Bangsa tanpa cita-cita (?)

Garuda Pancasila

Dulu, waktu kita kecil, masih kanak-kanak, sering ditanya ‘Nanti kalau sudah besar jadi apa?’. Namanya aja masih kecil, jawabnya juga bingung, ingatnya biasanya ke profesi yang berseragam, lalu kita jawab, ‘Ingin jadi dokter!’. Ketika pertanyaan serupa dilontarkan lagi selang berapa lama, jawabnya, ‘Ingin jadi polisi!’, maklum habis liat polisi patroli kali, sehingga yang terlintas waktu itu ya Polisi.

Mungkin juga karena bingung, temenku SD banyak juga yang menulis ‘Ingin menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa!’. Hhmmm, cita-cita yang mulia, meskipun gak tahu ntar juga jadi apa. Hehehe…

Jika sekarang kita juga bertanya pada anak kecil pertanyaan yang serupa, jawabannya akan sama, selalu berubah-ubah, inkonsisten dan kadang terlalu umum. Kita memakluminya, namanya juga anak kecil!

Tapi, kita sendiripun juga bingung, ketika ditanyain orang iseng, ‘Apa cita-cita bangsamu dan negaramu, Indonesia?’ Sumpah, saya juga bingung untuk menjawabnya, dan setelah muter otak, maka keluarlah jawaban diplomatis ‘Akan menjadi bangsa yang unggul, makmur dan sejahtera!’ Kalaulah ditanya lebih detail lagi, ‘Unggul seperti apa?’ atau ‘Makmur dan sejahtera yang bagaimana?’, matilah kita, gak bisa menjawabnya!

Gak bisa menjawab karena kita tidak pernah lagi mendengarnya dari pemerintah sebagai orang tua dari anak-anak bangsa ini.

Pemerintah seakan tidak mempunyai tujuan yang spesifik (correct me if I’m wrong!). Cita-cita bangsa seakan-akan digantungkan pada persepsi masing-masing anak bangsa. Tentu, manusia menginginkan kehidupan yang makmur, mudah dapat pekerjaan, berpenghasilan besar, pendidikan gratis, lalu lintas lancar, transportasi gampang, kesehatan gratis, harga kebutuhan pokok murah, sarana hiburan banyak, keamanan terjamin, kota yang bersih, hukum benar-benar ditegakkan, dan sebagainya, pokoknya laksana kehidupan di ‘surga’ deh, yang baik-baik saja!

Kita jadi malu sendiri, karena persis kembali menjadi anak kecil lagi, ketika ditanya ‘cita-cita bangsa’ ini. Jawabanya seperti tadi, bukan cita-cita, tapi mimpi di siang bolong!

Dibilang mimpi di siang bolong karena cita-cita tadi tidak spesifik. Belum lagi melihat kenyataan, kalo ternyata ‘negeri yang gemah ripah loh jinawi’ ini ternyata masih impor bawang putih, gak tanggung-tanggung 95% kebutuhan bawang putih adalah impor!

Kenyataan lagi, kalo kita sudah bukan negara pengekspor minyak. Sejak tahun 2008 akhir, Indonesia merasa ‘malu’ untuk tetap jadi anggota OPEC dan memilih untuk mengundurkan diri, karena sejak tahun 2003 kita adalah importir minyak. Sebenarnya, bukan karena cadangan migas di Indonesia tidak ada, tetapi karena sulit untuk melakukan eksplorasi sumur baru di Indonesia karena alasan keamanan sosial. Akibatnya, sumur-sumur yang telah ada tergerus cadangan minyaknya, sementara sumur baru dengan cadangan minyak baru belum tergali!

