Spektakuler Suramadu!! *

 
jembatan suramadu didit 2
Gambar: Suramadu di Malam Hari, oleh Didik Witono, di akun flickr Didik Witono.
 
*Syarat dan ketentuan berlaku. Suramadu sudah spektakuler, akan semakin spektakuler jika memenuhi syarat dan ketentuan ide-ide dibawah ini, hehehe kardhiman (kareppeh dhibi’ se paleng nyaman = Maunya sendiri yang paling enak)…
 

Saya adalah orang Madura yang dilahirkan di Madura, original 100%, tidak pake KW-KW an, hehehe. Mendiang Ibu dan Bapak saya, keduanya orang Madura, dan lebih banyak tinggal di Madura semasa hidupnya.

Waktu saya masih SD, Bapak sering bercerita tentang gagasan akan didirikannya Jembatan Suramadu (Suramadu), menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Madura. Bahkan, cerita Bapak saya, ide untuk Suramadu itu sudah lama digulirkan, sejak jaman Presiden RI Pertama, Ir Soekarno. Seiring waktu, menurut saya wajar jika Ir Soekarno yang menggulirkan ide tersebut, beliau mempunyai latar belakang pendidikan insinyur sipil, masih banyak yang bisa dilihat peninggalan bangunan-bangunan bersejarah yang merupakan idenya atau bahkan rancangannya sendiri!

Saya melihat, presiden pertama kita seorang yang visioner, pandangannya jauh menembus masa depan. Apa yang secara fisik baru kita lihat sejak tahun 2009 yaitu pada saat peresmian Suramadu, Ir Soekarno telah ‘melihat’-nya dalam bentuk ide dan gagasan bahkan mungkin rancangan kasar tentang Suramadu sejak puluhan tahun yang silam!

Setelah sekian lama saya bekerja di luar pulau Madura, akhirnya sejak 2009 saya bekerja dengan penugasan di Madura, hhmmm, kembali ke tanah air beta, pusaka abadi nan jaya, hehehe… Tahun 2009 juga tahun penyelesaian akhir dari Suramadu, dan peresmiannya di tanggal 10 Juni 2009.

Setelah ada Suramadu, terasa sekali manfaatnya! Setiap hari ke Madura, waktu kantor masih di Surabaya. Sebelumnya naik Kapal Feri ke Madura, perlu waktu minimal 2 jam, mulai dari antri, beli tiket, masuk kapal sampai turun dari kapal. Belum lagi pada musim-musim tertentu, antrian kendaraan menuju kapal mengular, yang menambah waktu tempuh menyeberangi selat Madura yang berjarak sekitar 5 KM itu jadi berjam-jam.

Dan ketika Suramadu diresmikan, semuanya jadi lancar! Gagasan Ir Soekarno yang dulu sering mendiang Bapak saya ceritakan, sekarang telah hadir nyata dan dapat dimanfaatkan. Selain Ir Soekarno, Bapak RPH Moh Noer, mantan Gubernur Jatim yang asli orang Madura termasuk yang getol mengusahakan agar Suramadu ini terwujud.

Pemerintah telah mewujudkan visi founding fathers kita untuk membangun Suramadu. Surabaya dan Madura terhubung dan semakin tak berjarak. Biaya pembangunan jembatan itu sangatlah besar, tidak mungkin ditutupi hanya dari perolehan karcis bagi mobil dan motor yang melintasinya dalam sepuluh – dua puluh tahun. Yang lebih diharapkan oleh pemerintah sebenarnya adalah efek bergulir (multiplier effect) dari Suramadu itu yang bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar.

Sekilas saya perhatikan, memang ada percepatan peningkatan arus lalu lintas dari dan menuju Madura. Peningkatan arus lalu lintas adalah salah satu ciri adanya pertumbuhan ekonomi. Dari Mess kantor saya yang terletak di jalan poros jalan pantai selatan Madura, jelas terdengar suara kendaraan yang saling menyambung hampir tak berjeda waktu walaupun ditengah malam, mengindikasikan banyaknya pengguna jalan. Keadaan ini jauh berbeda dengan lima tahun yang lalu.

Bagaimana dengan percepatan lainnya? Sepertinya, pengaruh Suramadu terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat Madura belum optimal dan perlu dimaksimalkan lagi.

Kalau kita melihat kawasan kaki jembatan Suramadu sisi Madura (KKJSM), tanah-tanah kosong yang mungkin sedianya diperuntukkan untuk kawasan Industri, tidak banyak beranjak keadaannya dibandingkan dengan 5 tahun silam. Kalaupun ada, hanya satu dua bangunan baru yang dipergunakan untuk gudang atau kegiatan usaha lainnya. Katanya sih, karena tanah-tanah itu sudah dikuasai para spekulan yang dibeli pada waktu proses pembangunan Suramadu. Para spekulan mengharapkan untung yang tinggi dalam sekejap, akibatnya harga tanah melambung, sehingga untuk dibangun suatu kawasan industri, harganya sudah tidak kompetitif lagi. Impian untuk menciptakan suatu kawasan industri terpadu disisi Madura Suramadu sepertinya tidak akan tercapai dalam waktu dekat.

