One post a week…

Satu kali posting dalam seminggu! Sebuah target, sebuah ikrar! Sebuah ikrar dan tekad untuk dapat memposting sebuah tulisan dalam blog minimal sekali dalam seminggu.

Kalo ide, insya Allah gak bakalan keteteran. Banyak hal yang bisa diposting, banyak hal yang bisa dibagi ke para pengunjung blog. Tetapi inginnya, hal yang dibagi itu tidak hanya berupa tulisan tanpa makna ato isi, tetapi harus membawa manfaat.

Kadang suka iri sama Mr Simplicity, Bapak Dahlan Iskan (DIS). Ditengah kesibukannya yang bejibun, dia masih sempat menulis. Tulisannya bernas dan inspiring! Kalo frekwensinya, rasanya malah lebih kalo sekali dalam seminggu.

Jadi sering saya ‘mengaca’ pada pak DIS, jika sudah kumat malas mau menulis dengan mencari berbagai alasan, salah satunya alasan yang klasik adalah ‘sibuk!’, saya bertanya pada diri saya sendiri, seberapa sibukkah saya? Apakah saya sibuk atau saya sebenarnya tidak menyempatkan waktu? Pak DIS aja yang menjadi punggawa ratusan BUMN dalam kementriannya masih aja sempat menulis.

Bisa aja saya cari pembenaran yang lain, pak DIS kan dulunya jurnalis, bagi dia, menulis adalah semudah membalikkan telapak tangan! Terus terang, saya gak mau memakai alasan itu, selain karena pembenaran akan kemalasan saya, akan membuat saya tidak maju, terkena penyakit excusivity, alias selalu memaafkan diri sendiri. Kalaupun kemudian tekad saya ‘one post a week’ tidak konsisten terlaksana, saya tidak akan menggunakan alasan ‘sibuk’ yang seakan terlihat elegan tetapi bukan alasan yang sebenarnya, tapi saya akan berkata bahwa ‘saya tidak sehebat Dahlan Iskan, saya perlu lebih rajin lagi!’, alasan yang lebih jujur dan membuat saya harus mengejarnya lagi!

Inilah beberapa hal yang membuat saya berikrar ‘one post a week’:

Tulisan adalah abadi.

Abadi -dalam taraf didunia- adalah kekal, dan kekekalan adalah hasrat tertinggi setiap manusia. Senang rasanya, jika suatu hari mendapat komen atas tulisan yang telah dimuat di blog bertahun yang lalu, dan komen itu karena mereka merasa terbantu atau mendapatkan pencerahan atas tulisan saya. Yah itulah tulisan, sebuah kekekalan yang relatif.

Saya kagum pada B.J. Habibie. Beliau pencatatannya kuat, semua ditulisnya. Apabila kita membaca memoar ataupun kisah hidup Habibie yang ditulis oleh beliau sendiri, seperti ‘Detik-Detik yang Menentukan’ ataupun ‘Kisah Cinta Habibie – Ainun’, kita akan melihat betapa kuatnya data yang terperinci lengkap dengan tanggal dan jam kejadian, dimana itu bisa terjadi karena ditulis.

Keabadian tulisan menjadi sesuatu yang otentik apabila hal tersebut dibutuhkan. Jika terjadi silang sengketa, maka yang dijadikan bukti adalah tulisan, bukan suatu omongan si A dan si B yang hanya berdasarkan ingatan semata.

Prasasti, goresan tulisan di goa, ataupun tulisan jaman dulu di daun lontar maupun lainnya, menjadi bukti yang otentik. Kalau jaman sekarang, mungkin, tulisan di blog saya ini akan menjadi sesuatu yang ‘abadi’, yah minimal sampai wordpress bangkrut, hehehe…

Saya ingin, tulisan saya, suatu hari nanti di waktu 50 tahun mendatang atau bahkan lebih, masih dapat terbaca dan membawa manfaat bagi generasi muda!

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya (Ali bin Abi Thalib).

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, itulah quote dari Ali Bin Abi Thalib. Beliau adalah sahabat Rasulullah SAW yang terkenal dengan kecendekiawanannya. Oleh Rasulullah SAW, beliau dijuluki dengan pintu gerbangnya ilmu, yang menunjukkan rasa hormat Rasululllah terhadap tingkat ketinggian keilmuannya Ali Bin Abi Thalib.

Mungkin anda mempunyai pengalaman kerja yang bermanfaat atau mungkin anda mengalami suatu perjalanan atau bisa juga anda menemukan suatu cara didalam menangani suatu masalah, maka tuliskanlah!

Hari ini anda mungkin masih ingat didalam akal pikiran anda mengenai sesuatu hal, tetapi, daya ingat manusia sangatlah terbatas, maka tuliskanlah!

Ikatlah ilmu dan perjalanan hidup anda dengan menuliskannya.

Menulis adalah terapi.

Pernah merasa kepala penuh dengan masalah yang bertumpuk-tumpuk seakan berputar-putar aja di kepala. Kadang masalah itu seperti benang kusut yang hanya berkelindan dikepala tanpa ada penyelesaian. Maka tuliskanlah untuk menguraikannya.

Dan ketika kita menuliskannya, menguraikannya, memperinci satu persatu, ternyata masalah tidak seberat yang kita bayangkan!

Dengan menuliskannya, maka seolah-olah kita memindahkan apa yang berkecamuk diotak kedalam tulisan yang dapat dibaca. Masalah pindah kedalam tulisan yang terbaca, dan kemudian fungsi otak hanyalah fungsi analisa untuk mencari penyelesaiannya, karena fungsi memori sudah tersalin kedalam tulisan.

Yakinlah, bahwa begitu anda dapat menuliskan permasalahan anda dengan baik dan struktur, anda seperti setengah perjalanan untuk mendapatkan solusinya.

Oya, juga, nih masih tentang B.J. Habibie. Cintanya yang sangat mendalam membuat Habibie sangat kehilangan begitu ditinggal pergi oleh almarhumah ibu Ainun. Pernah suatu ketika, Habibie memanggil-manggil ibu Ainun disetiap sudut ruangan rumahnya. Habibie juga diramal akan meninggal lebih cepat karena terkena depresi yang berat. Dan ternyata, salah satu terapi yang dianjurkan oleh Dokter yang menangani beliau, agar beliau dapat menyadari ketiadaan ibu Ainun adalah dengan menuliskan kisah hidupnya.

Bukunya memang kemudian sangatlah menyentuh, ditulis dengan perasaan cinta yang sangat mendalam. Kecamuk di pikirannya telah menjadi sebuah buku. Jika kecamuk dalam pikiran kadang tidak teratur antara satu fragmen dengan fragmen lainnya, maka jika kita menuangkannya dalam sebuah buku, akan menjadi keteraturan yang indah.

Yah, menulis benar-benar merupakan sebuah terapi!

Berilmu dan beramal.

Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Tidak memberikan manfaat. Inilah tujuan tertinggi saya, semoga tulisan saya bisa menjadi amal kebaikan saya, yang terus memberikan buahnya kepada orang lain. Semoga!

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s