Sebuah Perjalanan Panjang

An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang…

Hari ini Minggu, tanggal 5 September 2010 atau merupakan hari ke 26 dari bulan Ramadlan 1431 H. Bulan yang sangat istimewa, karena dibulan itulah saya dilahirkan sehingga namanyapun Ahmad Ramadlan.

Pada hari ini saya mencoba membuat Blog, sebuah niatan lama yang baru terealisasi sekarang. Dulu pernah register untuk sebuah akun Blog, yang karena saking lamanya, nama website-nyapun lupa. Kasihan website-nya, sudah disampahi dengan akun yang gak bermanfaat, hehehe…

Waktu bikin Blog ini di Google, pada tahap ‘Beri Nama Blog Anda’, saya agak tertegun lama, bingung atas pertanyaan ini, karena harus memberi nama atas Blog saya. Saya tinggalkan taraweh dulu, dan pada saat Shalat Taraweh (yang berarti Shalat Tarawehnya kurang khusuk nih, maafkan ya Allah!) saya teringat untuk memberi nama Odyssey, perjalanan panjang, dan biar rada sastra dikit diberi label An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Sengaja pakai bahasa Inggris, karena lebih representatif. Representatif maksudnya, cukup dengan satu kata mempunyai makna yang lebih.

Nama Odyssey awalnya saya tidak tahu artinya. Pertama melihat dari sebuah seri mobil buatan Honda; Odyssey. Karena bentuknya pas dihati, tergelitik untuk mencari apa artinya, saya coba buka di kamus dan artinya adalah: Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Saya kagum pada orang Honda yang telah memberi nama mobil itu dengan Odyssey, karena bentuk mobil itu yang panjang (tetapi tidak terlalu panjang juga), kokoh dan stabil yang sengaja diciptakan untuk  siap  menempuh sebuah perjalanan panjang penuh makna dengan kenyamanan dan rasa aman.

Dan, demikianlah maksud dan keinginan Blog ini dibuat. Blog ini akan bercerita ‘ngalor-ngidul’ gak tentu arah yang merupakan mosaik dari perjalanan saya. Perjalanan yang perlu saya tuliskan karena saya rasa sangat bermanfaat, utamanya untuk saya sendiri. Kalaupun kemudian ada yang mengambil manfaat dari Blog ini, Alhamdulillah!

Ini alamat email saya: ahmadramadlan@yahoo.com

Selamat menikmati Blog saya!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 4 Komentar

Antara seorang Bapak dan Ibu…

Prabowo Kopiah
Menarik mencermati pola pikir dari pasangan capres yang berkompetisi di tahun 2014 ini antara Prabowo dan Jokowi.

Saya mengamati dengan melihat debat yang telah diadakan 3 kali (satu kali capres dan cawapres), juga berita seputar kampanye mereka yang berkeliling mengunjungi nusantara. Dan akhirnya saya melihat bahwa karakter Bapak dan karakter Ibu-lah yang sedang bertarung. Karakter Bapak ada pada Prabowo Subianto sedangkan karakter Ibu ada pada Joko Widodo.

Kenapa begitu? Inilah yang saya amati:

Bapak adalah kepala rumah tangga. Seorang Bapak bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya. Dengan sendirinya, Bapak-lah yang bekerja mencari nafkah. Sama seperti Prabowo, beliau menekankan adanya ‘kebocoran’ berkali-kali sehingga menimbulkan polemik. Tidak hirau dengan polemik, bahkan pada debat yang ketigapun ia mengulanginya. Pada debat ketiga, Prabowo lebih spesifik mengatakan apa yang akan ia lakukan terhadap keuangan Negara: penghematan, menutup kebocoran pemakaian anggaran dan disisi lain mengejar uang Negara yang lari keluar negeri.

Lain Bapak lain Ibu. Seorang Ibu lebih focus ke dalam rumah tangganya. Ia bukan orang yang mencari penghasilan, tetapi yang mengurus rumah tangganya. Karenanya Ibu akan tahu secara detail apa yang harus dikerjakan dan dibelanjakan untuk kebutuhan rumah tangganya. Ia mempunyai shopping list yang komplit untuk membuat rumah tangganya nyaman, kadang tanpa terpikir dapat dari mana uangnya!

Jika Prabowo mengatakan akan mencetak sawah 2 juta hektar, dalam bayangannya adalah mencetak lapangan pekerjaan dan sumber penghasilan baru. Sedang Jokowi mengatakan ia akan membangun bendungan 25 buah dalam 5 tahun. Jokowi sudah punya shopping list untuk bidang pertanian, yaitu bendungan!

Bapak lebih bicara pada global, sedangkan Ibu akan bicara detail dan pelaksanaan dilapangan. Pada Prabowo dan Jokowi-pun juga demikian.

Mencetak sawah 2 juta hektar sawah adalah sasaran globalnya, dan pasti memerlukan irigasi dan pengairan, dan hal itu lebih teknis akan dibicarakan ditingkatan yang bawahnya, pada level Menteri dan Gubernur. Sedang Jokowi memulai dari bawah, bahwa pada saat sekarang, kekurangan pertanian di Indonesia dan hasil pertanian yang belum maksimal karena belum banyaknya bendungan untuk mengairi sawah, sehingga ia mengatakan akan membangun bendungan 25 buah dalam 5 tahun.

Jika Bapak lebih mengutamakan kebutuhan dasar dan apa adanya, maka Ibu kadang masih bisa memperhatikan hal-hal kecil yang mengundang perhatian. Hal itu juga tercermin pada Prabowo dan Jokowi. Prabowo sebagai cerminan figure Bapak tampil sesuai dengan apa yang dia miliki, benar-benar tanpa polesan. Dia punya helicopter, ya kemana-mana pake helicopter, meskipun ia sadar akan timbul stigma negative, dia punya mobil yang dipake untuk kegiatan sehari-hari, ya mobil itu pulalah yang mengantarkannya bolak-balik ke KPU. Sedang Jokowi lebih dipoles, dan sadar bahwa dirinya sedang menjadi sorotan dan berusaha mendapatkan suara dari masyarakat kecil, maka mulai dari kendaraan yang dia pakai waktu ke KPU ia atur betul, kadang memakai sepeda kemudian bajaj, minum jamu pada waktu test kesehatan, dan juga baliho dan banner kampanyenya juga memajang foto dirinya yang mengenakan barang yang harganya murah, sampai jas dan baju batik yang dikenakan pada waktu debat.

Jokowi Kopyah

Terlihat perihal sifat Bapak dan Ibu ketika Prabowo dan Jokowi menjawab pertanyaan moderator pada debat ketiga. Pada waktu tersebut, moderator bertanya, ‘Bagaimana bapak membuat kebijakan untuk mengambil peran penting membuat Indonesia disegani termasuk di luar kawasan termasuk menjadi pemimpin di Asean? Menjawab terlebih dahulu adalah Jokowi dengan jawaban: ‘ Dengan menjadi ketua konferensi seperti ketua KTT Asia, bisa membuat bangsa Indonesia dihargai oleh bangsa-bangsa lain, karena Negara-negara tersebut dengan sendirinya akan datang mendekat, butuh dengan kita, jadi konferensi semacam ini harus lebih sering kita adakan dan kita galakkan!’, kelihatan bahwa jawaban Jokowi mencerminkan seorang Ibu, yang senang kenduri dan perayaan-perayaan, terlibat dalam hal seperti arisan, sehingga kelihatan eksis ditetangga sekitar.

Sedangkan sifat Bapak tercermin pada jawaban Prabowo berikut: ‘Indonesia akan dihargai oleh bangsa lain bukan dengan banyaknya konferensi yang kita adakan, tapi Indonesia akan dihargai dan berwibawa dimata Negara lain jika ekonomi kita kuat, rakyat sejahtera dan hidup makmur!’. Bapak adalah orang yang mencari penghasilan, ia tahu kebutuhan dasar apa yang harus dipenuhi terlebih dahulu untuk Indonesia yang masih termasuk Negara berkembang.

Sama halnya ketika seorang anak dari keluarga sederhana ingin dirayakan ulang tahunnya, sang Bapak mungkin akan menjawab ‘Lebih baik ulang tahunmu ganti dengan beli buku atau sepatu saja!’, sedangkan sang Ibu berpikiran, ingin menyenangkan anaknya sekali-kali, yah tidak apalah kalau dirayakan dengan sederhana!

Rumah tangga akan hidup bersosialisasi dengan tetangga sekitar. Seorang Bapak adalah symbol dari rumah tangga tersebut. Apabila ada hal yang mengganggu dari luar, maka kewajiban Bapak-lah yang harus berperan aktif. Karena itu, Bapak terlihat lebih galak keluar sedang Ibu biasanya lebih kompromistis. Dalam paparan visi-misinya untuk hubungan internasional, Prabowo, sang Bapak terlihat tegas dan dengan nada bergetar mengatakan ‘Tidak sejengkal tanahpun akan dibiarkan lepas dari wilayah NKRI, tidak sejengkal tanahpun akan dibiarkan lepas dari wilayah NKRI!’ jarang-jarang Prabowo mengatakan sesuatu hal sampai dua kali dalam waktu yang sama sebagai tanda bahwa ia benar-benar menitikberatkan hal tersebut. Beda dengan Jokowi yang lebih menekankan diplomasi dan diplomasi, sebagaimana layaknya seorang Ibu.

