Minimum Equipment List…

Sesuai dengan namanya Minimum Equipment List (MEL) adalah daftar peralatan minimal. Istilah ini sangat umum di dunia penerbangan. Secara global, MEL merupakan peralatan yang harus tersedia dan berfungsi pada suatu pesawat sebelum pesawat itu beroperasi.

MEL sendiri dibagi dalam beberapa kategori. Yang paling ketat adalah MEL dengan kategori A. Apabila ada suatu peralatan termasuk dalam MEL kategori A, maka peralatan itu harus tersedia dan berfungsi, dan apabila tidak tersedia maka penerbangan bisa dibatalkan (No Go). Karena ketatnya, maka MEL kategori A disebut juga No Go item, item yang mandatory harus ada.

Sebagian yang termasuk MEL kategori A atau No Go item adalah peralatan yang justru diharapkan untuk tidak dipakai, karena apabila dipakai, pesawat itu berada dalam kondisi darurat atau malah accident. Yang termasuk dalam MEL kategori A adalah Flight Data Recorder atau kotak hitam yang harus berfungsi dan masih valid, escape slide untuk seluncur dari pintu darurat, pelampung yang berfungsi dan masih valid, bahkan kapak yang harus dalam posisi ditempat dan berfungsi.

Sedangkan untuk MEL kategori B, C dan D adalah peralatan yang harus ada dan berfungsi, dan apabila tidak ada atau tidak berfungsi maka harus ada persyaratan lain yang harus dipenuhi. Beda untuk B, C dan D adalah rentang waktu yang harus dipenuhi untuk mengkondisikan agar peralatan itu ada dan berfungsi kembali. Kalo tidak salah B harus dipenuhi dalam 3 hari, C dalam waktu 10 hari dan seterusnya.

Itulah ketatnya regulasi yang ada didalam dunia penerbangan. Ada istilah Fail and Safe design dalam industri penerbangan, artinya apabila terjadi sesuatu yang mengakibatkan malfunction pada suatu peralatan, maka harus ada peralatan lain yang berfungsi sebagai cadangan dan back up. Karena itu beberapa peralatan atau instrumen didalam pesawat dibuat 2 buah, atau dibuat cadangan berupa peralatan yang mempunyai fungsi yang sama..

The sky is a vast place, but there is no room for error, angkasa merupakan tempat yang sangat luas, tetapi disana tidak ada sejengkalpun area untuk suatu kesalahan. Itulah filosofi yang berlaku di dunia penerbangan.

Nah sekarang bagaimana MEL dan ‘fail and safe’ penerapannya dalam kehidupan kita sehari-hari?

Saya jadi ingat, dulu waktu saya rutin naik motor untuk berangkat dan pulang kerja, ada beberapa peralatan yang harus ada dalam motor saya. Didalam bagasi kecil motor saya selalu tersedia tool (sudah bawaan dari pabriknya, hehehe), sandal jepit, jas hujan dan tas kresek. Sandal jepit, jas hujan dan tas kresek pasti sudah terbayang kan kegunaannya, untuk bisa tetap berkendara menembus hujan karena saya tinggal di kota hujan, Bogor! Walaupun sudah jarang naik motor (karena sekarang kantornya udah seberang pulau, hehehe) peralatan itu tetap ada didalam motor saya.

Kemudian didalam mobil. Untuk peralatan teknik seperti kunci-kunci, dongkrak, ban serep, kotak PPPK sudah disediakan dari pabriknya. Saya kemudian menambahkan sejadah, peralatan mandi, air minum, tikar, sandal, tas kresek dan baju ganti sekedarnya. Saya sering bepergian yang tidak direncanakan, sehingga apabila misalkan terpaksa nginap, masih ada baju untuk ganti dan peralatan lainnya.

