Swift-ku Ngambek!

        

Tiba-tiba aja terbersit pengin ganti mobil Swift Merah yang telah 2 tahun lebih setia mengantar kita kemana-mana. Penginnya sih tetap mobil yang kecil tetapi powerful dan transmisi kudu matic, karena ternyata pegel juga nyetir di area Jakarta – Bogor – Puncak – Bandung (jalur favorit yang dikunjungi) yang semuanya sudah crowded akut.

Sebenarnya gak ada ‘kesalahan fatal’ dari mobil Suzuki Swift yang saya pakai ini. Mobil kecil yang powerful sudah memenuhi kriteria, sangat enak dipake bagi saya yang selalu nyetir sendiri, nyari parkir gampang, manuver mudah bisa nyelip-nyelip di kemacetan, terbukti bisa dibawa lari sampai 170 kpj tanpa ngos-ngosan dan konsumsi bahan bakar juga irit, pernah diukur, performa terbaik mencapai 15.8 km/l dan terjelek sekitar 12 km/l. Selain itu, selama saya bawa mobil Swift, tidak pernah ada masalah dengan mesin maupun peralatan lainnya. Dua tahun memakainya, perawatan sangat mudah, tinggal servis berkala.

   

‘Dosa’ bawaan dari Swift sebenarnya terungkap karena pergeseran dari saya sendiri. Dua tahun lalu memilih Swift dengan transmisi manual karena terbiasa dengan manual dan nilai jual kembali manual yang lebih tinggi karena budaya Indonesia yang belum terbiasa dengan matic dan asumsi sendiri bahwa perawatan matic lebih mahal. Mendadak aja tubuh menjadi manja, pengin ganti matic, mikir bahwa lebih banyak hal yang bisa dinikmati kialo kita berkendara dengan matic, tanpa bikin (lebih) capek.

Daftar ‘dosa’ yang lain dari Swift adalah bentuknya. Swift menjadi pilihan karena emang yang paling murah dikelasnya (dibandingin dengan Honda Jazz dan Toyota Yaris), bentuknya juga enak dilihat, karakternya kuat, unik dan determinant (entah dari mana ngukurnya, masak mobil mempunyai karakter determinant, hehehe). Karena bentuk dan karakter yang kuat itulah saya memilihnya sebagai mobil pertama saya. Tetapi kemudian, mengingat umur yang menua, ‘Swift’ jadi kelihatan anak muda banget. Niat saya beli mobil adalah untuk pemakaian 5 tahun, dan sesudahnya ganti dengan yang baru (mudah-mudahan selalu terwujud!) Terpikir bahwa tahun 2011 akan memasuki usia 40 tahun, sedangkan Swift lebih untuk anak muda. Dan apabila saya lepas Swift ini 3 tahun lagi, rasanya ‘kesenjangan’ segmentasi akan semakin lebar, so its time to release my Swift!

Mengenai warna, merah metalik! Itulah warna favorit saya (dan isteri saya). Telah mengalami pertimbangan matang, dan juga pernah berubah dari pemilihan awalnya. Awalnya Suzuki mengeluarkan warna khas 2008 yaitu Burgundy. Udah bilang ke salesnya kalo kita mau ambil warna Burgundy, tapi kemudian mikir, bahwa warna tersebut hanya trending sesaat, dan biasanya basic color lebih abadi. Warna yang sangat umum Hitam dan Silver, tetapi (lagi-lagi) kedua wana tersebut menurut saya tidak mempunyai karakter yang kuat untuk sebuah mobil kecil. Mobil (yang sudah) kecil harus kinclong untuk  dapat ‘dilihat’ oleh orang, bukan hanya ‘terlihat’. Dan ‘merah’-pun seiring dengan waktu, menambah panjang daftar dosa Swift. Merah menyala ibarat anak muda, sedangkan sekarang saya ingin terkemas dengan branding: cool, wise dan more patient, hehehe.