Dan kemudian, seperti kebanyakan manusia, akan mempertanyakan, siapa yang salah? Wah, kalo membicarakan siapa yang salah berarti akan merujuk kebelakang, dan kemudian akan banyak para pihak yang saling menyalahkan, hhmmm, sebuah energi negatif yang hanya saling menjatuhkan dan tidak membawa solusi. Suramadu terwujud adalah suatu anugerah, kalaupun ada kekurangan disana-sini dalam pengembangannya, mari kita diskusikan untuk mencari solusi!

Untuk wisata, Suramadu juga belum memberikan kontribusi yang maksimal. Rata-rata orang hanya senang melintasi Suramadu menuju Madura, kemudian makan di seputaran daerah Burneh sampai Bangkalan atau juga belanja Batik di pertokoan yang tumbuh menjamur dikawasan tersebut. Tidak lebih jauh dari itu!

Untuk membuat orang berminat menyusuri lebih jauh lagi Madura, harus diberikan rangsangan atraksi wisata. Atraksi wisata yang unik yang hanya ada di Madura!

Hobi saya jalan-jalan, banyak daerah di Indonesia yang telah saya kunjungi, dari ujung barat Sumatera sampai di Papua, dan menurut saya, Madura mempunyai kekhasan yang bisa dikembangkan menjadi daerah wisata unik yang akan mengundang banyak wisatawan melancong kesini.

Karena kebetulan saya bertugas di Madura, dan saya juga orang Madura, saya berkunjung ke banyak tempat di Madura yang menjadi tempat wisata ataupun layak dijadikan wisata.

Berikut objek wisata yang menurut saya layak untuk dikembangkan:

  • Wisata alam
    Gua Payudan di Guluk-Guluk Sumenep
    Api tak kunjung padam di Pamekasan
    Gua Jokotole di Geger Bangkalan
    Bukit Kapur Jaddih Bangkalan
    Bukit Kapur Bukit Panjalin Sumenep
    Hutan Kera Nipah Sampang

Pegunungan Kapur Jaddih Socah   Bukit panjalin

Gambar 1: Pebukitan Kapur Jaddih Bangkalan, perhatikan kolam renang dan ruangan-ruangan yang dibuat dengan menggali pebukitan kapur tersebut. Gambar koleksi pribadi.
Gambar 2: Pebukitan kapur Bukit Panjalin Sumenep. Gambar dari epicsumenep.wordpress.com
 
  • Wisata bahari
    Pantai Wisata Lombang Sumenep
    Pantai Wisata Selopeng Sumenep
    Pantai Wisata Camplong Sampang
    Pantai Wisata Talang Siring Pamekasan
    Pantai Wisata Siring Kemuning Bangkalan
    Mercusuar di Socah Bangkalan
    Pulau Gili Labak Sumenep
    Pulau Gili Iyang Sumenep
    (Ada beberapa kawasan pulau lain yang indah di kepulauan Sumenep, tapi tempat yang terlalu jauh akan memakan waktu lama dalam perjalanan
  • 6shelterwarno   5gililabakindra
Gambar 1: Rumah penduduk di Gili Labak yang sering dijadikan pesinggahan. Gambar koleksi pribadi.
Gambar 2: Salah satu sisi pantai Gili Labak. Gambar dari indraprawiranegara.wordpress.com
 
 
  • Wisata Budaya, Sejarah dan Pendidikan
    Kerapan Sapi disemua kabupaten Madura
    Sapi Sonok disemua kabupaten Madura
    Musium dan Keraton Sumenep
    Pembuatan batik tulis di Burneh, Tanjung Bumi dan Pamekasan
    Pembuatan keris di Desa Aeng Tongtong Sumenep (dan beberapa desa lainnya di Sumenep)
    Desa Wisata dan Budaya Semaan di Dasuk Sumenep

Kerapan Sapi

Gambar: Kerapan Sapi yang sudah terkenal di dunia. Gambar oleh: Arylay, dari akun flickr Arylay.
 
  • Wisata Religi
  • Pasarean Syaichona Cholil di Bangkalan
  • Pasarean Batu Ampar di Sampang
  • Pasarean Asta Tinggi di Sumenep
  • Pasarean Syeikh Yusup di Pulau Poteran Sumenep
  • Pasarean Aer Mata (Rato Ebu) Arosbaya Bangkalan
  • Masjid Jamik Sumenep
  • Masjid dan Penginapan Al Akbar Pantai Lombang Sumenep
  • Vihara Avalokitesvara Pamekasan

vihara avalokitesvara   IMG_2000

Gambar 1: Tampak depan Vihara Avalokitesvara Pamekasan. Gambar koleksi pribadi.
Gambar 2: Tampak depan Masjid Jamik Sumenep. Gambar koleksi pribadi.
 
