

Lain di Hongkong lain di Jakarta. Pada waktu atasan saya yang dari Hongkong datang ke  kantor kami di Jakarta, atasan saya mengeluhkan adanya pengeluaran ekstra dibawah meja untuk mengeluarkan barang kami yang ada di Bea dan Cukai Bandara. Perusahaan kami sering berhubungan dengan pelayanan Bea dan Cukai, kecepatan untuk mengeluarkan barang kami sesingkat mungkin dan mengantarkannya ke pelanggan menjadi parameter kinerja kami. Dan untuk hal tersebut, kami dikondisikan oleh keadaan untuk membayar biaya tambahan. Yang membuat saya merasa malu, atasan saya tersebut membandingkannya dengan kondisi Bea dan Cukai bandara Hongkong yang cepat dan tanpa mengeluarkan biaya tambahan lagi! Ia juga membandingkan, kalo biaya operasional kantor di Hongkong lebih mahal seperti biaya sewa ruangan, listrik, air dan telpon dibandingkan dengan di Jakarta, tetapi di Hongkong tidak ada pengeluaran biaya tambahan lagi yang setelah dihitung secara keseluruhan biaya operasional di Hongkong bisa lebih murah dibandingkan di Jakarta.

Mungkin, petugas Bea dan Cukai di bandara Jakarta itu beriman, tetapi mereka melakukan perbuatan atau amal yang salah.

Suatu kali saat teman saya dari Hongkong saya ajak keliling kota Jakarta, banyak hal yang membuat mereka terperangah, ada metro mini yang berhenti sembarangan, bis yang isinya penuh sesak dengan penumpang dan tanpa AC, sepeda motor yang dengan bebas berseliweran disela-sela kendaraan lainnya dan nggak jelas jalurnya, pejalan kaki yang menyeberang sembarangan belum lagi ketika melewati daerah aliran sungai yang kebanyakan keruh, ada sampahnya dan banyak ditempati gubug-gubug kumuh. Semua amal yang salah itu terpampang nyata didepan mata temanku itu, yang membuat saya harus banyak bicara untuk sekedar mengalihkan perhatiannya.

Jika seorang kontraktor bangunan, mendapatkan proyek untuk membangun sebuah gedung perkantoran, maka amal saleh yang bisa dilakukan adalah: dirancang dan telah diperhitungkan sebelumnya dengan baik, menggunakan baja yang dimasukkan dalam beton sesuai dengan ketentuan, campuran semen yang digunakan sesuai tidak dikurangi, peralatan kamar mandi yang digunakan berkualitas dan sesuai dengan perjanjian, peralatan listriknya yang dipasang bukan yang abal-abal, pekerjaan dilaksanakan sesuai dan tepat waktu, tidak menyuap dan kongkalikong dengan pimpinan pemilik proyek untuk mengurangi mutu bangunan, dan segala amal saleh yang lainnya.

Apabila telah melaksanakan hal tersebut, dijamin bangunan akan menghasilkan bangunan yang baik pula, walaupun yang membuat bangunan itu seorang yang tidak percaya kepada Tuhan. Allah SWT menjamin hal tersebut:

Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan (balasan) penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. QS Huud 11 : 15

Lalu apa yang membedakan amal saleh yang dilakukan oleh orang yang beriman dengan orang yang tidak beriman, dijelaskan lebih lanjut dalam ayat berikutnya:

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, dan sia-sialah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan (di dunia) dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan. QS Huud 11 : 16

Seharusnya, apabila amal saleh dikerjakan oleh orang yang beriman, akan lebih dahsyat hasilnya. Amal saleh yang dikerjakan dengan keimanan tidak akan perlu pengawasan dari orang tua, atasan, polisi, calon mertua ataupun karena ada CCTV, tetapi semua ditujukan karena Allah SWT, dan balasannya di akhirat nanti.

Amal saleh yang dikerjakan oleh orang beriman juga tidak akan rapuh ataupun hampa.

Sering kita menyaksikan suatu bangsa yang maju, semua fasilitas dunia ada dengan teknologi terkini, bangunannya megah, kotanya bersih, semuanya serba modern, tetapi diisi oleh orang-orang yang rapuh: perzinahan merajalela, rumah tangga yang berantakan, orang-orang yang sibuk bagaikan robot, anak-anak muda yang mencari pelarian ke narkoba dan minuman keras, penduduk yang dihitung sebagai angka bukan sebagai manusia, orang tua yang telantar di akhir usianya dan berbagai macam permasalahan sosial lainnya. Semua itu tidak akan terjadi, jika kemajuannya dicapai oleh amal saleh yang berdasarkan keimanan.

Dan untuk bangsa Indonesia, yang sebagian besar sudah beriman, alhamdulillah, yang harus kita lakukan sekarang adalah, perbanyaklah berbuat amal saleh dalam perbuatan sosial kita!

Insya Allah, kemajuan pembangunan bangsa ini akan lebih cepat dan berkah!

Dipublikasi di Renungan | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Cashless…

EMoney

Ini gue banget. Boros, itu alasannya kenapa jarang ada banyak uang tunai di dompet saya. Paling banyak sekitar Rp 200.000,-, selebihnya saya lebih suka menggunakan transaksi non tunai.

Dan bersyukur, karena sekarang semakin banyak transaksi tanpa menggunakan uang tunai. Dulunya non tunai hanya berarti memakai Kartu Kredit, sekarang sudah ada debit card yang merupakan kartu tabungan multi fungsi yang tidak hanya untuk ATM saja. Debit card-pun semakin meluas penggunaannya, dengan memanfaatkan jaringan Visa dan Master yang sebelumnya telah ada untuk Kartu Kredit.

Yang terbaru adalah Uang Elektronik atau e-money (dan di adopt menjadi brand uang elektronik yang dikeluarkan oleh bank Mandiri). Uang elektronik adalah segala jenis uang yang tersimpan didalam sebuah sistem seperti server ataupun chip. Yang terbanyak penggunanya dalam bentuk kartu dengan chip didalamnya. Nilai nominal uangnya diisi melalui Bank penyedia layanan melalui ATM ataupun tempat tertentu.

Saya sering menggunakan KRL Jabodetabek, sudah setahun belakangan ini semua transaksinya cashless. Sangat menyenangkan, tidak perlu antre di loket, tidak perlu struk ataupun tiket dan tidak ada lagi pemeriksaan tiket waktu berangkat maupun datang, cukup hanya menempelkan kartu e-money semuanya beres.

Banyak hal yang bisa dihemat jika transasksi dilakukan tanpa menggunakan uang tunai. Misal saya mau bepergian dengan KRL, maka perjalanan ‘fisik uang’ saya sangat panjang. Pertama saya akan ambil uang saya di ATM, saya hitung uang saya dan saya masukkan kedalam dompet saya. Sampai didepan loket tiket, saya mengeluarkan uang untuk membeli tiket, saya dapat tiket dan kasir mendapatkan uang saya. Uang saya oleh kasir dihitung kembali kemudian ditaruh dan dikumpulkan. Saat kasirnya pergantian petugas, uangnya diserahkan ke kasir pengganti, dihitung kembali dan kasir pengganti akan menghitung ulang. Setelah selesai jam operasi KRL, kasir menyerahkan kepada atasannya, setelah dihitung lagi, dan atasannya akan menghitungnya ulang. Pada setiap hari tertentu, uangnya dikumpulkan untuk disetor ke Bank, bagian petugas keuangan akan menghitungnya kembali. Sampai di Bank, uang diserahkan kepada Teller, dan sudah menjadi prosedur, Teller pasti akan menghitungnya lagi. Ingin cerita ini dilanjutkan? Gak bakalan selesai selesai sampai akhirnya uangnya lecek dan dimusnahkan, hehehe.

Jika uangnya dari Bank dan akhirnya kembali juga ke Bank, lalu kenapa tidak menggunakan uang elektronik saja? Dengan memakai uang elektronik, jika saya menggunakan KRL, saya cukup menempelkan ke gerbang masuk untuk membuka pintunya. Saldo uang elektronik saya berkurang, pindah ke rekening PT KAI sebagai penyelenggara KRL, titik! Praktis dan efisien!

Tidak perlu lagi membuat fisik dari uangnya dalam bentuk logam dan kertas, tidak ada biaya untuk pencetakan tiket, tidak perlu ada petugas yang memeriksa tiket waktu masuk, di kereta ataupun waktu kedatangan. Tidak perlu banyak petugas yang menghitung uang berkali-kali dan sangat riskan terjadi kesalahan dan pencurian. Tidak ada penyebaran penyakit melalui fisik uang yang berpindah tangan berkali-kali.

Disamping keuntungan diatas, karena lagi digalakkan penggunaannya, menggunakan uang elektronik lebih dimanjakan. Banyak promosi dan diskon jika menggunakan uang elektronik, tempat yang dipisahkan dan dikhususkan, seperti jika kita membayar di Tol yang ada gerbang khusus untuk pembayaran dengan uang elektronik.

Sekarang banyak Bank yang menyediakan Uang Elektronik. Persaingannya juga lumayan ketat, dengan memberikan diskon dan memperbanyak gerai yang bisa menerima uang elektronik. Yang terbesar dan paling awal sepertinya BCA dengan brand Flazz-nya, kemudian Bank Mandiri dengan ragam brand Uang Elektronik. Yang lainnya, masih menjadi figuran, pemain tidak penting!

Susahnya, kadang Uang Elektronik bekerjasama dengan suatu penyedia jasa yang memberikan hak eksklusif hanya menerima Uang Elektronik tertentu. Seperti jalan Tol di Lingkar Luar, Lingkar Dalam, Cikampek, Jagorawi dan Merak yang hanya khusus menerima uang elektronik dari Bank Mandiri. Ini membuat kita terpaksa membeli Uang Elektronik dari Bank itu jika sering menggunakan tol tersebut. Itu yang membuat Bank Mandiri uang elektronik pertamanya dinamai E-toll Card.

