Sakit gigi…

Saya mempunyai kesehatan gigi yang kurang baik. Sejak kecil sudah akrab menjadi langganan dokter gigi. Sudah tak terhitung berapa dokter gigi yang telah mencabik-cabik mulutku, melakukan perawatan buat gigi-gigi saya.

Jumlah gigi sudah tidak utuh lagi, kalau di buku-buku dibilang, jumlah gigi untuk orang dewasa sekitar 32 gigi, maka punya saya kurang dari itu. Yang tersisapun juga ada yang mempunyai tambalan.

Pagi ini kunjungan saya yang kesekian kalinya ke Drg Yanti yang berpraktek di Jl Sawojajar Bogor. Semalam gigi saya linu tak tertahankan, dan akhirnya saya minum asam mefenamat untuk penghilang nyeri agar saya bisa tidur.

Lubang digigi nomer 8 (istilahnya dokter gigi sih, hehehe, gigi nomer 8 adalah gigi geraham) saya itu memang sudah besar, sudah 75% dari area giginya. Ini tambalan yang kedua kalinya, setahun yang lalu saya tambal gigi di tempat yang sama, tetapi ternyata giginya berlubang lagi, sehingga harus ditambal lagi. Sebisa mungkin saya berusaha mempertahankan  agar gigi saya tidak dicabut, sebesar apapun tambalannya, kecuali dokter sudah menyerah dan memvonis untuk mencabutnya!

Karenanya, saya menduga, kalau ada sesuatu yang salah dengan tambalan terakhir gigi nomer 8 saya itu seminggu yang lalu.

Diperiksalah gigi saya, termasuk gigi nomer 8 itu. Ternyata tambalannya gak masalah, dan diketahui ada lubang baru yang cukup dalam di gigi nomer 7 sebelah  gigi nomer 8 itu. Dan, meskipun lubangnya kecil, tapi cukup dalam, sehingga sampai kesaraf gigi, itulah yang bikin saya sakit.

Saraf dan pembuluh darah pada gigi adalah bagian yang paling dalam dan paling sensitif, karenanya dia terletak dibagian yang paling terlindungi, di bagian dalam. Bila lubang telah mencapai saraf, sehingga saluran saraf dan pembuluh darah menjadi terbuka dan tidak terlindungi, akan membuat ‘sentuhan’ dari sisa makanan yang mengumpul dan gerakan mengunyah akan membuatnya linu. Suhu ekstrim minuman seperti dingin juga akan membuatnya ngilu.

Syaraf bertugas menyalurkan informasi dari gigi ke otak, sedangkan pembuluh darah bertugas menyuplai darah yang berisi nutrisi dan oksigen ke gigi sehingga gigi tetap hidup.

Akhirnya gigi nomer tujuh dilakukan perawatan dahulu, disterilisasi dan dimatikan sarafnya sebelum dilakukan penambalan. Artinya masih ada dua atau tiga kali kunjungan ke drg Yanti, hhmmm, mau gak mau saya harus bertemu dengan peralatan gigi yang siap mencabik-cabik mulut saya lagi, hehehe.

Dilain sisi saya berpikir, betapa ringkihnya tubuh manusia. Lubang yang sangat kecil telah membuat saya sakit luar biasa. Ada banyak ‘bom waktu’ pada tubuh kita yang akan membuat sakit tidak terperi pada kita sendiri. Selama semuanya berjalan normal, tidak akan menunjukkan gejala apa-apa dan sangat menunjang kehidupan kita, tetapi akan lain bila kita ditimpa penyakit. Organ tubuh seperti ginjal, hati, jantung, mata, tangan dan kaki adalah ‘bom waktu’ bagi diri kita sendiri bila kita tidak merawatnya dan yang paling penting adalah mensyukuri karunia-Nya atas semua ini.

Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? –Qs Ar Rahman (55):13-

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Sekelebatan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s