Perjalanan mencari kebenaran…

Galaksi Tata SUrya

Tulisan yang dibuat oleh Eka Pratama, Alumni Teknik Mesin ITB ini, sangat menggugah saya. Sehingga saya merasa perlu meng-copas-nya. Tulisan tersebut sempat menjadi viral di medsos, yang terbit pada saat memasuki 10 Ramadan terakhir 1438H.

Ada banyak persamaan dengan pengalaman spiritual saya, bagaimana Eka Pratama yang semula acuh tak acuh dalam beragama kemudian ‘menyadarinya’ dan menjadi beragama dengan ‘keyakinan’.

Sebagaimana Eka Pratama, banyak pertanyaan liar tentang agama dalam benak saya. Saya dulu sering hanya bertanya pada diri sendiri, karena kalo dilontarkan ke dalam diskusi bertajuk ‘Agama’, bukannya jawaban yang didapat,  tetapi malah respon seperti ‘arahnya ke komunis’, ‘kamu gak boleh berpikir seperti itu’, ‘pertanyaan liar dan kalo dibiarkan jadi murtad’ dan sebagainya. Sayapun terdiam, sambil terus berkata dalam diri sendiri ‘Ya Allah, tunjukilah cara menemukan keberadaan-Mu, cara meyakini-Mu, dan matikanlah hambamu bukan dalam kondisi ‘gamang’ terhadapmu!’, gak lupa, saya biasanya juga membaca ‘syahadat’ berulang-ulang setelahnya.

Gerbang pertama menuju ‘keyakinan’, adalah ketika ‘saudaraku’ mau menikahi seorang wanita non muslim. Islam yang ada pada saya adalah ‘warisan’, yang membuat saya tersentak, bagaimana saya harus meyakinkan saudara saya jika saya sendiri juga menyimpan banyak pertanyaan yang bernada tidak ‘yakin’ terhadap agama saya sendiri?

Dan itulah kekuatan ‘cinta’!. Rasa sayang yang besar pada saudara saya menjadi motivasi untuk ‘mencarikan jawaban’ buat dia yang sebenarnya adalah jawaban buat saya sendiri.

Yang saya pelajari pertama adalah buku ‘The Choice’ dari Ahmed Deedat (Guru dari Dr Zakir Naik). Dan ternyata didalam bukunya, Ahmed Deedat menyampaikan, bahwa ia termotivasi menulis buku itu karena saking jengkelnya ia kepada para missionaris yang selalu mengajaknya untuk berpindah agama di India. Ahmed Deedat merasa jengkel, tetapi tidak mampu membalasnya dengan alasan yang logis, yang kemudian membuat ia terpacu ‘mencari kebenaran’ yang hasilnya tertulis dalam buku itu. Hhhmmm, alasan yang hampir sama nih, membuat saya semakin tertarik mempelajari bukunya.

Buku ‘The Choice’ menampilkan ‘kekurangan-kekurangan’ dan ‘penyimpangan’ pada agama yang awalnya dibawakan oleh Nabi Isa itu. The Choice, merujuk pada Bible. Kebetulan dirumah ada Bible yang saya dapatkan bertahun yang lalu dari sebuah hotel di Biak yang disiapkan disetiap kamarnya. Kemudian ada Bible juga dari temanku yang meninggalkannya di kantor, yang kemudian saya minta juga. Dan yang paling berharga, adalah Bible punya Bapakku, keluaran tahun 1966. Bible ini sangat berharga, karena ada banyak perbedaan dengan Bible keluaran terbaru. Semuanya ada 3 Bible!!!

The Choice mengangkat derajat keyakinan saya pada Al Quran, alasannya sederhana, jika ada 2 agama Ibrahimovic, yang satu sudah gugur, maka yang satunyalah yang benar! [Ada tiga agama Ibrahimovic atau Samawi, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Yahudi ditentang kebenarannya oleh Nasrani dan Islam].

Kemudian, mungkin karena latar belakang saya yang orang teknik, dan baru yakin jika semua sudah ada buktinya secara ‘kasat mata’, saya tertarik mempelajari tafsir Al Quran khususnya pada ayat-ayat Ilmu Pengetahuan. Nah, hal-hal seperti yang dituliskan oleh Eka Pratama itulah yang saya pelajari dan benar-benar menambah ‘Keyakinan’ saya. Semua bukti-bukti itu meyakinkan bahwa Al Quran adalah Mujizat. Sering dikatakan dalam pelajaran Agama di sekolah-sekolah dahulu, bahwa Mujizat Nabi Muhammad adalah Kitab Suci Al Quran. Mujizat itu terwujud apabila kita mempelajarinya.

Mujizat Al Quran itu menjadi nyata ketika kita mempelajarinya, kitab yang diturunkan 1400 tahun lalu, tetapi banyak hal didalamnya yang seolah-olah memberikan ‘kesaksian’ secara detail terhadap fenomena-fenomena yang ada pada jaman sekarang, dan juga masa mendatang. Sesuatu yang tidak mungkin ditulis oleh manusia!

Jika kita telah ‘meyakini’ keberadaan-Nya, maka kita juga yakin dengan apa yang diperintahkan dan dilarang-Nya dan dengan ‘senang hati’ akan melaksanakanya.