Kalo KRL Jabodetabek lebih fleksibel, dia memberikan banyak keleluasaan bagi pelanggannya untuk menggunakan beragam Uang Elektronik, bisa dari BCA, Bank Mandiri, Bank BRI ataupun Bank BNI.

Sejauh ini, yang pertama, yang paling agresif, yang paling banyak menawarkan diskon dan promosi, dan paling banyak bisa diterima di berbagai tempat adalah Flazz dari BCA. Dan, sampai saat ini, sepertinya hanya BCA yang bekerja sama dengan Secure Parking, sehingga memudahkan pelanggan tidak perlu mencari uang recehan untuk bayar parkir. Membayar uang parkir termasuk transaksi yang paling sering kita lakukan.

Uang Elektronik, pasarnya memang diarahkan untuk menggantikan transaksi dengan ‘uang recehan’. Tapi siapa sangka, volumenya terus menggelembung. Jika di tahun 2007 volume uang elektronik hanya Rp 5 Milyar, sekarang sudah tembus angka Rp 30 Trilyun di tahun 2013.

Oya, jika kita kehilangan Uang elektronik kita, sisa saldo yang ada di Uang Elektronik tersebut tidak bisa kita klaim lagi ke Bank. Artinya, jika kita kehilangan Uang Elektronik kita, orang lain dapat menggunakannya untuk dibelanjakan, karena itu, hati-hatilah dalam menyimpannya!

Mungkin karena faktor keamanan dan memang diarahkan untuk transaksi recehan, saldo uang elektronik juga dibatasi oleh Bank, saat ini untuk Bank Mandiri dan BCA hanya memberikan batas saldo maksimal Rp 1 juta.

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , , , , , , , , , , , | Meninggalkan komentar

Service plus plus..

Tiba-tiba indikator bensin mobil Nissan Grand Livina saya ngadat. Jarumnya sama sekali tidak bergerak, selalu dibawah dengan lampu indikator kuning yang menyala menandakan bensin sudah habis walau tangki sudah diisi penuh. Harus dibawa ke bengkel nih…

Ke bengkel Nissan harus janjian dulu, kalo go show sering telantar karena antriannya yang panjang. Setelah janjian dua hari sebelumnya tibalah hari H-nya. Saya ke bengkel Nissan di Jalan Pajajaran Bogor.

Sebenarnya sudah berkali-kali saya ke bengkel Nissan untuk pemeliharaan rutin, dan jika ke bengkel Nissan ada satu yang sangat saya suka, ruang tunggunya!!

Wah, gedung khusus service-nya sekarang baru, berdiri disebelah gedung lama. Setelah diterima oleh Service Advisor-nya saya dipersilahkan menunggu. Saya pun ke lantai atas ke ruang tunggu.

Dibandingkan dengan merk ATPM lain yang saya kenal dan pernah ke bengkelnya (yang otomatis menunggu), ruang tunggu Nissan-lah yang saya ketahui paling bagus, sangat memanjakan pelanggannya. Bahkan, dibandingkan dengan Executive Lounge di Bandara yang berbayar-pun, ruang tunggu Nissan jauh lebih baik.

Semua fasilitas ada, saya tulis satu persatu ya biar komplit:

  1. Ruang shalat atau mushalla (saya salut nih, jadi gak usah keluar cari tempat shalat selagi nunggu),
  2. Wifi dan TV Cable (sebelumnya ada internet dengan computer station, tetapi mungkin karena sekarang kebanyakan bawa sendiri gadget-nya akhirnya ditiadakan),
  3. Area bermain anak (nih baru, sebelumnya di gedung lama gak ada),
  4. Koran dan majalah terbaru (saya pernah di ruang tunggu suatu bengkel ATPM, majalahnya lama-lama dan ditumpuk gitu aja),
  5. Kursi pijat (nih yang paling favorit buat saya, hehehe),
  6. Charger box dan colokan listrik yang tersebar dimana-mana,
  7. Makanan kecil beberapa jenis (saya lihat waktu itu ada 3 jenis kue basah dan 1 jenis kue kering),
  8. Dispenser Aqua dan juga dispenser minuman untuk kopi, capucino dan lainnya, selain itu ada teh, kopi dan gulanya,
  9. Makan siang dalam kotakan (saya gak tahu yah nih insidentil apa memang standarnya begitu, kunjungan saya sebelumnya sepertinya gak ada, atau mungkin waktu itu pas bukan waktunya makan siang, hebat juga kalo memang standarnya disediakan makan siang!).

Satu lagi, Office Boy-nya selalu dalam keadaan stand by untuk memeriksa ketersediaan makanan, membersihkan bekas-bekas makanan di meja dan juga menjaga kebersihan ruangan.

Oh ya, kalo di bengkel Nissan, biasanya pada waktu daftar juga dikasih welcome drink berupa juice atau lainnya. Sekarang welcome drink-nya ditaruh di dispenser berupa Milo dan Juice Blueberry, lumayan bisa sampai mabuk ngambilnya, hehehe.

Selain itu, setelah mobil selesai di-service, kita bisa milih apakah mau dicuci sekalian atau gak, tentunya gratis!!

Dijamin gak mati gaya jika kita menunggu kendaraan kita yang diservice di bengkel Nissan.

Tidak terasa menunggu 3 jam (dengan 1 jam waktu istirahat), akhirnya mobil selesai dalam keadaan sudah kinclong!

Biayanya? Cukup Rp 142.500,- saja untuk ongkos memperbaiki indikator bensin saya. Sudah sama dicuciin, dapet makan siang dan badan seger setelah dipijat di kursi pijat, hehehe!

Nissan Waiting 3

Nissan Waiting 2

Nissan Waiting Room 4

Dipublikasi di Opini | Tag , , , , | 3 Komentar

Membuka dan Membungkus Mobil…

Dulu waktu saya mau membungkus atau membuka bungkus mobil sedikit merepotkan. Kalau kita membuka bungkus mobil dengan sembarangan, biasanya kita susah untuk menaruhnya dalam tas, itu terjadi karena ada udara yang terperangkap dalam bungkus mobil. Juga, jika kita membuka bungkus mobil dengan sembarangan, pada waktu mau membungkus lagi akan kesulitan, karena bentuk cover yang terlipat sembarangan dan juga susah untuk menemukan bagian depan bungkus mobil yang dijadikan patokan. Pada waktu membungkus mobil, pastikan mobil telah dicuci dahulu. Lebih baik mobil tidak dibungkus apabila mobil belum dicuci bersih, ini karena debu yang ada di mobil juga akan menempel di bungkus mobil dan akan mengotori badan mobil jika kita memakai bungkus tersebut nantinya. Selain itu, bagian luar dan dalam bungkus mobil tidak boleh bertemu. Bagian luar dari bungkus mobil tentu lebih kotor dari bagian dalam bungkus mobil. Apabila membungkus sembarangan, bagian luar dan dalam bungkus mobil akan bertemu dan tentunya kotoran akan saling menempel. Pada gambar, bagian dalam bungkus mobil berwarna hitam, dan bagian luar bungkus mobil berwarna silver. Sebelum membuka bungkus mobil, sebaiknya bungkus mobil dibersihkan dahulu dari debu dengan sulak atau kemoceng. Mobil yang telah terbungkus berhari-hari akan membuat bagian luar bungkus mobil menjadi berdebu, karena itu bersihkanlah. Nah berikut cara membuka bungkus mobil.


Slide1 Slide2 Slide3 Untuk cara menutup atau membungkus mobil, maka kebalikannya. Cari terlebih dahulu tanda bagian depan mobil kemudian bungkus mobil dibuka dengan mengikuti arah belakang mobil, dan seterusnya.

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , | Meninggalkan komentar

Tangan dan kaki berbicara…

Normalnya, seperti pada umumnya yang dialami manusia yang masih hidup, semua anggota badan kita bisa dalam kontrol kita. Jika kita menghendaki membuka mata, maka kelopak mata membuka, jika kita mau melihat kearah kanan, bola matapun melirik kearah kanan. Demikian juga dengan tangan dan kaki kita. Apapun yang disuruh oleh kemauan kita, maka tangan dan kaki kita akan menurutinya.

Tangan akan meninju jika kita memintanya untuk meninju. Akan menempeleng seseorang, menggaruk kepala, membalik-balikan tangan, memegang cangkul dan mengayunkannya, memegang bolpen, memberi uang pada pengemis, membuka halaman buku, memencet-mencet tombol di ATM pada waktu kita mengambil uang, membersihkan badan, dan ribuan gerakan lain sesuai dengan keinginan kita. Demikian juga dengan kaki, apa yang kita inginkan, kita bayangkan gerakannya dan kemudian dilaksanakan dengan menggerakkan kaki sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh otak.

Kita bebas menggerakkan kaki dan tangan sesuai yang kita mau. Itu adalah normalnya, normal kehidupan di dunia.

Tapi, ada kalanya tangan dan kaki kita tidak dapat bergerak memenuhi keinginan kita.

Beberapa tahun yang lalu saya mengalami kecelakaan ringan. Tangan terkilir, karena pada saat kecelakaan, menjadi tumpuan ketika terjatuh, sehingga mengalami beban yang berlebih dan membuat urat serta syarafnya jadi bergeser.

Saya tidak dapat menggerakkan tangan kanan saya sama sekali. Saya ingin menggaruk, saya perintahkan untuk menggaruk, saya salurkan kekuatan ketangan kanan saya untuk menggaruk, tetapi tangan sama sekali tidak mau bergerak. Saya kaget, karena saya baru pertama kali mengalaminya.

Dibawa ke dukun pijat Cimande, ke fisio terapi dan akhirnya bisa sembuh total di therapis pijat di Bojonggede Bogor. Kenapa tangan gak bisa digerakkan walau kita menginginkannya? Ternyata urat tangan dan lengan saya ada yang bengkak, kemudian syaraf yang terjepit karena urat yang bergeser. Sehingga pada waktu otak saya memerintahkan tangan untuk bergerak, perintah tersebut terkendala dan tidak sampai, dan tanganpun akhirnya gak bisa digerakkan sesuai dengan keinginan kita. Otak menghendakinya, tetapi tangan kanan saya tidak bisa melaksanakannya.