Seorang Bapak adalah ‘anjing penjaga’ bagi rumah tangganya, sedangkan seorang Ibu menjadi pemanis hubungan bertetangga dengan bersosialisasi!
Mengenai geopolitik, yang merupakan politik dalam kehidupan bertetangga. Sama seperti halnya keterampilan seseorang dalam pengenalan ruang tiga dimensi. Seorang Bapak mempunyai pengenalan ruang tiga dimensi yang lebih baik daripada seorang Ibu. Bapak lebih hafal jalan-jalan daripada Ibu yang lebih suka tersesat jika pergi ke suatu kota. Bapak lebih sering berada diluar, sedangkan Ibu bertugas di bagian domestic.

Hal itu juga tercermin pada sifat antara Prabowo dan Jokowi ketika menjawab mengenai konflik Laut China Selatan. Ketika menjawab tentang konflik di Laut China Selatan, Jokowi menjawab dengan normatif kalau ia akan melihat kasusnya terlebih dahulu dan seberapa jauh konflik itu berpengaruh terhadap Indonesia, apakah menguntungkan apa tidak, terlihat bahwa Jokowi belum paham situasi disekitar ASEAN. Sedang Prabowo, yang kelihatan penguasaan ruang tiga dimensinya lebih baik dan paham tentang politik lingkungan sekitar, mengingatkan Jokowi, bahwa salah satu wilayah Indonesia ikut-ikutan diklaim dan menjadi salah satu potensi konflik di area Laut China Selatan.

Seorang Bapak jarang berkeluh kesah, tetapi seorang Ibu sering berkeluh kesah agar ia dimengerti. Jika Prabowo mempunyai sifat memuji orang lain, seperti pemerintahan SBY dan malah juga tanpa ragu memuji jawaban dari Jokowi apabila ia setuju dengannya, maka kalau Jokowi sering terlihat pasrah dan ‘berkeluh kesah’. Untuk suatu permasalahan, Jokowi sering mengatakan bahwa itu bukan salah dirinya, sebenarnya adalah hal yang wajar, karena ia ingin dimengerti bahwa ia telah bekerja keras tetapi ada hal yang diluar kuasanya yang tidak bisa ia pecahkan.

Cara berkampanyepun juga sangat berbeda. Jika Prabowo sering berorasi didepan banyak massa dilapangan dengan atribut yang laki banget, seperti membawa kuda, kacamata hitam atau berdiri di atas mobil, sedang Jokowi lebih terlihat tenang dan kikuk berorasi serta senang mendatangi pasar dan tempat keramaian. Meski Jokowi penggemar music rock, tetapi ia terlihat tenang dan mudah tersenyum.

Kalau dari segi fisik dan gesture, sangat mudah terlihat, kalau Prabowo mewakili seorang Bapak yang cara bicaranya lebih tegas dan percaya diri sedang Jokowi terlihat lebih kikuk, malu-malu dan dengan nada suara rendah.

Hobinyapun sangat berbeda, jika Prabowo mempunyai hobi pencak silat, terjun payung dan berkuda juga dikenal sangat aktif waktu muda, sedang Jokowi mempunyai hobi bersepeda dan jogging, dan pada masa mudanya relatif lebih tenang. Representasi yang sangat pas untuk Bapak dan Ibu.

Jika kita datang pada seorang Bapak, ia akan bercerita tentang cita-cita yang setinggi langit, ia akan mengajak kita berdiskusi tentang dunia luar dan menyemangati kita, ia juga akan menanyakan keadaan kita diluar seperti disekolah untuk memastikan tidak ada yang mengganggu kita, dan memberikan tips dan trik kepada kita untuk melawan hambatan dan gangguan dari luar. Figur Bapak adalah seorang yang visioner, berwibawa dan heroik dimata anggota keluarganya.

Hal yang berbeda akan kita rasakan jika datang pada seorang Ibu. Ia adalah pengawas kita untuk hal-hal yang kecil dalam keseharian, mengatur jadwal kita, peduli pada kesehatan kita, jam belajar kita dan segala etika yang harus ditegakkan. Wajah Ibu tidak akan seseram Bapak, ia menjadi tempat yang nyaman untuk mengadu bahkan Ibu dan anak juga sering saling berkeluh-kesah. Dalam beberapa hal ibu lebih permisif kepada anaknya, karena sifat kasihnya untuk menyenangkan anaknya. Figur Ibu adalah seorang yang ramah dan menjadi tempat mengadu.

Seorang Bapak mempunyai visi atau cita-cita, mengusahakan agar mendapatkan penghasilan untuk membiayai visinya, dan mempunyai jiwa kepemimpinan untuk ‘memaksa’ bagian dibawahnya dapat berjalan sesuai arah visinya. Seorang Bapak juga menjadi ‘anjing penjaga’ bagi rumah tangganya, harus tampil garang dan berwibawa, dan tidak boleh terlihat ‘menangis’. Ia menjadi pelindung bagi anggota keluarganya, memberikan rasa aman dan kebanggaan!

Sedang seorang Ibu mempunyai program-program kerja yang akan dilaksanakan sesuai arah dan tujuan rumah tangga tersebut, membagi pendapatan dengan baik agar semua program berjalan dan kemudian Ibu juga yang harus mengawasi agar program-program dapat terlaksana. Seorang Ibu akan tampil lebih lembut dan mengayomi, ia menjadi comforter bagi semua anggota keluarganya.

Seorang Bapak dan seorang Ibu tidak seharusnya bersaing, tetapi menjadi suatu mitra untuk membangun rumah tangga bersama.
Beberapa pengamat mengatakan bahwa perbedaan antara Prabowo dan Jokowi sama seperti perbedaan seorang Leader dengan Manager. Saya mempunyai pendapat yang berbeda, membandingkan mereka sama seperti membandingkan antara Bapak dan Ibu.

Keduanya sama-sama baik, tentu disesuaikan dengan kondisi kapan kita memerlukan porsi yang lebih banyak antara Leader dan Manager dan antara Bapak dan Ibu.

Pendapat saya, saat ini Ibu pertiwi lebih memerlukan figur seorang Bapak untuk menjadi kepala negaranya!

Salam Indonesia Raya!

Dipublikasi di Opini | Tag , , | 3 Komentar

Kebocoran dan mental inlander…

Prabowo-Subianto

Pertama dengar kebocoran yang disampaikan oleh Prabowo pada waktu debat yang ke dua dari capres, pada tanggal 15 Juni 2014, saya kaget. Menurut KPK, seperti yang ia dengar, kebocoran dari Negara bisa sampai Rp 7200 Trilyun dalam setahun. Sedangkan Prabowo, dari angka tersebut, mamakai kisaran angka yang menurutnya moderat tapi masih terdengar fantastis, Rp. 1.000,- Trilyun yang bisa diselamatkan!

Asosiasi saya, kebocoran adalah inefisiensi dari APBN, sementara APBN sendiri ada pada kisaran Rp 1.800,- Trilyun. Bagaimana mungkin?

Saya berusaha mencernanya dan mencari referensi yang ada. Banyak ekonom yang berpendapat tentang kebocoran ini, tetapi saya pandang kurang tepat, karena kalau bisa kita mendapatkan dari sumbernya langsung yaitu Prabowo, atau minimal dari Hatta Rajasa. Prabowo sendiri sampai saat ini belum pernah menjelaskan rinciannya. Petunjuk pertama datang dari Hatta Rajasa, cawapres yang mendampingi Prabowo dalam pertarungan pilpres 2014 ini.

Beliau mengatakan, yang pertama adalah, pendapatan Negara harus ditingkatkan dengan peningkatan pertumbuhan, trus yang kedua pendapatan Negara dapat bertambah dengan mencegah terjadinya kebocoran, misal dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) dengan memaksimalkan pengawasan agar kebocoran penyelundupan SDA keluar Indonesia bisa diminimalkan.

Pikiran saya mulai mendapatkan pencerahan. Dan kemudian ada petunjuk yang lain, teringat bahwa Prabowo menanyakan kepada Jokowi dalam debat itu ‘Bagaimana Jokowi akan menyikapi terhadap kontrak-kontrak yang dinilai merugikan kepada Bangsa Indonesia?’ Jokowipun memberikan jawaban: apabila dalam kontrak itu memungkinan Indonesia merenegosiasi dan pemerintah mampu membelinya maka hal itu akan dilakukan, namun dia mengingatkan apabila dalam kontrak kerja sama itu tidak ada peluang Indonesia untuk renegosiasi maka pemerintah harus memberi penghormatan terhadap kontrak tersebut.

