Lagi, Jokowi!

Biografi Jokowi

Mampirlah ke toko buku, seperti Gramedia, Gunung Agung atau Toga Mas, dan lihatlah di rak buku bagian best seller atau biografi tokoh. Akan banyak buku biografi tokoh Indonesia, dan yang paling menyolok adalah buku tentang Jokowi!

Banyak yang bilang kalau tahun 2013 ini adalah Tahun Politik, karena di tahun 2014 kita akan menghadapi Pilpres. Pilpres kali ini akan lebih seru, sebab dipastikan kalau SBY tidak diperkenankan mencalonkan lagi, sehingga memunculkan banyak tokoh untuk berlaga berebut RI-1. Dan, jika toko buku adalah salah satu dari etalase, sedangkan buku adalah pajangannya, maka banyak tokoh untuk berebut menjadi pajangan yang indah!

Tokoh-tokoh yang bermunculan dengan biografinya yang terpajang di toko buku adalah: Dahlan Iskan, Mahfud MD, Chairul Tanjung adalah nama-nama baru yang bermunculan. Kemudian ada tokoh-tokoh yang telah lama dikenal oleh masyarakat, dan biografinya lebih dahulu muncul seperti BJ Habibie, Jusuf Kalla, Wiranto, dan lainnya.

Yang menarik adalah Jokowi. Jumlahnya paling banyak, dengan ragam sisi pandang dan penulis yang berbeda. Dan, rasanya, buku-buku tersebut bermunculan alami, ditulis oleh penulisnya tanpa diminta oleh parpol apalagi oleh Jokowi sendiri. Alami maksudnya, tulisan itu ada karena memang pasar menghendaki, banyak orang ingin mengetahui seluk beluk Jokowi lebih mendalam, dan karena penulis juga sebuah profesi, tentu akan berusaha memenuhi kebutuhan pasar dengan menyajikan informasi yang menarik, sehingga bukunya menjadi best seller dan royaltipun akan deras mengucur.

Hhmmm, Jokowi memang sebuah fenomena. Hobinya yang blusukan, tampangnya yang sederhana, ucapannya yang apa adanya dan juga sikapnya yang berani menembus kelaziman seakan menjadi harapan bagi banyak orang untuk menjadi pemecah masalah yang segunung di negeri ini.

Di suatu negara yang sistemnya belum dapat berjalan dengan sempurna, kemunculan figur dari seorang tokoh memang kerap terjadi. Seandainya hukum sudah berjalan dengan baik dan para penegak hukumnya yang bersih dan berwibawa, pendidikan yang telah merata, fasilitas kesehatan yang memadai dan murah, fasilitas umum seperti transportasi, taman kota, jalanan, perbelanjaan dan lainnya mudah diakses dan terjangkau, kemunculan tokoh sekaliber Jokowi tidaklah akan menimbulkan euphoria seperti di Indonesia.

Ditengah pemberitaan banyaknya korupsi yang dilakukan oleh politisi, pejabat pemerintah ataupun aparat keamanan, sosok Jokowi seolah menjadi kontras, sehingga semakin banyak dielukan. Belum setengah tahun menjabat jadi Gubernur DKI Jakarta saja, ia telah masuk dalam bursa calon presiden. Dan bukannya sekedar masuk bursa, tapi ia menempati tempat teratas dalam polling capres.

Seakan membentuk sebuah ‘sekte’ baru, Jokowi dengan gaya kepemimpinannya yang khas semakin membuat banyak jumlah pendukungnya. Para pendukung inilah yang mendorong-dorong ia dan beropini untuk nyapres di 2014.

Disinilah bibit fanatisme membabi buta mulai timbul!

Diawali dari kekaguman pada sosok Jokowi, kemudian menjadi seorang loyalis, lalu pemberitaan media yang tak lelah menampilkan sepak terjang Jokowi yang kebanyakan pada sisi baiknya saja, yang akhirnya timbul fanatisme buta terhadap Jokowi.

Pada tahapan fanatisme buta, seorang loyalis menjadi tidak tahan pada setiap kritik yang ditujukan pada pemimpinnya, kemudian membenarkan segala sepak terjang pemimpinnya yang kemudian akan menjadikan pemimpin tersebut hanyut, tidak peka pada kritik dan akhirnya menjadi seorang tiran.

Sebaiknya kita tetap berpijak dan setia pada sistem, bukan pada individu atau pimpinan. Setia pada sistem akan selalu menjaga ‘kewarasan’ nalar dan logika kita untuk tetap objektif. Di Indonesia, sudah saatnya para pemimpin menciptakan sistem yang rigid dan berkesinambungan pada setiap pergantian kepemimpinan nasional. Sehingga nantinya, tidak timbul loyalis-loyalis yang seperti sekarang seperti loyalis Soekarno, Soeharto, Gus Dur, Megawati dan bisa jadi Jokowi!

Kesetiaan dan fanatisme hanya dapat ditujukan kepada Allah Swt, dan kita bergerak sesuai dengan tuntunan-Nya. Artinya, kita akan mendukung sebuah pemerintahan karena hal itu memang dianjurkan oleh agama, selagi pemerintahan itu tidak bertentangan dengan ajaran-Nya! Dan tugas dari manusia adalah saling nasehat-menasehati sesamanya, sehingga kita tidak menjadi bangsa yang merugi!

Bagi saya, biarkan Jokowi menuntaskan kerja mulianya sebagai Gubernur DKI yang merupakan ikon dan ibukota negara ini. Saya mendambakan ibukota yang efisien, dan semoga dibawah kepemimpinan dia, hal itu akan terwujud!

Pos ini dipublikasikan di Sekelebatan dan tag , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Lagi, Jokowi!

  1. Ping balik: Prabowo-ku, Prabowo-mu dan ‘Prabowo sendiri’… | An Odyssey

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s