Jika akhirnya Jokowi lagi…

Apapun cara yang dilakukan Jokowi untuk melanggengkan kekuasaan seperti money politic, pengerahan ASN, Polisi yang tidak netral, media yang tidak imbang dan dikuasai pemodal, penangkapan lawan-lawan politiknya dll, dengan seijin-Nya ia berkuasa, kita bisa apa lagi?

Semua usaha sudah kita lakukan, sekuat tenaga kita berteriak kecurangan, dengan bukti yang nyata, melapor ke yang berwenang menanganinya, viral di medsos dan ‘terpaksa’ Jokowi juga menang, kita bisa apa lagi?

Kadang ada hikmah dibalik itu semua, karena kita harus yakin bahwa Allah memberi kita sesuai dengan apa yang ‘dibutuhkan’ bukan yang ‘diinginkan’.

Sejarah peradaban itu ribuan tahun, dan usia kita yang hanya puluhan tahun bagian dari perjalanan peradaban manusia. Islam pernah mengalami masa kejayaan, alangkah enaknya manusia yang hidup pada jaman itu. Selama ratusan tahun mengalami kejayaan, kita membayangkan suatu peradaban yang ideal, adil, makmur dan kehidupan sosial budaya yang sehat. 

Kemudian jaman berganti, kejayaan ada masanya, redup, dan islam mengalami kemunduran. Banyak konflik di Timur Tengah. Irak, Libya, Suriah porak poranda. Konflik Palestina tak kunjung selesai. Di Myanmar islam ditekan dan di China, suku Uighur mengalami penyiksaan fisik dan mental.

Hidup di Negara konflik pasti tidak akan senyaman di Negara yang aman-aman saja. Beribadah tidak leluasa, lingkungan sosial tidak mendukung segala aktifitas berdasarkan keyakinan islam. Cari makan susah, berpakaian muslim terlihat aneh, masjid terbatas, berpuasa pasti akan lebih banyak godaannya dan seterusnya.

Tapi Allah Maha Adil, kompensasi pahala bagi orang yang melaksanakan ibadah di daerah yang sulit pasti akan lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang melakukan ibadah di daerah yang mudah dan datar-datar saja.

Seorang mukmin akan beruntung disegala situasi. Pada saat mudah, bersyukur dan pada saat sulit, bersabar. Pahala sabar sangatlah besar.

Saya tidak memilih Jokowi sejak awal dia nyapres. Padahal saya termasuk pemujanya ketika dia masuk Jakarta sebagai Gubernur. Kriteria saya tidak memilih dia hanya satu, ingkar janji!

Dan akhirnya, ketika ia terpilih, dan memerintah 2014 – 2019, alasan untuk tidak memilih dia semakin bertambah, membenarkan alasan saya tidak memilihnya di tahun 2014.

Kembali ke Jokowi, jika akhirnya harus ‘menang’. The life must go on, harus cepat move on dan adaptif dengan situasi kedepan yang bisa dibaca berdasarkan cacatan (tidak salah ketik) di masa pemerintahan sebelumnya.

Waktu awal Jokowi jadi presiden, kurs dollar di kisaran Rp 11.200,- dan sekarang, tahun 2019 di kisaran Rp 14.500,-, ada penurunan nilai 30%.

Sekarang utang semakin banyak, tidak ada ceritanya negara yang hutangnya semakin banyak, nilai mata uangnya akan menguat, karena kebutuhan mata uang asing yang semakin banyak untuk bayar hutang. Kalo sekarang 2019 kurs dollar Rp 14.500,- selama 5 tahun kedepan kemungkinan besar akan semakin kuat bisa mencapai Rp 19.000-an.

Bisa saja para pemuja Jokowinomic mengatakan, besar kemungkinan rupiah akan menguat karena produksi meningkat, sebab proyek infrastruktur sudah menunjukkan pengaruh dan manfaatnya. Hhhmmm, kayaknya gak gitu deh, semua proyek infrastrukturnya Jokowi kemahalan, sehingga harus ditebus mahal bila kita akan memanfaatkannya, dan hal itu tidak mendorong pertumbuhan produksi.

Menyimpan kekayaan dalam bentuk uang, sama saja dengan membiarkan nilainya tergerus. Usahakan tidak menyimpan dalam bentuk uang, tapi dalam bentuk lain seperti logam mulia, dinar, perak, tanah, property dan saham.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI juga memberikan return yang bagus dari tahun ke tahun, secara fundamental tidak terpengaruh dengan sentimen pilpres yang sesaat. Ada beberapa saham yang terkait dengan figur politikus, yang timbul dan tenggelam bersama situasi politik, kadang berpengaruh turun apabila ada sentimen negatif, tapi bila memang fundamental usahanya kuat, biasanya hanya sebentar saja. Pilihlah saham dengan fundamental usaha yang kuat.

Jokowi juga sangat welcome kepada investor asing (gak hanya investor, malah impor barang dan tenaga asing juga sangat meningkat luar biasa). Apa yang harus kita lakukan?

Kran impor dibuka deras membuat pilihan produk semakin banyak, dengan harga yang bersaing. Kalau untuk hal ini, saya sama sekali tidak menyarankan untuk mengikuti arus membeli barang impor.

Membeli barang impor berarti ada komponen tenaga kerja asing pada barang yang kita pakai. Usahakan tetap belanja produk dalam negeri, mempekerjakan tenaga kerja dalam negeri dan belanja di warung tetangga. Walaupun lebih mahal, kita telah membantu mereka, memelihara harapannya, untuk tetap berproduksi. Kita harus mempunyai patriotisme ekonomi.

Belilah barang-barang UMKM walau sedikit mahal. Kelihatan kontradiksi dengan himbauan Jangan Boros ya? Gak juga, anggap selisih kemahalan itu sebagai sedekah, tidak akan membuatmu miskin, justru itulah harta sebenarnya..

Jangan boros! Tekan pengeluaran hanya untuk membeli barang yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan, dan simpan kelebihan uang dalam bentuk investasi lain. Anggaplah kita ‘berpuasa’ selama lima tahun kedepan, mengetatkan ikat pinggang yang sudah ketat.

Nabi Yusuf, sesuai dengan mimpinya, menabung selama 7 tahun untuk masa jaya, untuk menghadapi 7 tahun masa suram kedepannya. Kalo Nabi Yusuf diberikan anugerah untuk mengetahui hal tersebut lebih dini, sedangkan kita, ambil moral story-nya saja, bahwa kita harus menghemat untuk menghadapi masa yang semakin sulit dan kompetitif.

Hemat dalam segala hal. Kalo sebelumnya mau ganti mobil, sebaiknya ditunda saja kalo mobilnya masih cukup baik, maksimalkan naik angkutan umum atau Grab dan Gojek, sekaligus membuka lapangan kerja. Anggaran jalan-jalan dikurangi, makan diluar dikurangi, pengeluaran yang bersifat hobby dikurangi, hemat listrik dan air. Untuk barang-barang yang kita miliki, pake system 3R, re-use, reduce dan re-cycle.

Semua dengan asumsi bahwa Jokowi memerintah aman-aman saja, bisa saja dia turun dipertengahan jalan karena perekonomian semakin memburuk, disisi lain ia juga dituding tidak bisa memberikan keadilan pada semua golongan, tebang pilih kasus dan membuat penjara menjadi tempat untuk membungkam lawan politiknya.

Pesimis?!? Boleh jadi, karena saya oposisi dengan dia, tetapi didalam perencanaan memang harus ditekankan pada sisi pesimis agar langkah kita lebih hati-hati…

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Opini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s