Dengan melemparkan pertanyaan tersebut, Prabowo dengan cara yang elegan, sebenarnya sedang membandingkan sikap antara dirinya dengan pihak Jokowi. Jokowi lebih normative, mengikuti apa yang telah tercantum didalam kontrak. Sedang Prabowo, sejak awal dikenal dengan keinginannya untuk merenegosiasi kontrak yang dipandang merugikan. Dan menurut saya, hal itu sangat mungkin dilakukan! Apabila kita berbicara berdasarkan kontraktual, maka hal tersebut jelas tidak (jarang) memberikan peluang untuk dilakukan renegosiasi, tetapi apabila hal itu didasarkan kepada kemauan politik dengan alasan yang sangat jelas dan berani mengajak pihak luar untuk duduk bersama lagi membicarakan renegosiasi kontrak untuk kepentingan kedua bangsa, maka hal itu sangat mungkin untuk dilakukan! Pemimpinlah yang harus mampu mengolah isu lokal maupun internasional untuk menaikkan posisi tawar didalam melakukan renegosiasi dengan Negara lain.

Buktinya, pemerintahan SBY pernah melakukannya pada tahun 2008, untuk melakukan renegosiasi harga gas tangguh meski hasilnya sangat sedikit. Jusuf Kalla, wapres pada waktu itu, mengatakan bahwa potensi kerugian atas kontrak penjualan rugi yang ditandatangani Megawati pada tahun 2002 itu mencapai USD 75 Milyar, dalam rupiah angka tersebut melebihi Rp 850 trilyun selama masa kontrak (25 tahun).

Kontrak penjualan gas tangguh terjadi pada era Megawati, yaitu di tahun 2002. Gas tangguh dibuatkan kontrak untuk penjualan ke China dengan harga tetap, tidak mengikuti harga pasar, yaitu sebesar USD 3.35,- per MMBTU (setelah renegosiasi), sedangkan harga pasaran ini mencapai kisaran USD 15,- per MMBTU. Selisih itulah yang menjadi perhitungan kerugian yang dialami bangsa Indonesia selama kontrak berjalan. Saking murahnya, bahkan Pertamina sendiri rela membeli gas tangguh itu tiga kali lipat harganya.

Itu baru dari satu kontrak Gas Tangguh, sudah mempunyai nilai fantastis kerugian sebesar itu, belum kontrak-kontrak migas yang lain, dan masih diperparah seperti penyelundupan pasir ke Singapore, penyelundupan minyak bersubsidi keluar, kebocoran dari mineral lain seperti batubara, kayu-kayu di Indonesia yang diselundupkan, potensi kelautan yang banyak dijarah dari negara lain, penyelundupan barang-barang impor dari China dan Malaysia di perbatasan, pemalsuan cukai, pajak-pajak yang dikemplang. Rasanya kemudian, angka Rp 1.000,- Trilyun kebocoran menjadi sangat realistis.

Mari kita melihat data-data untuk membuka mata kita:

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara RI tahun 2014 adalah Rp 1.842.5 Trilyun sesuai data dari Kementrian Keuangan. Inilah besaran APBN untuk Indonesia yang mempunyai penduduk 240 juta jiwa. Bandingkan dengan Jepang, dengan penduduk yang hanya sekitar 130 juta jiwa, tetapi mempunyai APBN sampai USD 1.02 Trilyun, atau sekitar Rp. 11.500,- Trilyun. Jepang  mempunyai sumber daya alam yang terbatas, luasan wilayah yang lebih sempit, garis pantai yang jauh bila dibandingkan dengan Indonesia, dan juga hutan yang tidak sebanyak Indonesia,  tetapi dia unggul dibidang industri sehingga bisa memberikan kontribusi pendapatan kepada negaranya yang besar.

Bahkan, dibandingkan dengan perusahaan migas kelas dunia seperti SHELL dan EXXON, pendapatan negara Indonesia  masih dibawahnya.

SHELL, perusahaan migas Belanda, pada tahun buku 2013, mempunyai total pendapatan sebesar USD 481.7,- Miliar (sekitar Rp. 5.500,- Trilyun, dengan kurs Rp. 11.500,-) dan keuntungan USD 26.6 Milyar (sekitar Rp. 305 Trilyun) dengan total pegawai seluruh dunia sekitar 87.000 orang.

Sedangkan EXXON, perusahaan migas Amerika, pada tahun buku 2013, mempunyai total pendapatan sebesar USD 449.9 Miliar (sekitar Rp. 5.163,- Trilyun) dan keuntungan sebesar USD 44.9 Miliar (sekitar Rp. 516 Trilyun) dengan total pegawai seluruhnya sekitar 88 ribu orang.

Memang tidak bisa membandingkan antara pendapatan negara dengan pendapatan Multi National Company (MNC). Karena ada parameter lain misal Produk Domestik Bruto yang mengukur keseluruhan nilai pasar dan barang yang diproduksi oleh suatu Negara ataupun Pendapatan Asli Daerah yang dikelola oleh daerah sendiri. Atau bisa juga secara mudahnya, untuk mengetahui pendapatan seluruh bangsa Indonesia dengan mengalikan pendapatan perkapita diklikan jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan.  Karena pendapatan Negara adalah pendapatan yang diperoleh Negara dari pajak-pajak yuang ditarik oleh Negara kepada rakyatnya, royalty atau hasil pengelolaan sumber daya alamnya dan hasil pendapatan lain dari BUMN dan sebagainya.

Tetapi bagaimanapun juga terlihat sangat jomplang!!

Saya hanya mau memberikan gambaran, sebuah perusahaan besar dunia saja mampu menghasilkan keuntungan sebesar seperempat dari total pendapatan Negara besar seperti Indonesia. Dan, perusahaan tersebutpun bukan mempunyai kekayaan alam sendiri. Kebanyakan, ia hanya mengolah kekayaan alam di Negara-negara lain. Logikanya, yang mempunyai sumber kekayaan seharusnya bisa mempunyai pendapatan yang lebih besar!!

Pendapatan Negara tahun 2014 sebesar Rp 1842.5 Trilyun, sedangkan pendapatan EXXON sampai mencapai Rp. 5.143,- Trilyun dengan keuntungan sebesar Rp 516 Trilyun. Bayangkan, keuntungannya saja Rp 516 Trilyun!

Pendapatan sebesar Rp 1.842.5 Trilyun itulah yang dipakai untuk membayar gaji PNS, TNI-Polri, anggota DPR,  membangun rumah sakit, kantor, sekolah, jalan, jembatan, pasar, membeli pesawat tempur, kapal perang, tank, dana bencana alam, subsidi BBM dan pupuk dan sebagainya, dan itu untuk keperluan seluruh bangsa Indonesia yang berjumlah 250 juta jiwa!

Sedangkan Exxon, dengan pendapatan sebesar hampir 3 kali pendapatan Negara Indonesia, dan keuntungannya mencapai Rp 516 Trilyun, itu adalah sebuah perusahaan dengan kemampuan sebuah Negara!!

Karena mempunyai kemampuan seperti Negara itulah, dengan kekuatan modal yang dimilikinya, ia akan terus berusaha mempertahankan sumber-sumber pendapatannya dibanyak Negara sekuat mungkin!

Kwik Kian Gie, mantan Mentri Negara PPN / Kepala Bappenas,  menceritakan pengalamannya di kabinet selama pemerintahan Gus Dur dan Megawati, bagaimana ia ditekan dari rekan bangsanya sendiri dan juga tekanan dari pemerintahan Amerika ketika ia menolak untuk memperpanjang kontrak EXXON di blok Cepu – Bojonegoro.

EXXON adalah perusahaan dengan kemampuan seperti Negara, tentu tidak rela salah satu sumber pendapatannya lenyap, dan ia berani melakukan segala cara untuk mempertahankannya!

Kwik Kian Gie, merasa heran, bagaimana ia dikeroyok oleh bangsanya sendiri yang ia sebut mempunyai mental inlander, dalam mempertahankan agar perpanjangan kontrak Exxon di blok Cepu tidak diperpanjang!

Mental inlander adalah mental inferior atau rendah diri dan tidak percaya diri sebagai sebuah bangsa dan memandang bangsa lain jauh lebih maju!

Blok Cepu kemudian diperpanjang, untuk dikelola lagi oleh Exxon sampai tahun 2030, memupus harapan untuk dikelola sendiri oleh ibu pertiwi.

Kwik Kian Gie-pun berkesimpulan dan mengatakan ‘Dibutuhkan pemimpin yang revolusioner untuk melakukan renegosiasi atas kontrak-kontrak asing!’

Pemimpin yang revolusioner disini adalah Presiden, karena untuk negosiasi dengan perusahaan raksasa tentulah bukan hanya level dari seorang menteri seperti dirinya!

Negara kapitalis asing pemilik banyak perusahaan raksasa, perusahaan dengan kekuatan seperti Negara,  berharap agar kepentingannya di Indonesia tetap aman tidak terganggu, sehingga tidak menginginkan terciptanya pemimpin yang oleh Kwik Kian Gie digambarkan sebagai Pemimpin yang Revolusioner!

Ketika Prabowo Subianto, menyatakan adanya kebocoran dana Rp. 7.200,- Trilyun dan dia memprogramkan untuk menyelamatkan Rp. 1.000,- Trilyun-nya saja, orang-orang terpana dan terkejut. Kalau orang awam mungkin wajar bila dia terkejut, tetapi apabila banyak pelaku ekonomi dan para elitis juga tidak mengerti dan ikut mempertanyakannya juga, sepertinya mereka sudah terjangkit mental inlander. Mereka sibuk dan berpolemik dengan istilah ‘kebocoran’ daripada memperhatikan substansinya, bagaimana cara menutup dan mendapatkannya kembali!