Bagaimana dengan rumah sendiri? Peralatan pertukangan sederhana sudah mesti harus ada. Palu, obeng, gergaji, macam-macam paku, meteran dan lainya mesti kita punyai. Untuk yang lebih besar, tangga juga harus ada. Senter, lampu darurat ataupun lilin juga wajib ada. Dan APAR (Alat Pemadam Api Ringan), sesuatu yang sangat perlu tetapi sering dilupakan! Dan jangan lupa, obat-obatan yang biasa kita konsumsi untuk penyakit sehari-hari. Dan MEL yang terdapat dalam rumah ini bisa dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sendiri.

Kemudian untuk isi dompet misalnya. Jangan semua kartu identitas ada dalam satu wadah, sehingga apabila dompetnya hilang, maka semua identitas juga lenyap. Semua identitas sebaiknya di-scan dulu, sehingga kita punya soft copy-nya. Bahkan kalo bisa, identitas yang ditaruh didompet hanya ‘replilka’nya saja. Sekarang kan ada foto kopi warna, atau setelah kita scan identitas tersebut kita print warna, dan kemudian di laminating. Ada temanku yang selalu menaruh sebuah uang pecahan Rp 100.000,- dalam dompetnya ditempat yang agak tersembunyi. Uang tersebut buat jaga-jaga, kalo misalkan dia lupa mengambil uang di ATM, kehabisan uang dan ternyata dia berada ditempat yang agak jauh, masih ada cukup uang untuk keperluan dasar. Wah, bagus juga!

Nah sekarang tas kita. Sebenarnya tergantung tasnya sih, tas untuk kantor ato tas untuk bepergian, akan menentukan MEL-nya masing-masing. Yang jelas untuk semua tas, harus ada identitas kita disitu, berupa kartu nama atau secarik kertas yang sengaja ditulis dan dimasukkan kedalam tas tersebut. Apabila tas tersebut hilang, tertinggal ataupun tercecer di pesawat, kita mengharap agar orang yang dapat membaca identitas kita akan tergerak untuk mengembalikan tas tersebut. Saya denger di Jepang, kebanyakan orang menyimpan peluit disetiap tas-nnya. Peluit gunanya untuk kondisi darurat karena di Jepang rawan gempa, yang berfungsi sebagai alat komunikasi. Apabila misalkan tertimbun reruntuhan karena gempa, meniup peluit jauh lebih efektif daripada berteriak keras-keras. Perlu juga ditiru, toh harga untuk sebuah peluit tidak mahal!

Untuk tas bepergian misalnya, kudu ready to go sehingga apabila kita pergi mendadak tidak makan waktu lama untuk mempersiapkannya. Minimal harus ada set baju dalam, peralatan mandi dan obat-obatan sehari-hari.

Merencanakan apa yang menjadi MEL dalam kendaraan, rumah, tas ataupun yang lainnya ialah dengan membayangkan apa yang menjadi kebutuhan kita pada waktu situasi darurat, kepepet, terburu-buru ataupun yang sering kita cari dan diperlukan tetapi sering tidak ada. Selain itu, perlu ditambahkan item atau peralatan lain yang sangat dibutuhkan pada waktu kondisi darurat walaupun tidak setiap saat digunakan.

Seperti contoh temen saya yang selalu menaruh tusuk gigi di dompetnya, ataupun saudara saya yang selalu membawa sendok dan garpu karena merasa lebih yakin dengan kebersihannya, ada juga yang selalu menrauh uang Rp 100.000,- untuk keperluan darurat itu adalah contoh-contoh MEL yang disesuaikan dengan kebutuhan pribadi setiap orang.

Selain itu, harus ada item atau barang lain yang memang diperlukan dalam kondisi darurat yang harus selalu tersedia, seperti peluit, APAR, obat-obatan, nomer telepon tetangga dan satpam komplek rumah, nomer telepon emergency, lampu darurat dan lilin, sekring cadangan dan sebagainya. Peralatan-peralatan seperti itu sering dilupakan orang, padahal sangat penting dan bahkan bisa berakibat fatal apabila tidak tersedia di saat dibutuhkan. Barang-barang itulah yang sebenarnya harus  masuk dalam kategori MEL dengan kategori A.

Selamat memikirkan apa yang harus disediakan! Hehehe…

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s