Prabowo-ku, Prabowo-mu dan ‘Prabowo sendiri’…

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

There are three sides to every story, your sides, their sides and the truth. Anonymous.

Tiga kali saya menuliskan tentang Jokowi di blog saya ini, semua tentang hal positif dari dia, kekaguman saya kepadanya. Tulisan terakhir saya dibuat bulan Maret 2013, atau sekitar 5 bulan setelah Jokowi dilantik, saya sudah mulai khawatir, karena konsentrasi dia sudah diganggu, menggadang-gadang dia untuk maju di Pilpres. Harapan saya agar dia tetap menjalankan amanahnya, karena dengan dia di Jakarta (dan terutama terbantu dengan Ahok-nya), saya seakan melihat kota Jakarta yang akan seperti kota-kota dunia lainnya: mempunyai MRT, lalu-lintas lancar, taman kota yang banyak dan bersih. Harus ada pembuktian dahulu, meninggalkan Jakarta kurang dari dua tahun karena Pilpres, saya melihatnya bukan rekam jejak yang baik!

Sebaliknya tentang Prabowo. Ada seorang temenku, seorang marinir, yang kebetulan menjaga ibukota pada waktu krisis Mei 1998. Dulu, ketika 1998, marinir termasuk pasukan yang disenangi oleh para demonstran, karena aksinya yang lebih simpatik. Temenku, walaupun tidak secara langsung berhubungan dengan Prabowo, mendengar sepak terjang Prabowo, dan dimata kebanyakan prajurit, Prabowo melegenda, dan beritanya positif!

Setiap kali, temenku marinir tersebut selesai berbicara tentang Prabowo, saya selalu katakan padanya, bahwa Prabowo adalah pelanggar HAM! Sama sekali tidak tertarik untuk membahas seorang pelanggar HAM, itu sekitar 1-2 tahun yang lalu! Dalam hati saya berucap, kekaguman seperti temenku marinir tersebut sifatnya emosional, dan biasanya saya tidak terlalu suka karena kandungan subjektifitasnya yang tinggi.

Sahabatku lain lagi, dia ceritakan, bahwa sejak 2009 ia telah memilih Prabowo, meski kala itu bersanding dengan Megawati. Ia melihat sosok Prabowo-nya, bukan Megawatinya! Wow, sejak 2009?!? Ini menarik, pasti ada alasan ideologis yang lebih dalam tentang Prabowo, dan saya mulai berminat untuk lebih menyimaknya.

Dan kemudian seorang yang lain yang sangat dekat dengan saya, seorang aktifis, bercerita tentang Prabowo. Iya diundang oleh Prabowo kerumahnya di Hambalang. Aktifis ini kegiatannya kerap berseberangan dengan kebijakan pemerintah, utamanya dibidang migas. Yang menarik, gagasan-gagasan seperti itu ternyata mengundang minat seorang Prabowo!

Dan dimulailah pencarian dan pengamatan sosok Prabowo!

Tentang HAM, seribu kalipun Prabowo berbicara pasti tidak akan mengubur masalah HAM yang melekat padanya untuk peristiwa tahun 1998. Dijaman yang kebebasan persnya sudah ‘melewati batas’ ini, opini dari seorang yang tidak relevanpun bisa masuk dalam sebuah pemberitaan. Seorang saja yang menggugat tentang HAM pada Prabowo bisa menjadi pemberitaan nasional.

Tentang HAM, saya melihatnya sebagai sebuah kesalahan institusional. Ada adagium, tidak pernah ada penyebab tunggal didalam sebuah kecelakaan, semuanya bersebab-musabab yang saling berkaitan satu sama lainnya. Apalagi kalau dilihat bahwa konteksnya pada waktu itu adalah ‘krisis’ yang hampir mengarah kepada ‘chaos’, dimana segala tindakan pencegahan harus dilakukan.