Prabowo Subianto menyadarkan bangsa Indonesia, bahwa kita hidup dialam yang sangat kaya raya, yang belum tergarap maksimal dan mampu membuat rakyatnya makmur dan sejahtera!

Saatnya anda memilih, kalau bukan sekarang kapan lagi, kalau bukan kita, siapa lagi!!

Salam Indonesia Raya!

 

Referensi:

Ini Penjelasan Hatta Rajasa Soal Kebocoran Anggaran Rp 1.000,- Trilyun

Potensi Rugi Rp 750 Trilyun, Harga Gas Tangguh Harus Tinggi

Fortune Global 500, daftar perusahaan kelas dunia.

Kwik Kian Gie: Renegosiasi Kontrak Asing Butuh Pemimpin Revolusioner

Kwik Kian Gie: Terjajah Exxon Mobil di Cepu

Dipublikasi di Opini | Tag , | Tinggalkan komentar

Prabowo-ku, Prabowo-mu dan ‘Prabowo sendiri’…

???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

There are three sides to every story, your sides, their sides and the truth. Anonymous.

Tiga kali saya menuliskan tentang Jokowi di blog saya ini, semua tentang hal positif dari dia, kekaguman saya kepadanya. Tulisan terakhir saya dibuat bulan Maret 2013, atau sekitar 5 bulan setelah Jokowi dilantik, saya sudah mulai khawatir, karena konsentrasi dia sudah diganggu, menggadang-gadang dia untuk maju di Pilpres. Harapan saya agar dia tetap menjalankan amanahnya, karena dengan dia di Jakarta (dan terutama terbantu dengan Ahok-nya), saya seakan melihat kota Jakarta yang akan seperti kota-kota dunia lainnya: mempunyai MRT, lalu-lintas lancar, taman kota yang banyak dan bersih. Harus ada pembuktian dahulu, meninggalkan Jakarta kurang dari dua tahun karena Pilpres, saya melihatnya bukan rekam jejak yang baik!

Sebaliknya tentang Prabowo. Ada seorang temenku, seorang marinir, yang kebetulan menjaga ibukota pada waktu krisis Mei 1998. Dulu, ketika 1998, marinir termasuk pasukan yang disenangi oleh para demonstran, karena aksinya yang lebih simpatik. Temenku, walaupun tidak secara langsung berhubungan dengan Prabowo, mendengar sepak terjang Prabowo, dan dimata kebanyakan prajurit, Prabowo melegenda, dan beritanya positif!

Setiap kali, temenku marinir tersebut selesai berbicara tentang Prabowo, saya selalu katakan padanya, bahwa Prabowo adalah pelanggar HAM! Sama sekali tidak tertarik untuk membahas seorang pelanggar HAM, itu sekitar 1-2 tahun yang lalu! Dalam hati saya berucap, kekaguman seperti temenku marinir tersebut sifatnya emosional, dan biasanya saya tidak terlalu suka karena kandungan subjektifitasnya yang tinggi.

Sahabatku lain lagi, dia ceritakan, bahwa sejak 2009 ia telah memilih Prabowo, meski kala itu bersanding dengan Megawati. Ia melihat sosok Prabowo-nya, bukan Megawatinya! Wow, sejak 2009?!? Ini menarik, pasti ada alasan ideologis yang lebih dalam tentang Prabowo, dan saya mulai berminat untuk lebih menyimaknya.

Dan kemudian seorang yang lain yang sangat dekat dengan saya, seorang aktifis, bercerita tentang Prabowo. Iya diundang oleh Prabowo kerumahnya di Hambalang. Aktifis ini kegiatannya kerap berseberangan dengan kebijakan pemerintah, utamanya dibidang migas. Yang menarik, gagasan-gagasan seperti itu ternyata mengundang minat seorang Prabowo!

Dan dimulailah pencarian dan pengamatan sosok Prabowo!

Tentang HAM, seribu kalipun Prabowo berbicara pasti tidak akan mengubur masalah HAM yang melekat padanya untuk peristiwa tahun 1998. Dijaman yang kebebasan persnya sudah ‘melewati batas’ ini, opini dari seorang yang tidak relevanpun bisa masuk dalam sebuah pemberitaan. Seorang saja yang menggugat tentang HAM pada Prabowo bisa menjadi pemberitaan nasional.

Tentang HAM, saya melihatnya sebagai sebuah kesalahan institusional. Ada adagium, tidak pernah ada penyebab tunggal didalam sebuah kecelakaan, semuanya bersebab-musabab yang saling berkaitan satu sama lainnya. Apalagi kalau dilihat bahwa konteksnya pada waktu itu adalah ‘krisis’ yang hampir mengarah kepada ‘chaos’, dimana segala tindakan pencegahan harus dilakukan.

Untuk sebuah kesalahan ‘institusional’ harus ditebus dengan harga yang mahal karena menyangkut integritas TNI dan kepercayaan masyarakat padanya. Karena itu diperlukanlah sebuah kambing hitam, yang kemudian dilekatkan pada seorang Prabowo. Dan, Prabowo adalah kambing hitam yang sangat baik dalam arti yang sesungguhnya. Dia rela tidak bersuara karena alasan sumpah Sapta Marga, dan yang lebih dari itu adalah, karena ia sadar bahwa dengan kesediaannya menjadi ‘kambing hitam’ permasalahan bisa dianggap selesai, bangsa Indonesia tidak larut didalam energi negatif penghujatan yang menguras produktifitas bangsa.

Ada satu tulisan yang merekonstruksi secara bagus peristiwa 1998. Tulisan itu dibuat oleh media luar Asiaweek, No. 8/Vol. 26, 3 March 2000. inilah tulisan yang menurut saya mempunyai kadar objektifitas yang lebih baik. Terjemahannya dapat dibaca disini.

Kemudian akhir-akhir ini, keluarlah salinan surat rekomendasi dari DKP untuk pemecatan Prabowo. Surat yang semestinya termasuk dalam kategori Rahasia Negara ini beredar, dan menambah keyakinan saya kalau Prabowo adalah kambing hitam, ia menjadi sasaran tembak dari mantan oknum korpsnya sendiri yang saat ini sedang menjadi timses dari kubu sebelah. Isu HAM sama sekali tidak pernah diutak-atik ketika Prabowo menjadi cawapresnya Megawati pada tahun 2009.

Satu hal lagi yang membuat keyakinan saya bahwa Prabowo tidak bersalah adalah kedekatannya dengan aktivis sejak lama. Banyak aktivis 98 dan bahkan korban penculikan yang ada di Partai Gerindra, seperti Fadli Zon, Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam, Desmon J Mahesa dan Aan Rusdiana. Dan bahkan, terungkap bahwa ia juga akrab dengan Soe Hok Gie, seperti tertulis pada Koran Sinar Harapan disini. Kemudian saya teringat, pada seorang sahabat yang aktifis yang saya sebut dimuka yang pernah diundang kerumahnya di Hambalang, hal ini mengkonfirmasi bahwa Prabowo adalah sosok yang sangat peduli terhadap permasalahan bangsa ini.

Permasalahan HAM-nya Prabowo kemudian saya anggap selesai!.

Aristides Katoppo

Pencarian saya kemudian, menyoal Prabowo dari segi leadership-nya, karena kita akan mencari pemimpin nasional.

Prabowo mulai kerap terpampang di media ketika partainya sibuk mencari teman koalisi. Dan akhirnya, dengan tambahan suara dari Golkar, PPP, PKS, PAN, PBB dan terakhir Demokrat, koalisi merah putih ini berhasil mengusung Prabowo menjadi capres tahun 2014.

PDIP selalu mengibaratkan bahwa koalisi yang diusungnya adalah koalisi ramping dan merupakan koalisi kerakyatan, sedangkan utnuk koalisi yang mengusung Prabowo, PDIP menyebutnya sebagai koalisi elit.

Sekilas terlihat benar, apa yang ‘dituduhkan’ oleh PDIP pada koalisi merah putih ini. Tetapi saya melihatnya dari sisi yang berbeda. Prabowo selalu menegaskan bahwa ia membutuhkan sebanyak-banyaknya dukungan anak bangsa untuk koalisinya, ia tidak membatasinya, ia mengatakan sebanyak-banyaknya!

Didalam membangun, diharapkan semua elemen bangsa dapat berpartisipasi, dan itu tidak boleh dibatasi. Gesekan-gesekan yang terjadi antar elemen bangsa, itu sangat wajar, dan disinilah dibutuhkan kepemimpinan yang kuat untuk menjadikan perbedaan itu sebagai sebuah kekuatan, dan itu ada pada Prabowo Subianto.

Apabila ada yang bangga mengatakan bahwa ia hanyalah koalisi yang ramping, tidak membagi-bagi kekuasaan dan membatasi jumlah koalisinya, justru itulah koalisi yang bersifat elitis!