Banyak hal yang justru kita, sebagai umat sekarang seharusnya lebih ‘yakin’ dari pada para pengikut Rasulullah SAW pada zamannya. Pada saat Rasulullah SAW menceritakan tentang perjalanan Isra’ Mi’raj-nya, beragam pendapat disampaikan pengikut Rasulullah. Ada yang percaya 100% apapun yang dikatakan oleh Rasulullah walau ‘tanpa bukti’ tetapi banyak juga yang meragukan dengan menuduh Rasulullah SAW sudah gila dan ada juga yang berbalik arah menjadi murtad.

Bagi mereka yang tidak yakin Isra Miraj, beranggapan, sangatlah muskil seorang manusia melakukan perjalanan dalam 1 malam ke Masjidil Aqsa dan bahkan ke langit yang ketujuh. Bagi umat Rasulullah 1400 tahun yang lalu, sangatlah tidak mungkin jarak Makkah – Palestina berjarak 1500 KM hanya ditempuh dalam semalam, apalagi ditambah dengan perjalanan ke langit!!

Tetapi lihat sekarang, perjalanan 1500 KM bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 2 jam dengan pesawat terbang. Kecepatan tinggi sudah bukan sesuatu yang mustahil, suara kita dapat diterima dibelahan dunia yang lain melalui telpon bahkan hampir tanpa ada jeda waktu, sesuatu yang dianggap mustahil pada jaman dulu. Dan hal ini akan terus disempurnakan di masa yang akan datang.

Dan menjadi penyesalan saya yang terbesar, ketika saya sering mengabaikan diskusi-diskusi dan pelajaran tafsir dari mendiang Bapak. Bapak saya mempunyai latar belakang Ilmu Tafsir dari IAIN Sunan Kalijaga Jogja. Beliau kutu buku, banyak warisan buku darinya. Dan beliau juga mengadakan kelas tafsir di rumah bagi yang berminat, dan saya tidak termasuk yang berminat, sangat menyesal!!! Menyesal karena kajian agama yang sekarang saya sukai adalah Tafsir Al Quran!!

Salah satu minat saya adalah menonton ‘National Geographic’, banyak sekali ‘wajah Allah SWT’ tampil dalam tayangannya, melalui kemegahan, ketelitian dan keindahan ciptaan-Nya, pada saat seperti itu, tanpa terasa, ada air mata menetes, menyadari betapa kecil, lemahnya kita dan hanya bergantung pada-Nya…

Ini dia tulisan Eka Pratama yang saya suka…

—————-

Perjalanan Mencari Kebenaran

Oleh : EKA PRATAMA

Saya bukan ustadz.  Saya hanya seorang “truth seeker” yang suka menulis. Semoga Allah meluruskan niat saya menulis hanya karena Allah, dan bukan karena yang lain.

Tulisan ini pun request dari seseorang (yang dekat) yang bertanya pada saya mengenai temannya, yang memiliki pertanyaan unik mengenai Al-Qur’an. Tentang mengapa ayat Al-Qur’an sering kali sulit dimengerti?

Mengapa ayat-ayat nya seperti meloncat-loncat dan tidak tersusun secara sistematis?

Bagaimana cara meraih maknanya dengan baik sehingga bisa diamalkan dalam kehidupan kita? Apakah ada pengaruhnya jika kita bisa berbahasa arab dalam mempelajari Al -Quran?

Bukankah mampu berbahasa Arab pun belum menjamin seseorang bisa menjangkau makna Qur’an? Mendengar pertanyan-pertanyaan ini seperti dejavu.

Teringat pertanyaan-pertanyaan saya sendiri beberapa tahun yang lalu, yang bahkan lebih liar dari ini. Tapi Alhamdulillah…

Justru pertanyaan-pertanyaan seperti itulah, yang jika kita mencari jawabannya dengan tulus dan murni untuk mencari kebenaran (bukan kesombongan), kemudian kita menemukan jawabannya, akan membuat iman kita kokoh dan tak tergoyahkan.

Tulisan ini mungkin tidak bisa menjawab semua pertanyaan di atas.

Saya hanya sharing pengalaman saya sendiri, yang mungkin bisa diambil manfaatnya dan dipakai untuk memotivasi.
Motivasi untuk terus mencari jawaban, menggunakan segala potensi yang kita miliki, termasuk akal. Dan akal bukanlah logika tanpa batas.

Akal adalah logika yang tunduk dan rendah hati.

Motivasi bagi siapapun yang memiliki pertanyaan yang sama, atau bahkan yang sedang mengalami krisis keimanan, atau untuk siapapun yang pada titik tertentu dalam hidupnya mulai bertanya:

Mengapa saya ada di sini?
Untuk apa sih tujuan hidup ini?
Apa yang terjadi setelah saya mati? Dari mana saya tahu saya memiliki keyakinan yang benar?
Well, mari kita mulai.

Alhamdulillah…
I was born as a muslim.
Yup, orang tua dan keluarga saya juga muslim. (Saya tidak sedang mengomentari istilah agama warisan yang ditulis seorang remaja baru-baru ini, hehe.)

Saya hanya mau menceritakan bahwa saya sangat menyesal karena sangat terlambat menyadari anugrah Allah yang telah menakdirkan saya terlahir di keluarga muslim.