Lain lagi dengan kasus mendiang Ibu saya. Sebelum wafat, ibu saya terkena stroke, dan anggota tubuh belahan kanan menjadi tidak berfungsi. Tangan dan kaki lumpuh, tapi sebenarnya Ibu masih bisa merasakan rangsangan yang diberikan jika tangan dan kakinya disentuh.

Kenapa tangan dan kaki Ibu saya tidak digerakkan? Kata dokter syaraf yang menanganinya, kendali otak Ibu yang khusus menangani gerakan kaki, tangan dan anggota tubuh bagian kanan terblokir, sehingga Ibu sama sekali tidak memerintahkan kaki dan tangan kanannya untuk melakukan gerakan. Padahal sebenarnya semua syaraf dan juga urat yang ada pada kaki dan tangan Ibu masih berfungsi penuh. Otak tidak bisa berkehendak, walau tangan dan kaki kanan berfungsi.

Karena itu, untuk menjaga agar fungsi dari syaraf-syaraf dibagian anggota tubuh sebelah kanan tetap berfungsi, maka harus sering diberi rangsangan. Rangsangan biasanya dapat berupa sentuhan, pijatan atau juga dengan elektris didaerah-daerah tertentu. Syaraf apabila tidak dirangsang dan tidak sering digunakan menyalurkan perintah dari otak, maka lama-lama syaraf tersebut tidak akan berkembang dan mati.

Syaraf-syaraf dibagian kanan tubuh Ibu dijaga untuk tetap selalu berfungsi, agar apabila suatu saat kendali syaraf kanan di otak sudah pulih dan tidak terblok lagi, maka Ibu akan normal lagi, otak dapat mengirimkan perintah untuk bergerak sedang kaki dan tangan kanannya dapat menerima perintah tersebut.

Pada waktu sakit dan mengamati orang sakit itulah saya merasakan karunia Allah SWT yang luar biasa yang tidak akan kita rasakan jika sehat. Gerakan kaki dan tangan yang terasa ringan dan sangat sederhana ternyata ada kompleksitas tinggi didalamnya.

Tangan dan kaki ternyata tidak bisa berdiri sendiri untuk dapat bergerak. Kadang otak kita menginginkan agar tangan dan kaki bergerak, tetapi keduanya tidak dapat berfungsi karena cidera. Tetapi bisa aja tangan dan kaki berfungsi normal dan tidak cidera, tetapi terputus dengan otak sehingga tidak pernah diperintahkan oleh otak untuk bergerak.

Dan, sangatlah pasti kalau suatu saat nanti tangan dan kaki kita bergerak sendiri dan bercerita sendiri tentang apa yang pernah kita lakukan walau mungkin kita tidak menghendakinya, tetapi yang Maha Berkehendak menghendakinya.

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan” [QS. Yaasiin (36): 65]

Dipublikasi di Renungan | Tag | Meninggalkan komentar

Malas…

malas

Malas itu penyakit, dimusuhi tapi enggan dilepaskan. Malas itu menimbulkan banyak kerugian, disadari kalau bikin rugi, tapi tetap dipertahankan. Malas itu hilang timbul, kesuksesan seseorang ditentukan oleh bagaimana ia dapat sebanyak mungkin menghilangkan malas, sedang kemiskinan, keterpurukan, kebodohan, ketertinggalan karena juga seringnya menimbulkan rasa malas.

Dulu pada waktu kuliah, pada saat memasuki fase pembuatan Tugas Akhir, perlu setahun untuk menyelesaikan skripsi yang sejatinya makan waktu 2 bulan kalo tidak malas.

Saat itu mata kuliah yang diambil udah habis, kalopun ada paling ngulang-ngulang pelajaran lama yang nilainya rendah. Saat itu udah ambil Tugas Akhir, tercantum jelas di Kartu Rencana Studi. Tapi, rasa malas akut tiba-tiba datang melanda, bayangkan, satu semester skripsi dibiarkan gitu aja gak dikerjakan!

Seperti datangnya rasa malas yang tiba-tiba, demikian juga dengan keinginan untuk ‘rajin’ yang juga tiba-tiba!

‘Tiba-tiba rajin’ mungkin bagi orang yang melihatnya, tapi sebenarnya ‘rajin’ saya waktu itu setelah melakukan perenungan diri, kontemplasi. Loh kok udah mulai ditinggalkan teman-teman seangkatan yang pada lulus, keluarga dan kalangan dekat yang udah sering bertanya ‘kapan lulus’, dan juga keinginan untuk membahagiakan ortu biar cepat-cepat menuai benih harapannya yang sudah lama makan biaya kuliah.

Akhirnya diputuskan untuk ‘rajin’, dan hasilnya fantastis, skripsi selesai dalam 2 bulan! Dulu, sekitar tahun 1995-1996, ngerjakan skripsi biasanya di rental komputer yang banyak buka 24 jam disekitar kos-kosan. Setelah keputusan untuk musuhan dengan ‘malas’ mengerjakan skripsi, malam-malam datang ke rental komputer, kebetulan pas ada teman seangkatan yang lagi ngerjakan skripsi. Saya nanya ke dia ‘Ngerjakan bab berapa?, dia jawab ‘Bab 3!. ‘Wow’, dalam hati saya menyadari betapa tertinggalnya  karena baru akan memulai ‘Kata Pengantar’.

Akhirnya siang malam saya kerjakan skripsi dengan spartan. Siang-siang sering dikampus dan lab, untuk ngerjakan percobaan dan konsultasi ke dosen, dan malamnya ngetik di rental yang sering sampe adzan subuh berkumandang.

Dan hasilnya, dua bulan kemudian, ketika saya ke rental untuk ngerjakan sedikit perbaikan setelah ujian skripsi yang dinyatakan lulus, teman saya yang dua bulan lalu udah ‘Bab 3’, ternyata sekarang masih aja ‘Bab 4’, karena dia masih terjangkiti malas. Tertegun dan heran ketika saya bilang kalo mau mengetik untuk perbaikan skripsi!

Sekarang bayangkan kerugiannya jika saya gak malas, saya akan lebih cepat setahun lulusnya, juga saya akan bekerja lebih cepat setahun, biaya kuliah juga lebih hemat setahun, otomatis karena biaya lebih hemat, keluarga juga lebih bisa menggunakan keuangannya untuk keperluan yang lain. Dengan bekerja lebih cepat setahun, saya juga mendapatkan uang dan pengalaman yang lebih banyak, jenjang karier yang lebih tinggi dan sebagainya. Pokoknya rugi deh malas itu!!

Sekarang bayangkan betapa banyak kerugian yang kita timbulkan dengan kemalasan-kemalasan yang lain!

Seandainya dulu saya lebih rajin menabung dan dulu tidak merokok duitnya akan lebih banyak lho, mungkin sudah bisa dibelikan rumah dan mobil. Merokok sudah jelas-jelas tidak sehat dan makan duit!

Seandainya dulu juga lebih rajin ke fitnes, kayaknya perut tidak akan sebuncit sekarang, dan badan akan lebih terlihat bugar.

Seandainya saya lebih rajin menulis, tentu akan lebih tulisan yang saya buat dan memberikan manfaat, saya akan lebih banyak mendapatkan pahala.

Seandainya dan seandainya…

Harapan saya, semoga saat akhir saya tidak berada dalam keadaan malas, malas untuk beribadah kepada Allah SWT!

Makanya jangan malas ya!!

Dipublikasi di Renungan, Uncategorized | Tag , , | Meninggalkan komentar

Spektakuler Suramadu!! *

 
jembatan suramadu didit 2
Gambar: Suramadu di Malam Hari, oleh Didik Witono, di akun flickr Didik Witono.
 
*Syarat dan ketentuan berlaku. Suramadu sudah spektakuler, akan semakin spektakuler jika memenuhi syarat dan ketentuan ide-ide dibawah ini, hehehe kardhiman (kareppeh dhibi’ se paleng nyaman = Maunya sendiri yang paling enak)…
 

Saya adalah orang Madura yang dilahirkan di Madura, original 100%, tidak pake KW-KW an, hehehe. Mendiang Ibu dan Bapak saya, keduanya orang Madura, dan lebih banyak tinggal di Madura semasa hidupnya.

Waktu saya masih SD, Bapak sering bercerita tentang gagasan akan didirikannya Jembatan Suramadu (Suramadu), menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Bahkan, cerita Bapak saya, ide untuk Suramadu itu sudah lama digulirkan, sejak jaman Presiden RI Pertama, Ir Soekarno. Seiring waktu, menurut saya wajar jika Ir Soekarno yang menggulirkan ide tersebut, beliau mempunyai latar belakang pendidikan insinyur sipil, masih banyak yang bisa dilihat peninggalan bangunan-bangunan bersejarah yang merupakan idenya atau bahkan rancangannya sendiri!

Saya melihat, presiden pertama kita seorang yang visioner, pandangannya jauh menembus masa depan. Apa yang secara fisik baru kita lihat sejak tahun 2009 yaitu pada saat peresmian Suramadu, Ir Soekarno telah ‘melihat’-nya dalam bentuk ide dan gagasan bahkan mungkin rancangan kasar tentang Suramadu sejak puluhan tahun yang silam!

Setelah sekian lama saya bekerja di luar pulau Madura, akhirnya sejak 2009 saya bekerja dengan penugasan di Madura, hhmmm, kembali ke tanah air beta, pusaka abadi nan jaya, hehehe… Tahun 2009 juga tahun penyelesaian akhir dari Suramadu, dan peresmiannya di tanggal 10 Juni 2009.

Setelah ada Suramadu, terasa sekali manfaatnya! Setiap hari ke Madura, waktu kantor masih di Surabaya. Sebelumnya naik Kapal Feri ke Madura, perlu waktu minimal 2 jam, mulai dari antri, beli tiket, masuk kapal sampai turun dari kapal. Belum lagi pada musim-musim tertentu, antrian kendaraan menuju kapal mengular, yang menambah waktu tempuh menyeberangi selat Madura yang berjarak sekitar 5 KM itu jadi berjam-jam.