Dan terbukti, dukungan dari elemen masyarakat yang non parpol mengalir deras ke Prabowo. Pendukungnya sangat bervariasi, artis, penyanyi dan seniman lebih banyak yang mendukung Prabowo, buruh juga mendukung Prabowo karena Prabowo satu-satunya capres yang datang pada waktu aksi buruh May Day 2014 di GBK dan menandatangani kontrak politik, para kiai dan ulama dengan para santrinya yang jauh lebih banyak jumlahnya daripada dukungan kepada pasangan capres yang lain, ibu-ibu dengan berbagai atribut, seperti kelompok pengajian dan arisan, tukang becak, para petani dan nelayan, Aktivis 98, bahkan dari elemen bangsa yang kerap bertampang sangar seperti FPI, FBR, Pemuda Pancasila dan FKPPI juga mendukung Prabowo. Hal itu menunjukkan bahwa Prabowo mempunyai jiwa kepemimpinan yang tinggi yang dipercaya oleh semua elemen bangsa untuk memimpin Negara ini.

Sifat kepemimpinan yang lain yang saya lihat ada pada Prabowo adalah passion-nya, gairahnya! Ngomongnya selalu berapi-api, berenergi! Ada jiwa didalam setiap kata-katanya, dan jiwa itu menular kepada pendengarnya, apalagi kalau ia menjadi presiden, jiwa itu akan menular kepada seluruh elemen bangsa! Pemimpin adalah pembawa semangat, memang terasa tidak adil, tapi kita tidak ingin mendengar seorang pemimpin itu mengeluh dan masa bodoh. Pemimpin itu harus bisa membangkitkan jiwa yang lemah, dan membuat orang bergerak untuk berbuat mencapai tujuannya. Saya sama sekali tidak suka kepada pemimpin yang pasrah dan sederhana, yang biasanya terungkap dari kata-katanya: rapopo, capek, bukan urusan saya, gak mikir dan semacamnya.

Determinasi adalah konsistensi dan tekad yang kuat untuk mencapai tujuannya. Banyak orang yang sinis kepada Prabowo, karena sudah bertahun-tahun memimpikan menjadi seorang Presiden. Untuk adat ketimuran seperti Indonesia, hal seperti itu memang terasa lancang. Padahal, di Amerika, seorang Presiden bukan didapat secara kebetulan. Ia telah berpeluh mensosialisasikan dirinya jauh hari sebelumnya, sampai 5 – 10 tahun sebelumnya. Sedangkan di Indonesia, masyarakat terasa lebih menghargai pernyataan ‘Yah, kalau masyarakat Indonesia memberi amanah, saya siap!’ atau ‘Yah, kita lihat dulu dinamika yang ada di masyarakat Indonesia!’ atau yang lebih parah lagi ‘Saya gak memikirkannya!’ yang terasa lebih sopan ketika seorang tokoh diberi pertanyaan ‘Apakah anda siap untuk jadi Presiden?’

Prabowo telah mencanangkannya jauh hari sebelumnya. Karena itu ia telah mempersiapkannya. Pada waktu debat kandidat, terasa penguasaannya pada materi visi dan misinya karena hal itu lahir dari dalam jiwanya. Sama halnya seperti para siswa yang akan mengikuti ujian, bisa dibedakan penguasaan materi antara siswa yang belajar baru semalam dengan siswa yang telah belajar jauh hari sebelumnya.

Mungkin ini terkait dengan ‘adat ketimuran’ yang saya rasa negatif. Ketika anak seorang yang pas-pasan mempunyai cita-cita yang tinggi, orang-tuanya kadang telah membendung cita-citanya yang dipandang berlebihan. Orang tua akan berkata pada anaknya seperti ‘Yang penting hidupmu enak, jangan mikirin yang tinggi-tinggi, kalau jatuh sakit!’. Sifat ini terus berkembang menjadi sifat komunal, diantara anak-anak sering mereka merasa iri dan berusaha ‘mematikan bakat’ jika melihat anak lain yang menonjol. Seiring dengan perkembangan kesejahteraan dan pendidikan, sifat itu perlahan akan mengikis.

Yang tak kalah pentingnya dari sifat kepemimpinan adalah gesture, bahasa tubuh. Apabila memperhatikan Prabowo, kita akan melihat sikap tubuh yang tidak pernah berhenti untuk bergerak. Tidak pernah terlihat bengong, selalu aktif dengan mengambil inisiatif duluan (seperti memberikan salam penghormatan terlebih dahulu kepada Megawati cs waktu di KPU, atau berinisiatif mengangkat tangan Jokowi pada waktu deklarasi damai dan sebagainya), kalau tubuhnya diam, akan kelihatan bahwa tatapan matanya tidak kosong. Perhatikan pada waktu debat kedua capres yang diadakan 15 Juni 2014 yang lalu, sikap Prabowo pada waktu belum mendapat giliran berbicara,  terlihat ia menyimak dengan seksama pertanyaan atau pernyataan dari Jokowi, tidak ada kesan mencibir, tetapi semuanya disimak, sesekali ia mencatat, dan kadang ia memainkan jari kedua tangannya yang menunjukkan ia berpikir. Bahasa tubuh yang aktif dan dinamis.

Satu hal lagi yang saya sendiri kaget ketika mengetahuinya, Prabowo suka membaca! Dalam pandangan saya, seorang yang suka membaca lebih bersifat objektif, karena ia dapat dan mau ‘dimasuki’ oleh pendapat-pendapat lain yang ia peroleh dari membaca. Seseorang yang biasanya bekerja dengan mengutamakan fisik dan kekuatan, maka biasanya jarang mempunyai kebiasaan membaca. Pekerja yang pemikir dan pemikir yang pekerja adalah suatu yang ideal. Biasanya jika seorang menjadi pekerja, ia tidak terlalu pemikir, dan juga seorang pemikir sering hanya jago di atas kertas, karena ia bukan seorang pekerja.

Passion, determinant dan gesture yang memang berkelas Pemimpin, itulah yang membuat saya berkesimpulan bahwa Prabowo-lah yang layak memimpin bangsa ini!

Inilah Prabowo-ku, tentu berbeda dengan Prabowo-mu dan Prabowo itu sendiri.

——

Pemenang Pertama Blog Kontes http://bloggerindonesiasatu.org/pengumuman-pemenang/

brosur-lomba-blog-kontes-prabowo-hatta-225x300

Dipublikasi di Opini | Tag , , , | 20 Komentar

Wonderful Gili Labak!!

Berawal dari message seorang temen lewat WA, untuk mencoba mengunjungi Pulau Gili Labak. Hhmmm, namanya aja baru denger, disangka pertama nama pulau sekitar Lombok, ternyata ada di Madura!!

Kemudian saya googling di internet dengan keyword ‘Gili Labak’, dan komentarnya, sungguh menakjubkan!! Rata-rata mereka yang telah berkunjung kesana dibuat takjub dengan keindahan alam terutama pantainya dengan airnya yang bening, pasir pantai yang lembut dan landai dan terumbu karang yang masih ada.

Penasaran karena saya orang Madura dan ada Pulau yang bagus di Madura, hari Sabtu Minggu 18-19 April, kemaren saya mengunjunginya dan meng-explore pesona pulau tersebut, saya dan rombongan putuskan untuk menginap semalam. Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan disana. Mengelilingi Pulau Gili Labak hanya perlu waktu 20 menitan. Dari segala sisi, pulau ini memang sangat menawan. Pasirnya juga berbeda disetiap sisinya, pada sisi barat sangat lembut tetapi di sisi timur butirannya agak kasar. Beberapa ada pohon yang telah tumbang karena abrasi pantai, pohon tumbang yang tinggal rantingnya itu menjadi spot foto yang sangat menarik. Juga beberapa perahu nelayan yang bersandar dan diikatkan ke pohon kelapa, terlihat melayang karena airnya yang bening, bagus juga untuk difoto. Disisi barat ada pasir pantai yang agak menjorok ketengah, sehingga terkesan ada pulau didalam pulau. Banyaknya spot foto,  menjadikan Gili Labak layak dijadikan tempat pengambilan foto pre-wedding seperti yang saya lihat pada saat saya berkunjung kesana.

Kita juga bisa menikmati matahari terbenam dan terbit sekaligus. Pulaunya yang hanya seluas 5 hektar juga menyajikan pemandangan 360o, hanya tinggal geser sedikit saja kita akan menyaksikan pemandangan yang berbeda.

Pada waktu malam, menyaksikan langit yang bertabur milyaran bintang akan membuat kita takjub akan kebesaran Ilahi. Pulau ini hanya diterangi dengan lampu tenaga diesel dan tenaga surya. Sehingga membuat malam yang pekat dan kita dapat menyaksikan bermilyar bintang yang sangat terang. Sudah lama saya tidak melihat bintang, jika melihat bintang, saya selalu teringat masa kecil ketika diajak ke tempat nenek didesa yang memiliki cakrawala luas dan dapat melihat bintang dengan leluasa. Suasananya hening, suara yang ada hanya suara motor diesel untuk penerangan lampu.

Waktu malam kita juga dapat bakar ikan dengan biaya yang sangat murah. Pulau Gili Labak adalah desa nelayan dan juga menjadi transit para nelayan dari pulau lain waktu mencari ikan. Jadi ikan berlimpah dan sangat murah dan kita bisa langsung membakarnya.