Penyesalan yang baru terjadi beberapa tahun ke belakang, mungkin sekitar tahun 2014. Sebelum itu, interest saya terhadap ilmu agama sangat minim, sangat jarang ikut kajian, apalagi baca buku agama.
Ibadah pun pas-pasan, shalat subuh sering kesiangan, baca Qur’an jarang-jarang, zakat kadang-kadang, pas ada yang minta bantuan paling enggan, puasa bulan Ramadhan juga datar-datar aja dan lewat begitu aja tanpa ada perubahan.

Fokus saya saat itu adalah: uang, bayar utang, menafkahi istri dan anak, membangun rumah tangga, rumah, mobil, pendidikan anak dan sejenisnya.

Karena menurut saya pada saat itu, itulah yang bisa mendatangkan kebahagiaan dalam hidup. Hingga suatu saat ketika utang semakin sedikit, penghasilan makin naik, karir pekerjaan semakin baik (walaupun menuntut waktu lebih banyak dan tanggung jawabnya lebih besar), rumah sudah ada, mobil sudah ada, biaya kesehatan ditanggung, saya mulai suka bertanya sendiri:

What’s next? (Selanjutnya apa?).

OK, next-nya mungkin rumah yang lebih bagus, mobil yang lebih bagus, dan sejenisnya. Dan ketika semua itu tercapai, saya mulai ngerasa aneh. Kok kerasa hampa ya? Ngga sebahagia yang dibayangkan sebelumnya. Meanwhile, tanpa disadari tuntutan pekerjaan makin ganas, dan stress mulai melanda.

Instead of baca Qur’an, musik-film-game lah yang jadi andelan.  Stress memang hilang, tapi sesaat.

Besoknya balik ke kantor stress lagi. Sampai akhirnya semua itu mulai berpengaruh ke kesehatan. Mulai sering sakit, daya tahan tubuh drop, sering kena maag, asam lambung, dan lain-lain. Saya kadang menjadi sedikit delusional, sering membuat lagu sendiri, membuat puisi sendiri, kadang hanyut di alam khayalan dan angan-angan kosong.

Rindu akan kedamaian, yang abstrak, yang entah bagaimana mencapainya. Sampai suatu hari, saya jatuh kepeleset di stasiun dengan posisi jatuh terduduk.

Ceritanya panjang sebenernya, singkat cerita saya jadi ngga bisa berdiri, ngga bisa duduk, apalagi jalan, karena setelah diperiksa dokter, ada urat yang kejepit di punggung/pinggang.

Ada cairan lumbal disc yang pecah dan menjepit saraf. Saya harus dioperasi, walaupun cuma operasi kecil. Tapi tetep harus dibius total. Saya masih ingat betul, pemandangan terakhir yang saya ingat di ruang operasi, sebelum saya ngga sadar, adalah lampu di atas ruang operasi.

Melihat lampu itu dengan syahdu, saya membatin: “Gimana kalau ada yang salah dan saya mati? Inikah akhir perjalanan hidup?”

Alhamdulillah saya masih hidup, dan operasinya berjalan lancar. Beberapa hari kemudian saya sudah bisa pulang ke rumah dan menjalani masa pemulihan.

Sudah bisa duduk, berdiri dan berjalan walaupun belum normal. Saya mulai suka bermimpi yang aneh-aneh. Suatu hari saya bermimpi sedang digantung di atas lautan api yang menyala-nyala.

Astaghfirullah….mimpinya serasa begitu nyata, sampai pas bangun pun rasanya masih teringat bagaimana panas yang terasa.

Mimpi itu seperti lecutan yang menghantam keras. Setelah itu saya mulai sering membuka Al-Qur’an, dan mulai membaca buku-buku agama.

Air mata pun mulai sering menetes. Rasa sesal mulai meresap ke dalam hati. Mimpi berikutnya tak kalah menakutkan.
Ketika terbelalak melihat matahari terbit dari arah barat. Dan seketika itu datang rasa sesal yang begitu nyelekit. Tertutup sudah pintu taubat. Astaghfirullah…

Setelah itu, semangat mempelajari Al-Qur’an semakin menggebu-gebu. Pertanyaan-pertanyaan kepada diri sendiri terus terlontar. Saking banyaknya pertayaan sampai harus dicatat untuk dicari jawabannya kemudian. Seperti terlahir kembali menjadi orang yang baru.

Pertanyaan-pertanyaan seperti :

“Mengapa saya ada di dunia ini?”, “Apa tujuan saya ada di sini?”, ”
“Apa tujuan hidup ini?”, ”
“Apa yang terjadi setelah kita mati?”, ”

“Bagaimana saya tahu apa yang saya yakini ini benar?”, ”
“Apa sih sebenarnya isi Al-Qur’an?”.

Bahkan sampai bertanya:
, “Apa buktinya ya Qur’an itu benar dari Sang Pencipta, dan bukan buatan manusia?”, dan

“Apa buktinya ya Islam itu benar?”.

Berhubung pertanyaan saya agak liar, saya kadang menghindari pertanyaan langsung kepada ustadz.
Karena setelah saya sensor pertanyaannya pun, seringkali jawabannya kurang memuaskan. Seringkali malah saya mendapat renspon bahwa pertanyaan saya ini ngga patut, dan bahwa keyakinan itu ya harus yakin aja, bahwa agama itu diyakini dengan hati, bukan dengan akal.

