Sebuah Perjalanan Panjang

An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang…

Hari ini Minggu, tanggal 5 September 2010 atau merupakan hari ke 26 dari bulan Ramadlan 1431 H. Bulan yang sangat istimewa, karena dibulan itulah saya dilahirkan sehingga namanyapun Ahmad Ramadlan.

Pada hari ini saya mencoba membuat Blog, sebuah niatan lama yang baru terealisasi sekarang. Dulu pernah register untuk sebuah akun Blog, yang karena saking lamanya, nama website-nyapun lupa. Kasihan website-nya, sudah disampahi dengan akun yang gak bermanfaat, hehehe…

Waktu bikin Blog ini di Google, pada tahap ‘Beri Nama Blog Anda’, saya agak tertegun lama, bingung atas pertanyaan ini, karena harus memberi nama atas Blog saya. Saya tinggalkan taraweh dulu, dan pada saat Shalat Taraweh (yang berarti Shalat Tarawehnya kurang khusuk nih, maafkan ya Allah!) saya teringat untuk memberi nama Odyssey, perjalanan panjang, dan biar rada sastra dikit diberi label An Odyssey, Sebuah Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Sengaja pakai bahasa Inggris, karena lebih representatif. Representatif maksudnya, cukup dengan satu kata mempunyai makna yang lebih.

Nama Odyssey awalnya saya tidak tahu artinya. Pertama melihat dari sebuah seri mobil buatan Honda; Odyssey. Karena bentuknya pas dihati, tergelitik untuk mencari apa artinya, saya coba buka di kamus dan artinya adalah: Perjalanan Panjang, Pengembaraan, ataupun Perjalanan yang Penuh dengan Petualangan. Saya kagum pada orang Honda yang telah memberi nama mobil itu dengan Odyssey, karena bentuk mobil itu yang panjang (tetapi tidak terlalu panjang juga), kokoh dan stabil yang sengaja diciptakan untuk  siap  menempuh sebuah perjalanan panjang penuh makna dengan kenyamanan dan rasa aman.

Dan, demikianlah maksud dan keinginan Blog ini dibuat. Blog ini akan bercerita ‘ngalor-ngidul’ gak tentu arah yang merupakan mosaik dari perjalanan saya. Perjalanan yang perlu saya tuliskan karena saya rasa sangat bermanfaat, utamanya untuk saya sendiri. Kalaupun kemudian ada yang mengambil manfaat dari Blog ini, Alhamdulillah!

Ini alamat email saya: ahmadramadlan@yahoo.com

Selamat menikmati Blog saya!

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | 4 Komentar

Ternyata ‘benar’…

keluarga-ilustrasi-kartun

Dulu, semasa masih SD, ortu tidak pernah memberikan uang jajan kepada saya ketika berangkat sekolah. Uang jajan hanya diberikan jika ada pelajaran olah raga. Sebagai gantinya, sarapan pagi adalah menu wajib bagi kami semua. Dilarang sekolah apabila belum sarapan! Dan, apabila ada kue-kue dirumah, kita bawa sebagai bekal, kalau minuman, udah pasti tiap hari kita bawa ke sekolah.

Alasannya, katanya nanti saya tidak akan konsentrasi kepada pelajaran di sekolah, ingetnya nanti ke jajan terus. Usia SD yang masih ‘pendek pikiran’ tentu tidak terima alasan tersebut, berulang kali protes, tapi tetep aja policy itu menjadi hak prerogatif ortu.

Waktu itu saya sama sekali tidak mengerti, apa hubungannya konsentrasi dengan uang jajan. Jalan pikiran yang pendek, tidak menerima alasan tersebut. Yang jelas, saya kemudian menjadi merasa ‘tersisih’ dari pergaulan teman-teman yang dengan riang gembira, jajan sesukanya!

Sekarang saya membenarkan apa yang dilakukan ortu. Jajanan sekolah sangatlah tidak sehat. Yang jualan juga kurang menjaga hygiene. Alasan kalo mengganggu konsentrasi sepertinya hanya ‘kamuflase’, karena menuduh bahwa makanan diluar tidak sehat, tentu bukan hal yang bijak.

Saya juga paling sebal ke Ibu, waktu itu! Ibu seperti polisi yang mengawasi segala tingkah polah anaknya. Kaki diatas meja, baju seragam atau kaos kaki yang berserakan, terlambat pulang, terlambat shalat, tidak tidur siang akan menjadi alasan Ibu untuk bertindak. Tidak lelah ia mengingatkan dan tidak lelah pula saya merengut dan ngedumel meskipun akhirnya dipatuhi juga!