Penduduknya juga sangat ramah, sangat membantu dan gak pamrih. Sebagai tamu tentu kita harus sok akrab terlebih dahulu dan menyapa mereka, karena mereka penduduk desa yang lugu dan kadang terlihat ‘rendah diri’ untuk menyapa kita. Pada waktu kita kesana, niatnya nginap, tetapi sama sekali gak terbayang akan menginap dimana? Sesampainya disana, penduduk sangat ramah dan mempersilahkan kita menginap, tentu dengan fasilitas yang seadanya. Bisa juga tidur di mushalla atau masjid disana. Bermalam dengan fasilitas minim akan memberikan pengalaman yang sangat berharga serta berbeda, kita akan terkenang selamanya.

Keesokan harinya, pagi-pagi saya sudah siap-siap berburu matahari terbit. Sayang, cuaca terlihat mendung dan mataharinya bersembunyi malu. Setelah itu dilanjutkan dengan main-main air sampai ke daerah yang ada terumbu karangnya. Keindahan bawah laut yang menawan. Temen saya berhasil menangkap ikan hias Nemo, setelah jadi model foto beberapa saat, ikan Nemo tersebut kita lepaskan kembali. Mungkin bulan April seperti saat saya berkunjung ini termasuk bulan yang tepat kesana. Suhu air pada waktu saya berenang disana, sangat pas, sehingga betah untuk berlama-lama. Disamping juga pasirnya yang enak dikaki, pantainya yang landai dan gelombang laut yang sangat tenang. Pada waktu malampun juga anginnya sangat bersahabat, tidak membuat kita masuk angin.

Btw, Gili Labak memang belum banyak dikenal, pada waktu saya ke pelabuhan Kalianget – Sumenep pun lebih banyak orang yang bengong jika ditanyain Gili Labak. Ada beberapa cara untuk menuju kesana. Bisa dari desa Tanjung Kecamatan Saronggi, bisa dari Kalianget, dan jarak yang paling dekat dari Desa Kombang di Pulau Talango. Dari Desa Kombang menuju ke Gili Labak hanya memerlukan waktu 1 jam dengan perahu motor, sedangkan dari tempat lain bisa 2 – 4 jam perjalanan laut.

Satu informasi yang saya dapatkan pada waktu saya googling mengatakan kalau disana sulit air, sehingga saya bawa banyak persediaan air dan juga makanan untuk malam. Tapi informasi itu tidak sepenuhnya benar, ada toko sederhana di Gili Labak yang jual air minum dan bahkan juga menyiapkan makan malam yang sangat khas. Cuman memang tidak banyak yang tahu, karena toko tersebut tidak kelihatan, dan mengenai makan malam itu biasanya mereka tawarkan jika kita sudah akrab.

Dan kalau menginap, usahakan agar batere kamera dan handphone terisi penuh. Karena disana hanya ada diesel dan listrik tenaga surya. Waktu saya kesana, belum sampai tuntas ambil gambar, batere kamera dua-duanya habis, terpaksa banyak keindahan yang tidak terekam. Saya juga ambil 2 gambar dari blog yang berbeda, yah untuk menggambarkan pemandangan yang memang saya lihat dan tidak sempat terekam.

Kalau mau kesana, baik untuk menginap ataupun pulang hari, usahakan bisa dengan teman atau ditemani guide yang bisa berbahasa Madura dan sudah paham pulau tersebut. Bisa menghubungi saya via email untuk informasi lebih lanjut bila diperlukan: ahmadramadlan@yahoo.com.

Semua pengalaman selama berlibur disana, sangat berkesan, priceless!!

Catatan:

Foto No 4, Sumber: epicsumenep.wordpress.com

Foto No 5, Sumber: indraprawiranegara.wordpress.com


1sebelumberangkat 2diatas perahu 3GiliLabakdarijauh 4Gili Labak Epic Sumenep 5gililabakindra 6shelterwarno 7preweding 8tanjung 9sunset 10jernih 11pelangi

12finding nemo

Dipublikasi di Perjalanan | Tag , , , | 4 Komentar

Ternyata ‘benar’…

keluarga-ilustrasi-kartun

Dulu, semasa masih SD, ortu tidak pernah memberikan uang jajan kepada saya ketika berangkat sekolah. Uang jajan hanya diberikan jika ada pelajaran olah raga. Sebagai gantinya, sarapan pagi adalah menu wajib bagi kami semua. Dilarang sekolah apabila belum sarapan! Dan, apabila ada kue-kue dirumah, kita bawa sebagai bekal, kalau minuman, udah pasti tiap hari kita bawa ke sekolah.

Alasannya, katanya nanti saya tidak akan konsentrasi kepada pelajaran di sekolah, ingetnya nanti ke jajan terus. Usia SD yang masih ‘pendek pikiran’ tentu tidak terima alasan tersebut, berulang kali protes, tapi tetep aja policy itu menjadi hak prerogatif ortu.

Waktu itu saya sama sekali tidak mengerti, apa hubungannya konsentrasi dengan uang jajan. Jalan pikiran yang pendek, tidak menerima alasan tersebut. Yang jelas, saya kemudian menjadi merasa ‘tersisih’ dari pergaulan teman-teman yang dengan riang gembira, jajan sesukanya!

Sekarang saya membenarkan apa yang dilakukan ortu. Jajanan sekolah sangatlah tidak sehat. Yang jualan juga kurang menjaga hygiene. Alasan kalo mengganggu konsentrasi sepertinya hanya ‘kamuflase’, karena menuduh bahwa makanan diluar tidak sehat, tentu bukan hal yang bijak.

Saya juga paling sebal ke Ibu, waktu itu! Ibu seperti polisi yang mengawasi segala tingkah polah anaknya. Kaki diatas meja, baju seragam atau kaos kaki yang berserakan, terlambat pulang, terlambat shalat, tidak tidur siang akan menjadi alasan Ibu untuk bertindak. Tidak lelah ia mengingatkan dan tidak lelah pula saya merengut dan ngedumel meskipun akhirnya dipatuhi juga!

Kalo mengingat apa yang dilakukan oleh Ibu, saya sekarang tersenyum dan tidak merengut lagi, setuju dan membenarkan apa yang telah beliau lakukan dulu. Kalo tidak, tentu saya tidak akan menjadi orang yang tidak disiplin dan tidak beretika alias slonong boy…

Tentang televisi. Ortu, terutama Ibu, paling rajin komentar yang ‘pedas’. Kalo ada tayangan film action yang tentu saja ada laganya, ia akan berkomentar ‘Apa tuh, kayak binatang aja!’, atau kalo liat tayangan joget-joget dan nyanyi-nyanyi di TV, ia akan berkomentar ‘Kayak setan aja!’, dan jangan harap kita masih nonton TV pas adzan maghrib, haram hukumnya!

Dan sekarang, tayangan TV udah bener-bener kebablasan, berita positifnya dikit banget! Isinya perselingkuhan, pembunuhan, pemerkosaan, politikus yang janji-janji, pemeriksaan KPK, pengeroyokan, penyanderaan, penyekapan, narkoba dan lainnya. Saya gak perlu lagi disuruh ortu untuk mematikan atau mengalihkan TV ke acara yang positif, karena dengan sendirinya saya muak menonton acara-acara itu semua! Hhmmm, bener juga yah orang tua kita dulu.

Ternyata, tidak semua perbuatan yang baik dan benar itu kita akan langsung membenarkannya saat itu juga, kadang memerlukan proses, bisa lama atau sebentar, dan bahkan kadang kita membenarkannya ketika orang yang berkata tersebut telah tiada meninggalkan kita.

So, wariskanlah selalu perbuatan yang baik dan benar, karena hal tersebut akan selalu dikenang dan memberikan manfaat.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

-Qs Ibrahim (14):25-26-

Dipublikasi di Sekelebatan | Tinggalkan komentar

Tidak mengatakan tidak…

Katakan-tidak-pada-yang-mulia

Pada waktu mengikuti pendidikan Management Trainee di Merpati Nusantara Airlines dulu, ada satu pelajaran mengenai Etiket (bukan e-ticket ya, tetapi etiquette, hehehe) yang saya rasa sangat berguna karena menyangkut kehidupan keta sehari-hari. Kelihatannya remeh yang diajarkan, tetapi ternyata sesuatu banget! Mulai dari cara pasang, kombinasi, makna, jenis dari dasi, etika berjalan bersama, etika di meja makan sampai etika berbicara dan berdiskusi.

Etika berbicara dalam meeting ataupun diskusi memang sangat penting. Kita menginginkan suasana diskusi yang kondusif, hangat dan tanpa saling mengintimidasi, semua peserta dapat mengeksplorasi idenya dan diskusinyapun menjadi produktif. Untuk terciptanya itu semua, cara berbicara dan mengungkapkan pendapat mempunyai arti penting.