Dan ketika Suramadu diresmikan, semuanya jadi lancar! Gagasan Ir Soekarno yang dulu sering mendiang Bapak saya ceritakan, sekarang telah hadir nyata dan dapat dimanfaatkan. Selain Ir Soekarno, Bapak RPH Moh Noer, mantan Gubernur Jatim yang asli orang Madura termasuk yang getol mengusahakan agar Suramadu ini terwujud.

Pemerintah telah mewujudkan visi founding fathers kita untuk membangun Suramadu. Surabaya dan Madura terhubung dan semakin tak berjarak. Biaya pembangunan jembatan itu sangatlah besar, tidak mungkin ditutupi hanya dari perolehan karcis bagi mobil dan motor yang melintasinya dalam sepuluh – dua puluh tahun. Yang lebih diharapkan oleh pemerintah sebenarnya adalah efek bergulir (multiplier effect) dari Suramadu itu yang bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar.

Sekilas saya perhatikan, memang ada percepatan peningkatan arus lalu lintas dari dan menuju Madura. Peningkatan arus lalu lintas adalah salah satu ciri adanya pertumbuhan ekonomi. Dari Mess kantor saya yang terletak di jalan poros jalan pantai selatan Madura, jelas terdengar suara kendaraan yang saling menyambung hampir tak berjeda waktu walaupun ditengah malam, mengindikasikan banyaknya pengguna jalan. Keadaan ini jauh berbeda dengan lima tahun yang lalu.

Bagaimana dengan percepatan lainnya? Sepertinya, pengaruh Suramadu terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Madura belum optimal dan perlu dimaksimalkan lagi.

Kalau kita melihat kawasan kaki jembatan Suramadu sisi Madura (KKJSM), tanah-tanah kosong yang mungkin sedianya diperuntukkan untuk kawasan Industri, tidak banyak beranjak keadaannya dibandingkan dengan 5 tahun silam. Kalaupun ada, hanya satu dua bangunan baru yang dipergunakan untuk gudang atau kegiatan usaha lainnya. Katanya sih, karena tanah-tanah itu sudah dikuasai para spekulan yang dibeli pada waktu proses pembangunan Suramadu. Para spekulan mengharapkan untung yang tinggi dalam sekejap, akibatnya harga tanah melambung, sehingga untuk dibangun suatu kawasan industri, harganya sudah tidak kompetitif lagi. Impian untuk menciptakan suatu kawasan industri terpadu disisi Madura Suramadu sepertinya tidak akan tercapai dalam waktu dekat.

Dan kemudian, seperti kebanyakan manusia, akan mempertanyakan, siapa yang salah? Wah, kalo membicarakan siapa yang salah berarti akan merujuk kebelakang, dan kemudian akan banyak para pihak yang saling menyalahkan, hhmmm, sebuah energi negatif yang hanya saling menjatuhkan dan tidak membawa solusi. Suramadu terwujud adalah suatu anugerah, kalaupun ada kekurangan disana-sini dalam pengembangannya, mari kita diskusikan untuk mencari solusi!

Untuk wisata, Suramadu juga belum memberikan kontribusi yang maksimal. Rata-rata orang hanya senang melintasi Suramadu menuju Madura, kemudian makan di seputaran daerah Burneh sampai Bangkalan atau juga belanja Batik di pertokoan yang tumbuh menjamur dikawasan tersebut. Tidak lebih jauh dari itu!

Untuk membuat orang berminat menyusuri lebih jauh lagi Madura, harus diberikan rangsangan atraksi wisata. Atraksi wisata yang unik yang hanya ada di Madura!

Hobi saya jalan-jalan, banyak daerah di Indonesia yang telah saya kunjungi, dari ujung barat Sumatera sampai di Papua, dan menurut saya, Madura mempunyai kekhasan yang bisa dikembangkan menjadi daerah wisata unik yang akan mengundang banyak wisatawan melancong kesini.

Karena kebetulan saya bertugas di Madura, dan saya juga orang Madura, saya berkunjung ke banyak tempat di Madura yang menjadi tempat wisata ataupun layak dijadikan wisata.

Berikut objek wisata yang menurut saya layak untuk dikembangkan:

  • Wisata alam
    Gua Payudan di Guluk-Guluk Sumenep
    Api tak kunjung padam di Pamekasan
    Gua Jokotole di Geger Bangkalan
    Bukit Kapur Jaddih Bangkalan
    Bukit Kapur Bukit Panjalin Sumenep
    Hutan Kera Nipah Sampang

Pegunungan Kapur Jaddih Socah   Bukit panjalin

Gambar 1: Pebukitan Kapur Jaddih Bangkalan, perhatikan kolam renang dan ruangan-ruangan yang dibuat dengan menggali pebukitan kapur tersebut. Gambar koleksi pribadi.
Gambar 2: Pebukitan kapur Bukit Panjalin Sumenep. Gambar dari epicsumenep.wordpress.com
 
  • Wisata bahari
    Pantai Wisata Lombang Sumenep
    Pantai Wisata Selopeng Sumenep
    Pantai Wisata Camplong Sampang
    Pantai Wisata Talang Siring Pamekasan
    Pantai Wisata Siring Kemuning Bangkalan
    Mercusuar di Socah Bangkalan
    Pulau Gili Labak Sumenep
    Pulau Gili Iyang Sumenep
    (Ada beberapa kawasan pulau lain yang indah di kepulauan Sumenep, tapi tempat yang terlalu jauh akan memakan waktu lama dalam perjalanan
  • 6shelterwarno   5gililabakindra
Gambar 1: Rumah penduduk di Gili Labak yang sering dijadikan pesinggahan. Gambar koleksi pribadi.
Gambar 2: Salah satu sisi pantai Gili Labak. Gambar dari indraprawiranegara.wordpress.com
 
 
  • Wisata Budaya, Sejarah dan Pendidikan
    Kerapan Sapi disemua kabupaten Madura
    Sapi Sonok disemua kabupaten Madura
    Musium dan Keraton Sumenep
    Pembuatan batik tulis di Burneh, Tanjung Bumi dan Pamekasan
    Pembuatan keris di Desa Aeng Tongtong Sumenep (dan beberapa desa lainnya di Sumenep)
    Desa Wisata dan Budaya Semaan di Dasuk Sumenep

Kerapan Sapi

Gambar: Kerapan Sapi yang sudah terkenal di dunia. Gambar oleh: Arylay, dari akun flickr Arylay.
 
  • Wisata Religi
  • Pasarean Syaichona Cholil di Bangkalan
  • Pasarean Batu Ampar di Sampang
  • Pasarean Asta Tinggi di Sumenep
  • Pasarean Syeikh Yusup di Pulau Poteran Sumenep
  • Pasarean Aer Mata (Rato Ebu) Arosbaya Bangkalan
  • Masjid Jamik Sumenep
  • Masjid dan Penginapan Al Akbar Pantai Lombang Sumenep
  • Vihara Avalokitesvara Pamekasan

vihara avalokitesvara   IMG_2000

Gambar 1: Tampak depan Vihara Avalokitesvara Pamekasan. Gambar koleksi pribadi.
Gambar 2: Tampak depan Masjid Jamik Sumenep. Gambar koleksi pribadi.
 
  •  Wisata Kuliner
  • Di Daerah Bangkalan (Bebek Sinjay, Nasi Amboina dan Nasi Serpang)
    Di Daerah Sampang (Bebek Songkem, Kaldu)
    Di Daerah Pamekasan (Soto, Rujak, dan Kaldu)
    Di Daerah Sumenep (Soto, Rujak dan Kaldu)

Untuk wisata kuliner, Madura mempunyai beragam masakan yang  khas. Warung dan rumah makan khas Madura sekarang banyak tersedia. Beberapa makanan khas hanya tampil pada saat tertentu, dan alhamdulillah, sekarang ada momen Car Free Day di hari Minggu, biasanya ada makanan khas Madura seperti: Thopa’ Ladheh, Tajin Shobih, Campur Lorju’ dan lainnya.

Cukup banyak kan objek wisata di Madura! Artinya, apabila wisatawan berkunjung ke Madura, dalam sehari, beberapa tempat wisata sekaligus bisa dikunjungi. Sama seperti halnya di Bali yang mempunyai banyak tempat atraksi wisata sehingga mengundang minat orang untuk berkunjung kesana.

Dengan beragam objek wisata, sekarang tinggal bagaimana ‘menjual’ objek wisata tersebut sehingga bisa memikat wisatawan untuk berkunjung.

Khusus untuk Wisata Religi, mempunyai karakteristik khusus. Wisatawan yang berkunjung kesana sebelum ada Suramadu-pun sudah banyak, Suramadu telah meningkatkan jumlah wisatawan secara signifikan.

Industri wisata merupakan industri yang banyak menimbulkan multiplier effect yang positif. Ia akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menggerakkan industri pendukungnya yang banyak membuka lapangan kerja.

Jika banyak kunjungan wisatawan, akan banyak industri pendukung yang tumbuh. Akan tumbuh banyak hotel untuk akomodasi, diperlukan alat transportasi untuk perhubungan, rumah makan yang menyediakan makanan, industri rumahan yang menyediakan cendera mata dan berbagai keperluan para wisatawan lainnya. Tenaga kerja akan banyak terserap. Daerah tujuan wisata jadi sejahtera. Wisatawan adalah berkah, mendatangkan rejeki!

Efek jungkit terhadap perekonomian itu yang mengundang banyak Negara memberikan prioritas pada pariwisata. Malaysia misalnya, sekarang jumlah kunjungan wisatawannya jauh melebihi Indonesia, padahal pada tahun 1980-an Indonesia masih kampiun di pariwisata Asia Tenggara dengan Bali sebagai maskotnya. Salah satu yang membuat pariwisata Malaysia sukses adalah banyaknya penerbangan murah yang menuju ke Malaysia dengan Air Asia-nya. Dengan tiket yang murah, merangsang orang berkunjung ke Malaysia, dan kalau sudah di Malaysia, dengan sendirinya mereka akan berjalan-jalan menghabiskan uang dengan berwisata. Kalau dihitung, mungkin perusahaan penerbangannya mengambil untungnya setipis silet atau bahkan disubsidi, tapi multiplier effect-nya akan menggiring pada keuntungan disektor lain.