Dan seringkali diakhiri dengan kata “Pokoknya begini, dan begitu”. Terpaksa saya iya kan aja, walaupun saya membatin, “Kalau keyakinan itu ya harus yakin aja, orang yang beragama lain juga bisa pake argumen yang sama dong.
Terus masa ada multiple kebenaran, padahal antara satu dan yang lain bertentangan? Taklid buta dong jadinya.”

Sehingga saya lebih banyak mencari sendiri melalui membaca buku, artikel, menonton video ceramah, dokumenter, dan lain-lain.

Hingga seorang teman memperkenalkan saya dengan video-video Ust. Nouman Ali Khan, begitu juga teman lain yang memperkenalkan dengan video Dr. Zakir Naik. Walaupun tidak pernah bertemu, mereka terasa begitu dekat di hati.

Both of them are my heroes. Isi ceramahnya benar-benar persis dengan apa yang saya butuhkan. Saya sangat beruntung, bahasa Inggris yang sehari-hari digunakan di tempat kerja, ternyata sangat berguna untuk mendengarkan ceramah mereka berdua dalam bahasa aslinya.

Saya sangat terinspirasi dengan Dr Zakir Naik ketika beliau sedang berdebat dengan seorang atheis, kemudian beliau berkata:

, “So you’re an atheist? Congratulation! You’re half a moeslim. 
To become a moeslim you need to admit that there is no god, except Allah, Laa ilaaha illallah. 
You already believe there’s no god, correct? 
Then my job is to convince you another half: illallah, except Allah

.” (Jadi anda atheis? Selamat! Berarti anda setengah muslim. Untuk menjadi seorang muslim, anda harus mengakui bahwa tidak ada tuhan, selain Allah, Laa ilaaha illallah.
Anda sudah percaya bahwa tidak ada tuhan, benar? Jadi saya tinggal meyakinkan anda setengah bagian berikutnya: illallah, kecuali Allah).

Beliau juga menjelaskan bahwa kunci untuk menjawab pertanyaan: “Apa bukti Islam lah yang benar?”, adalah Al-Qur’an.
Bahwa selain menjadi petunjuk dan pedoman hidup, Al-Qur’an juga merupakan sebuah mukjizat.

Hard proof bahwa itu memang berasal dari Tuhan Yang Esa, Allah. Beliau menguraikan bagaimana ayat-ayat Qur’an mendahului science sebanyak 1.400 tahun.

Sesuatu yang baru-baru ini saja ditemukan science, ternyata sudah disebutkan Al-Qur’an 1.400 tahun yang lalu, di tengah gurun pasir tandus, melalui Nabi yang Ummi (tidak bisa baca tulis). Siapa kah yang memberi tahu Nabi Sallallahu’alaihi wasallam, jika bukan Allah The Creator. ”

“Di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (Adz Dzaariyaat: 20-21)

Beberapa di antaranya:

1. Teori Big Bang dan asal usul alam semesta yang baru di era science modern ditemukan (1980an), yang menyatakan bahwa alam semesta saat ini terus mengembang. Dan dulu merupakan suatu kesatuan massa besar namun kemudian terjadi ledakan besar sangat dahsyat (big bang) yang terus mengembangkan alam semesta. Hal ini ternyata sudah diisyaratkan dalam Surat Al-Anbiyaa: 30 “Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

2. Bulan bercahaya dengan memantulkan sinar matahari. Hal ini juga baru diketahui science modern. Dulu orang menyangka bulan memancarkan cahayanya sendiri. Dan ayat Qur’an sudah menyebutkannya jauh lebih dulu dalam Surat Al-Furqaan: 61 dan juga ayat-ayat lain. Al Qur’an selalu konsisten menyebutkan matahari dengan “Syams” atau “Siraaj (obor)” atau “wahhaaj (lampu menyala)”. Dan cahaya bulan dengan kata ” muniir” yang artinya tidak mengelurkan cahayanya sendiri.

3. Besi yang sekarang ada di bumi, tidak terbentuk saat bumi terbentuk pertama kali. Penemuan astronomi modern mengungkap bahwa logam besi yang ada di bumi ternyata berasal dari benda-benda luar angkasa. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan di dalam inti bintang-bintang raksasa. Hal ini lagi-lagi sudah disebutkan dalam Surat Al Hadid: 25. Pada ayat ini, kata “Anzalnaa” berarti “Kami turunkan”.

4. Gunung sebagai pasak yang memiliki root/akar yang menhujam ke lapisan dalam bumi sebagai penstabil kerak bumi. Hal ini baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat Thaha: 6-7, Surat Al-Anbiyaa:31, dan Surat Lukman:10.

5. Gunung yang bergerak perlahan (beberapa cm per tahun). Juga baru diketahui ilmu geologi modern. Dan Al Qur’an sudah menyebutkan ini dalam Surat An Naml:88.

6. Fenomena pembatas antara dua perairan. Seperti di daerah Selat Giblatar, yaitu pertemuan antara Laut Mediterania dan Laut Atlantik. Diungkapkan oleh ahli Oseanografi Francis J. Cousteau. Dan ini sudah disebutkan dalam Surat Ar-Rahman: 19-20 dan An-Naml: 61.