Kalo mengingat apa yang dilakukan oleh Ibu, saya sekarang tersenyum dan tidak merengut lagi, setuju dan membenarkan apa yang telah beliau lakukan dulu. Kalo tidak, tentu saya tidak akan menjadi orang yang tidak disiplin dan tidak beretika alias slonong boy…

Tentang televisi. Ortu, terutama Ibu, paling rajin komentar yang ‘pedas’. Kalo ada tayangan film action yang tentu saja ada laganya, ia akan berkomentar ‘Apa tuh, kayak binatang aja!’, atau kalo liat tayangan joget-joget dan nyanyi-nyanyi di TV, ia akan berkomentar ‘Kayak setan aja!’, dan jangan harap kita masih nonton TV pas adzan maghrib, haram hukumnya!

Dan sekarang, tayangan TV udah bener-bener kebablasan, berita positifnya dikit banget! Isinya perselingkuhan, pembunuhan, pemerkosaan, politikus yang janji-janji, pemeriksaan KPK, pengeroyokan, penyanderaan, penyekapan, narkoba dan lainnya. Saya gak perlu lagi disuruh ortu untuk mematikan atau mengalihkan TV ke acara yang positif, karena dengan sendirinya saya muak menonton acara-acara itu semua! Hhmmm, bener juga yah orang tua kita dulu.

Ternyata, tidak semua perbuatan yang baik dan benar itu kita akan langsung membenarkannya saat itu juga, kadang memerlukan proses, bisa lama atau sebentar, dan bahkan kadang kita membenarkannya ketika orang yang berkata tersebut telah tiada meninggalkan kita.

So, wariskanlah selalu perbuatan yang baik dan benar, karena hal tersebut akan selalu dikenang dan memberikan manfaat.

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,

pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

-Qs Ibrahim (14):25-26-

Dipublikasi di Sekelebatan | Tinggalkan komentar

Tidak mengatakan tidak…

Katakan-tidak-pada-yang-mulia

Pada waktu mengikuti pendidikan Management Trainee di Merpati Nusantara Airlines dulu, ada satu pelajaran mengenai Etiket (bukan e-ticket ya, tetapi etiquette, hehehe) yang saya rasa sangat berguna karena menyangkut kehidupan keta sehari-hari. Kelihatannya remeh yang diajarkan, tetapi ternyata sesuatu banget! Mulai dari cara pasang, kombinasi, makna, jenis dari dasi, etika berjalan bersama, etika di meja makan sampai etika berbicara dan berdiskusi.

Etika berbicara dalam meeting ataupun diskusi memang sangat penting. Kita menginginkan suasana diskusi yang kondusif, hangat dan tanpa saling mengintimidasi, semua peserta dapat mengeksplorasi idenya dan diskusinyapun menjadi produktif. Untuk terciptanya itu semua, cara berbicara dan mengungkapkan pendapat mempunyai arti penting.

Ada kalanya kita tidak sependapat dengan pendapat orang lain, ketidak setujuan yang disampaikan terlalu ‘terus terang’, vulgar bahkan menjatuhkan pasti akan memancing rasa tidak senang dari lawan bicaranya. Dengan berbagai cara sang lawan bicara akan mati-matian mempertahankan pendapatnya, dan kadang sudah bukan masalah benar atau salah lagi, tetapi lebih karena gengsi sehingga ia tetap dengan pendapatnya. Kalaupun sang lawan bicara sudah ditaklukan dan mengakui kalau pendapatnya salah, itupun dengan meninggalkan sakit hati dan dendam kesumat yang dalam, hehehe, lebay!!

Satu hal yang diajarkan dulu adalah,hindarilah mengatakan ‘tidak’ meskipun kita ‘tidak setuju’ atas pendapat orang lain. Katakan ‘tidak’ dengan cara yang berbeda, yang esensinya sebenarnya adalah sama, kita tidak setuju dengan pendapatnya.

‘Pendapat saudara A bisa saya pahami, dan alangkah lebih baiknya bila bla bla bla mengingat bla bla bla…’, akan lebih etis daripada kita mengatakan ‘Pendapat saudara A itu sama sekali tidak berdasar, dan lebih baik kita bla bla bla!’. Esensinya sama, tidak menyetujui pendapat si A, tetapi ungkapan yang pertama lebih baik, karena kita menyampaikan alasan-alasan kenapa kita tidak menyetujui pendapatnya, dan tidak ada kata ‘tidak’ pada kalimat pertama.