Salah satu perlombaan dibidang pariwisata antar Negara Asean adalah keinginan untuk menjadi penyelenggara event Internasional. Malaysia ngotot untuk bisa menjadi penyelenggara Formula 1 dengan membangun fasilitas Sirkuit Sepang yang diresmikan pada tahun 1999. Bahkan, Singapore, negeri liliput di Asia yang sadar tidak mempunyai lahan untuk membangun sirkuit, juga ‘maksa’ menjadi penyelenggara Formula 1 (mulai tahun 2008) dengan menjadikan jalan raya sebagai sirkuit seperti di Monaco, dengan kekhasan: balap di malam hari!!

Juga untuk tempat hiburan, Malaysia dan Singapore berlomba-lomba, sementara Indonesia semakin tertinggal. Mereka berlomba untuk mendirikan tempat hiburan (amusement park) dengan brand internasional. Legoland di Malaysia dibuka pada September 2012 untuk menyaingi kemasyhuran Universal Studio di Singapore yang dibuka pada Januari 2010. Kedua tempat itu terbukti sukses mengundang wisatawan untuk berkunjung!

Contoh pengembangan pariwisata dinegara-negara tersebut memberikan gambaran, bagaimana peran pemerintah dan swasta merangsang pertumbuhan wisata dinegaranya. Tidak ada kendala yang tidak bisa diselesaikan, bahkan kadang ‘masalah’ bisa menjadi suatu ‘keunggulan’. Singapore tidak punya lahan untuk sirkuit, tapi bisa menyelenggarakan Formula 1, juga lalu-lintasnya yang terlalu padat di siang hari untuk dijadikan sirkuit, maka jadilah sirkuit malam hari yang pertama!!

Bagaimana sekarang Indonesia? Bagaimana sekarang Madura? Think globally, act locally. Berpikir global dan bertindak lokal. Untuk Indonesia sudah ada Kementrian khusus kepariwisataan yang merencanakannya, karena saya tinggal di Madura saya fokus untuk ide-ide wisata di Madura. Lagian tulisan ini kan untuk lomba ‘Ide untuk Suramadu’, hehehe.

Saya juga lebih fokus ke Madura daripada Surabaya. Surabaya relatif sudah lebih tertata dibandingkan dengan Madura.

Idenya juga gak boleh mahal apalagi menuntut pembangunan fasilitas yang lebih mahal lagi, tapi yang kira-kira bisa dijalankan dengan murah dengan fasilitas yang telah ada atau menambah fasilitas dengan biaya yang tidak mahal. Suramadu sudah merupakan anugerah yang sangat berharga bagi Madura, kita harus mengoptimalkannya.

Apa yang bisa kita lakukan?

Pelatihan pelayanan bagi pelaku pariwisata. Apa yang menjadi salah satu titik lemah pariwisata di Madura? Kalau saya mendapat pertanyaan seperti itu, akan saya jawab: manusianya! Karakter asli orang Madura, masih perlu polesan untuk dapat beradaptasi dengan dunia pariwisata. Dalam Sapta Pesona Pariwisata, unsur Ramah menjadi salah satu faktor untuk memikat para wisatawan. Karakter orang Madura cenderung apa adanya, jarang senyum dengan gerakan yang kaku dan tegas. Sebenarnya, orang Madura juga tidak bisa dikatakan tidak ramah, tapi lebih cenderung apa adanya dan tidak banyak basa-basi.

Yang mungkin agak membedakan, orang Madura itu gengsinya sangat tinggi. Harga dirinya merasa jatuh jika ada yang membantah atau terasa seperti melawannya. Padahal, ada pepatah ‘Pembeli adalah Raja’, mungkin bagi orang Madura hal itu tidak berlaku.

Pernah dengar anekdot tentang tukang buah dari Madura yang melayani keluhan pembelinya? Ceritanya, seorang pembeli yang pernah belanja di tukang buah mengeluh tentang semangka yang dibelinya masih pucat ketika dibuka dirumah, ‘Bu’, ini saya belanja kemaren, semangkanya kok masih belum matang begitu, saya buka kemaren dirumah masih pucat!’, apa jawab ibu penjualnya ‘Bo abbo, sampeyan beli satu aja udah ngeluh, saya beli satu pikap aja gak papa!!’

Hehehe, jawabannya bikin jengkel pembeli kan, jangankan mendengarkan keluhan apalagi meminta maaf, malah disangkal dan dibantah sama penjualnya.

Perilaku seperti ini sebenarnya sering saya denger langsung dari teman-teman yang bukan orang Madura, mereka takut mendatangi warung atau toko yang penjualnya orang Madura. Jangankan melihat-lihat dan nanya-nanya harga, mendatangipun sudah takut. Seorang teman saya bercerita, ia pernah ikut rombongan bis wisata yang mengunjungi Madura. Disekitar kawasan Suramadu, banyak penjual cindera mata, batik ataupun makanan. Banyak yang ingin beli cindera mata seperti perahu-perahuan, layangan atau celurit hiasan, tapi mereka mengurungkan niatnya karena stereotip penjual Madura yang seperti itu.

Apakah karakter ini bisa dirubah? Saya yakin menjawabnya: bisa! Dengan pelatihan dan pembinaan khusus bagi frontliner pariwisata seperti para penjual, pelayan toko, pemandu wisata, sopir rental mobil, pekerja seni dan budaya, pekerja hotel dan lainnya.

Bila kita pergi ke Ind*m*ret atau Alf*m*ret di Madura, waktu kita membuka pintu tokonya saja kita sudah langsung disambut dengan sapaan energik dari para pelayanya ‘Selamat datang di Ind*m*ret selamat berbelanja!’. Dan terakhir, waktu kita mau meninggalkan toko mereka akan bertanya untuk mengingatkan mungkin ada yang kurang belanjaannnya: ‘Tambah pulsanya Pak?’ dan ‘Tambah rokoknya Pak?’. Hehehe, walaupun standar jawaban saya untuk kedua pertanyaan itu sama: TIDAK, karena memang tidak merokok dan bukan pengguna operator pra bayar.

Para pelayan ditoko itu adalah contoh SDM Madura yang sudah mendapatkan pelatihan bagaimana melayani pelanggan dengan baik. Pelatihannya saya yakin tidak lama, mungkin sekitar 2 – 3 hari. Materi pelatihannya mengenai dasar-dasar service excellence (pelayanan prima) bagaimana melayani pelanggan, seperti sikap melayani pelanggan, apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan pada pelanggan, psikologi dari pelanggan dan bahkan pelatihan tersenyum!

Tidak usah malu untuk mengakui suatu kelemahan asalkan kita mau untuk belajar dan mengkoreksi diri sendiri. Tiongkok saat ini gencar melatih warganya utamanya para pelaku pariwisata untuk bisa tersenyum dengan menggunakan chopstick. Semua dilakukan dengan satu tujuan: mendongkrak turis sebanyak mungkin masuk ke Tiongkok.

Latihan tersenyum 1  Latihan tersenyum 2

Gambar: Pelatihan tersenyum dengan menggunakan alat bantu chopstick untuk remaja Tiongkok. Sumber: dailymail.co.uk
 

Hal lain yang perlu dijadikan materi dalam pelatihan ‘pelayanan prima’ mengenai pelayanan ke pelanggan untuk tawar-menawar harga atau mungkin juga standarisasi harga. Nih yang bikin saya sebagai orang Madura juga jengkel, kebanyakan penawaran awal dari penjual orang Madura itu terlalu tinggi, sehingga kita nawarnya juga harus ‘berani’. Bagi saya yang orang Madura, mungkin bisa saya ‘lawan’, tapi bagi orang lain mungkin akan membuatnya keder dan tidak berani nawar, ya akhirnya gak jadi beli!

Teman sekantorku yang dari Jakarta pernah bercerita mengenai kesialannya membeli jambu air Sampang Madura. Pada waktu musim jambu air ia membeli sebanyak satu dus aqua, dia bawa pulang ke Jakarta, dan ia kaget waktu belanja di supermarket Jakarta ternyata malah lebih murah dikit dibandingkan dengan yang di Madura. Hehehe, saya tertawa geli mendengar cerita temanku, walau dalam hati merasa ironis.

Seperti halnya sifat buruk, sifat baik itu juga menular. Semakin banyak fronliner pariwisata yang mendapatkan pelatihan, maka para alumni pelatihan itu akan menularkan sifat-sifat baiknya kepada pelaku pariwisata yang lain. Sehingga semakin lama, budaya lama akan terkikis tergantikan oleh budaya baru yang lebih baik. Persaingan dagang juga membuat para penjual berkompetisi memberikan yang terbaik, termasuk keramah-tamahan, dan saya melihat bahwa semakin lama penjual di Madura sudah semakin menyesuaikan.

Perbanyak event. Terutama untuk atraksi yang menjadi maskot Madura, kerapan Sapi!! Teman saya banyak bertanya, kapan akan ada Kerapan Sapi? Dan jawabannya mengecewakan, karena memang jarang. Untuk tingkat nasional (se-Madura) biasa diadakan di bulan Oktober, untuk tingkat kabupaten gak tahu tuh kapan. Sebenarnya kadang sering saya lihat kerapan sapi di kecamatan-kecamatan. Tapi tidak direncanakan untuk ‘dijual’ sebagai atraksi wisata ke luar daerah. Padahal gak kalah menarik lho, meski Kerapan Sapi itu di kecamatan! Saya juga pernah melihat Kerapan Sapi yang khusus dipertunjukkan bagi para turis di alun-alun Bangkalan. Kerapan Sapi itu atas permintaan khusus dari Biro Wisata.