7. Penciptaan manusia di dalam kandungan ibu. Dr Keith Moor, seorang ahli embriologi dibuat takjub dengan begitu akuratnya Al-Qur’an mendeskripsikan perkembangan embrio dalam Surat Al-Alaq:1-2, Surat Al-Mu’minuun:12-14, Surat Al Qiyamah:38 dan Surat Al Hajj: 5. Dan masih banyak lagi dan tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini karena begitu banyaknya.
Subhaanallah…
Sedikit demi sedikit pertanyaan-pertanyaan itu mulai menemukan jawabannya masing-masing.
Di sini saya mulai menyadari betapa pentingnya menguasai bahasa Arab klasik.
Karena terjemahan kadang doesn’t even scratch the surface.
Terlalu banyak makna yang hilang. Keyakinan terhadap kebenaran Al-Qur’an semakin terasa mantap. Meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang masih belum terjawab.

Kitab agama lain pun ada yang mempunyai kandungan science. Apakah itu berarti kitab mereka pun benar?
Untuk meyakinkan, berarti ada satu hal lagi yang harus dipastikan, yaitu apakah informasi yang berada di dalam Al Qur’an itu intact atau utuh dan free from corruption?

Di sini juga saya pun bertanya-tanya mengapa ayat-ayat Al Qur’an terlihat seperti melompat-lompat dan seperti tidak sistematis?

Di sinilah kajian-kajian Ust Nouman Ali Khan begitu banyak memberikan jawaban yang memuaskan.

Ust Nouman begitu mendalam membahas sisi linguistik Al-Qur’an, yang membuat saya benar-benar terpukau dengan Al-Qur’an.

Semangat untuk belajar bahasa Arab klasik terasa makin menggebu-gebu jadinya.

Sebagai seseorang yang hobi menulis dan membuat puisi, saya dibuat takjub dengan surat-surat yang incredibly poetic, terutama surat-surat Makkiyah.

Walaupun baru mulai belajar bahasa Arab, I can’t help myself ketika mendengarkan ayat-ayat yang begitu puitis, seringkali tak kuasa menahan air mata yang mengalir, karena keindahan bahasanya yang begitu kuat terasa, meskipun didengar oleh telinga saya yang non-arab. Lebih indah dari lagu atau irama mana pun.

Lebih dahsyat dari puisi mana pun. Belum lagi jika ayat itu berhubungan dengan penciptaan atau alam.
Bagi penggemar science seperti saya, yang sering nonton video dokumenter tentang alam, bagaimana terbentuknya bumi, luar angkasa, bintang-bintang, blackhole, dan sebagainya, ayat-ayat scientific dan luar biasa puitis itu benar-benar menembus ke dalam jiwa.

Saya pun dibuat takjub dengan Ring Composition Structure di beberapa Surat Madaniyah. Serta ayat-ayat yang incredibly symmetric. It’s so mind boggling,menakjubkan.

Jelas sudah, manusia tidak memiliki mental capability untuk membuat yang seperti ini.
It’s definitely word of God.

Berikut beberapa contoh-contoh keindahan linguistik dalam Al-Qur’an:

1. Dalam Surat Al-Muddatsir ayat 3, Allah SWT berfirman, وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ Terjemahan simpelnya: “dan agungkanlah Tuhanmu”, sedangkan terjemahan yang lebih mumpuninya: “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja” Huruf و dalam bahasa Arab, sebenarnya tidak selalu berarti “dan”. Huruf و dapat digunakan untuk 21 jenis fungsi, dan salah satunya sebagai isti’naf yaitu untuk memulai kalimat baru. Sehingga sisanya berbunyi رَبَّكَ فَكَبِّر Nah sekarang perhatikan dengan baik. Kalimat tersebut dimulai dengan huruf ر dan diakhiri dengan huruf ر juga. Huruf kedua adalah huruf ب dan huruf kedua terakhir adalah huruf ب juga. Huruf ketiga adalah huruf ك dan huruf ketiga terakhir adalah huruf ك juga. Dan huruf ف di tengahnya. Subhanallah! Suatu rangkaian simetris yang hanya terdiri dari 7 huruf. Dalam bahasa Indonesia kita perlu menuliskan “dan nyatakanlah hanya keagungan Tuhanmu saja”. Dan Qur’an hanya membutuhkan 7 huruf yang disusun secara sangat elegan.

2. Dalam Surat Ya Sin ayat 40, Allah SWT berfirman, لَا الشَّمْسُ يَنبَغِي لَهَا أَن تُدْرِكَ الْقَمَرَ وَلَا اللَّيْلُ سَابِقُ النَّهَارِ وَكُلٌّ فِي فَلَكٍ يَسْبَحُونَ Terjemahannya simpelnya: “Tidaklah mungkin bagi matahari mengejar bulan dan malam pun tidak dapat mendahului siang. Masing-masing beredar pada garis edarnya.” Allah SWT berfirman tentang benda-benda angkasa, dimana masing-masing “berenang”/”melayang”/beredar/berputar pada garis edarnya. Sekarang perhatikan kata كُلٌّ فِي فَلَكٍ Perhatikan huruf pertama ك dan bagaimana diakhiri dengan huruf ك juga. Huruf kedua adalah ل dan huruf kedua terakhir adalah ل juga. Huruf ketiga adalah ف dan huruf ketiga terakhir adalah ف juga. Dan di pusatnya ada huruf ي Sekarang mari kita ilustrasikan: ك – ل – ف – ي – ف – ل – ك Pusat dari rangkaian huruf tersebut adalah huruf ي yang merupakan huruf pertama kata berikutnya يَسْبَحُونَ yang artinya mengorbit/berputar. Subhaanallah! Bagaimana mungkin manusia bisa merangkai kata sedahsyat ini? It’s so not human. It could only come from God.