Ada kalanya kita tidak sependapat dengan pendapat orang lain, ketidak setujuan yang disampaikan terlalu ‘terus terang’, vulgar bahkan menjatuhkan pasti akan memancing rasa tidak senang dari lawan bicaranya. Dengan berbagai cara sang lawan bicara akan mati-matian mempertahankan pendapatnya, dan kadang sudah bukan masalah benar atau salah lagi, tetapi lebih karena gengsi sehingga ia tetap dengan pendapatnya. Kalaupun sang lawan bicara sudah ditaklukan dan mengakui kalau pendapatnya salah, itupun dengan meninggalkan sakit hati dan dendam kesumat yang dalam, hehehe, lebay!!

Satu hal yang diajarkan dulu adalah,hindarilah mengatakan ‘tidak’ meskipun kita ‘tidak setuju’ atas pendapat orang lain. Katakan ‘tidak’ dengan cara yang berbeda, yang esensinya sebenarnya adalah sama, kita tidak setuju dengan pendapatnya.

‘Pendapat saudara A bisa saya pahami, dan alangkah lebih baiknya bila bla bla bla mengingat bla bla bla…’, akan lebih etis daripada kita mengatakan ‘Pendapat saudara A itu sama sekali tidak berdasar, dan lebih baik kita bla bla bla!’. Esensinya sama, tidak menyetujui pendapat si A, tetapi ungkapan yang pertama lebih baik, karena kita menyampaikan alasan-alasan kenapa kita tidak menyetujui pendapatnya, dan tidak ada kata ‘tidak’ pada kalimat pertama.

Bisa juga kita mengatakan ‘Saya mempunyai referensi lain dan juga pengalaman yang bisa dijadikan pertimbangan. Apabila kita melakukan hal tersebut (pendapat si A misalnya) maka hasilnya adalah bla bla bla, sedangkan bila kita melakukan (utarakan ide kita) hasil yang didapat adalah bla bla bla!’. Dari kalimat tersebut akan nampak bahwa pendapat kita lebih baik, tetapi dengan membiarkan peserta diskusi untuk mengambil kesimpulan sendiri.

Atau ‘Saya sependapat dengan saudara A, dimana bla bla bla (pendapat A) dan kita berada pada kondisi bla bla bla, dalam kasus ini kita berada pada kondisi bla bla bla, mungkin ada baiknya jika kita mempunyai alternatif lain seperti bla bla bla karena bla bla bla!’

Kelihatannya berbelit-belit dan muter-muter ya! Ketika saya praktekkan, banyak manfaat yang didapat, seperti berlatih untuk mengontrol emosi kita yang kadang tidak terjaga ketika berdiskusi, disamping juga kita akan lebih terbiasa berbicara dengan argumen atau alasan yang kuat, karena kita tidak fokus dengan hanya mencari kelemahan-kelemahan dari pendapat lawan saja. Dan yang paling utama, tidak akan yang tersakiti hatinya oleh ucapan kita!

Cobalah berlatih, practices makes perfect!

Intinya adalah ‘berkata tidak dengan tidak mengatakan tidak’. Seperti banyak orang bilang ‘Bukan masalah apa yang kamu katakan, tetapi bagaimana cara kamu mengatakannya!’.

Berlatih menggunakan kata yang positif walaupun untuk hal yang negatif!

——-

Gambar kartun diperoleh dari micecartoon.com, lucu sih, meski ‘kurang menguatkan’ dengan isi artikel ini, hehehe…

Dipublikasi di Sekelebatan, Tips dan Trik | Tag , | Tinggalkan komentar

Nomer cantik…

Nomer cantik penipuan

Di suatu hari Sabtu, sebuah SMS iklan masuk pada hapeku:

Dijual nomer cantik: 0812xxxxyyyy, 08123456789, 0812xxxxyyyy Harga Rp. 750.000,- Berminat, hubungi: 085779999363 Sri Cellular.

Sering SMS iklan masuk ke hapeku, sering terabaikan, tapi yang ini agak beda, nomer cantik 08123456789 memancing minatku untuk mendapatkannya. Saya terima SMS malem-malem, menjelang subuh, kemudian saya SMS balik, menanyakan apakah nomer itu masih ada?, gak lama berselang, dijawab ‘ada’.

Sibuk beraktivitas, saya baru bisa menghubungi lagi waktu siang, mengkonfirmasi apakah nomer cantik 08123456789 masih ada? Ternyata, masih! Saya menanyakan alamatnya dia memberi juga. Sang penjual juga bilang bisa ke toko dan bisa di transfer juga. Kemudian dia memberikan No Rekening.

Saya kemudian menelponnya, dan meminta tolong agar nomer tersebut disimpankan untuk saya, karena saya baru bisa ke Roxy Mas Jakarta hari Minggu atau Senen. Dia bilang tergantung, masih ada atau gak nomernya, dia gak bisa simpankan. Kalau dikirim, kalau hanya ke Bogor sore juga sudah sampai, katanya.

Komunikasi lagi, kalau mau disimpankan agar dibayar DP dulu, minimal 50%. Sudah mau saya transfer sebenarnya, tapi perasaan belum yakin sehingga urung.

Akhirnya, hari Senen, ada temen saya kebetulan mau ke Jakarta, saya titip untuk datang ke Sri Cellular di Roxy Mas untuk membeli nomer tersebut jika masih ada.

Sesampai disana, betapa kagetnya teman saya, alamat sudah benar, tetapi tidak ada toko Sri Cellular. Dari penjaga tokonya mengatakan, temen saya adalah orang ke 24 yang telah datang ke toko tersebut untuk tujuan yang sama! Jelas-jelas penipuan!!

Apabila ada, nomer cantik 08123456789 harganya sekitar Rp 30 Juta, untuk yang nomer 081234567XX saja harganya sekitar Rp. 15 juta.

Berhati-hatilah jika ada penawaran pembelian online!!

Dipublikasi di Sekelebatan | Tag , , | 4 Komentar

Salah duga…

Gambar

Tidak terencana sebelumnya, seorang teman mengajak saya mengunjungi Gua Payudan di Pamekasan. Saya langsung mengiyakan, karena sudah lama dengar tentang Gua Payudan ini. Gua Payudan berada di Kecamatan Guluk-Guluk Pamekasan, merupakan tempat petilasan dan pertapaan leluhur orang Madura seperti Pottre Koneng, Jokotole, Ke’ Lesab, Bindara Saod sampai Raja-raja Sumenep.

Jalan menuju ke Gua Payudan sungguh sangat terjal. Berkali-kali Kijang Innova yang kita bawa harus berhenti karena tergelincir, dan akhirnya parkir ditempat yang agak lapang, sudah tidak bisa melanjutkan keatas lagi karena terjal, sehingga kita turun untuk menuju Gua yang menanjak dan berjalan kaki. Ngos-ngosan setiba diatas, tetapi bisa terbayar lunas ketika melihat panorama desa yang ada di bawah juga Gua yang mempesona.

Ada beberapa tempat pertapaan seperti pertapaan Pottre Koneng, Jokotole dan Bindara Saod. Setelah masuk dan ijin, sang juru kunci kemudian memberikan senter untuk dapat masuk lebih jauh kedalam Gua. Masuk ke dalam Gua benar-benar seperti memasuki dunia yang lain, gelap total!! Dan suara sangat hening, seakan terputus dengan dunia luar!! Mungkin suasana seperti itu yang dicari oleh pertapa, sehingga mereka dapat berkonsentrasi didalam untuk bermunajat kepada sang Pencipta.

Sampai sekarang, masih ada orang yang bertapa. Waktu saya mengunjungi Gua Payudan, Juru Kunci mengatakan kalau saat itu ada 4 orang yang sedang menjalani pertapaannya.

Foto diatas diambil waktu ditengah perjalanan balik dari Gua Payudan. Kagum dengan kekuatan ibu-ibu yang terlihat sedang berjalan mendaki dengan beban yang diletakkan diatas kepala saya foto mereka dari dalam mobil. Ada perasaan kagum dan juga merasa kasihan karena jalanan yang menanjak, berjalan kaki dan masih dengan beban diatas kepala. Saya membayangkan, kita aja tadi ngos-ngosan sampai diatas, itupun sebagian besar naik mobil, sedangkan mereka berjalan kaki dari bawah, saya menjadi iba.

Ketika berpapasan, saya menyapa mereka:

‘Mau keatas Bu?’, tanya saya basa-basi karena jelas-jelas mereka menuju keatas, hehehe.

‘Iya Pak mau ke atas, wah Bapak dari atas ya?’, ‘Duh, kasihannya, jalannya jelek kan Pak!’, ‘Ini ada makanan Pak, mau ya Pak?’. Sang ibu nyerocos menyampaikan rasa kasihannya kepada kita, dan dengan tulus menawarkan makanan yang disompi diatas kepalanya.

‘Udah Bu, gak usah! Silahkan Bu!, Saya menjawabnya dengan malu, kaget dengan penawaran tak terduga dari sang Ibu.

Saya yang merasa kasihan dan iba kepada mereka yang telah berjalan kaki, malah sang Ibu yang merasa kasihan kepada kita!

Jika perasaan kasihan dan iba saya karena saya merasa ‘lebih’ dari mereka dengan mengendarai mobil, perasaan kasihan mereka kepada kita, jauh sangat tulus, dari hati yang sangat bersih, dan dengan kasih sayang yang besar!

Dalam hati saya berkata ‘Ya Allah, telah kau tunjukkan sosok yang sangat mulia dan tulus kepadaku hari ini!’, saya merasa malu, kepada diri sendiri yang telah salah menduga!