Bisa juga kita mengatakan ‘Saya mempunyai referensi lain dan juga pengalaman yang bisa dijadikan pertimbangan. Apabila kita melakukan hal tersebut (pendapat si A misalnya) maka hasilnya adalah bla bla bla, sedangkan bila kita melakukan (utarakan ide kita) hasil yang didapat adalah bla bla bla!’. Dari kalimat tersebut akan nampak bahwa pendapat kita lebih baik, tetapi dengan membiarkan peserta diskusi untuk mengambil kesimpulan sendiri.

Atau ‘Saya sependapat dengan saudara A, dimana bla bla bla (pendapat A) dan kita berada pada kondisi bla bla bla, dalam kasus ini kita berada pada kondisi bla bla bla, mungkin ada baiknya jika kita mempunyai alternatif lain seperti bla bla bla karena bla bla bla!’

Kelihatannya berbelit-belit dan muter-muter ya! Ketika saya praktekkan, banyak manfaat yang didapat, seperti berlatih untuk mengontrol emosi kita yang kadang tidak terjaga ketika berdiskusi, disamping juga kita akan lebih terbiasa berbicara dengan argumen atau alasan yang kuat, karena kita tidak fokus dengan hanya mencari kelemahan-kelemahan dari pendapat lawan saja. Dan yang paling utama, tidak akan yang tersakiti hatinya oleh ucapan kita!

Cobalah berlatih, practices makes perfect!

Intinya adalah ‘berkata tidak dengan tidak mengatakan tidak’. Seperti banyak orang bilang ‘Bukan masalah apa yang kamu katakan, tetapi bagaimana cara kamu mengatakannya!’.

Berlatih menggunakan kata yang positif walaupun untuk hal yang negatif!

——-

Gambar kartun diperoleh dari micecartoon.com, lucu sih, meski ‘kurang menguatkan’ dengan isi artikel ini, hehehe…

Dipublikasi di Sekelebatan, Tips dan Trik | Tag , | Tinggalkan komentar

Nomer cantik…

Nomer cantik penipuan

Di suatu hari Sabtu, sebuah SMS iklan masuk pada hapeku:

Dijual nomer cantik: 0812xxxxyyyy, 08123456789, 0812xxxxyyyy Harga Rp. 750.000,- Berminat, hubungi: 085779999363 Sri Cellular.

Sering SMS iklan masuk ke hapeku, sering terabaikan, tapi yang ini agak beda, nomer cantik 08123456789 memancing minatku untuk mendapatkannya. Saya terima SMS malem-malem, menjelang subuh, kemudian saya SMS balik, menanyakan apakah nomer itu masih ada?, gak lama berselang, dijawab ‘ada’.

Sibuk beraktivitas, saya baru bisa menghubungi lagi waktu siang, mengkonfirmasi apakah nomer cantik 08123456789 masih ada? Ternyata, masih! Saya menanyakan alamatnya dia memberi juga. Sang penjual juga bilang bisa ke toko dan bisa di transfer juga. Kemudian dia memberikan No Rekening.

Saya kemudian menelponnya, dan meminta tolong agar nomer tersebut disimpankan untuk saya, karena saya baru bisa ke Roxy Mas Jakarta hari Minggu atau Senen. Dia bilang tergantung, masih ada atau gak nomernya, dia gak bisa simpankan. Kalau dikirim, kalau hanya ke Bogor sore juga sudah sampai, katanya.

Komunikasi lagi, kalau mau disimpankan agar dibayar DP dulu, minimal 50%. Sudah mau saya transfer sebenarnya, tapi perasaan belum yakin sehingga urung.

Akhirnya, hari Senen, ada temen saya kebetulan mau ke Jakarta, saya titip untuk datang ke Sri Cellular di Roxy Mas untuk membeli nomer tersebut jika masih ada.

Sesampai disana, betapa kagetnya teman saya, alamat sudah benar, tetapi tidak ada toko Sri Cellular. Dari penjaga tokonya mengatakan, temen saya adalah orang ke 24 yang telah datang ke toko tersebut untuk tujuan yang sama! Jelas-jelas penipuan!!

Apabila ada, nomer cantik 08123456789 harganya sekitar Rp 30 Juta, untuk yang nomer 081234567XX saja harganya sekitar Rp. 15 juta.

Berhati-hatilah jika ada penawaran pembelian online!!

Dipublikasi di Sekelebatan | Tag , , | 2 Komentar

Salah duga…

Gambar

Tidak terencana sebelumnya, seorang teman mengajak saya mengunjungi Gua Payudan di Pamekasan. Saya langsung mengiyakan, karena sudah lama dengar tentang Gua Payudan ini. Gua Payudan berada di Kecamatan Guluk-Guluk Pamekasan, merupakan tempat petilasan dan pertapaan leluhur orang Madura seperti Pottre Koneng, Jokotole, Ke’ Lesab, Bindara Saod sampai Raja-raja Sumenep.