Untuk sebuah kesalahan ‘institusional’ harus ditebus dengan harga yang mahal karena menyangkut integritas TNI dan kepercayaan masyarakat padanya. Karena itu diperlukanlah sebuah kambing hitam, yang kemudian dilekatkan pada seorang Prabowo. Dan, Prabowo adalah kambing hitam yang sangat baik dalam arti yang sesungguhnya. Dia rela tidak bersuara karena alasan sumpah Sapta Marga, dan yang lebih dari itu adalah, karena ia sadar bahwa dengan kesediaannya menjadi ‘kambing hitam’ permasalahan bisa dianggap selesai, bangsa Indonesia tidak larut didalam energi negatif penghujatan yang menguras produktifitas bangsa.

Ada satu tulisan yang merekonstruksi secara bagus peristiwa 1998. Tulisan itu dibuat oleh media luar Asiaweek, No. 8/Vol. 26, 3 March 2000. inilah tulisan yang menurut saya mempunyai kadar objektifitas yang lebih baik. Terjemahannya dapat dibaca disini.

Kemudian akhir-akhir ini, keluarlah salinan surat rekomendasi dari DKP untuk pemecatan Prabowo. Surat yang semestinya termasuk dalam kategori Rahasia Negara ini beredar, dan menambah keyakinan saya kalau Prabowo adalah kambing hitam, ia menjadi sasaran tembak dari mantan oknum korpsnya sendiri yang saat ini sedang menjadi timses dari kubu sebelah. Isu HAM sama sekali tidak pernah diutak-atik ketika Prabowo menjadi cawapresnya Megawati pada tahun 2009.

Satu hal lagi yang membuat keyakinan saya bahwa Prabowo tidak bersalah adalah kedekatannya dengan aktivis sejak lama. Banyak aktivis 98 dan bahkan korban penculikan yang ada di Partai Gerindra, seperti Fadli Zon, Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam, Desmon J Mahesa dan Aan Rusdiana. Dan bahkan, terungkap bahwa ia juga akrab dengan Soe Hok Gie, seperti tertulis pada Koran Sinar Harapan disini. Kemudian saya teringat, pada seorang sahabat yang aktifis yang saya sebut dimuka yang pernah diundang kerumahnya di Hambalang, hal ini mengkonfirmasi bahwa Prabowo adalah sosok yang sangat peduli terhadap permasalahan bangsa ini.

Permasalahan HAM-nya Prabowo kemudian saya anggap selesai!.

Aristides Katoppo

Pencarian saya kemudian, menyoal Prabowo dari segi leadership-nya, karena kita akan mencari pemimpin nasional.

Prabowo mulai kerap terpampang di media ketika partainya sibuk mencari teman koalisi. Dan akhirnya, dengan tambahan suara dari Golkar, PPP, PKS, PAN, PBB dan terakhir Demokrat, koalisi merah putih ini berhasil mengusung Prabowo menjadi capres tahun 2014.

PDIP selalu mengibaratkan bahwa koalisi yang diusungnya adalah koalisi ramping dan merupakan koalisi kerakyatan, sedangkan utnuk koalisi yang mengusung Prabowo, PDIP menyebutnya sebagai koalisi elit.

Sekilas terlihat benar, apa yang ‘dituduhkan’ oleh PDIP pada koalisi merah putih ini. Tetapi saya melihatnya dari sisi yang berbeda. Prabowo selalu menegaskan bahwa ia membutuhkan sebanyak-banyaknya dukungan anak bangsa untuk koalisinya, ia tidak membatasinya, ia mengatakan sebanyak-banyaknya!

Didalam membangun, diharapkan semua elemen bangsa dapat berpartisipasi, dan itu tidak boleh dibatasi. Gesekan-gesekan yang terjadi antar elemen bangsa, itu sangat wajar, dan disinilah dibutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk menjadikan perbedaan itu sebagai sebuah kekuatan, dan itu ada pada Prabowo Subianto.

Apabila ada yang bangga mengatakan bahwa ia hanyalah koalisi yang ramping, tidak membagi-bagi kekuasaan dan membatasi jumlah koalisinya, justru itulah koalisi yang bersifat elitis!