Pernah saya jalan-jalan kedaerah pantai utara Sumenep, saya lihat ada pengumuman sederhana tentang acara ‘Sapi Sonok’, wah sayang sudah kelewat waktunya. Saya hanya berpikir, sebenarnya banyak acara yang bisa dijual tetapi kurang direncanakan untuk menjadi atraksi wisata, kurang terorganisasi!

Untuk Kerapan Sapi, yang telah mendunia namanya, harus lebih sering diadakan. Misal dijadikan agenda tetap di tiap minggu ke 2 setiap bulan. Jadi, bagi orang yang merencanakan untuk melihat Kerapan Sapi, bila tidak bisa bulan ini, bisa di bulan berikutnya dan seterusnya. Dengan pengemasan yang baik dan juga promosi yang dipadupadankan dengan wisata lainnya seperti kuliner dan budaya, saya yakin Kerapan Sapi akan menjadi atraksi yang diminati.

Kebanyakan orang telah mendengar tentang ‘Kerapan Sapi’, tapi sebagian besar dari mereka belum pernah melihatnya! Persepsi bahwa ‘Kerapan Sapi’ adalah ‘Madura’ sudah sangat kuat walau ternyata Bali mempunyai tradisi yang sama.

Madura beruntung karena mempunyai event yang bisa dijadikan maskot wisata! Jadi kita tinggal mengemasnya dan mempromosikannya.

Jember perlu beberapa tahun mulai dari awal menggagas dan menggelar perdana pada tahun 2003 sampai kemudian menjadikan Jember Fashion Carnaval sebagai event yang dinanti dan dikenal dunia. Juga Banyuwangi, mulai merintis Banyuwangi Ethno Carnaval sejak tahun 2012 untuk menjadi event bertaraf internasional. Banyuwangi memang sedang gencar membikin banyak event, misal Banyuwangi Jazz Festival, dan sekarang Banyuwangi Tour de Ijen, sejak 2012 merupakan event balap sepeda yang sudah masuk dalam agenda balap sepeda internasional.

Madura sudah mempunyai tradisi pertunjukan Sapi Sonok, acara kesenian ‘Semalam di Madura’ dan kemudian ‘Kerapan Sapi’ dalam satu rangkaian. Mungkin tinggal perlu mengemas ulang dan membenahinya lagi untuk dijadikan event yang menjual.

Sapi SonokGambar: Salah satu Sapi Sonok yang ditampilkan. Gambar koleksi pribadi.
 

Ngomong-ngomong tentang ‘Sapi Sonok’, itu acara yang sangat bagus, berfoto dekat sapi yang dihias juga dengan tim kerapan sapinya, juga bisa mengetahui lebih jauh mengenai sapi kerapan, perawatan dan hal lainnya.

Promosi out of the box. Memasang baliho dan memasang iklan di media elektronik atau cetak, itu adalah contoh-contoh promosi yang sudah biasa. Biayanya lumayan mahal, dan apabila di media cetak dan elektronik perlu kampanya besar-besaran dan promosi dalam rentang waktu yang cukup untuk membuat pendengar atau pembacanya memperoleh kesan yang dalam dan tergerak untuk berwisata.

Ada cara promosi sederhana tetapi sangat ampuh. Melalui blog, seperti yang telah dirintis oleh BPWS ini. Saya pernah menulis di blog dengan judul ‘Wonderful Gili Labak!’, ternyata dari tulisan itu berhasil ‘meracuni’ pikiran beberapa pembaca untuk berangkat kesana. Saya tahu karena saya memasang email saya apabila ada yang ingin ditanyakan tentang Gili Labak, dan sukses, puluhan orang telah berangkat ke Gili Labak setelah nanya-nanya ke saya. Belum lagi bila yang berkunjung kesana juga menulis hal yang sama tentang Gili Labak, getok tular, akan semakin banyak yang berwisata kesana!

Penulis blog biasanya akan menuliskan testimoni setelah mengunjungi suatu tempat wisata. Testimoni atau kesaksian di blog pribadi terkesan lebih jujur, apa adanya dan kadang dengan bahasa yang lebih gaul, sehingga lebih banyak dijadikan referensi oleh para calon wisatawan, beda dengan penulisan atau artikel yang memang dimaksudkan untuk promosi pariwisata yang terkesan melebih-lebihkan.

Promosi lain adalah mengundang public figure atau selebriti untuk berkunjung ke tempat tujuan wisata yang akan dipromosikan. Inget waktu Maria Sharapova, petenis jelita dari Rusia datang mengunjungi Borobudur tahun 2013 yang lalu? Foto Maria dengan pose-pose berlatar Borobudur mejeng dibanyak majalah traveler dunia, otomatis mengangkat Borobudur untuk lebih banyak dikunjungi wisatawan.

Juga ketika Mark Zuckerberg, pendiri dan pemilik Facebook Inc. ke Borobudur Oktober 2014 yang lalu, statusnya di Facebook tentang Borobudur merupakan promosi gratis bagi Borobudur. Jutaan follower-nya akan bertanya-tanya tentang Borobudur, kemudian googling dan lebih mencari tahu tentang Borobudur, dan diantaranya pasti ada yang kemudian berangkat ke Borobudur!

Kalo untuk tahap awal tidak perlu sekelas Maria Sharapova atau Mark Zuckerberg yang didatangkan kesini, mungkin selebriti nasional yang diajak berlibur ke Madura atau dijadikan Duta Wisata Madura, misalnya Syahrini atau Raffi Ahmad, hehehe…

Libatkan Masyarakat dan perbanyak muatan lokal! Kunjungan saya ke Desa Wisata dan Budaya Semaan Sumenep, memberikan kesan mendalam. Dalam kesederhanaannya, dan cenderung apa adanya, justru memberikan pengalaman yang luar biasa yang sulit dilupakan.

Pada waktu datang saya diberi Odheng (kain penutup kepala) khas Madura dan memasuki Gerbang Desa Wisata (yang sangat sederhana), saya disambut oleh iringan musik tradisional, wah rasanya gimana gitu, hehehe.

Terus kemudian saya diajak mellihat Bato Cenneng (Batu yang apabila ditabuh akan menimbulkan bunyi yang menggema, hampir sama seperti suara logam yang dipukul). Bato Cenneng itu sarat dengan cerita legenda yang terkait dengan penamaan desa tersebut, Semaan (dalam bahasa Indonesia, Semaan berarti ‘mendekatlah!’). Legenda tersebut juga mempunyai pesan moral yang baik.

Ukiran MaduraGambar: Ukiran khas Madura disalah satu kamar penginapan Al Akbar, Pantai Lombang. Gambar koleksi pribadi
 

Di lokasi Bato Cenneng juga ada acara ‘story telling’, anak-anak kecil yang bercerita mengenai legenda batu tersebut. Dari Bato Cenneng kemudian diajak makan siang dengan menu ala Madura di rumah tradisional Madura. Menu yang sederhana tetapi menerbitkan selera makan! Selagi makan siang, kita bisa mendapatkan cerita mengenai makanan khas yang kita santap tersebut juga mengenai arsitektur rumah tradisional Madura yang ditempati makan siang tersebut.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Mata Air Somber Kecceng yang merupakan urat nadi mata air didesa tersebut. Sebelum sampai ke sumber air tersebut, kita akan ditunjukkan bagian-bagian atau nomenklatur dari bajak sawah dan sapi yang dipakai, lumayan mendapat pengetahuan!

Mata air Somber Kecceng airnya memang mengalir terus, walau di musim kemarau panjang (saya kesana pas musim kemarau). Airnya jernih, dipakai oleh penduduk mulai dari untuk masak sampai mengairi sawah. Di sumber air dibangun kolam pemandian, dan bagian atasnya terdapat bangunan masjid. Somber Kecceng juga mempunyai legenda yang tidak kalah menariknya, mirip-mirip dengan cerita Joko Tarub dengan bidadari itu.

Dari Somber Kecceng kemudian diajak ke sekolah SD setempat dan menyaksikan tari-tarian yang dibawakan oleh anak-anak SD disana. Dan terakhir, waktu pulang diantar oleh iringan Sapi Sonok dengan musik tradisional saronen-nya. Waah, sangat berkesan!

Kita bisa mengetahui adat istiadat, budaya, kuliner dan arsitektur yang khas Madura dalam sekali kunjungan!

Semua rentetan kunjungan tersebut melibatkan peran aktif masyarakat setempat. Semua dilakukan dengan semangat dan antusias, mereka tidak merasa terpinggirkan, justru menjadi pelaku!

Wisata yang berbasiskan penduduk lokal akan lebih kuat. Jadikanlah penduduk setempat sebagai pelaku wisata, bukan sebagai penonton! Semua pekerjaan yang dibutuhkan dalam sebuah objek wisata sebisa mungkin diserap dari penduduk setempat!

Salah satu peran aktif pemerintah didalam meningkatkan muatan lokal adalah dengan membuat aturan-aturan yang pro kebijakan muatan lokal. Mewajibkan pakaian dengan batik Madura, membawa tamu pemerintah ke tempat wisata lokal, mempertontonkan atraksi budaya (musik atau tarian) lokal pada setiap tamu pemerintah, mengadakan rapat-rapat ditempat wisata lokal adalah contoh-contoh kebijakan yang pro muatan lokal.

Perbanyak Rambu Objek Wisata dan Tonjolkan Ciri Wisata. Hampir disetiap kabupaten di Madura, ada baliho besar berisikan peta dengan foto-foto beragam tempat tujuan wisata. Sayangnya, kadang hanya berhenti di baliho itu saja. Apabila kita akan mengunjungi tempat tujuan wisata tersebut, tidak ada rambu-rambu yang memadai. Atau, kalaupun ada rambu, biasanya kurang informatif, karena rambu tersebut tidak tersedia sampai mengantar kita ke tempat tujuan. Rambu hanya tersedia di satu atau dua tempat, selebihnya wisatawan dibuat bingung kearah mana lagi untuk sampai ke tujuan wisata tersebut. Apabila Pemda menginginkan ‘Tempat Pembuatan Batik Tulis di Klampar Pamekasan’ misalnya, menjadi tujuan wisata, seharusnya mulai dari masuk Pamekasan sudah diarahkan untuk menju kesana dengan memasang rambu-rambu sampai ketempat tujuan. Rambu petunjuk sangat penting! Malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya mending gak usah ketempat tujuan! Hehehe…

Baliho PariwisataGambar: Baliho Peta Petunjuk Pariwisata sebelum memasuki Kota Pamekasan. Gambar koleksi pribadi.
 

