Penjaga Toko…

Pepatah China mengatakan ‘Jangan buka toko kalau tidak bisa tersenyum!’.

Bener banget itu pepatah! Suatu hari saya masuk ke toko aksesoris komputer, karena tertarik melihat cover protector notebook yang dipajang. Nanya-nanya ke yang jaga toko, jawabannya ala kadarnya, datar-datar saja, terlihat tidak ada keinginan sedikitpun untuk ‘memaksa’ pengunjung untuk membeli produknya itu. Bahkan jawabannya terasa agak ketus, sombong dan merendahkan calon pembeli. Aneh, jualan kok gengsian, sombong lagi, batin saya.

Alhasil, sayapun batal membeli cover protector yang saya minati itu, karena sikap penjaga toko-nya yang cuek pada saya. Padahal kalo dari segi harga gak mahal, standar, sama dengan toko yang lain, dan motif gambar cover protector-pun saya suka, dan belum tentu ada di toko lain. Mending saya gak mendapatkan cover protector yang bagus motifnya daripada harga diri saya jatuh, hughhh..

Pembeli adalah raja. Ia harus dilayani, dan dia ‘tidak pernah’ salah. Dan yang paling utama lagi adalah, melalui para ‘raja-raja’ itulah para penjaga toko dan pemilik toko itu mendapatkan gaji sebagai penghidupan mereka. Sehingga pada dasarnya, baik buruk pelayanan penjaga toko itu adalah gambaran baik buruknya cara dia memperlakukan sumber penghidupannya sendiri.

Kemudian kami berkeliling untuk membeli notebook. Kami masuk ke sebuah toko yang penjaga toko-nya bersemangat menawarkan barang dagangannya. Wanita penjaga toko yang ini bener-bener beda, sangat antusias. Saya berdua dengan temenku, dijelaskan dengan sabar satu persatu keunggulan dan kelemahan masing-masing produk. Bener-bener sabar dan tetep antusias walau lama kami menanyakan satu persatu produknya itu. Ia juga tidak mengada-ada atau sok tahu, kalo misalkan dia gak tahu atas sebuah pertanyaan kami, tanpa sungkan-sungkan ia mengatakan ‘ntar Pak yah saya tanyakan dulu!’, kadang memang, mengakui suatu kelemahan itu adalah sebuah kelebihan.

Bukan itu saja, waktu makan siang mereka juga tertunda. Pemilik toko menunda makan siangnya dan menyingkirkan sisa makan siangnya ketika kami nanya-nanya ke dia. Kami juga diberi bonus-bonus yang sebenarnya harganya juga murah. Tetapi mereka telah menunjukkan sebuah kepedulian kepada kami sehingga kami merasa terangkat sebagai raja. Dan untuk itu semua, akhirnya kami deal untuk membeli sebuah notebook, hhmmm, happy ending, semua senang!

Hebatnya lagi, sebelum pulang si penjaga toko promosi tentang protector untuk cover dan screen notebook. Dia jelaskan pada teman saya, baiknya kalo notebook itu diberi protector sejak dari baru. Saya yang kebetulan emang mau pasang cover protector pada netbook saya, nanya dimana tempat pasang protector yang bagus. Si penjaga toko bukan sekedar menunjukkan, tetapi kemudian mengantar kami langsung ke toko cover protector itu. Wah hebat, untuk kepedulian dan ketulusannya itu, tips akhirnya dengan sangat ikhlas diberikan oleh temenku pada penjaga toko itu. Rejeki memang mengalir seirama dengan kepedulian dan ketulusan dia melayani kami!

Sampai di toko aksesoris komputer itu, kami melihat-lihat macam motif cover dan screen protector. Temen saya sudah mendapatkan cover protector dengan motif yang dia inginkan. Saya masih berkutat dengan katalog motif, dan melihat tidak ada motif yang sesuai dengan pilihan saya, kalaupun ada, ukurannya tidak sesuai. Penjaga toko sudah menunjukkan semua koleksinya, dan saya sepertinya tidak jadi pasang cover protector karena tidak ada motif yang cocok.

Si penjaga toko tidak menyerah, disela saya menunggu selesainya pemasangan protector di notebook temen saya, ia bilang ‘sebenarnya yang paling utama protector tuh kan untuk melindungi cover dari goresan, Bapak bisa aja pasang dulu yang transparan, terus nanti bisa dikasih motif yang sesuai kalo udah ada, ato dikasih sticker aja sesuai selera!.

Aha! Saya mikir, bener juga yah! Ucapan si penjaga toko itu bener-bener mengedukasi saya dengan cara yang halus. Akhirnya saya mengiyakan untuk dipasang yang transparan saja.

Sungguh, walaupun saya tidak mendapatkan motif yang saya inginkan, saya tidak menyesal telah membelinya di toko tersebut. Pelayanan yang prima dari penjaga toko itu telah menutup kekurangan dari barang yang saya inginkan!

Kamipun pulang, dengan persepsi yang telah tertanam tentang karakter dari para penjaga toko itu. Suatu saat jika kami kembali untuk membeli sebuah notebook atau aksesoris lainnya, pasti toko-toko itu akan menjadi salah satu referensi tempat yang akan kami kunjungi kembali.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Penjaga Toko…

  1. aanhusna berkata:

    jadi referensi yang akan dikunjungi kembali n jadi referensi kalo nanti mau bikin toko sendiri hehehehe……
    ehm…yang terpikir setelah membaca kisahnya, berarti ada komunikasi dan pembinaan yang baik dari si pemilik toko dengan para penjaga tokonya. pemilik toko meng “orang”kan pegawai2nya (kebutuhan psikologis yang penting dan manusiawi) sehingga merekapun meng”orang”kan para pelanggannya, suatu ikatan yang indah :).

    • ahmadramadlan berkata:

      Ya bener! Karena kita manusia, bukan hanya karena murahnya kita membeli suatu barang, tetapi karena perlakuan psikologis dari penjual kepada kita lebih merupakan alasan utama kita untuk membelinya.

  2. Sinagha berkata:

    Artikel yang sangat bagus. Terima kasih atas postingannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s