Ayat Kursi yang tentunya sudah familiar bagi seorang muslim. Ayat ini terbagi menjadi 9 kalimat

(1) اللّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ”

Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, yang terus menerus mengurus (makhkluk-Nya)”

(2) لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ “tidak mengantuk dan tidak tidur”

(3) لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ “Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi”

(4) مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ “Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi-Nya tanpa izin-Nya”

(5) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ “Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang dibelakang mereka”

(6) وَلاَ يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَاء “dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki”

(7) وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ “Kursi-Nya meliputi langit dan bumi”

(8) وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا “Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya”

(9) وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ “dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar”

Kalimat pertama diakhiri dengan 2 nama Allah, yaitu الْحَيُّ (Yang Maha Hidup) dan الْقَيُّومُ (Yang Maha Mandiri; Sumber dari segala sesuatu).
Dan kalimat pertama ini, memiliki kesamaan dengan kalimat ke-9, dimana juga disebutkan 2 nama Allah, yaitu الْعَلِيُّ (Maha Tinggi) dan الْعَظِيمُ (Maha Besar). Kemudian lihatlah kalimat ke-2, dan hubungannya dengan kalimat kedua dari akhir (kalimat ke-8). Mengantuk dan tidur adalah sifat makhluk.
Manusia misalnya, akan mengantuk jika kelelahan.

Tapi bagi Allah, memelihara dan menjaga langit dan bumi tidak membuatnya lelah atau berat. Kemudian perhatikan kalimat ke-3, dan koneksinya dengan kalimat ketiga dari akhir (kalimat ke-7).

Dua kalimat tersebut saling melengkapi. Pada kalimat ketiga, Allah menegaskan bahwa Dia lah pemilik apa yang ada di langit dan di bumi.

Dan pada kalimat ke-7, Allah menegaskan bahwa Kursi-Nya, Kerajaan-Nya meliputi langit dan bumi.

Di dunia ini, pemilik yang memiliki suatu properti, belum tentu penguasa/raja yang memiliki kerajaan/authority.

Dan raja yang memiliki kekuasaan, belum tentu sebagai pemilik. Karena kepemilikan itu, terhadap suatu objek atau properti. Sedangkan kerajaan adalah mengenai kekuasaan untuk mengendalikan orang.

Di dalam ayat ini Allah sedang menegaskan bahwa Allah adalah Pemilik sekaligus Raja bagi langit dan bumi. Kemudian kalimat ke-4, dan hubungan maknanya dengan kalimat keempat dari akhir (kalimat ke-6).

Di kalimat ke-4 Allah menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang memiliki authority, kecuali Allah memberikannya.

Dan ini dilengkapi dengan kalimat ke-6 yang menegaskan bahwa tak ada seorang pun yang memiliki ilmu-Nya, kecuali Allah menghendakinya.

Dan lihatlah bagaimana kalimat ke-5 yang berada di tengah, yang bertindak bagai cermin bagi kalimat di depan dan di belakangnya, sambil menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui apa yang ada di depan dan di belakang mereka. Who speak like that? Subhaanallah! So beautiful!

4. Surat Al-Baqarah, surat terpanjang dalam Al-Qur’an, dengan jumlah 286 ayat, has take the symmetry to the whole new level. Struktur ini dinamakan Ring Composition Structure.

Hal ini baru-baru ini saja ditemukan melalui penelitian linguistik modern. Surat ini bisa dibagi menjadi 9 bagian, berdasarkan tema:

Bagian 1: Keimanan & Kekafiran

Bagian 2: Penciptaan & Pengetahuan

Bagian 3: Hukum yang diberikan kepada Bani Israil

Bagian 4: Ujian yang telah dijalani Nabi Ibrahim

Bagian 5: Perpindahan arah kiblat shalat

Bagian 6: Muslim akan diuji

Bagian 7: Hukum yang diberikan kepada muslim

Bagian 8: Penciptaan & Pengetahuan

Bagian 9: Keimanan & Kekafiran Perhatikan bagaimana kesembilan tema tersebut simetris dan seperti membentuk struktur cincin, dengan bagian ke-5 sebagai cermin atau pusat tema.

Dan di dalam bagian ke-5 ini terdapat ayat ke-143, yang posisinya tepat di tengah surat (total ayat ada 286), perhatikanlah bunyi ayat ini: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) ‘umat pertengahan’ agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.
Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya, melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.

Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 143)

Subhaanallah!

Pernyataan umat Islam sebagai umat pertengahan, lokasinya tepat berada di tengah surat ini. Dan ternyata struktur ini bukan hanya ada pada level makro (tema) saja. Tetapi juga pada sub-tema.  Jadi terdapat struktur cincin di dalam cincin.

Misalnya saja pada Bagian 8 – Penciptaan & Pengetahuan:
Bagian awal (ayat 254): Mukmin harus mengeluarkan sebagian harta dari apa yang Allah berikan Bagian tengah (ayat 255-260): Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui. Allah memberi kehidupan dan kematian.

Bagian akhir (ayat 261-284): Perumpamaan tentang zakat/sedekah

Bahkan struktur ini tidak berhenti pada level sub-tema saja, tapi bahkan pada level ayat. Misalnya ayat 255 yaitu ayat Kursi yang telah dibahas sebelumnya.

Subhaanallah!

Level kepresisian yang menakjubkan ini, jelas terasa sebagai mukjizat ketika mempelajari Sirah Nabawiyah atau sejarah Nabi Muhammad Sallallahu’alaihi wasallam. Saat itu, saya baru paham bahwa ayat-ayat Qur’an itu diturunkan secara piecemeal, sedikit demi sedikit, sesuai dengan kejadian atau tantangan-tantangan yang dihadapi Nabi Sallallahu’alaihi wasallam saat menjalani misinya sebagai Rasulullah.

Dengan kata lain, ayat-ayat yang turun adalah jawaban terhadap kejadian atau tantangan yang dihadapi tersebut.

Dan kejadian atau tantangan tersebut jelas-jelas di luar kontrol beliau.
Contoh kongkrit nya misalnya: Seseorang mukmin bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan, atau ketika musuh menantang beliau.

Respon dari hal ini berupa turunnya ayat kepada beliau, menjawab situasi spesifik yang beliau hadapi. Dan turunnya ayat ini tidak harus berurutan di surat yang sama dan tidak harus turun secara kronologis. Selama kurun waktu 23 tahun, ayat-ayat Al-Qur’an diturunkan, out of sequence (tidak berurutan).

Segera setelah suatu ayat turun, barulah Nabi Sallallahu ‘Alaihi Wassallam akan diinstruksikan oleh Allah untuk meletakkan ayat ini di posisi ini di surat ini. Dan ayat itu di posisi itu di surat itu. Dan seterusnya, sehingga posisinya fixed. Dan perlu diingat, pada saat itu Qur’an adalah oral tradition.

Para sahabat Nabi tidak melihat Qur’an seperti kita sekarang, dalam bentuk kitab (tertulis). Mereka mendengar Al-Qur’an.

It’s an audio experience, not visual experience.

Sebuah pengalaman audio namun setelah dituliskan ternyata membentuk suatu struktur linguistik yang luar biasa.

Is that humanly possible?

Al-Qur’an ini, tidak seperti buku biasa buatan manusia.

Ayat yang sekilas terlihat melompat-lompat ternyata membentuk suatu struktur yang luar biasa.

Fakta lain sebagai hard proof bahwa Al-Qur’an memiliki struktur linguistik yang perfectly balanced adalah statistik kata di dalamnya.

Di era modern ini Al-Qur’an sudah bisa dianalisis struktur linguistiknya menggunakan komputer.

Jumlah total suatu kata tertentu dalam Al-Qur’an bisa dihitung dengan cepat dan mudah.
Perhatikan fakta-fakta berikut: – Kata “ad-dunya” (dunia) terhitung sebanyak 115 kali.

Dan kata “al akhirat” (akhirat) persis sama sebanyak 115 kali. –

Kata “malaaikat” (malaikat) terhitung sebanyak 88 kali. Dan begitupun kata “Syayaatiin” (syaitan) sebanyak 88 kali. –

Kata “al-hayaat” (Kehidupan) terhitung sebanyak 145 kali. Dan begitupun kata kematian sebanyak 145 kali.

. – Kata “Ash-shaalihaat” (amal baik) terhitung sebanyak 167 kali. Dan begitupun kata “As-saya-aat” (amal buruk) juga sebanyak 167 kali. –

Kata “ibliis” (iblis) terhitung sebanyak 11 kali. Dan kata berlindung dari iblis, terhitung sebanyak 11 kali. –

Frasa “mereka berkata”, terhitung sebanyak 332 kali.
Dan kata “Katakanlah”, juga sebanyak 332 kali. –

Kata “bulan” sebanyak 12 kali –
Kata “hari” sebanyak 365 kali Again, is that humanly possible?

Saya begitu dibombardir dengan kedahsyatan mukjizat Al-Qur’an.

Dan ternyata itu belum selesai. Al-Qur’an juga menawarkan dahsyatnya struktur matematis yang dimilikinya.

Salah satu yang mencolok adalah huruf-huruf initial yang mengawali beberapa surat seperti ق di Surat Qaf, huruf يس di Surat Ya Sin, dan sebagainya.

Mari kita perhatikan beberapa contoh berikut: –
•Jumlah huruf ق di Surat Qaf ada 57. Dan 57 = 3 x 19. Artinya, 57 adalah kelipatan 19. Sehingga jumlah huruf ق di Surat Qaf merupakan kelipatan 19. Dan ternyata jumlah huruf ق di Surat Asy-Syura juga ada 57. Jika jumlah huruf ق di kedua surat itu dijumlahkan, 57 + 57 = 114. Dan 114 = 2 x 3 x 19. Kelipatan 19 lagi. –

•Jumlah huruf ي di Surat Ya Sin ada 237, dan jumlah huruf س ada 48. Jika dijumlahkan, 237 + 48 = 285. Dan 285 = 3 x 5 x 19. Kelipatan 19 lagi. – Jika initial حم yang terdapat pada Surat Al-Mu’min, Surat Al-Fussilat, Surat Asy-Syura, Surat Az-Zukhruf, Surat Ad-Dukhan, Surat Al-Jasiyah, dan Surat Al-Ahqaf, dijumlahkan maka: Surat Al-Mu’min: terdapat 64 huruf “ha” dan 380 huruf “mim” Surat Al-Fussilat: terdapat 48 huruf “ha” dan 276 huruf “mim” Surat Asy-Syura: terdapat 53 huruf “ha” dan 300 huruf “mim” Surat Az-Zukhruf: terdapat 44 huruf “ha” dan 324 huruf “mim” Surat Ad-Dukhan: terdapat 16 huruf “ha” dan 150 huruf “mim” Surat Al-Jasiyah: terdapat 31 huruf “ha” dan 200 huruf “mim” Surat Al-Ahqaf: terdapat 36 huruf “ha” dan 225 huruf “mim” Jika kita jumlahkan semua, hasilnya: 2147. Dan 2147 = 113 x 19. Kelipatan 19 lagi. –
“•Initial عسق di Surat Asy-Syura juga tidak terlepas dari ini.
Jumlah huruf ع ada 98. Jumlah huruf س ada 54. Jumlah huruf ق ada 57. Jika dijumlahkan, 98 + 54 + 57 = 209. Dan 209 = 11 x 19. Kelipatan 19 lagi. –

•Begitu pun initial كهيعص di Surat Maryam.
Terdapat 137 huruf “Kaf”, 175 huruf “Ha”, 343 huruf “Ya”, 117 huruf “Ain”, dan 26 huruf “Shad”. Jika dijumlahkan, 137 + 175 + 343 + 117 + 26 = 798. Dan 798 = 2 x 3 x 7 x 19. Kelipatan 19 lagi.

Subhaanallah!

Jika Al-Qur’an ini sudah tercampuri tangan manusia (corrupted), dan misalnya satu huruf ق saja hilang, atau huruf ي hilang, atau huruf lainnya, maka saya tidak akan bisa menikmati mukjizat kelipatan 19 ini sekarang.

Dan perhatikanlah Surat Al-Muddatsir ayat 27-31 berikut ini: “Dan tahukah kamu apa Saqar itu? Ia tidak meninggalkan dan tidak membiarkan,
Yang menghanguskan kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas. Dan yang Kami jadikan penjaga neraka itu hanya dari malaikat; dan Kami menentukan bilangan mereka itu hanya sebagai cobaan bagi orang-orang kafir, agar orang-orang yang diberi kitab menjadi yakin, agar orang yang beriman bertambah imannya, agar orang-orang yang diberi kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu; dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (berkata), “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai suatu perumpamaan?”

Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang Dia kehendaki. Dan tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.
Dan Saqar itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS. Al-Muddatsir: 27-31)

Ini baru beberapa contoh saja. Masih banyak lagi contoh-contoh lain yang bertebaran di dalam Al-Qur’an.

Dan semakin dalam kita menyelam ke dalam Al-Qur’an, semakin banyak harta karun yang kita temukan.
Dan harta karun itu seperti tidak ada habisnya.

Bagai lautan luas.
Dan sepertinya kita tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk memahami semuanya.

Dan setelah mukjizat demi mukjizat, sudah saat nya hati dan akal kita tunduk kepada Allah. Jalani perintah-perintah Allah di dalam Al-Qur’an.

Patuhilah perintah-perintah Rasul-Nya. Atii’ullaha wa atii’urrasul. Taatilah Allah dan Rasul-Nya. Jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Because Al-Qur’an is a “live” guidance.

Kita akan terkejut ketika kita sedang menghadapi suatu masalah hidup, dan ketika membuka Al-Qur’an, secara kebetulan kita mendapati ayat yang seakan-akan merespon langsung atas permasalahan kita.

Ketika akan melangkah ke dalam kemaksiatan, tiba-tiba saja teringat ayat-ayat Allah yang melarang perbuatan tersebut.

We will receive His Guidance thru His words in the Qur’an.

Jadilah hamba-Nya.

The summary of entire Qur’an is basically to accept the fact that we are slaves and He is our Master

(Ringkasan seluruh Qur’an pada dasarnya adalah untuk menerima kenyataan bahwa kita adalah hamba dan Dia adalah Rabb kita).

Satu-satunya tujuan hidup kita, the sole purpose of this life, adalah mengabdikan diri kepada-Nya. Itulah satu-satunya cara agar kita mendapatkan kedamaian yang sesungguhnya.

Kedamaian di Surga-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. Az-Zariyat: 55)

Maha Benar Allah dengan segala firman Nya.

Cimanuk – Bandung, Hari 21. Ramadhan 1438 H
*Alumni Mesin ITB 2002

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s