Jika anda mengakui hal yang negatif, anda akan mendapatkan hal yang positif…

Jokowi Ciliwung

Jokowi menjadi newsmaker sepanjang tahun 2012. Dia memang layak mendapatkannya. Tidak perlu seperti elite lainnya yang perlu mengundang media dengan jumpa pers atau untuk mengikuti aktivitasnya dan kemudian diberikan ‘amplop’ agar dimuat di media-nya, Jokowi bahkan didatangi wartawan sejak pagi, sampai ia sendiri mengatakan ‘Masuk ke gorong-gorongpun saya diberitakan!’. Hhmmm, ia menjadi magnet bagi pemburu berita.

Banyak hal yang bisa dibahas dari Jokowi, dan ada satu hal yang menarik yang bisa saya sampaikan disini. Jokowi penuh dengan kerendah-hatian, down to earth, humble, tidak menggurui dan lebih banyak mendengar. Ia mau mengakui sesuatu hal yang negatif, sehingga orang melihatnya bahwa ia manusia biasa tetapi mau bekerja keras untuk mewujudkannya.

Al Ries dan Jack Trout, pakar Marketing yang melegenda menyampaikan dalam bukunya yang menjadi best seller dunia: ‘The 22 Immutable Laws of Marketing’, the Law of Candor (hukum keterusterangan) adalah: When you admit a negative, the prospect will give you a positive, jika anda mengakui suatu hal yang negatif, pasar akan memberikan respon yang positif.

Kembali ke Jokowi, dia selalu berterus-terang untuk suatu hal yang negatif dan tidak berusaha menutup-nutupinya dengan bahasa-bahasa yang diplomatis. Ketika ia mengadakan kunjungan tiba-tiba pada tanggal 8 Desember 2012 lalu, untuk melihat kondisi jembatan gantung di Jakarta Selatan, ia terus terang berkata ‘Yah memang bahaya kok, harus segera diperbaiki!’.  Dan ia mengucurkan dana Rp 20 juta untuk bantuan swadaya kepada masyarakat. Dikunjungi oleh pejabat tinggi bagi masyarakat di kawasan marjinal seperti Srengseng Sawah Jaksel sudah merupakan keistimewaan, apalagi pejabatnya dengan humble berterusterang akan kondisi jembatan tersebut, yang menandakan empati bagi masyarakat, dan akhirnya, walau bantuan Rp 20 juta, yakin tidak akan mencukupi, mereka dengan semangat berusaha mewujudkannya, swadaya masyarakat!

Perayaan pesta tahun baru 2013 di Jakarta berakhir dengan sukses. Car Free Night untuk kawasan Monas, Thamrin dan Sudirman menuai banyak pujian. Idenya sangat sederhana, sampai saya berpikir ‘Kenapa gak dilaksanakan dari dulu ya??’, dan juga memancing kota-kota lain untuk mengikutinya. Kuta, Kawasan Puncak, Malioboro kemudian juga mengharamkan mobil untuk lewat kawasan tersebut pada malam pergantian tahun itu. Meskipun sukses, alih-alih Jokowi menepuk dada dan berbangga hati, tapi ia malah mengatakan ‘Pelaksanaan car free night yang pertama ini masih jauh dari sempurna, toilet yang tidak mencukupi, tempat sampah yang kurang, pengaturan tempat yang belum bagus dan lainnya…’. Jokowi berterusterang, dan keuntungan yang lain dengan keterusterangan ini, media atau kelompok yang berusaha mencari celah dan kelemahan dia dengan perayaan Car Free Night ini otomatis terbungkam, wong Jokowi sendiri yang udah bilang, hehehehe…