Jalan menuju ke Gua Payudan sungguh sangat terjal. Berkali-kali Kijang Innova yang kita bawa harus berhenti karena tergelincir, dan akhirnya parkir ditempat yang agak lapang, sudah tidak bisa melanjutkan keatas lagi karena terjal, sehingga kita turun untuk menuju Gua yang menanjak dan berjalan kaki. Ngos-ngosan setiba diatas, tetapi bisa terbayar lunas ketika melihat panorama desa yang ada di bawah juga Gua yang mempesona.

Ada beberapa tempat pertapaan seperti pertapaan Pottre Koneng, Jokotole dan Bindara Saod. Setelah masuk dan ijin, sang juru kunci kemudian memberikan senter untuk dapat masuk lebih jauh kedalam Gua. Masuk ke dalam Gua benar-benar seperti memasuki dunia yang lain, gelap total!! Dan suara sangat hening, seakan terputus dengan dunia luar!! Mungkin suasana seperti itu yang dicari oleh pertapa, sehingga mereka dapat berkonsentrasi didalam untuk bermunajat kepada sang Pencipta.

Sampai sekarang, masih ada orang yang bertapa. Waktu saya mengunjungi Gua Payudan, Juru Kunci mengatakan kalau saat itu ada 4 orang yang sedang menjalani pertapaannya.

Foto diatas diambil waktu ditengah perjalanan balik dari Gua Payudan. Kagum dengan kekuatan ibu-ibu yang terlihat sedang berjalan mendaki dengan beban yang diletakkan diatas kepala saya foto mereka dari dalam mobil. Ada perasaan kagum dan juga merasa kasihan karena jalanan yang menanjak, berjalan kaki dan masih dengan beban diatas kepala. Saya membayangkan, kita aja tadi ngos-ngosan sampai diatas, itupun sebagian besar naik mobil, sedangkan mereka berjalan kaki dari bawah, saya menjadi iba.

Ketika berpapasan, saya menyapa mereka:

‘Mau keatas Bu?’, tanya saya basa-basi karena jelas-jelas mereka menuju keatas, hehehe.

‘Iya Pak mau ke atas, wah Bapak dari atas ya?’, ‘Duh, kasihannya, jalannya jelek kan Pak!’, ‘Ini ada makanan Pak, mau ya Pak?’. Sang ibu nyerocos menyampaikan rasa kasihannya kepada kita, dan dengan tulus menawarkan makanan yang disompi diatas kepalanya.

‘Udah Bu, gak usah! Silahkan Bu!, Saya menjawabnya dengan malu, kaget dengan penawaran tak terduga dari sang Ibu.

Saya yang merasa kasihan dan iba kepada mereka yang telah berjalan kaki, malah sang Ibu yang merasa kasihan kepada kita!

Jika perasaan kasihan dan iba saya karena saya merasa ‘lebih’ dari mereka dengan mengendarai mobil, perasaan kasihan mereka kepada kita, jauh sangat tulus, dari hati yang sangat bersih, dan dengan kasih sayang yang besar!

Dalam hati saya berkata ‘Ya Allah, telah kau tunjukkan sosok yang sangat mulia dan tulus kepadaku hari ini!’, saya merasa malu, kepada diri sendiri yang telah salah menduga!

Dipublikasi di Perjalanan, Renungan | Tag , , | Tinggalkan komentar

Koper haji…

Jemaah haji gak bisa dipisahkan dengan koper haji. Koper memuat barang-barang yang kita bawa dari tanah air menuju ke tanah suci, untuk keperluan kita selama disana. Dan selama perjalanan haji, ada beberapa kali kita mesti pindah tempat, otomatis juga mindahin koper.

Ada beberapa kali kita mesti ‘berurusan’ dengan koper dengan mencarinya diantara tumpukan ratusan koper yang sama milik teman kloter kita. Ini momen perburuan mencari koper kita sendiri:

  1. Pada waktu sampai di bandara Madinah atau Jeddah.
  2. Sesampai di Hotel di Medinah atau di Maktab Mekkah  tempat kita menginap.
  3. Sesampai di Maktab Mekkah atau Hotel di Madinah.
  4. Sesampai di tanah air.