Dipublikasi di Perjalanan, Renungan | Tag , , | Tinggalkan komentar

Koper haji…

Jemaah haji gak bisa dipisahkan dengan koper haji. Koper memuat barang-barang yang kita bawa dari tanah air menuju ke tanah suci, untuk keperluan kita selama disana. Dan selama perjalanan haji, ada beberapa kali kita mesti pindah tempat, otomatis juga mindahin koper.

Ada beberapa kali kita mesti ‘berurusan’ dengan koper dengan mencarinya diantara tumpukan ratusan koper yang sama milik teman kloter kita. Ini momen perburuan mencari koper kita sendiri:

  1. Pada waktu sampai di bandara Madinah atau Jeddah.
  2. Sesampai di Hotel di Medinah atau di Maktab Mekkah  tempat kita menginap.
  3. Sesampai di Maktab Mekkah atau Hotel di Madinah.
  4. Sesampai di tanah air.

Bisa kebayang kan, betapa repotnya kita berdesakan, dan membongkar ratusan koper yang sama untuk mencari koper kita!! Urusan koper jangan disepelekan! Ada teman regu saya yang mencari kopernya sampai di setiap lantai hotel tempat penginapan kami di Madinah. Capek dan stress kan!

Agar mudah dicari, biasanya jemaah haji memberikan sesuatu yang unik di kopernya. Yang paling umum adalah pita-pita atau scarf. Saking umumnya, rasanya lucu melihat koper yang dihiasi dengan untaian pita atau scarf beraneka warna. Bukan hanya satu pita, bahkan sering lebih dari 3 pita yang berbeda warna. Mungkin kita sendiri malah lupa dengan warna pita apa yang kita pasang, hehehe.

Yang lain, ada yang menggantungkan boneka kecil atau bola-bola kecil di kopernya. Memang kelihatan menonjol, tapi rasanya tidak akan bertahan lama, karena mudah tertarik dan lepas dari kopernya. Apalagi kalo melihat para petugas yang mengangkut dan mengeluarkan koper dengan kasar dan tanpa ampun membantingnya tanpa rasa iba J

Mikir cara terbaik agar koper lebih mudah ditemukan, akhirnya, saya mengecat bagian samping depan dan sisi dari koper dengan cat yang mencolok dan flourescent. Kemudian untuk identitas, saya pasang foto yang besar ukuran A4, jadi apabila ada koper yang mungkin sama dengan mengecat sisinya sewarna dengan koper saya, maka crosscheck berikutnya adalah dengan pas foto ukuran gede tersebut.

koper Haji guide

Hasilnya, alhamdulillah, sukses besar, hehehe. Saya tidak pernah memakan waktu lama dalam urusa cari mencari koper ini. Semuanya kurang dari 20 menit, bahkan kadang sudah terlihat dari jauh begitu koper diturunkan dari truk, seperti pada waktu mencari koper saya dihalaman balaikota Bogor setiba di tanah air.

Alhamdulillah, bebas stress dalam urusan mencari koper, dan juga bisa mempunyai waktu yang banyak untuk ikutan membantu mencarikan koper anggota regu yang lain, waktu jadi lebih bermanfaat !!

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , , | 2 Komentar

Berhati-hati, meski sedang berhaji…

Wukuf di Arofah

Kebanyakan orang menduga, bahwa tanah suci adalah tempat yang 100% aman dan tidak ada kejahatan sama sekali. Mereka membayangkan bahwa yang berada di tanah suci adalah orang ‘baik-baik’ saja yang semuanya datang dengan tujuan beribadah, bahkan yang agak naif, mereka beranggapan, bahwa seakan-akan adzab dari Allah akan langsung menimpa kepada orang yang berbuat dosa disana.

Memang, secara umum bisa dikatakan kota Mekkah dan Medinah sebagai tempat utama tujuan perjalanan haji adalah aman dengan tingkat kejahatan yang rendah, tetapi tidak berarti tidak ada kejahatan!!

Nih dia pengalaman yang bisa saya bagi agar kita tetap berhati-hati meski sedang berhaji:

Tiga kali saya didatangi orang yang mengaku jemaah haji asal Palestina. Biasanya mereka memanfaatkan isu pendudukan zionis Israel untuk mengundang iba jemaah haji yang lain. Kali pertama ketika habis shalat di Masjidil Haram dekat pintu King Abdul Azis. Seorang jemaah dengan wajah arab, datang ke saya memakai bahasa arab campur Inggris, sambil mengasih tanda dengan tangannya kalo ia minta sedekah dan berucap ‘Fisabilillah for Palestine’. Saya langsung merasa curiga, kemudian saya nanyakan identitas dia. Dia kemudian cepat-cepat berlalu ketika saya semakin gencar bertanya tentang Palestina.

Kali yang kedua waktu shalat subuh di sekitaran pintu King Abdul Azis juga, tetapi lebih mendekati ke Kabah. Begitu sampai, saya shalat sunnah dulu, dan selesai shalat, teman sebelah, anak muda dengan pakaian lumayan rapi mengajak berkenalan dan mengaku dari Palestina. Berbahasa Inggris lumayan fasih. Kelihatannya dia ingin bercerita banyak tentang Palestina, tapi gak saya tanggapi karena saya akan melanjutkan dengan shalat tahajud karena waktu subuh yang masih lama. Kelamaan menunggu saya selesai, dia kemudian meninggalkan saya.

Kali yang ketiga ketika berada dilantai paling atas yang merupakan atap Masjidil Haram. Berada di atap Masjidil haram mempunyai keindahan tersendiri. Dari atap ini kita bisa melihat Kabah di bawah dan juga sekeliling Masjidil Haram yang dikitari banyak Hotel. Karenanya, atap Masjidil Haram merupakan spot foto yang ramai. Setelah shalat Ashar dan menunggu Maghrib, didatangi seorang anak muda, dengan berbahasa Inggris, ia mengaku dari Palestina dan meminta sedekah karena merasa Fi Sabilillah. Ia berkelit ketika saya mintai identitas haji, dia mengatakan kalo dia adalah mahasiswa Palestina yang mendapatkan beasiswa program Hafidz Al Quran. Ia juga tidak bisa menunjukkan Kartu mahasiswa dan identitas lainnya. Akhirnya, karena dia mengaku mahasiswa Tahfidz, saya minta dia membaca QS Al Mulk. Ternyata dia hanya hafal 7 ayat, padahal QS Al Mulk kan termasuk Surah yang sering dibaca. Akhirnya, setelah habis saya kerjain dan ditanyain macem-macem,  saya kasih 5 Reyal, dia terima, sambil dia minta tambahan 5 Reyal lagi. Waduh, jelas kalo seperti itu adalah mental penipu! Kalo sedekah ya seikhlasnya-lah…

Kejadian kriminal terjadi juga waktu di Mina. Rombongan KBIH saya memang mengambil program Tarwiyah atau program yang mengikuti sunah rasul dalam berhaji. Tanggal 8 Dzulhijjah kita sudah berada di Mina, dan berangkat wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dari Mina. Kalo program pemerintah, masuk ke Mina setelah dari Arafah. Melempar jumrah, jika sebagian besar jemaah haji Indonesia, mengikuti Nafar Awal, maka untuk program tarwiyah kita mengambil Nafar Sani, yang mengharuskan kita tinggal lebih lama di Mina.

Nah, pada saat jemaah haji yang lain telah meninggalkan Mina, kita masih bermalam semalam lagi, pada saat itu, untuk shalat berjemaah kita mengambil tempat di tenda yang telah kosong, sedangkan barang-barang tetap ditenda asal. Pada waktu kita mau shalat Maghrib dan Isya (dijamak tapi tidak di qashar), semua jemaah sedang berada di tenda sebelah untuk shalat. Beberapa saat kemudian, seorang petugas haji mendatangi tenda shalat kami dan meminta kami agar memeriksa apakah ada barang yang hilang, karena baru saja ia mengejar seorang maling. Dan benar saja, ketika masuk ke tenda kami untuk memeriksanya, beberapa handphone yang lagi di charge sudah hilang gak berbekas. Total ada 7 handphone yang digondol maling saat itu.

Seorang teman bercerita juga kalo uangnya hilang pada waktu mau perjalanan untuk melempar jumrah. Dan seorang saudara juga pernah kecopetan ketika sedang tawaf di Masjidil Haram.

Apapun, dan dimanapun, kita harus selalu berhati-hati menjaga barang kita. Jangan meninggalkan koper atau tas dalam keadaan terbuka. Berhati-hati ketika kita berada di kerumunan. Selektif melayani orang-orang yang minta sedekah. Dan jangan terpancing dengan tawaran-tawaran yang aneh-aneh, seperti joki mencium Hajar Aswad, tawaran bayar dam yang murah, atau yang lainnya.

Ikuti segala petunjuk resmi dari Pemerintah Saudi ataupun Pemerintah Indonesia, dan banyaklah bertanya kepada petugas haji Indonesia yang jumlahnya lumayan banyak dan tersebar serta selalu bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan!

Dipublikasi di Perjalanan | 1 Komentar