  •  Wisata Kuliner
  • Di Daerah Bangkalan (Bebek Sinjay, Nasi Amboina dan Nasi Serpang)
    Di Daerah Sampang (Bebek Songkem, Kaldu)
    Di Daerah Pamekasan (Soto, Rujak, dan Kaldu)
    Di Daerah Sumenep (Soto, Rujak dan Kaldu)

Untuk wisata kuliner, Madura mempunyai beragam masakan yang  khas. Warung dan rumah makan khas Madura sekarang banyak tersedia. Beberapa makanan khas hanya tampil pada saat tertentu, dan alhamdulillah, sekarang ada momen Car Free Day di hari Minggu, biasanya ada makanan khas Madura seperti: Thopa’ Ladheh, Tajin Shobih, Campur Lorju’ dan lainnya.

Cukup banyak kan objek wisata di Madura! Artinya, apabila wisatawan berkunjung ke Madura, dalam sehari, beberapa tempat wisata sekaligus bisa dikunjungi. Sama seperti halnya di Bali yang mempunyai banyak tempat atraksi wisata sehingga mengundang minat orang untuk berkunjung kesana.

Dengan beragam objek wisata, sekarang tinggal bagaimana ‘menjual’ objek wisata tersebut sehingga bisa memikat wisatawan untuk berkunjung.

Khusus untuk Wisata Religi, mempunyai karakteristik khusus. Wisatawan yang berkunjung kesana sebelum ada Suramadu-pun sudah banyak, Suramadu telah meningkatkan jumlah wisatawan secara signifikan.

Industri wisata merupakan industri yang banyak menimbulkan multiplier effect yang positif. Ia akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan menggerakkan industri pendukungnya yang banyak membuka lapangan kerja.

Jika banyak kunjungan wisatawan, akan banyak industri pendukung yang tumbuh. Akan tumbuh banyak hotel untuk akomodasi, diperlukan alat transportasi untuk perhubungan, rumah makan yang menyediakan makanan, industri rumahan yang menyediakan cendera mata dan berbagai keperluan para wisatawan lainnya. Tenaga kerja akan banyak terserap. Daerah tujuan wisata jadi sejahtera. Wisatawan adalah berkah, mendatangkan rejeki!

Efek jungkit terhadap perekonomian itu yang mengundang banyak Negara memberikan prioritas pada pariwisata. Malaysia misalnya, sekarang jumlah kunjungan wisatawannya jauh melebihi Indonesia, padahal pada tahun 1980-an Indonesia masih kampiun di pariwisata Asia Tenggara dengan Bali sebagai maskotnya. Salah satu yang membuat pariwisata Malaysia sukses adalah banyaknya penerbangan murah yang menuju ke Malaysia dengan Air Asia-nya. Dengan tiket yang murah, merangsang orang berkunjung ke Malaysia, dan kalau sudah di Malaysia, dengan sendirinya mereka akan berjalan-jalan menghabiskan uang dengan berwisata. Kalau dihitung, mungkin perusahaan penerbangannya mengambil untungnya setipis silet atau bahkan disubsidi, tapi multiplier effect-nya akan menggiring pada keuntungan disektor lain.

Salah satu perlombaan dibidang pariwisata antar Negara Asean adalah keinginan untuk menjadi penyelenggara event Internasional. Malaysia ngotot untuk bisa menjadi penyelenggara Formula 1 dengan membangun fasilitas Sirkuit Sepang yang diresmikan pada tahun 1999. Bahkan, Singapore, negeri liliput di Asia yang sadar tidak mempunyai lahan untuk membangun sirkuit, juga ‘maksa’ menjadi penyelenggara Formula 1 (mulai tahun 2008) dengan menjadikan jalan raya sebagai sirkuit seperti di Monaco, dengan kekhasan: balap di malam hari!!

Juga untuk tempat hiburan, Malaysia dan Singapore berlomba-lomba, sementara Indonesia semakin tertinggal. Mereka berlomba untuk mendirikan tempat hiburan (amusement park) dengan brand internasional. Legoland di Malaysia dibuka pada September 2012 untuk menyaingi kemasyhuran Universal Studio di Singapore yang dibuka pada Januari 2010. Kedua tempat itu terbukti sukses mengundang wisatawan untuk berkunjung!

Contoh pengembangan pariwisata dinegara-negara tersebut memberikan gambaran, bagaimana peran pemerintah dan swasta merangsang pertumbuhan wisata dinegaranya. Tidak ada kendala yang tidak bisa diselesaikan, bahkan kadang ‘masalah’ bisa menjadi suatu ‘keunggulan’. Singapore tidak punya lahan untuk sirkuit, tapi bisa menyelenggarakan Formula 1, juga lalu-lintasnya yang terlalu padat di siang hari untuk dijadikan sirkuit, maka jadilah sirkuit malam hari yang pertama!!

Bagaimana sekarang Indonesia? Bagaimana sekarang Madura? Think globally, act locally. Berpikir global dan bertindak lokal. Untuk Indonesia sudah ada Kementrian khusus kepariwisataan yang merencanakannya, karena saya tinggal di Madura saya fokus untuk ide-ide wisata di Madura. Lagian tulisan ini kan untuk lomba ‘Ide untuk Suramadu’, hehehe.

Saya juga lebih fokus ke Madura daripada Surabaya. Surabaya relatif sudah lebih tertata dibandingkan dengan Madura.