Dan terbukti, dukungan dari elemen masyarakat yang non parpol mengalir deras ke Prabowo. Pendukungnya sangat bervariasi, artis, penyanyi dan seniman lebih banyak yang mendukung Prabowo, buruh juga mendukung Prabowo karena Prabowo satu-satunya capres yang datang pada waktu aksi buruh May Day 2014 di GBK dan menandatangani kontrak politik, para kiai dan ulama dengan para santrinya yang jauh lebih banyak jumlahnya daripada dukungan kepada pasangan capres yang lain, ibu-ibu dengan berbagai atribut, seperti kelompok pengajian dan arisan, tukang becak, para petani dan nelayan, Aktivis 98, bahkan dari elemen bangsa yang kerap bertampang sangar seperti FPI, FBR, Pemuda Pancasila dan FKPPI juga mendukung Prabowo. Hal itu menunjukkan bahwa Prabowo mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi yang dipercaya oleh semua elemen bangsa untuk memimpin Negara ini.

Sifat kepemimpinan yang lain yang saya lihat ada pada Prabowo adalah passion-nya, gairahnya! Ngomongnya selalu berapi-api, berenergi! Ada jiwa didalam setiap kata-katanya, dan jiwa itu menular kepada pendengarnya, apalagi kalau ia menjadi presiden, jiwa itu akan menular kepada seluruh elemen bangsa! Pemimpin adalah pembawa semangat, memang terasa tidak adil, tapi kita tidak ingin mendengar seorang pemimpin itu mengeluh dan masa bodoh. Pemimpin itu harus bisa membangkitkan jiwa yang lemah, dan membuat orang bergerak untuk berbuat mencapai tujuannya. Saya sama sekali tidak suka kepada pemimpin yang pasrah dan sederhana, yang biasanya terungkap dari kata-katanya: rapopo, capek, bukan urusan saya, gak mikir dan semacamnya.

Determinasi adalah konsistensi dan tekad yang kuat untuk mencapai tujuannya. Banyak orang yang sinis kepada Prabowo, karena sudah bertahun-tahun memimpikan menjadi seorang Presiden. Untuk adat ketimuran seperti Indonesia, hal seperti itu memang terasa lancang. Padahal, di Amerika, seorang Presiden bukan didapat secara kebetulan. Ia telah berpeluh mensosialisasikan dirinya jauh hari sebelumnya, sampai 5 – 10 tahun sebelumnya. Sedangkan di Indonesia, masyarakat terasa lebih menghargai pernyataan ‘Yah, kalau masyarakat Indonesia memberi amanah, saya siap!’ atau ‘Yah, kita lihat dulu dinamika yang ada di masyarakat Indonesia!’ atau yang lebih parah lagi ‘Saya gak memikirkannya!’ yang terasa lebih sopan ketika seorang tokoh diberi pertanyaan ‘Apakah anda siap untuk jadi Presiden?’

Prabowo telah mencanangkannya jauh hari sebelumnya. Karena itu ia telah mempersiapkannya. Pada waktu debat kandidat, terasa penguasaannya pada materi visi dan misinya karena hal itu lahir dari dalam jiwanya. Sama halnya seperti para siswa yang akan mengikuti ujian, bisa dibedakan penguasaan materi antara siswa yang belajar baru semalam dengan siswa yang telah belajar jauh hari sebelumnya.

Mungkin ini terkait dengan ‘adat ketimuran’ yang saya rasa negatif. Ketika anak seorang yang pas-pasan mempunyai cita-cita yang tinggi, orang-tuanya kadang telah membendung cita-citanya yang dipandang berlebihan. Orang tua akan berkata pada anaknya seperti ‘Yang penting hidupmu enak, jangan mikirin yang tinggi-tinggi, kalau jatuh sakit!’. Sifat ini terus berkembang menjadi sifat komunal, diantara anak-anak sering mereka merasa iri dan berusaha ‘mematikan bakat’ jika melihat anak lain yang menonjol. Seiring dengan perkembangan kesejahteraan dan pendidikan, sifat itu perlahan akan mengikis.

