Kebaikan adalah kebenaran yang disampaikan secara santun…

Kebaikan adalah suatu perpaduan! Dia gabungan antara isi dan cara penyampaian. Kalau dalam istilah marketing harus ada keserasian antara contents dan packaging, isi dan kemasannya. Jika salah satu dari keduanya jelek, maka respon pasarpun juga akan jelek.

Yang pertama akan membuat orang tertarik, pasti pada kemasannya dulu, sebelum menilik isinya lebih dalam. Setelah kemudian dia membelinya, ia akan menilai isinya, dan apabila isinya ternyata tidak sesuai dengan apa yang ‘dijanjikan’ dalam kemasannya, maka ia akan merasa tertipu dan pasti tidak akan mengulanginya lagi untuk membelinya. Banyak sesuatu yang disampaikan secara santun, tetapi isinya adalah kebohongan, bukan kebenaran, maka yang terjadi adalah penipuan dan pencitraan semata.

Isi yang baik dan bermutu tetapi tidak dikemas dengan indah juga akan gagal di pasaran. Jangankan mencoba isinya, sekedar melirikpun juga emoh! Love at the first sight, cinta adalah pada pandangan pertama, dan pandangan pertama itu adalah pada kemasan!

Demikian juga dengan sebuah kebenaran!!

Sekarang lagi rame penyampaian tuntutan melalui demonstrasi. Mengenai upah kenaikan buruh misalnya, ribuan buruh turun kejalan, tidak bekerja seharian karena demonstrasi, dan membuat macet jalanan, bahkan memblokade jalan tol, seperti yang terjadi pada bulan Januari 2012.

Kebenaran yang ingin mereka sampaikan adalah perlunya kenaikan upah buruh. Upah buruh mereka rasakan tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar mereka karena naiknya harga barang-barang. Dan mereka memilih jalan demonstrasi untuk menyampaikan kebenaran yang ingin mereka sampaikan.

Yang terjadi kemudian justru ramai diperbincangkan efek dari demonstrasi itu. Macetnya jalan telah membuat perekonomian lumpuh sesaat, dan ribuan orang terlantar dan terjebak dalam kemacetan, para karyawan, anak-anak sekolah dan juga ibu-ibu yang akan berbelanja.

Dan penilaian masyarakat terhenti disitu aja, mereka ribut mengenai efek demonstrasi yang merugikannya dan tidak peduli lagi dengan isi tuntutan demonsrasi itu.

Contoh yang paling representatif mengenai kemasan yang tidak santun didalam menyampaikan sebuah kebenaran mungkin adalah FPI (Front Pejuang Islam). Lihatlah bagaimana FPI dengan pentungan, parang dan senjata lainnya mengobrak-abrik tempat-tempat maksiat yang seharusnya tutup pada bulan puasa.

FPI berdalih bahwa mereka tidak tiba-tiba didalam menjalankan operasinya. Eskalasi surat peringatan telah mereka lalui. Mereka mengatakan kalau telah berkirim surat peringatan kepada Kapolsek setempat untuk menutup tempat maksiat itu sesuai dengan peraturan yang ada. Pengakuan mereka, bahwa bukan hanya sekali surat peringatan itu dilayangkan, sebelum akhirnya diputuskan oleh mereka sendiri untuk bergerak memberangus tempat-tempat itu.

Pemberitaan dan penilaian masyarakat kemudian memang bukan pada isi kebenaran tersebut, tetapi cara FPI didalam melaksanakan aksinya. Kecaman ditujukan buat mereka, atas caranya yang tidak santun! Bukan masalah apa yang dikatakan atau diperbuat olehnya, tetapi bagaimana cara mereka mengatakan atau berbuat itu yang lebih utama!

Kebenaran yang tidak disampaikan secara santun adalah anarki!

Bahkan didalam penyampaian sebuah ajaran agama-pun, Allah SWT mensyaratkan untuk disampaikan secara santun sehingga hasil yang didapat efektif.

Ayat-ayat berikut menggambarkan hal tersebut:

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka.

-Qs Al Anaam (6):108-

Dalam ayat tersebut diatas, jelas tergambar, apabila kita menyampaikan sesuatu dengan menghina dan memaki maka efek yang terjadi adalah mereka malah akan membalasnya dengan lebih kejam dan sudah tidak memakai logika lagi.

Demikian juga pada ayat-ayat yang lain:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan HIKMAH dan PELAJARAN yang BAIK dan bantahlah mereka dengan cara yang baik..

-Qs An Nahl 125-

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu BERSIKAP KERAS lagi BERHATI KASAR, tentulah mereka MENJAUHKAN DIRI dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu.

-Qs Al Imran 159-

Itulah sifat sebagian besar manusia, yang memang cenderung melihat sesuatu dari kemasannya dulu.

Manusia yang bijaksana adalah yang mampu melihat sesuatu secara terpisah, bersifat objektif dan dapat mengambil hikmah dari apapun kejadiannya. Ia akan belajar mengenai kesabaran dari orang yang pemarah. Belajar untuk bersikap rendah hati dari orang yang sombong. Dan selalu mengambil pelajaran dan pengalaman dari keadaan yang jelek maupun dari orang-orang yang tidak baik.

Manusia yang bijaksana adalah manusia yang dapat membedakan isi dan kemasannya. Ia dapat mengambil sebuah ‘kebenaran’ meskipun hal itu tidak dikemas dengan baik. Ia dapat mengambil ‘isi’ dari penyampainya baik yang berpendidikan rendah maupun tinggi, baik dari golongan masyarakat strata sosial rendah maupun tinggi, dari berbagai golongan usia bahkan juga dari seorang yang ahli ibadah maupun tukang maksiat.

Seperti dalam sebuah kata-kata hikmah dari Ali Bin Abi Thalib RA: Lihatlah apa yang dikatakan, janganlah melihat siapa yang mengatakan.

Dan setelah kita kemudian memperoleh ‘kebenaran’ itu, apabila ingin menyebarkannya atau mengamalkannya maka sampaikanlah dengan cara yang santun, sehingga akan menjadi suatu kebaikan bagi kita dan dapat abadi dikenang dan memberikan manfaat bagi orang, seperti didalam ayat berikut:

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

-Qs Ibrahim (14):25-26-

Semoga kita menjadi penyampai kebenaran yang santun. Yang akan memberikan keteduhan bagi setiap orang, memberikan buah yang bermanfaat dan dapat bertahan lama didalam ingatan bagi yang menerimanya, laksana pohon rindang dengan akarnya yang kuat dan buahnya yang bermanfaat. Aamiin.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s