Idenya juga gak boleh mahal apalagi menuntut pembangunan fasilitas yang lebih mahal lagi, tapi yang kira-kira bisa dijalankan dengan murah dengan fasilitas yang telah ada atau menambah fasilitas dengan biaya yang tidak mahal. Suramadu sudah merupakan anugerah yang sangat berharga bagi Madura, kita harus mengoptimalkannya.

Apa yang bisa kita lakukan?

Pelatihan pelayanan bagi pelaku pariwisata. Apa yang menjadi salah satu titik lemah pariwisata di Madura? Kalau saya mendapat pertanyaan seperti itu, akan saya jawab: manusianya! Karakter asli orang Madura, masih perlu polesan untuk dapat beradaptasi dengan dunia pariwisata. Dalam Sapta Pesona Pariwisata, unsur Ramah menjadi salah satu faktor untuk memikat para wisatawan. Karakter orang Madura cenderung apa adanya, jarang senyum dengan gerakan yang kaku dan tegas. Sebenarnya, orang Madura juga tidak bisa dikatakan tidak ramah, tapi lebih cenderung apa adanya dan tidak banyak basa-basi.

Yang mungkin agak membedakan, orang Madura itu gengsinya sangat tinggi. Harga dirinya merasa jatuh jika ada yang membantah atau terasa seperti melawannya. Padahal, ada pepatah ‘Pembeli adalah Raja’, mungkin bagi orang Madura hal itu tidak berlaku.

Pernah dengar anekdot tentang tukang buah dari Madura yang melayani keluhan pembelinya? Ceritanya, seorang pembeli yang pernah belanja di tukang buah mengeluh tentang semangka yang dibelinya masih pucat ketika dibuka dirumah, ‘Bu’, ini saya belanja kemaren, semangkanya kok masih belum matang begitu, saya buka kemaren dirumah masih pucat!’, apa jawab ibu penjualnya ‘Bo abbo, sampeyan beli satu aja udah ngeluh, saya beli satu pikap aja gak papa!!’

Hehehe, jawabannya bikin jengkel pembeli kan, jangankan mendengarkan keluhan apalagi meminta maaf, malah disangkal dan dibantah sama penjualnya.

Perilaku seperti ini sebenarnya sering saya denger langsung dari teman-teman yang bukan orang Madura, mereka takut mendatangi warung atau toko yang penjualnya orang Madura. Jangankan melihat-lihat dan nanya-nanya harga, mendatangipun sudah takut. Seorang teman saya bercerita, ia pernah ikut rombongan bis wisata yang mengunjungi Madura. Disekitar kawasan Suramadu, banyak penjual cindera mata, batik ataupun makanan. Banyak yang ingin beli cindera mata seperti perahu-perahuan, layangan atau celurit hiasan, tapi mereka mengurungkan niatnya karena stereotip penjual Madura yang seperti itu.

Apakah karakter ini bisa dirubah? Saya yakin menjawabnya: bisa! Dengan pelatihan dan pembinaan khusus bagi frontliner pariwisata seperti para penjual, pelayan toko, pemandu wisata, sopir rental mobil, pekerja seni dan budaya, pekerja hotel dan lainnya.

Bila kita pergi ke Ind*m*ret atau Alf*m*ret di Madura, waktu kita membuka pintu tokonya saja kita sudah langsung disambut dengan sapaan energik dari para pelayanya ‘Selamat datang di Ind*m*ret selamat berbelanja!’. Dan terakhir, waktu kita mau meninggalkan toko mereka akan bertanya untuk mengingatkan mungkin ada yang kurang belanjaannnya: ‘Tambah pulsanya Pak?’ dan ‘Tambah rokoknya Pak?’. Hehehe, walaupun standar jawaban saya untuk kedua pertanyaan itu sama: TIDAK, karena memang tidak merokok dan bukan pengguna operator pra bayar.

Para pelayan ditoko itu adalah contoh SDM Madura yang sudah mendapatkan pelatihan bagaimana melayani pelanggan dengan baik. Pelatihannya saya yakin tidak lama, mungkin sekitar 2 – 3 hari. Materi pelatihannya mengenai dasar-dasar service excellence (pelayanan prima) bagaimana melayani pelanggan, seperti sikap melayani pelanggan, apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan pada pelanggan, psikologi dari pelanggan dan bahkan pelatihan tersenyum!

Tidak usah malu untuk mengakui suatu kelemahan asalkan kita mau untuk belajar dan mengkoreksi diri sendiri. Tiongkok saat ini gencar melatih warganya utamanya para pelaku pariwisata untuk bisa tersenyum dengan menggunakan chopstick. Semua dilakukan dengan satu tujuan: mendongkrak turis sebanyak mungkin masuk ke Tiongkok.