Banjir yang melanda Jakarta pada minggu akhir 2012 sebenarnya termasuk parah. Kawasan Thamrin – Sudirman yang menjadi ikon ibukota negara juga gak luput dari banjir. Dan Jokowi, meskipun belum bisa mengatasinya, ia hadir ditengah-tengah masyarakat yang kebanjiran, dan ia mengakui bahwa ‘Saya bukan Superman!’. Kehadirannya membuat masyarakat merasa mendapat pemimpin yang ‘mau mengerti’ dan tidak ‘merasa ahli’. Tidak seperti pemimpin lain yang selalu berdalih ‘Ini adalah siklus 5 tahunan’, ‘Banjir disebabkan oleh budaya masyarakat membuang sampah yang sembarangan’ atau ‘Banjir ini adalah banjir kiriman dari Bogor’, tapi Jokowi lebih banyak diam tidak berkomentar, ia hanya berkata ‘Saya bukan Superman!’ dengan nada yang tidak arogan sambil terus terjun langsung di lokasi banjir. Waktu memberikan bantuan beras dan uang tunai untuk kelurahan yang kebanjiranpun ia mengatakan ‘Ini hanya bantuan biasa, memang dipersiapkan untuk warga yang terkena banjir!’, dia tidak berlaku seperti Sinterklas yang royal, tetapi ia berlaku sebagai pelayan bagi masyarakat.

Meski terjerat kasus Hambalang, mantan Menpora Andi Alifian Malarangeng menuai hal yang positif dari sikap ksatrianya yang mundur dari jabatannya begitu ditetapkan sebagai tersangka. Yang ia katakan adalah ‘Saya mundur karena saya ingin konsentrasi pada kasus yang menimpa saya!’. Pernyataannya mengakui hal negatif yang ada pada dirinya, bahwa ia manusia biasa yang tidak mungkin berkonsentrasi pada pekerjaannya karena ia mempunyai kasus yang pasti akan menyita waktu dan pikirannya. Sikap berterus terang akan hal negatif itulah yang menuai reaksi positif dari masyarakat.

Beberapa kali kita dengar, pabrikan otomotif menarik produknya untuk dilakukan perbaikan. Pada satu sisi, pabrikan tersebut mengakui bahwa produknya ‘cacat’ produksi, dan kemudian mereka melakukan pemanggilan (recall) pada produknya untuk dilakukan perbaikan secara gratis. Tercatat Honda Jazz, Freed, CRV dan Nissan Juke pernah mengadakan recall untuk perbaikan. Kesan dari pasar justru positif, mereka memandang bahwa pabrikan yang melakukan perbaikan tersebut mempunyai tanggung-jawab terhadap produknya dan selalu melakukan riset untuk kesempurnaan produknya.

Perhatikan bagaimana dua orang atau kelompok yang bertikai. Pertikaian kedua orang atau kelompok tersebut terjadi karena mereka saling menutupi kesalahannya dan tidak mau mengakuinya. Tapi ketika salah seorang atau kelompok dengan ksatria mengakui bahwa ia bersalah, maka kelompok yang yang lain akan bereaksi positif dengan memaafkan dan mau mengerti, bahkan juga mengakui bahwa kelompoknya juga mempunyai kesalahan. Darinya, timbullah musyawarah untuk akhirnya mufakat!

Manusia bukanlah malaikat yang tidak pernah salah dan selalu mengerjakan perbuatan yang baik saja. Mengakui bahwa suatu perbuatan itu salah adalah langkah awal menuju kebaikan, karena berarti ia tahu dan bisa mengidentifikasi bahwa perbuatan itu salah!

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Jika anda mengakui hal yang negatif, anda akan mendapatkan hal yang positif…

  1. Hendra Taruna berkata:

    yup betul sekali mas, nice article & juga nasihat buat saya sendiri… ^_^, sebenernya ga ada kerugian sedikit apapun kalau kita mengakui kesalahan kita sendiri, ustru jika kita salah maka kita akan menutupinya dengan kesalahan yang lain, sebagaimana dosa ditutupi dengan dosa yang lain…

  2. Ping balik: Prabowo-ku, Prabowo-mu dan ‘Prabowo sendiri’… | An Odyssey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s