Rasanya saya tak ingin mendengar berita itu. Dikala harapan sedang memuncak, di saat usia yang sudah tidak muda, akhirnya kuputuskan untuk tidak menyerah, walau asa sudah dibilang hampir tiada.
Saya ingin mati dalam keadaan berusaha, dalam keadaan mempunyai harapan walau tak kunjung datang!
Ku tak ingin berkeluhkesah, karena seakan tidak mensyukuri nikmat-Nya, tapi saya adalah manusia, yang kadang ingin mencurahkan perasaan kepada-Mu.
Mendambakan dan memohon sesuatu yang telah amat lazim dimiliki oleh semua keluarga, tetapi, Allah masih belum meridhainya.
Dan puisi WS Rendra ini, seakan mewakili kegelisahanku sekaligus meberikan ketegaran bagiku…
—————————————————————–
Bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipan-Nya
Bahwa rumahku hanyalah titipan-Nya
Bahwa hartaku hanyalah titipan-Nya
Bahwa putraku hanyalah titipan-Nya
Tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik-Nya itu ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
Kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka
Kusebut itu sebagai panggilan apa saja untuk melukiskan kalau itu adalah derita
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak popularitas, dan
kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
seolah semua “derita” adalah hukuman bagiku
Seolah keadilan dan kasih-Nya harus berjalan seperti matematika:
Aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas “perlakuan baikku”,
Dan menolak keputusan-Nya yang tak sesuai keinginanku
Gusti,
Padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanya untuk beribadah.
“Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja”
————————————————————
Tlanakan, Madura, Jumat, 19 Oktober 2012.