Latihan tersenyum 1  Latihan tersenyum 2

Gambar: Pelatihan tersenyum dengan menggunakan alat bantu chopstick untuk remaja Tiongkok. Sumber: dailymail.co.uk
 

Hal lain yang perlu dijadikan materi dalam pelatihan ‘pelayanan prima’ mengenai pelayanan ke pelanggan untuk tawar-menawar harga atau mungkin juga standarisasi harga. Nih yang bikin saya sebagai orang Madura juga jengkel, kebanyakan penawaran awal dari penjual orang Madura itu terlalu tinggi, sehingga kita nawarnya juga harus ‘berani’. Bagi saya yang orang Madura, mungkin bisa saya ‘lawan’, tapi bagi orang lain mungkin akan membuatnya keder dan tidak berani nawar, ya akhirnya gak jadi beli!

Teman sekantorku yang dari Jakarta pernah bercerita mengenai kesialannya membeli jambu air Sampang Madura. Pada waktu musim jambu air ia membeli sebanyak satu dus aqua, dia bawa pulang ke Jakarta, dan ia kaget waktu belanja di supermarket Jakarta ternyata malah lebih murah dikit dibandingkan dengan yang di Madura. Hehehe, saya tertawa geli mendengar cerita temanku, walau dalam hati merasa ironis.

Seperti halnya sifat buruk, sifat baik itu juga menular. Semakin banyak fronliner pariwisata yang mendapatkan pelatihan, maka para alumni pelatihan itu akan menularkan sifat-sifat baiknya kepada pelaku pariwisata yang lain. Sehingga semakin lama, budaya lama akan terkikis tergantikan oleh budaya baru yang lebih baik. Persaingan dagang juga membuat para penjual berkompetisi memberikan yang terbaik, termasuk keramah-tamahan, dan saya melihat bahwa semakin lama penjual di Madura sudah semakin menyesuaikan.

Perbanyak event. Terutama untuk atraksi yang menjadi maskot Madura, kerapan Sapi!! Teman saya banyak bertanya, kapan akan ada Kerapan Sapi? Dan jawabannya mengecewakan, karena memang jarang. Untuk tingkat nasional (se-Madura) biasa diadakan di bulan Oktober, untuk tingkat kabupaten gak tahu tuh kapan. Sebenarnya kadang sering saya lihat kerapan sapi di kecamatan-kecamatan. Tapi tidak direncanakan untuk ‘dijual’ sebagai atraksi wisata ke luar daerah. Padahal gak kalah menarik lho, meski Kerapan Sapi itu di kecamatan! Saya juga pernah melihat Kerapan Sapi yang khusus dipertunjukkan bagi para turis di alun-alun Bangkalan. Kerapan Sapi itu atas permintaan khusus dari Biro Wisata.

Pernah saya jalan-jalan kedaerah pantai utara Sumenep, saya lihat ada pengumuman sederhana tentang acara ‘Sapi Sonok’, wah sayang sudah kelewat waktunya. Saya hanya berpikir, sebenarnya banyak acara yang bisa dijual tetapi kurang direncanakan untuk menjadi atraksi wisata, kurang terorganisasi!

Untuk Kerapan Sapi, yang telah mendunia namanya, harus lebih sering diadakan. Misal dijadikan agenda tetap di tiap minggu ke 2 setiap bulan. Jadi, bagi orang yang merencanakan untuk melihat Kerapan Sapi, bila tidak bisa bulan ini, bisa di bulan berikutnya dan seterusnya. Dengan pengemasan yang baik dan juga promosi yang dipadupadankan dengan wisata lainnya seperti kuliner dan budaya, saya yakin Kerapan Sapi akan menjadi atraksi yang diminati.

Kebanyakan orang telah mendengar tentang ‘Kerapan Sapi’, tapi sebagian besar dari mereka belum pernah melihatnya! Persepsi bahwa ‘Kerapan Sapi’ adalah ‘Madura’ sudah sangat kuat walau ternyata Bali mempunyai tradisi yang sama.

Madura beruntung karena mempunyai event yang bisa dijadikan maskot wisata! Jadi kita tinggal mengemasnya dan mempromosikannya.

Jember perlu beberapa tahun mulai dari awal menggagas dan menggelar perdana pada tahun 2003 sampai kemudian menjadikan Jember Fashion Carnaval sebagai event yang dinanti dan dikenal dunia. Juga Banyuwangi, mulai merintis Banyuwangi Ethno Carnaval sejak tahun 2012 untuk menjadi event bertaraf internasional. Banyuwangi memang sedang gencar membikin banyak event, misal Banyuwangi Jazz Festival, dan sekarang Banyuwangi Tour de Ijen, sejak 2012 merupakan event balap sepeda yang sudah masuk dalam agenda balap sepeda internasional.

Madura sudah mempunyai tradisi pertunjukan Sapi Sonok, acara kesenian ‘Semalam di Madura’ dan kemudian ‘Kerapan Sapi’ dalam satu rangkaian. Mungkin tinggal perlu mengemas ulang dan membenahinya lagi untuk dijadikan event yang menjual.

Sapi SonokGambar: Salah satu Sapi Sonok yang ditampilkan. Gambar koleksi pribadi.
 

Ngomong-ngomong tentang ‘Sapi Sonok’, itu acara yang sangat bagus, berfoto dekat sapi yang dihias juga dengan tim kerapan sapinya, juga bisa mengetahui lebih jauh mengenai sapi kerapan, perawatan dan hal lainnya.