Bisa kebayang kan, betapa repotnya kita berdesakan, dan membongkar ratusan koper yang sama untuk mencari koper kita!! Urusan koper jangan disepelekan! Ada teman regu saya yang mencari kopernya sampai di setiap lantai hotel tempat penginapan kami di Madinah. Capek dan stress kan!

Agar mudah dicari, biasanya jemaah haji memberikan sesuatu yang unik di kopernya. Yang paling umum adalah pita-pita atau scarf. Saking umumnya, rasanya lucu melihat koper yang dihiasi dengan untaian pita atau scarf beraneka warna. Bukan hanya satu pita, bahkan sering lebih dari 3 pita yang berbeda warna. Mungkin kita sendiri malah lupa dengan warna pita apa yang kita pasang, hehehe.

Yang lain, ada yang menggantungkan boneka kecil atau bola-bola kecil di kopernya. Memang kelihatan menonjol, tapi rasanya tidak akan bertahan lama, karena mudah tertarik dan lepas dari kopernya. Apalagi kalo melihat para petugas yang mengangkut dan mengeluarkan koper dengan kasar dan tanpa ampun membantingnya tanpa rasa iba J

Mikir cara terbaik agar koper lebih mudah ditemukan, akhirnya, saya mengecat bagian samping depan dan sisi dari koper dengan cat yang mencolok dan flourescent. Kemudian untuk identitas, saya pasang foto yang besar ukuran A4, jadi apabila ada koper yang mungkin sama dengan mengecat sisinya sewarna dengan koper saya, maka crosscheck berikutnya adalah dengan pas foto ukuran gede tersebut.

koper Haji guide

Hasilnya, alhamdulillah, sukses besar, hehehe. Saya tidak pernah memakan waktu lama dalam urusa cari mencari koper ini. Semuanya kurang dari 20 menit, bahkan kadang sudah terlihat dari jauh begitu koper diturunkan dari truk, seperti pada waktu mencari koper saya dihalaman balaikota Bogor setiba di tanah air.

Alhamdulillah, bebas stress dalam urusan mencari koper, dan juga bisa mempunyai waktu yang banyak untuk ikutan membantu mencarikan koper anggota regu yang lain, waktu jadi lebih bermanfaat !!

Dipublikasi di Tips dan Trik | Tag , , | 2 Komentar

Berhati-hati, meski sedang berhaji…

Wukuf di Arofah

Kebanyakan orang menduga, bahwa tanah suci adalah tempat yang 100% aman dan tidak ada kejahatan sama sekali. Mereka membayangkan bahwa yang berada di tanah suci adalah orang ‘baik-baik’ saja yang semuanya datang dengan tujuan beribadah, bahkan yang agak naif, mereka beranggapan, bahwa seakan-akan adzab dari Allah akan langsung menimpa kepada orang yang berbuat dosa disana.

Memang, secara umum bisa dikatakan kota Mekkah dan Medinah sebagai tempat utama tujuan perjalanan haji adalah aman dengan tingkat kejahatan yang rendah, tetapi tidak berarti tidak ada kejahatan!!

Nih dia pengalaman yang bisa saya bagi agar kita tetap berhati-hati meski sedang berhaji:

Tiga kali saya didatangi orang yang mengaku jemaah haji asal Palestina. Biasanya mereka memanfaatkan isu pendudukan zionis Israel untuk mengundang iba jemaah haji yang lain. Kali pertama ketika habis shalat di Masjidil Haram dekat pintu King Abdul Azis. Seorang jemaah dengan wajah arab, datang ke saya memakai bahasa arab campur Inggris, sambil mengasih tanda dengan tangannya kalo ia minta sedekah dan berucap ‘Fisabilillah for Palestine’. Saya langsung merasa curiga, kemudian saya nanyakan identitas dia. Dia kemudian cepat-cepat berlalu ketika saya semakin gencar bertanya tentang Palestina.

Kali yang kedua waktu shalat subuh di sekitaran pintu King Abdul Azis juga, tetapi lebih mendekati ke Kabah. Begitu sampai, saya shalat sunnah dulu, dan selesai shalat, teman sebelah, anak muda dengan pakaian lumayan rapi mengajak berkenalan dan mengaku dari Palestina. Berbahasa Inggris lumayan fasih. Kelihatannya dia ingin bercerita banyak tentang Palestina, tapi gak saya tanggapi karena saya akan melanjutkan dengan shalat tahajud karena waktu subuh yang masih lama. Kelamaan menunggu saya selesai, dia kemudian meninggalkan saya.

Kali yang ketiga ketika berada dilantai paling atas yang merupakan atap Masjidil Haram. Berada di atap Masjidil haram mempunyai keindahan tersendiri. