Antisipasi

Antisipasi adalah kata serapan dari bahasa Inggris, Anticipation, dan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti: perhitungan tentang hal-hal yang akan (belum) terjadi; bayangan; ramalan.

Hal-hal seperti apa yang misalnya akan terjadi? Banyak dan sangat luas. Bisa mengenai cuaca, perjalanan, rencana kegiatan, kondisi rumah dan yang lebih luas lagi perekonomian di masa depan, pergeseran sosial budaya yang akan terjadi seiring waktu di masa yang akan datang, perkembangan teknologi, pergeseran politik dan lain sebagainya.

Semua hal didunia ini berubah, tidak ada yang abadi. Yang abadi adalah ketidakabadian itu sendiri.

Karena semua hal berubah, kita harus mengantisipasinya, melakukan perhitungan tentang hal-hal yang kemungkinan akan terjadi, dan yang paling penting adalah mempersiapkannya sehingga kita tetap hidup, berkembang dan lebih unggul dari yang lain.

Kalo anda mau mengendarai mobil dan melihat mendung pada arah yang akan kita tuju, maka kita mengantisipasinya dengan membawa payung. Jika tidak, maka kita akan basah kuyup begitu keluar dari mobil. Baju, celana dan sepatu basah semua. Akibatnya kita bisa sakit atau kita gak bisa datang ke ruangan acara karena basah. Mengantisipasi hujan dengan menyediakan payung memberikan kelancaran kepada tujuan perjalanan kita dan menghindari hal yang tidak nyaman terjadi.

Jika besok kita akan menghadapi ujian di kelas, maka hari ini (dan baiknya jauh hari sebelumnya) maka kita mempersiapkannya, membayangkan apa yang akan keluar didalam ujian, mencari soal-soal dan jawaban dari ujian-ujian terdahulu dan mengumpulkan pelajaran-pelajaran yang telah diberikan sebelumnya untuk dipelajari. Semua dilakukan untuk mengantisipasi ujian tersebut, kita mengetahui akan terjadi ujian dan kita mempersiapkannya.

Dari mana kita tahu akan terjadinya sesuatu dimasa depan? Panca indera, akal dan perasaan kita adalah karunia Allah yang dilekatkan pada manusia sebagai alat untuk mengetahui sesuatu yang akan terjadi di masa depan.

Pada waktu kita mengendarai mobil, mata kita melihat kondisi yang ada di depan, apakah jalannya lurus atau berbelok, ada mobil lain atau tidak, jalannya rata atau berlubang dan cuaca cerah, hujan, berangin atau lainnya. Dari pandangan mata, kemudian akal dan perasaan kita mengantisipasinya dengan melakukan perhitungan, apakah sudah aman untuk menyalib, perlukah memperlambat kendaraan, atau berhati-hati karena didepan ada jurang yang curam.

Semakin jauh rentang waktu yang akan datang yang kita antisipasi akan semakin baik.

Antisipasi waktu yang akan datang tersingkat yang kita lakukan adalah sesuai dengan perjalanan waktu. Jika kita berkendara, maka apa yang kita lihat didepan kita langsung mengantisipasinya, melihat jalan yang berbelok, kita akan memutar kemudi mengikuti belokan.

Tetapi apabila kita mengantisipasi perjalanan itu dengan rentang waktu yang lebih lama lagi akan lebih baik. Kita mengantisipasi bahwa pada jam tertentu di satu titik lokasi akan ada kemacetan, kita mencari informasi dan kemudian mengantisipasi bahwa ada titik rawan longsor yang akan kita lewati, kita juga mendengarkan prediksi cuaca yang akan terjadi di lokasi tujuan, kita mendapatkan berita-berita terkini mengenai lokasi yang akan kita kunjungi yang mungkin berpengaruh pada misi perjalanan kita. Semuanya kita antisipasi, sehingga pada saatnya kejadian itu tiba, kita akan mudah mengatasinya.

Semakin jauh kita melihat kedepan, membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan, membayangkan apa yang kita harapkan di masa depan, kemudian kita mengantisipasi dan mempersiapkannya, maka masa depan kita akan jauh lebih baik.

Bapakku seorang anak desa. Pada waktu kecil ia sering lewat pematang sawah dan kebun di desa Madura yang tidak subur dan kering. Ia tidak melihat ada ‘kehidupan’ disitu, jika melihat orang-orang sekitarnya yang petani, Bapakku melihat wajah-wajah kemiskinan.

Satu ketakutan yang ada pada dirinya, suatu saat ia akan besar dan suatu saat ia akan menjadi petani juga, dan pikiran kecilnya waktu itu mengatakan ‘Saya tidak ingin menjadi petani, Ini bukan sesuatu yang enak!’.

Ia menjadi giat belajar, waktu itu pemerintah memang giat ‘menangkapi’ anak-anak untuk sekolah, sekolah setingkat SMP dikota, meski harus berpisah dengan orang tua, dan karena kemampuan ekonomi keluarga yang pas-pasan, ketika sudah setingkat SMA, ia juga harus mencari sekolah yang memberikan beasiswa, dan akhirnya dapat! Cita-citanya juga terwujud ‘Tidak menjadi Petani!’.

Antisipasi yang lain, ada orang tua yang benar-benar berupaya agar anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, mendorongnya untuk belajar giat dan mengusahakan segala kebutuhan yang sifatnya untuk pendidikan terpenuhi, padahal ia hanya kuli di pasar, dan ketika ditanya orang lain kenapa ia lakukan semua, dijawabnya ‘Agar anak saya tidak seperti saya, hanya seorang kuli pasar!’

Orang tua tersebut telah melakukan antisipasi, mempersiapkan masa depan anaknya, karena ia telah merasakan sendiri, penderitaan yang ia alami karena lalai dalam hidupnya, dan ia ingin hal itu tidak terjadi pada anaknya!

Panca indera, akal dan perasaan adalah alat untuk mengantisipasi. Hal-hal yang belum (akan) terjadi, bayangan ataupun ramalan adalah informasi. Semakin akurat informasi yang kita terima, semakin baik kita mengantisipasinya dan tidak akan salah sasaran.

Jika ada ramalan cuaca bahwa besok akan hujan, kemudian kita mengantisipasinya dengan membawa payung dan jas hujan, tapi ternyata kemudian ramalan cuacanya tidak benar maka payung dan jas hujan yang kita bawa tidak terpakai.

Bagi umat Islam, yang meyakini Al Quran adalah informasi yang paling akurat didunia, tentu kita harus mengimaninya, melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi larangannya.

Didalam Al Quran juga ada informasi mengenai kehidupan sesudah mati, yang harus kita imani. Kehidupan sesudah mati, pada akhirnya mempunyai 2 konsekwensi, surga atau neraka!

Dan kehidupan sesudah mati adalah rentang waktu terpanjang kita yang ada di masa depan, bukan hanya di dunia tetapi juga melampaui dunia, akhirat!

Semakin jauh rentang waktu masa depan yang kita antisipasi, maka akan semakin baik!

Siapakah orang yang paling cerdas menurut Islam? Ada kaum Anshar yang menanyakan hal serupa kepada Rasulullah:

Ya Rasulullah, orang mukmin manakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Orang yang paling baik akhlaknya”. Kemudian ia bertanya lagi, “Mukmin manakah yang paling cerdas?” Beliau menjawab, “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk menghadapi kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang paling cerdas“.

-HR. Ibnu Majah-

Cara terbaik meramal masa depan adalah dengan menciptakan masa depan itu sendiri!

-Abraham Lincoln-

Kita bisa meramal masa depan kehidupan kita sendiri di akhirat berdasarkan persiapan yang telah kita lakukan selama didunia. Sesungguhnya, ‘Surga’ atau ‘Neraka’, kita sendirilah yang ‘menciptakannya’…

 

Catatan:

Kehidupan petani di desa Bapakku, di Madura, banyak yang masih prasejahtera. Sawah di Madura rata-rata tadah hujan, hanya ditanami waktu musim hujan, sesudahnya kering kerontang. Jenis tanaman yang dapat tumbuhpun juga terbatas, tidak terlalu subur!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s