Promosi out of the box. Memasang baliho dan memasang iklan di media elektronik atau cetak, itu adalah contoh-contoh promosi yang sudah biasa. Biayanya lumayan mahal, dan apabila di media cetak dan elektronik perlu kampanya besar-besaran dan promosi dalam rentang waktu yang cukup untuk membuat pendengar atau pembacanya memperoleh kesan yang dalam dan tergerak untuk berwisata.

Ada cara promosi sederhana tetapi sangat ampuh. Melalui blog, seperti yang telah dirintis oleh BPWS ini. Saya pernah menulis di blog dengan judul ‘Wonderful Gili Labak!’, ternyata dari tulisan itu berhasil ‘meracuni’ pikiran beberapa pembaca untuk berangkat kesana. Saya tahu karena saya memasang email saya apabila ada yang ingin ditanyakan tentang Gili Labak, dan sukses, puluhan orang telah berangkat ke Gili Labak setelah nanya-nanya ke saya. Belum lagi bila yang berkunjung kesana juga menulis hal yang sama tentang Gili Labak, getok tular, akan semakin banyak yang berwisata kesana!

Penulis blog biasanya akan menuliskan testimoni setelah mengunjungi suatu tempat wisata. Testimoni atau kesaksian di blog pribadi terkesan lebih jujur, apa adanya dan kadang dengan bahasa yang lebih gaul, sehingga lebih banyak dijadikan referensi oleh para calon wisatawan, beda dengan penulisan atau artikel yang memang dimaksudkan untuk promosi pariwisata yang terkesan melebih-lebihkan.

Promosi lain adalah mengundang public figure atau selebriti untuk berkunjung ke tempat tujuan wisata yang akan dipromosikan. Inget waktu Maria Sharapova, petenis jelita dari Rusia datang mengunjungi Borobudur tahun 2013 yang lalu? Foto Maria dengan pose-pose berlatar Borobudur mejeng dibanyak majalah traveler dunia, otomatis mengangkat Borobudur untuk lebih banyak dikunjungi wisatawan.

Juga ketika Mark Zuckerberg, pendiri dan pemilik Facebook Inc. ke Borobudur Oktober 2014 yang lalu, statusnya di Facebook tentang Borobudur merupakan promosi gratis bagi Borobudur. Jutaan follower-nya akan bertanya-tanya tentang Borobudur, kemudian googling dan lebih mencari tahu tentang Borobudur, dan diantaranya pasti ada yang kemudian berangkat ke Borobudur!

Kalo untuk tahap awal tidak perlu sekelas Maria Sharapova atau Mark Zuckerberg yang didatangkan kesini, mungkin selebriti nasional yang diajak berlibur ke Madura atau dijadikan Duta Wisata Madura, misalnya Syahrini atau Raffi Ahmad, hehehe…

Libatkan Masyarakat dan perbanyak muatan lokal! Kunjungan saya ke Desa Wisata dan Budaya Semaan Sumenep, memberikan kesan mendalam. Dalam kesederhanaannya, dan cenderung apa adanya, justru memberikan pengalaman yang luar biasa yang sulit dilupakan.

Pada waktu datang saya diberi Odheng (kain penutup kepala) khas Madura dan memasuki Gerbang Desa Wisata (yang sangat sederhana), saya disambut oleh iringan musik tradisional, wah rasanya gimana gitu, hehehe.

Terus kemudian saya diajak mellihat Bato Cenneng (Batu yang apabila ditabuh akan menimbulkan bunyi yang menggema, hampir sama seperti suara logam yang dipukul). Bato Cenneng itu sarat dengan cerita legenda yang terkait dengan penamaan desa tersebut, Semaan (dalam bahasa Indonesia, Semaan berarti ‘mendekatlah!’). Legenda tersebut juga mempunyai pesan moral yang baik.

Ukiran MaduraGambar: Ukiran khas Madura disalah satu kamar penginapan Al Akbar, Pantai Lombang. Gambar koleksi pribadi
 

Di lokasi Bato Cenneng juga ada acara ‘story telling’, anak-anak kecil yang bercerita mengenai legenda batu tersebut. Dari Bato Cenneng kemudian diajak makan siang dengan menu ala Madura di rumah tradisional Madura. Menu yang sederhana tetapi menerbitkan selera makan! Selagi makan siang, kita bisa mendapatkan cerita mengenai makanan khas yang kita santap tersebut juga mengenai arsitektur rumah tradisional Madura yang ditempati makan siang tersebut.

Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Mata Air Somber Kecceng yang merupakan urat nadi mata air didesa tersebut. Sebelum sampai ke sumber air tersebut, kita akan ditunjukkan bagian-bagian atau nomenklatur dari bajak sawah dan sapi yang dipakai, lumayan mendapat pengetahuan!

Mata air Somber Kecceng airnya memang mengalir terus, walau di musim kemarau panjang (saya kesana pas musim kemarau). Airnya jernih, dipakai oleh penduduk mulai dari untuk masak sampai mengairi sawah. Di sumber air dibangun kolam pemandian, dan bagian atasnya terdapat bangunan masjid. Somber Kecceng juga mempunyai legenda yang tidak kalah menariknya, mirip-mirip dengan cerita Joko Tarub dengan bidadari itu.