  

Sekarang mengenai penggantinya, mobil yang harus mempunyai keunggulan sehingga saya nekad meninggalkan ‘way of life’ saya. Honda all new Jazz jadi pilihan. Yang Matic, so pasti! Warna, penginya Putih, tetapi karena color trending aja, maka ‘polished metal’ jadi pilihan. Jazz juga jadi pilihan, karena meskipun ‘anak muda’, segmentasi usianya juga lebih luas, sehingga pemakaian juga bisa lebih panjang. Dan yang membuat saya paling terkesan dengan ‘Honda’ adalah filosofinya. Honda getol berkampanye bahwa produknya adalah sebuah investasi, karena didalamnya selalu ada yang baru. Setiap mengeluarkan produk baru, pasti ada teknologi baru yang disematkan. Selain itu, Honda mengusung gimmick ‘The Power of Dreams’, sesuatu yang sangat saya suka, kata yang sangat aktif dan menantang dibandingkan ‘Way of Life’-nya Suzuki yang terkesan pasif dan sudah baku.

         

Teknologi baru di New Jazz adalah paddle shift. Transmisi matic-nya memberikan 2 opsi kepada pengendaranya, fully matic atau sport matic. Kalo sport matic, maka teknologi paddle shift akan berperan. Dengan teknologi itu, kita dapat memindahkan gigi transmisi hanya dengan menekan tuas + atau – sesuai dengan gigi yang dipilih yang ada pada lingkar setir, wow, sensasi formula 1! Dengan teknologi ini, akselerasi yang biasa dikeluhkan oleh pengguna mobil matic terjawab sudah. Selain itu teknologi i-vtec juga ada pada Jazz ini. Meskipun mempunyai dapur pacu yang sama dengan Swift yaitu 1500 cc, tetapi Jazz dapat memuntahkan tenaga 120 hp dibandingkan dengan Swift yang hanya 100 hp. Dan kemudian saya sudah membayangkan lari dengan kecepatan 200 kpj di Jagorawi memecahkan rekor Swift 170 kpj, hahaha.

Tekad sudah bulat, sampai sering kebawa mimpi, hahaha. Dan kemudian kita ke showroom Honda di Bogor. Serius banget, udah nego dan deal apa yang kita dapet sebagai bonus dan cash back apabila kita beli Honda Jazz type RS. Tapi saya pesankan kepada sales-nya, bahwa kita jadi ngambil apabila Swift sudah punya pemilik baru, si Sales meng-iyakan sambil mengatakan bahwa dia akan bantu untuk memasarkannya.

Sekarang tinggal strategi melepas Swift. Beberapa showroom mobil bekas yang ada disepanjang jalan Tajur Bogor saya datangi. Semua showroom mengakui ‘kemulusan’ mobil saya dan mengamini bahwa KM yang tertera di mobil saya original adanya, rendah dan pemakaian yang jarang. Dari segi hargapun mereka ‘sepakat’ stick on pada nilai tertentu. Saya mikir, hebat juga bisa kompakan para pedagang tuh. Seperti biasa, saya kurang puas dengan harga yang mereka tawarkan, dalam bayangan saya, mereka masih dapat margin sekitar 10% yang menurut saya ketinggian. Yah, kalo beda sekitar 3 – 5% gak apa-apalah, masih wajar.

Beberapa website dan laman khusus menjual mobil bekas juga saya iklanin, terus milis khusus penggemar otomotif dan penjualan mobil seken juga saya pasangin info kalo mobil Swift-ku mau dijual. Dan puncak dari keseriusan saya menjual dalah pasang iklan di koran, yaitu di Pos Kota dan Radar Bogor. Pembeli dengan harga yang pas tidak saya temukan, tetuko, sing teko gak tuku-tuku, sing tuku gak teko-teko.