Yang tak kalah pentingnya dari sifat kepemimpinan adalah gesture, bahasa tubuh. Apabila memperhatikan Prabowo, kita akan melihat sikap tubuh yang tidak pernah berhenti untuk bergerak. Tidak pernah terlihat bengong, selalu aktif dengan mengambil inisiatif duluan (seperti memberikan salam penghormatan terlebih dahulu kepada Megawati cs waktu di KPU, atau berinisiatif mengangkat tangan Jokowi pada waktu deklarasi damai dan sebagainya), kalau tubuhnya diam, akan kelihatan bahwa tatapan matanya tidak kosong. Perhatikan pada waktu debat kedua capres yang diadakan 15 Juni 2014 yang lalu, sikap Prabowo pada waktu belum mendapat giliran berbicara,  terlihat ia menyimak dengan seksama pertanyaan atau pernyataan dari Jokowi, tidak ada kesan mencibir, tetapi semuanya disimak, sesekali ia mencatat, dan kadang ia memainkan jari kedua tangannya yang menunjukkan ia berpikir. Bahasa tubuh yang aktif dan dinamis.

Satu hal lagi yang saya sendiri kaget ketika mengetahuinya, Prabowo suka membaca! Dalam pandangan saya, seorang yang suka membaca lebih bersifat objektif, karena ia dapat dan mau ‘dimasuki’ oleh pendapat-pendapat lain yang ia peroleh dari membaca. Seseorang yang biasanya bekerja dengan mengutamakan fisik dan kekuatan, maka biasanya jarang mempunyai kebiasaan membaca. Pekerja yang pemikir dan pemikir yang pekerja adalah suatu yang ideal. Biasanya jika seorang menjadi pekerja, ia tidak terlalu pemikir, dan juga seorang pemikir sering hanya jago di atas kertas, karena ia bukan seorang pekerja.

Passion, determinant dan gesture yang memang berkelas Pemimpin, itulah yang membuat saya berkesimpulan bahwa Prabowo-lah yang layak memimpin bangsa ini!

Inilah Prabowo-ku, tentu berbeda dengan Prabowo-mu dan Prabowo itu sendiri.

——

Pemenang Pertama Blog Kontes http://bloggerindonesiasatu.org/pengumuman-pemenang/

brosur-lomba-blog-kontes-prabowo-hatta-225x300

Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , . Tandai permalink.

21 Balasan ke Prabowo-ku, Prabowo-mu dan ‘Prabowo sendiri’…

  1. Hendra Taruna berkata:

    hmmm….tulisan yang menarik🙂

  2. retno berkata:

    Satu lagi, yg nomor 2 ternyata nyinyir…

  3. Ailtje Binibule berkata:

    Pemilu tahun ini berat, bahkan berat buat saya yang belum menentukan pilihan. Terimakasih untuk tulisannya yang positif.

    • ahmadramadlan berkata:

      Iya sist, terus pantau aja visi dan misi mereka, dan yang paling penting adalah kita bisa melihat mereka langsung cara komunikasinya, kalau membaca lewat media sangat sulit kita mendapatkan gambaran yang sebenarnya, tahu sendiri media sekarang sudah terkooptasi. Kalo saya pribadi, melihat dari sisi kepemimpinannya, diperlukan seorang pemimpinyang memang mempunyai sifat seorang pemimpin.

  4. Ping balik: Mengapa Prabowo Layak Memimpin Bangsa Ini – Media Relawan Prabowo

  5. Ani Berta berkata:

    Tulisan yang sangat membangun dan inspiratif🙂
    Semoga Indonesia terselamatkan dan kontribusi ini dapat melengkapi perjuangan Prabowo Hatta, amin

  6. chocoVanilla berkata:

    Selamat yaaa…. Anda memang layak jadi juara. Keren tulisannya, Mas.

    Salam Indonesia Bangkit!

  7. Dwi Wahyudi berkata:

    Tulisannya lengkap banget dan sesuai dengan pemikiran saya mengenai Bapak Prabowo. Alhamdulillah tulisan ini bisa terpilih menjadi juara satu, tetap semangat yach…🙂

  8. rayafr berkata:

    Selamat ya mas menjadi juaranya ^_^

    Salam Indonesia Damai

  9. Reblogged this on あさぎえんぴつ 'Asagi Enpitsu' and commented:
    SHARE THIS: Mengenal Lebih Dekat Pak Prabowo

    Tulisan yang menarik, Pak Ahmad Ramadlan🙂
    Izin share di bloga saya, yaa, Pak..

  10. Ping balik: Prabowo Kambing Hitam Kerusuhan Mei 98 | fitriana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s