Dari Somber Kecceng kemudian diajak ke sekolah SD setempat dan menyaksikan tari-tarian yang dibawakan oleh anak-anak SD disana. Dan terakhir, waktu pulang diantar oleh iringan Sapi Sonok dengan musik tradisional saronen-nya. Waah, sangat berkesan!

Kita bisa mengetahui adat istiadat, budaya, kuliner dan arsitektur yang khas Madura dalam sekali kunjungan!

Semua rentetan kunjungan tersebut melibatkan peran aktif masyarakat setempat. Semua dilakukan dengan semangat dan antusias, mereka tidak merasa terpinggirkan, justru menjadi pelaku!

Wisata yang berbasiskan penduduk lokal akan lebih kuat. Jadikanlah penduduk setempat sebagai pelaku wisata, bukan sebagai penonton! Semua pekerjaan yang dibutuhkan dalam sebuah objek wisata sebisa mungkin diserap dari penduduk setempat!

Salah satu peran aktif pemerintah didalam meningkatkan muatan lokal adalah dengan membuat aturan-aturan yang pro kebijakan muatan lokal. Mewajibkan pakaian dengan batik Madura, membawa tamu pemerintah ke tempat wisata lokal, mempertontonkan atraksi budaya (musik atau tarian) lokal pada setiap tamu pemerintah, mengadakan rapat-rapat ditempat wisata lokal adalah contoh-contoh kebijakan yang pro muatan lokal.

Perbanyak Rambu Objek Wisata dan Tonjolkan Ciri Wisata. Hampir disetiap kabupaten di Madura, ada baliho besar berisikan peta dengan foto-foto beragam tempat tujuan wisata. Sayangnya, kadang hanya berhenti di baliho itu saja. Apabila kita akan mengunjungi tempat tujuan wisata tersebut, tidak ada rambu-rambu yang memadai. Atau, kalaupun ada rambu, biasanya kurang informatif, karena rambu tersebut tidak tersedia sampai mengantar kita ke tempat tujuan. Rambu hanya tersedia di satu atau dua tempat, selebihnya wisatawan dibuat bingung kearah mana lagi untuk sampai ke tujuan wisata tersebut. Apabila Pemda menginginkan ‘Tempat Pembuatan Batik Tulis di Klampar Pamekasan’ misalnya, menjadi tujuan wisata, seharusnya mulai dari masuk Pamekasan sudah diarahkan untuk menju kesana dengan memasang rambu-rambu sampai ketempat tujuan. Rambu petunjuk sangat penting! Malu bertanya sesat di jalan, banyak bertanya mending gak usah ketempat tujuan! Hehehe…

Baliho PariwisataGambar: Baliho Peta Petunjuk Pariwisata sebelum memasuki Kota Pamekasan. Gambar koleksi pribadi.
 

Buatlah rambu yang standar dan terbaca dengan jelas. Setahu saya, untuk rambu wisata biasanya mempunyai latar coklat, ini sudah menjadi standar dimana-mana.

Oh ya, mengenai rambu-rambu (khususnya untuk wisata kuliner), Pemda Pamekasan bisa dicontoh tuh. Disetiap warung yang menyajikan makanan khas Madura, dan rasanya memang lumayan top markotop, kemudian cukup dikenal didaerah itu, Pemda Pamekasan memberikan rambu berupa ‘Wisata Kuliner’. Dengan referensi itu, saya biasanya suka mendatangi tempat-tempat tersebut, dan memang rasanya lumayan nendang dan bisa direferensikan ke yang lain.

Walau semua Kabupaten di Madura mempunyai sentra kerajinan batik, Kabupaten Pamekasan sepertinya yang paling getol berpromosi untuk memperoleh kesan sebagai ‘Kabupaten Batik’. Pasar khusus batik ada, juga Galeri Batik yang dibuatkan khusus oleh Pemda-nya. Beberapa dinding di kota dibuatkan lukisan batik, dan disetiap kantor pemerintah juga ada lukisan batiknya.

Mural2Gambar: Mural di salah satu dinding di sudut kota Pamekasan. Di Pamekasan banyak dijumpai Mural bermotif batik. Gambar koleksi pribadi.
 

Ini salah satu usaha dari Pemda Pamekasan untuk menonjolkan ciri wisata didaerahnya. Dan saya melihatnya: cukup berhasil!

Kebersihan dan sarana minimal yang harus ada. Gili Labak itu sangat eksotik! Berwisata kesana serasa mengunjungi pulau pribadi yang masih perawan. Penduduknya ramah dan tulus menerima kita jika mau menginap disana, mereka akan menyediakan rumah atau ‘kobung’-nya (Kobung adalah bahasa Madura untuk semacam rumah panggung atau mirip gazebo dengan satu ruangan yang biasanya multifungsi, mulai dari buat shalat, menerima tamu atau buat tiduran) untuk kita inapi. Sayang, disana tidak ada fasilitas untuk buang air besar yang memadai. Kemana para penduduk untuk menunaikan kewajiban rutin itu? Ya kalau gak kelaut ya gali tanah, hehehe.

