Mendiang Dua Ayah…

Ayah yang pertama adalah ayah kandungku, dan ayah yang kedua adalah ayah mertuaku. Dua-duanya sudah tiada. Saya menyebutnya Bapak untuk ayah kandungku, dan memanggil Ayah untuk ayah mertuaku. Bapak-ku meninggal tahun 1996, dan tidak sempat mengenal, kalo temannya akan menjadi ayah mertuaku pada tahun 2000. Ayah mertuaku meninggal pada tahun 2009.

Ada banyak persamaan diantara kedua ayahku itu. Sama-sama terlahir dari keluarga yang sangat sederhana dan sangat terbatas yang bisa bersekolah karena beasiswa. Ayahku bercerita karena keinginan sekolahnya yang kuat, ia sering berdiri ditembok Sekolah Rakyat (SR) waktu itu, mendengarkan guru yang sedang mengajar, dan sering ikut-ikut menjawab waktu ada pertanyaan, akhirnya didatangi guru SR-nya dan menyuruhnya masuk. Sedang Bapakku pernah bercerita, jika setiap kali ia berangkat sekolah, bertelanjang kaki berjalan sekitar 4-5 km, menyusuri pematang sawah tadah hujan, ia bertanya dalam hati ‘Akankah ia hanya begini saja, menjadi seorang petani?’ Kakek saya adalah petani, sehingga yang terkesan dari Bapak-ku, seorang petani adalah miskin.

Yang saya tangkap dari cerita kedua ayah itu adalah semangat yang kuat. Fasilitas dan keadaan tidak akan bisa membatasi sebuah cita-cita yang kuat. Bapakku jika tidak mengabulkan suatu permintaan tidak pernah dengan alasan tidak mempunyai uang (meskipun kenyataannya begitu), ia akan memakai alasan lain untuk menekankan bahwa fasilitas dan keadaan ekonomi bukanlah alasan penghalang kesuksesan. Didalam keluarga, mereka memberi semangat tanpa harus memanjakan!

Kedua ayahku dipertemukan di sekolah yang sama karena beasiswa di kota Yogyakarta. Bapakku adalah kakak kelas dua tingkat dari Ayahku. Keduanya pernah bercerita kepada saya, kalau memendam keinginan yang kuat untuk bersekolah di Teknik, tetapi beasiswa yang tersedia waktu itu menentukan lain. Ayah saya mempunyai banyak peralatan teknik, mulai dari buat menukang, kelistrikan sampai peralatan permesinan seperti Meja Bor dan Las Listrik. Sedangkan Bapak lebih suka tenggelam untuk mengamati dan terobsesi dengan teknologi baru, komputer, kalkulator, GPS dan telepon, disamping merancang sendiri semua bagian rumah dan membangun secara bertahap rumah yang kita tinggali. Penyaluran bakat teknik yang terpendam. Yang saya bisa ambil adalah, ada kalanya, meskipun kita telah berusaha dengan sangat kuat, tetapi keadaan menentukan lain, dan itulah kehendak ilahi, mereka tidak menyesalinya, dan menganggap hal itu yang terbaik.

Persamaan yang lain adalah antusiasnya. Keduanya mempunyai antusias yang sangat tinggi yang jarang saya temui pada orang lain. Keduanya meninggal karena sakit, dan meskipun waktu sakit, antusiasme untuk bercerita dan menanamkan nilai-nilai kehidupan tetap menyala-nyala, sehingga terlihat seperti orang sehat. Antusias untuk berbicara apa saja. Mereka bisa berbicara berjam-jam tanpa berkurang tensinya. Saya sering berdiskusi dengan Ayah berjam-jam, mendiang Ayah hafal dengan banyak sejarah, lengkap dengan nama tokoh dan tahun kejadian. Apabila dengan Bapak, beliau banyak bercerita tentang penafsiran Agama, teknologi, kepemimpinan, masa depan dan nilai-nilai kehidupan. Dan saya sering melihat Bapak bekerja tanpa tidur bila dia mempunyai masalah yang belum terpecahkan di program komputer. Antusias adalah ruh dari kedua ayahku.