Kenyataan lagi, walau sesak menerimanya, harus kita akui bahwa kita bukanlah negara agraris lagi! Negara agraris adalah negara yang mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian sebagian besar warganya dan menjadi tulang punggung perekonomian bangsa tersebut. Nah sekarang kita lihat, semua ikon produk pertanian kita mengimpornya. Mulai dari beras, ketan, gula, bawang putih, beragam buah-buahan, daging, susu, garam, dan lainnya. Bukan berarti tanah Indonesia sudah tidak subur, tanah Indonesia tetaplah seperti dulu yang ‘tongkat dan kayupun jadi tanaman’. Atau karena penduduknya yang sudah makmur dan bekerja di sektor lain, wah, gak juga, pengangguran di Indonesia masih banyak. Atau bisa jadi karena lahan yang semakin sempit, wah ini jelas-jelas bukan alasan yang masuk akal, masih ribuan pulau di Indonesia yang tidak berpenghuni. Terus kenapa sudah bukan negara agraris lagi?

Kenyataan-kenyataan tersebut membuat kita merasa semakin jauh dari cita-cita.

Dulu, waktu jaman orde lama – meskipun saya tidak mengalaminya, seperti yang saya baca -, jargon-jargon singkat tetapi visioner yang berupa ungkapan cita-cita bangsa  seperti berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) ataupun swadhesi (gemar memakai produk dalam negeri) sering didengungkan. Kemudian, beralih ke orde baru, kita dicekoki dengan cita-cita bangsa, sehingga kita mengenal Repelita setiap lima tahunan yang dituangkan dalam GBHN setiap tahunnya. Jargon yang terkenal yang merupakan cita-cita pemerintah adalah swasembada pangan dan tinggal landas!

Untuk swasembada pangan misalnya, pemerintah berusaha dengan segala cara agar kebutuhan pangan dalam negeri dapat dipenuhi sendiri. Harga pupuk disubsidi, pembukaan lahan digalakkan dengan transmigrasi dan impor dibatasi.

Sedang ‘tinggal landas’ direpresentasikan dengan kemajuan teknologi yang ditandai dengan kemampuan bangsa untuk membuat barang-barang berteknologi tinggi untuk kepentingan strategis seperti pesawat terbang, kapal laut, kereta api dan barang-barang kebutuhan dasar industri.

Tinggal landas tanpa meninggalkan kekhasan bangsa sebagai negara agraris, itulah cita-cita orde baru!

Cita-cita yang benar kudu SMART (Specific, Measurable, Attainable, Realistic dan Timely manner). Kalo tidak SMART, jadinya seperti cita-citanya anak kecil saja, mimpi doang, membayangkan yang indah-indah seperti sorga tanpatau harus berbuat apa untuk mewujudkannya.

Setelah orde baru usai dan era reformasi dimulai, bangsa Indonesia seakan-akan menjadi bangsa yang ditelanjangi dan cita-citanya seperti dihempaskan oleh kekuatan luar atas nama kebebasan pers, Hak Asasi Manusia (HAM) dan perdagangan bebas.

Kita menjadi tidak tahu ketika ditanyai ‘Apa cita-cita bangsamu, negaramu, Indonesia?’

Tapi rasanya sebuah bangsa tanpa cita-cita adalah sebuah kemustahilan. Presiden dengan para mentrinya yang duduk di kabinet, ditambah dengan para anggota parlemen yang merupakan wakil rakyat, tentu bukanlah orang yang bodoh.

Kalo seperti itu keadaannya, dan memang terdapat road map perjalanan bangsa Indonesia ke depan, baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang, berarti yang diperlukan adalah sosialisasi dari para pemimpin bangsa tersebut.

Sosialisasi dari pemimpin bangsa dengan bahasa yang sederhana yang mudah diterima rakyatnya sehingga kita semua sebagai rakyat berusaha membantu mewujudkannya!

Cita-citanya yang sederhana saja: tahun 2014 nanti sudah tidak impor beras, tahun 2015 giliran bawang putih sudah diproduksi 100% oleh dalam negeri dan tahun 2017 udah punya mobil nasional. Sederhana bukan!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Bangsa tanpa cita-cita (?)

  1. Graziani berkata:

    jarang ya yg punya cita2 jadi pengusaha, padahal bangsa ini msh butuh banyak pengusaha. Paling2 jwbnya pengen jadi dokter.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s