Parahnya lagi, beriklan di Pos Kota sekarang rada reseh. Kalo dibandingin antara yang nawar sungguhan dengan penipu yang ‘berkedok’ nawar sama banyaknya. Belum lagi kemudian nomer HP saya dibanjiri SMS promosi, hughhh, tambah banyak aja orang yang gak ada kerjaan dan maunya dapet uang dengan cara mudah.

Yang bikin gelo adalah, tiba-tiba aja Swift berulah, seakan gak rela ganti pemilik. Kayaknya Swift ini sudah sangat nyaman ada dalam genggaman saya, hehehe, yah gimana gak enak, wong dipakenya cuman 2 minggu dalam sebulan, hahaha. Aneh, tiba-tiba suaranya berdengung, dan bikin kabin jadi berisik. Suara itu seolah-olah suara protes dari Swift karena diragukan kesetiaannya dan telah mengabdi 2 tahun tanpa cela. Pertamanya terpikir ada gangguan mesin, tapi performa mesin saya lihat normal, masih bisa lari 140 kpj (kecepatan yang sering saya jalani di Jagorawi) dengan sangat mudah. Dan juga pada waktu saya nekan kopling, suara tidak berubah tetap mendengung, ini berarti menunjukkan tidak ada hubungannya dengan mesin. Terpkir juga transmisi yang problem, mungkin syncronmesh-nya, tapi oper gigi gak ada masalah, getaran  juga gak ada. Nah kepikir sesuatu yang gak berhubungan dengan transmisi dan mesin, yaitu suara knalpot yang mungkin aja bocor tipis. Kadang pemakaian mobil yang jarang malah bikin knalpot cepat berkarat.

Akhirnya dibawalah mobil ke Beress (Bengkel Resmi Suzuki) di Pajajaran Bogor. Saya minta agar test drive dengan mekanik-nya untuk mengetahui langsung ‘keributan’ yang terdengan sampai ke kabin ini. Si mekanik langsung menganalisa kalo bearing roda belakang bermasalah. Saya menyanggah dengan mengatakan apakah keausan itu wajar untuk KM mobil yang rendah. Mekanik beralasan bahwa ada kemungkinan bearing roda kemasukan air sehingga oblak lebih cepat. ‘OK, tolong diperiksa-lah’, kata saya kepada mekanik tersebut, dan benar, emang bunyi itu dari bearing roda belakang bagian kiri. Saya minta agar diganti, dan beres sudah!

Kemudian saya pandangin mobil nih, emang bener, masih mulus banget, jadi gak tega menjualnya. Rasanya belum menjadi kebutuhan untuk ganti mobil, mending dananya buat keperluan yang lain. Dan didalam proposal 2011 saya, jelas tertulis bahwa 2011 tetap mengendarai Swift, tidak ada rencana ganti dan bukan sama sekali suatu target. Ya sudahlah Swift, kau masih jadi milikku, tapi jangan berulah lagi ya!

      

Note: Sticker khusus pada Swift-ku, di bagian belakang ada sticker Beechcraft. Cutting sticker ini saya dapat khusus dari temen tahun 2006 dan sengaja saya simpen dengan sebuah tekad dan doa: ‘Sticker ini akan saya pasang di mobil pertama saya’, alhamdulillah akhirnya kesampaian dengan menempelkan sticker tersebut di Swift bulan September 2008. Beechcraft adalah branding untuk pesawat yang dikeluarkan oleh The Raytheon Company (sekarang Hawker Beechcraft) dari Amerika. Sticker saya pasang sebagai identifikasi saya yang cukup lama bekerja di industri penerbangan.

Pos ini dipublikasikan di Perjalanan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Swift-ku Ngambek!

  1. Kia Ora Tour berkata:

    Hallo bro, bravo, gaya menulis anda bagus 👏👍🏻 saluut. Mungkn bisa dikembangkan jadi penulis buku ‘beneran’ nih, baik thriller, detective, action, investigation, drama dll dll…good luck 😃

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s