Malas…

malas

Malas itu penyakit, dimusuhi tapi enggan dilepaskan. Malas itu menimbulkan banyak kerugian, disadari kalau bikin rugi, tapi tetap dipertahankan. Malas itu hilang timbul, kesuksesan seseorang ditentukan oleh bagaimana ia dapat sebanyak mungkin menghilangkan malas, sedang kemiskinan, keterpurukan, kebodohan, ketertinggalan karena juga seringnya menimbulkan rasa malas.

Dulu pada waktu kuliah, pada saat memasuki fase pembuatan Tugas Akhir, perlu setahun untuk menyelesaikan skripsi yang sejatinya makan waktu 2 bulan kalo tidak malas.

Saat itu mata kuliah yang diambil udah habis, kalopun ada paling ngulang-ngulang pelajaran lama yang nilainya rendah. Saat itu udah ambil Tugas Akhir, tercantum jelas di Kartu Rencana Studi. Tapi, rasa malas akut tiba-tiba datang melanda, bayangkan, satu semester skripsi dibiarkan gitu aja gak dikerjakan!

Seperti datangnya rasa malas yang tiba-tiba, demikian juga dengan keinginan untuk ‘rajin’ yang juga tiba-tiba!

‘Tiba-tiba rajin’ mungkin bagi orang yang melihatnya, tapi sebenarnya ‘rajin’ saya waktu itu setelah melakukan perenungan diri, kontemplasi. Loh kok udah mulai ditinggalkan teman-teman seangkatan yang pada lulus, keluarga dan kalangan dekat yang udah sering bertanya ‘kapan lulus’, dan juga keinginan untuk membahagiakan ortu biar cepat-cepat menuai benih harapannya yang sudah lama makan biaya kuliah.

Akhirnya diputuskan untuk ‘rajin’, dan hasilnya fantastis, skripsi selesai dalam 2 bulan! Dulu, sekitar tahun 1995-1996, ngerjakan skripsi biasanya di rental komputer yang banyak buka 24 jam disekitar kos-kosan. Setelah keputusan untuk musuhan dengan ‘malas’ mengerjakan skripsi, malam-malam datang ke rental komputer, kebetulan pas ada teman seangkatan yang lagi ngerjakan skripsi. Saya nanya ke dia ‘Ngerjakan bab berapa?, dia jawab ‘Bab 3!. ‘Wow’, dalam hati saya menyadari betapa tertinggalnya  karena baru akan memulai ‘Kata Pengantar’.

Akhirnya siang malam saya kerjakan skripsi dengan spartan. Siang-siang sering dikampus dan lab, untuk ngerjakan percobaan dan konsultasi ke dosen, dan malamnya ngetik di rental yang sering sampe adzan subuh berkumandang.

Dan hasilnya, dua bulan kemudian, ketika saya ke rental untuk ngerjakan sedikit perbaikan setelah ujian skripsi yang dinyatakan lulus, teman saya yang dua bulan lalu udah ‘Bab 3’, ternyata sekarang masih aja ‘Bab 4’, karena dia masih terjangkiti malas. Tertegun dan heran ketika saya bilang kalo mau mengetik untuk perbaikan skripsi!

Sekarang bayangkan kerugiannya jika saya gak malas, saya akan lebih cepat setahun lulusnya, juga saya akan bekerja lebih cepat setahun, biaya kuliah juga lebih hemat setahun, otomatis karena biaya lebih hemat, keluarga juga lebih bisa menggunakan keuangannya untuk keperluan yang lain. Dengan bekerja lebih cepat setahun, saya juga mendapatkan uang dan pengalaman yang lebih banyak, jenjang karier yang lebih tinggi dan sebagainya. Pokoknya rugi deh malas itu!!

Sekarang bayangkan betapa banyak kerugian yang kita timbulkan dengan kemalasan-kemalasan yang lain!

Seandainya dulu saya lebih rajin menabung dan dulu tidak merokok duitnya akan lebih banyak lho, mungkin sudah bisa dibelikan rumah dan mobil. Merokok sudah jelas-jelas tidak sehat dan makan duit!

Seandainya dulu juga lebih rajin ke fitnes, kayaknya perut tidak akan sebuncit sekarang, dan badan akan lebih terlihat bugar.

Seandainya saya lebih rajin menulis, tentu akan lebih tulisan yang saya buat dan memberikan manfaat, saya akan lebih banyak mendapatkan pahala.

Seandainya dan seandainya…

Harapan saya, semoga saat akhir saya tidak berada dalam keadaan malas, malas untuk beribadah kepada Allah SWT!

Makanya jangan malas ya!!

Pos ini dipublikasikan di Renungan, Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s