Buatlah rambu yang standar dan terbaca dengan jelas. Setahu saya, untuk rambu wisata biasanya mempunyai latar coklat, ini sudah menjadi standar dimana-mana.

Oh ya, mengenai rambu-rambu (khususnya untuk wisata kuliner), Pemda Pamekasan bisa dicontoh tuh. Disetiap warung yang menyajikan makanan khas Madura, dan rasanya memang lumayan top markotop, kemudian cukup dikenal didaerah itu, Pemda Pamekasan memberikan rambu berupa ‘Wisata Kuliner’. Dengan referensi itu, saya biasanya suka mendatangi tempat-tempat tersebut, dan memang rasanya lumayan nendang dan bisa direferensikan ke yang lain.

Walau semua Kabupaten di Madura mempunyai sentra kerajinan batik, Kabupaten Pamekasan sepertinya yang paling getol berpromosi untuk memperoleh kesan sebagai ‘Kabupaten Batik’. Pasar khusus batik ada, juga Galeri Batik yang dibuatkan khusus oleh Pemda-nya. Beberapa dinding di kota dibuatkan lukisan batik, dan disetiap kantor pemerintah juga ada lukisan batiknya.

Mural2Gambar: Mural di salah satu dinding di sudut kota Pamekasan. Di Pamekasan banyak dijumpai Mural bermotif batik. Gambar koleksi pribadi.
 

Ini salah satu usaha dari Pemda Pamekasan untuk menonjolkan ciri wisata didaerahnya. Dan saya melihatnya: cukup berhasil!

Kebersihan dan sarana minimal yang harus ada. Gili Labak itu sangat eksotik! Berwisata kesana serasa mengunjungi pulau pribadi yang masih perawan. Penduduknya ramah dan tulus menerima kita jika mau menginap disana, mereka akan menyediakan rumah atau ‘kobung’-nya (Kobung adalah bahasa Madura untuk semacam rumah panggung atau mirip gazebo dengan satu ruangan yang biasanya multifungsi, mulai dari buat shalat, menerima tamu atau buat tiduran) untuk kita inapi. Sayang, disana tidak ada fasilitas untuk buang air besar yang memadai. Kemana para penduduk untuk menunaikan kewajiban rutin itu? Ya kalau gak kelaut ya gali tanah, hehehe.

12finding nemoGambar: Mejeng bareng ikan hias Nemo sebelum dilepas kembali. Ikan hias seperti ini banyak dijumpai di terumbu karang Pantai Gili Labak. Gambar koleksi pribadi.
 

Ketiadaan toilet ini bikin saya kebingungan waktu diminta bantuan teman untuk mengatur kunjungannya kesana bersama beberapa orang Jepang. Saya jelasin diawal kalo tidak ada toilet biar mereka gak kecewa nantinya, karena mereka berniat untuk menginap. Semula mereka sempat bimbang, tapi ‘racun’ bayangan indah Gili Labak yang mereka baca di blog saya membuat mereka berkompromi, gak apa-apalah tanpa toilet, pengalaman seru juga, hehehe!! Overall, mereka puas, dan meminta saya untuk mengatur keberangkatan trip rombongan kedua.

Padahal, berapa-lah biaya untuk membuat sebuah toilet? Dibuat yang sederhana tapi bersih. Dirancang yang bernuansa alam dan ramah lingkungan. Toilet adalah fasilitas minimal yang harus ada di setiap daerah tujuan wisata!

Kebersihan juga syarat utama. Bersih juga merupakan bagian dari Sapta Pesona Wisata. Sapta Pesona wisata itu: Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Kenangan.
Sederhana tapi bersih itu lebih baik daripada dibangun dengan biaya mahal, cukup megah tetapi tidak terawat dan kumuh.

Dan mimpi saya sederhana saja, saya memimpikan di sisi Madura dari Suramadu, ada rest area atau tempat peristirahatan dan terletak cukup tinggi, dengan latar belakang Suramadu dengan tempat parkir yang luas dan rindang, ada banyak toko souvenir dan juga makanan Madura, SPBU, tempat bermain anak, toilet dan sarana ibadah. Tempat tersebut ramai dikunjungi, terlihat dari banyaknya kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil pribadi sampai bis dengan berbagai kode plat nomer dari berbagai daerah yang parkir di tempat peristirahatan tersebut, kendaraan-kendaraan tersebut istirahat setelah seharian jalan-jalan beli batik di Tanjung Bumi, ke Pantai Lombang atau habis menginap dari Gili Labak, dan sebelum menyeberangi Suramadu kembali ke Jawa mereka sempatkan mampir di rest area tersebut. Sebagian penumpang dari kendaraan-kendaraan yang parkir tersebut beli cindera mata dari kios-kios yang pelayannya ramah, atau juga mendatangi Rumah Makan yang banyak tersedia untuk mengisi perut dengan aneka masakan Madura dan dilayani dengan senyum yang ramah, sebagian yang lain ke toilet-toilet yang tersedia dan dijaga kebersihannya, dan sebagian yang lain shalat di mushalla yang tak kalah bersihnya dan wangi. Yang paling banyak dilakukan adalah berfoto-foto, bernarsis ria dengan latar belakang Suramadu, berfoto dengan leluasa tanpa khawatir ditilang seperti halnya kalau berfoto ditengah Suramadu seperti saat ini. Mereka semua terlihat lelah tapi tetap dengan wajah yang ceria dan puas, sambil tak putus-putusnya saling bercerita tentang pesona dari tempat wisata yang dikunjunginya.

Rest area tersebut menggantikan rangkaian toko-toko cindera mata dan makanan sepanjang jalan menuju Suramadu di Madura yang sepi pengunjung yang ada saat ini. Toko-toko tersebut kumuh dengan memakai dinding dari bilik bambu, dan kadang-kadang disela-sela toko ada toilet yang kotor yang dikunjungi orang bila benar-benar terpaksa saja. Penerangan seadanya di malam hari, parkiran juga semrawut dan kadang memakan bahu jalan.

Hhmmm, saya yakin mimpi saya akan menjadi nyata, bila kita semua segera bangun dan bergerak untuk mewujudkannya, karena saya yakin semuanya mempunyai mimpi indah yang sama, Suramadu yang spektakuler!!

—-
Tulisan saya yang lain di Blog mengenai Wisata di Madura:

BANNER_widget

Dipublikasi di Perjalanan, Uncategorized | Tag , , | 3 Komentar

Antara seorang Bapak dan Ibu…

Prabowo Kopiah
Menarik mencermati pola pikir dari pasangan capres yang berkompetisi di tahun 2014 ini antara Prabowo dan Jokowi.

Saya mengamati dengan melihat debat yang telah diadakan 3 kali (satu kali capres dan cawapres), juga berita seputar kampanye mereka yang berkeliling mengunjungi nusantara. Dan akhirnya saya melihat bahwa karakter Bapak dan karakter Ibu-lah yang sedang bertarung. Karakter Bapak ada pada Prabowo Subianto sedangkan karakter Ibu ada pada Joko Widodo.

Kenapa begitu? Inilah yang saya amati:

Bapak adalah kepala rumah tangga. Seorang Bapak bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya. Dengan sendirinya, Bapak-lah yang bekerja mencari nafkah. Sama seperti Prabowo, beliau menekankan adanya ‘kebocoran’ berkali-kali sehingga menimbulkan polemik. Tidak hirau dengan polemik, bahkan pada debat yang ketigapun ia mengulanginya. Pada debat ketiga, Prabowo lebih spesifik mengatakan apa yang akan ia lakukan terhadap keuangan Negara: penghematan, menutup kebocoran pemakaian anggaran dan disisi lain mengejar uang Negara yang lari keluar negeri.

Lain Bapak lain Ibu. Seorang Ibu lebih focus ke dalam rumah tangganya. Ia bukan orang yang mencari penghasilan, tetapi yang mengurus rumah tangganya. Karenanya Ibu akan tahu secara detail apa yang harus dikerjakan dan dibelanjakan untuk kebutuhan rumah tangganya. Ia mempunyai shopping list yang komplit untuk membuat rumah tangganya nyaman, kadang tanpa terpikir dapat dari mana uangnya!

Jika Prabowo mengatakan akan mencetak sawah 2 juta hektar, dalam bayangannya adalah mencetak lapangan pekerjaan dan sumber penghasilan baru. Sedang Jokowi mengatakan ia akan membangun bendungan 25 buah dalam 5 tahun. Jokowi sudah punya shopping list untuk bidang pertanian, yaitu bendungan!

Bapak lebih bicara pada global, sedangkan Ibu akan bicara detail dan pelaksanaan dilapangan. Pada Prabowo dan Jokowi-pun juga demikian.

Mencetak sawah 2 juta hektar sawah adalah sasaran globalnya, dan pasti memerlukan irigasi dan pengairan, dan hal itu lebih teknis akan dibicarakan ditingkatan yang bawahnya, pada level Menteri dan Gubernur. Sedang Jokowi memulai dari bawah, bahwa pada saat sekarang, kekurangan pertanian di Indonesia dan hasil pertanian yang belum maksimal karena belum banyaknya bendungan untuk mengairi sawah, sehingga ia mengatakan akan membangun bendungan 25 buah dalam 5 tahun.