Bapak dan Ayah sangat menjaga kebersihan dan penampilan diri. Bapak setiap kali mandi dirumah, pasti akan membersihkan kamar mandi dulu, yah bener, setiap kali!!! Bapak mengajarkan kepada saya, bagaimana caranya membersihkan kamar mandi sampai kesudut-sudutnya. Jangan sampai terlihat ada rendaman cucian atau meninggalkan baju bergantungan di kamar mandi pada waktu kita telah selesai, jika ada, Bapak pasti akan berkicau kekita untuk segera membereskannya. Sedangkan Ayah ‘lebih parah’ lagi, beliau akan mengajarkan cara membersihkan kamar mandi kepada anak buahnya dan turun langsung membersihkan kamar mandi apabila dilihat ada yang kotor pada waktu kunjungan ke daerah. Pada waktu sakitpun juga begitu, kedua ayahku ingin tetap terlihat bersih dan wangi, dan tetap harus mandi, walaupun hanya dengan diseka. Mereka tidak mau terlihat awut-awutan, bau dan ‘mengundang iba’ pada waktu sakit.

Kedua ayahku adalah orang yang sebenarnya sangat sentimentil. Tetapi sebagai seorang ayah dan pemimpin, mereka harus terlihat tegar. Tidak boleh terlihat ada keluh kesah keluar dari kata-kata mereka. Kedua ayahku adalah orang yang sangat sensitif, tetapi isak air mata hanya boleh terjadi dibalik pintu, dan logika harus bisa menguasai perasaan.

Bapak akan selalu memeluk dan menciumi anak-anaknya, dalam setiap kesempatan. Jika kita pulang liburan kuliah, akan disambutnya dengan sukacita dan pelukan, demikian juga jika kita berangkat untuk kembali kuliah. Bapak adalah anak bungsu yang kolokan, dia bercerita, dulu jika pulang liburan dari asrama sekolahnya dikota, ia akan selalu dirumah, seakan tak ingin kehilangan waktu untuk selalu bersama nenek.

Sedangkan Ayah, dia sangat tidak ingin ‘merepotkan’ anak-anaknya dalam hal sekecil apapun. Jika kita pulang kerumah, persiapan kamar sudah dilakukan jauh hari sebelumnya, sampai ke hal yang detil. Sekali dan yang terakhir saya nonton film ‘Laskar Pelangi’ dengan Ayah dan duduk disebelahnya, terlihat ia diam-diam menyeka air matanya, mungkin terharu karena ceritanya yang mirip-mirip perjuangan hidupnya. Ayah juga mempunyai penyakit jantung bawaan, tapi ia tidak ingin terlihat ‘sakit’ dan disiplin mengatur pola hidupnya.

Banyak kenangan indah bersama keduanya yang menginspirasi hidup saya. Pesan-pesan nilai kehidupan, yang dulu semasa keduanya hidup seakan tak bergema, justru sekarang semakin terasa menguat didalam dada dan pikiran saya.

Hhmmm, disaat Idul Fitri ini, disela-sela kunjungan silaturahmi ke keluarga, bayangan mendiang dua Ayah muncul bergantian. Sambil menerawang jauh, dan melihat para keponakan yang terus tumbuh berkembang, sebagai penerus generasi!

Teriring doa, semoga keduanya beristirahat dengan damai, dan mendapatkan surga-Nya, Aamiin!

Tlanakan – madura, 4 Syawal 1433H.

Pos ini dipublikasikan di Renungan. Tandai permalink.

3 Balasan ke Mendiang Dua Ayah…

  1. aanhusna berkata:

    Aamiin…. Sdh lama ingin nulis ttg Bapak yg menginspirasi, Alhamdulillah terobati, ntar pgn nulis Bapak dr sisi yang lain, dr si bungsu ini hahahehe :p.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s