Itikaf

Itikaf artinya berdiam diri di masjid, sebagai suatu ibadah yang disunahkan, dan terutama banyak dilakukan pada waktu 10 hari terakhir di bulan Ramadan.

Dilakukan 10 hari terakhir bulan Ramadan karena mengharapkan keberkahan datangnya Lailatul Qadr. Lailatul Qadr sendiri adalah malam diturunkannya Al Quran sekaligus, dari lauhul mahfudz ke baitul izza’ (rumah keagungan). Dari baitul izza’ kemudian diturunkan secara berangsur-angsur pada masa kerasulan Nabi Muhammad SAW selama 23 tahun.

Ada banyak riwayat mengenai kapan datangnya lailatul qadr. Tetapi banyak dalil yang mengerucut ke 10 malam terakhir khususnya pada malam ganjil.

Salah satu dalil dan pendapat mengatakan, bahwa malam lailatul qadr jatuh pada malam ke 27 bulan Ramadan, dengan isyarat pada Qs Al Qadr. Jumlah kata pada surah tersebut ada 30 kata, dan seakan suatu isyarat, kata hiya (berarti: ia (malam itu)..), dalam rangkaian ayat terakhir …hiya hatta matla’il fajr, ada pada kata yang ke 27. Isyarat lain adalah, lailatul qadr (yang mempunyai 9 huruf hijaiyah) disebut 3 kali dalam surat itu, sehingga total apabila dikalikan 3 x 9 = 27. Wallahu alam bissawab.

Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.

-Qs Al Qadr (97):1-5-

Terlepas dari misteri kapan datangnya lailatul qadr yang memang tidak disampaikan secara eksplisit, merupakan hikmah bagi manusia untuk mendapatkan sesuatu tidak secara instan. Itikaf yang dijalankan, merupakan sarana kontemplasi pencarian jati diri, menemukan sisi ruhani kita, yang sering tersisih dengan jiwa dan pemenuhan kebutuhan fisik saja. Penemuan sisi ruhani, untuk menuju keabadian yang selamat!

Gambar diatas, adalah suasana itikaf dan qiyamul lail (bangun dan beribadah di waktu malam) di Masjid Al Akbar Surabaya pada malam ke 27 bulan Ramadan 1433H. Subhanallah, antusias warga Surabaya yang berbondong-bondong mendatangi masjid tersebut, sehingga masjid penuh sesak. Qiyamul lail yang dimulai dari jam 01:30 dinihari diisi dengan shalat tahajud, shalat tasbih dan shalat hajad, dan berakhir pada jam 03:00. Suasana sangat khusuk dan syahdu, sehingga tidak terasa air mata mengembang.

‘Akankah saya bertemu bulan Ramadan lagi tahun depan?’.

Pos ini dipublikasikan di Sekelebatan dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s