Jika Bapak lebih mengutamakan kebutuhan dasar dan apa adanya, maka Ibu kadang masih bisa memperhatikan hal-hal kecil yang mengundang perhatian. Hal itu juga tercermin pada Prabowo dan Jokowi. Prabowo sebagai cerminan figure Bapak tampil sesuai dengan apa yang dia miliki, benar-benar tanpa polesan. Dia punya helicopter, ya kemana-mana pake helicopter, meskipun ia sadar akan timbul stigma negative, dia punya mobil yang dipake untuk kegiatan sehari-hari, ya mobil itu pulalah yang mengantarkannya bolak-balik ke KPU. Sedang Jokowi lebih dipoles, dan sadar bahwa dirinya sedang menjadi sorotan dan berusaha mendapatkan suara dari masyarakat kecil, maka mulai dari kendaraan yang dia pakai waktu ke KPU ia atur betul, kadang memakai sepeda kemudian bajaj, minum jamu pada waktu test kesehatan, dan juga baliho dan banner kampanyenya juga memajang foto dirinya yang mengenakan barang yang harganya murah, sampai jas dan baju batik yang dikenakan pada waktu debat.

Jokowi Kopyah

Terlihat perihal sifat Bapak dan Ibu ketika Prabowo dan Jokowi menjawab pertanyaan moderator pada debat ketiga. Pada waktu tersebut, moderator bertanya, ‘Bagaimana bapak membuat kebijakan untuk mengambil peran penting membuat Indonesia disegani termasuk di luar kawasan termasuk menjadi pemimpin di Asean? Menjawab terlebih dahulu adalah Jokowi dengan jawaban: ‘ Dengan menjadi ketua konferensi seperti ketua KTT Asia, bisa membuat bangsa Indonesia dihargai oleh bangsa-bangsa lain, karena Negara-negara tersebut dengan sendirinya akan datang mendekat, butuh dengan kita, jadi konferensi semacam ini harus lebih sering kita adakan dan kita galakkan!’, kelihatan bahwa jawaban Jokowi mencerminkan seorang Ibu, yang senang kenduri dan perayaan-perayaan, terlibat dalam hal seperti arisan, sehingga kelihatan eksis ditetangga sekitar.

Sedangkan sifat Bapak tercermin pada jawaban Prabowo berikut: ‘Indonesia akan dihargai oleh bangsa lain bukan dengan banyaknya konferensi yang kita adakan, tapi Indonesia akan dihargai dan berwibawa dimata Negara lain jika ekonomi kita kuat, rakyat sejahtera dan hidup makmur!’. Bapak adalah orang yang mencari penghasilan, ia tahu kebutuhan dasar apa yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk Indonesia yang masih termasuk Negara berkembang.

Sama halnya ketika seorang anak dari keluarga sederhana ingin dirayakan ulang tahunnya, sang Bapak mungkin akan menjawab ‘Lebih baik ulang tahunmu ganti dengan beli buku atau sepatu saja!’, sedangkan sang Ibu berpikiran, ingin menyenangkan anaknya sekali-kali, yah tidak apalah kalau dirayakan dengan sederhana!

Rumah tangga akan hidup bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Seorang Bapak adalah symbol dari rumah tangga tersebut. Apabila ada hal yang mengganggu dari luar, maka kewajiban Bapak-lah yang harus berperan aktif. Karena itu, Bapak terlihat lebih galak keluar sedang Ibu biasanya lebih kompromistis. Dalam paparan visi-misinya untuk hubungan internasional, Prabowo, sang Bapak terlihat tegas dan dengan nada bergetar mengatakan ‘Tidak sejengkal tanahpun akan dibiarkan lepas dari wilayah NKRI, tidak sejengkal tanahpun akan dibiarkan lepas dari wilayah NKRI!’ jarang-jarang Prabowo mengatakan sesuatu hal sampai dua kali dalam waktu yang sama sebagai tanda bahwa ia benar-benar menitikberatkan hal tersebut. Beda dengan Jokowi yang lebih menekankan diplomasi dan diplomasi, sebagaimana layaknya seorang Ibu.

Seorang Bapak adalah ‘anjing penjaga’ bagi rumah tangganya, sedangkan seorang Ibu menjadi pemanis hubungan bertetangga dengan bersosialisasi!
Mengenai geopolitik, yang merupakan politik dalam kehidupan bertetangga. Sama seperti halnya keterampilan seseorang dalam pengenalan ruang tiga dimensi. Seorang Bapak mempunyai pengenalan ruang tiga dimensi yang lebih baik daripada seorang Ibu. Bapak lebih hafal jalan-jalan daripada Ibu yang lebih suka tersesat jika pergi ke suatu kota. Bapak lebih sering berada diluar, sedangkan Ibu bertugas di bagian domestic.

Hal itu juga tercermin pada sifat antara Prabowo dan Jokowi ketika menjawab mengenai konflik Laut China Selatan. Ketika menjawab tentang konflik di Laut China Selatan, Jokowi menjawab dengan normatif kalau ia akan melihat kasusnya terlebih dahulu dan seberapa jauh konflik itu berpengaruh terhadap Indonesia, apakah menguntungkan apa tidak, terlihat bahwa Jokowi belum paham situasi disekitar ASEAN. Sedang Prabowo, yang kelihatan penguasaan ruang tiga dimensinya lebih baik dan paham tentang politik lingkungan sekitar, mengingatkan Jokowi, bahwa salah satu wilayah Indonesia ikut-ikutan diklaim dan menjadi salah satu potensi konflik di area Laut China Selatan.

Seorang Bapak jarang berkeluh kesah, tetapi seorang Ibu sering berkeluh kesah agar ia dimengerti. Jika Prabowo mempunyai sifat memuji orang lain, seperti pemerintahan SBY dan malah juga tanpa ragu memuji jawaban dari Jokowi apabila ia setuju dengannya, maka kalau Jokowi sering terlihat pasrah dan ‘berkeluh kesah’. Untuk suatu permasalahan, Jokowi sering mengatakan bahwa itu bukan salah dirinya, sebenarnya adalah hal yang wajar, karena ia ingin dimengerti bahwa ia telah bekerja keras tetapi ada hal yang diluar kuasanya yang tidak bisa ia pecahkan.

Cara berkampanyepun juga sangat berbeda. Jika Prabowo sering berorasi didepan banyak massa dilapangan dengan atribut yang laki banget, seperti membawa kuda, kacamata hitam atau berdiri di atas mobil, sedang Jokowi lebih terlihat tenang dan kikuk berorasi serta senang mendatangi pasar dan tempat keramaian. Meski Jokowi penggemar music rock, tetapi ia terlihat tenang dan mudah tersenyum.

Kalau dari segi fisik dan gesture, sangat mudah terlihat, kalau Prabowo mewakili seorang Bapak yang cara bicaranya lebih tegas dan percaya diri sedang Jokowi terlihat lebih kikuk, malu-malu dan dengan nada suara rendah.

Hobinyapun sangat berbeda, jika Prabowo mempunyai hobi pencak silat, terjun payung dan berkuda juga dikenal sangat aktif waktu muda, sedang Jokowi mempunyai hobi bersepeda dan jogging, dan pada masa mudanya relatif lebih tenang. Representasi yang sangat pas untuk Bapak dan Ibu.

Jika kita datang pada seorang Bapak, ia akan bercerita tentang cita-cita yang setinggi langit, ia akan mengajak kita berdiskusi tentang dunia luar dan menyemangati kita, ia juga akan menanyakan keadaan kita diluar seperti disekolah untuk memastikan tidak ada yang mengganggu kita, dan memberikan tips dan trik kepada kita untuk melawan hambatan dan gangguan dari luar. Figur Bapak adalah seorang yang visioner, berwibawa dan heroik dimata anggota keluarganya.

Hal yang berbeda akan kita rasakan jika datang pada seorang Ibu. Ia adalah pengawas kita untuk hal-hal yang kecil dalam keseharian, mengatur jadwal kita, peduli pada kesehatan kita, jam belajar kita dan segala etika yang harus ditegakkan. Wajah Ibu tidak akan seseram Bapak, ia menjadi tempat yang nyaman untuk mengadu bahkan Ibu dan anak juga sering saling berkeluh-kesah. Dalam beberapa hal ibu lebih permisif kepada anaknya, karena sifat kasihnya untuk menyenangkan anaknya. Figur Ibu adalah seorang yang ramah dan menjadi tempat mengadu.

Seorang Bapak mempunyai visi atau cita-cita, mengusahakan agar mendapatkan penghasilan untuk membiayai visinya, dan mempunyai jiwa kepemimpinan untuk ‘memaksa’ bagian dibawahnya dapat berjalan sesuai arah visinya. Seorang Bapak juga menjadi ‘anjing penjaga’ bagi rumah tangganya, harus tampil garang dan berwibawa, dan tidak boleh terlihat ‘menangis’. Ia menjadi pelindung bagi anggota keluarganya, memberikan rasa aman dan kebanggaan!

Sedang seorang Ibu mempunyai program-program kerja yang akan dilaksanakan sesuai arah dan tujuan rumah tangga tersebut, membagi pendapatan dengan baik agar semua program berjalan dan kemudian Ibu juga yang harus mengawasi agar program-program dapat terlaksana. Seorang Ibu akan tampil lebih lembut dan mengayomi, ia menjadi comforter bagi semua anggota keluarganya.

Seorang Bapak dan seorang Ibu tidak seharusnya bersaing, tetapi menjadi suatu mitra untuk membangun rumah tangga bersama.
Beberapa pengamat mengatakan bahwa perbedaan antara Prabowo dan Jokowi sama seperti perbedaan seorang Leader dengan Manager. Saya mempunyai pendapat yang berbeda, membandingkan mereka sama seperti membandingkan antara Bapak dan Ibu.

Keduanya sama-sama baik, tentu disesuaikan dengan kondisi kapan kita memerlukan porsi yang lebih banyak antara Leader dan Manager dan antara Bapak dan Ibu.

Pendapat saya, saat ini Ibu pertiwi lebih memerlukan figur seorang Bapak untuk menjadi kepala negaranya!

Salam Indonesia Raya!

Dipublikasi di Opini | Tag , , | 3 Komentar