12finding nemoGambar: Mejeng bareng ikan hias Nemo sebelum dilepas kembali. Ikan hias seperti ini banyak dijumpai di terumbu karang Pantai Gili Labak. Gambar koleksi pribadi.
 

Ketiadaan toilet ini bikin saya kebingungan waktu diminta bantuan teman untuk mengatur kunjungannya kesana bersama beberapa orang Jepang. Saya jelasin diawal kalo tidak ada toilet biar mereka gak kecewa nantinya, karena mereka berniat untuk menginap. Semula mereka sempat bimbang, tapi ‘racun’ bayangan indah Gili Labak yang mereka baca di blog saya membuat mereka berkompromi, gak apa-apalah tanpa toilet, pengalaman seru juga, hehehe!! Overall, mereka puas, dan meminta saya untuk mengatur keberangkatan trip rombongan kedua.

Padahal, berapa-lah biaya untuk membuat sebuah toilet? Dibuat yang sederhana tapi bersih. Dirancang yang bernuansa alam dan ramah lingkungan. Toilet adalah fasilitas minimal yang harus ada di setiap daerah tujuan wisata!

Kebersihan juga syarat utama. Bersih juga merupakan bagian dari Sapta Pesona Wisata. Sapta Pesona wisata itu: Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah dan Kenangan.
Sederhana tapi bersih itu lebih baik daripada dibangun dengan biaya mahal, cukup megah tetapi tidak terawat dan kumuh.

Dan mimpi saya sederhana saja, saya memimpikan di sisi Madura dari Suramadu, ada rest area atau tempat peristirahatan dan terletak cukup tinggi, dengan latar belakang Suramadu dengan tempat parkir yang luas dan rindang, ada banyak toko souvenir dan juga makanan Madura, SPBU, tempat bermain anak, toilet dan sarana ibadah. Tempat tersebut ramai dikunjungi, terlihat dari banyaknya kendaraan mulai dari sepeda motor, mobil pribadi sampai bis dengan berbagai kode plat nomer dari berbagai daerah yang parkir di tempat peristirahatan tersebut, kendaraan-kendaraan tersebut istirahat setelah seharian jalan-jalan beli batik di Tanjung Bumi, ke Pantai Lombang atau habis menginap dari Gili Labak, dan sebelum menyeberangi Suramadu kembali ke Jawa mereka sempatkan mampir di rest area tersebut. Sebagian penumpang dari kendaraan-kendaraan yang parkir tersebut beli cindera mata dari kios-kios yang pelayannya ramah, atau juga mendatangi Rumah Makan yang banyak tersedia untuk mengisi perut dengan aneka masakan Madura dan dilayani dengan senyum yang ramah, sebagian yang lain ke toilet-toilet yang tersedia dan dijaga kebersihannya, dan sebagian yang lain shalat di mushalla yang tak kalah bersihnya dan wangi. Yang paling banyak dilakukan adalah berfoto-foto, bernarsis ria dengan latar belakang Suramadu, berfoto dengan leluasa tanpa khawatir ditilang seperti halnya kalau berfoto ditengah Suramadu seperti saat ini. Mereka semua terlihat lelah tapi tetap dengan wajah yang ceria dan puas, sambil tak putus-putusnya saling bercerita tentang pesona dari tempat wisata yang dikunjunginya.

Rest area tersebut menggantikan rangkaian toko-toko cindera mata dan makanan sepanjang jalan menuju Suramadu di Madura yang sepi pengunjung yang ada saat ini. Toko-toko tersebut kumuh dengan memakai dinding dari bilik bambu, dan kadang-kadang disela-sela toko ada toilet yang kotor yang dikunjungi orang bila benar-benar terpaksa saja. Penerangan seadanya di malam hari, parkiran juga semrawut dan kadang memakan bahu jalan.

Hhmmm, saya yakin mimpi saya akan menjadi nyata, bila kita semua segera bangun dan bergerak untuk mewujudkannya, karena saya yakin semuanya mempunyai mimpi indah yang sama, Suramadu yang spektakuler!!

—-
Tulisan saya yang lain di Blog mengenai Wisata di Madura:

BANNER_widget

Pos ini dipublikasikan di Perjalanan, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Spektakuler Suramadu!! *

  1. Hendra Taruna berkata:

    woh…bedhe reng madhure …. :D, dibandingkan dulu, sekarang kalau ke Tunjungan plaza, lebih banyak dijumpai orang Madura yang sekedar cuci mata ketimbang sebelum ada Suramadu …heheh

  2. ahmadramadlan berkata:

    Hehehe,,, dulu inget waktu di SMA Bangkalan, mau beli baju aja ongghe dha’ Sorbejeh sekalian jalan-jalan, padahal waktu itu masih pake kapal, apalagi ada Suramadu, beli cabe ke Sorbejeh kali… 😀

  3. Ping balik: Vihara Avalokitesvara Madura: Vihara Budha dengan Arsitektur Khas Bali - Travelmate Kamu!

  4. Ping balik: Spektakuler Suramadu | Blogger Plat-Madura

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s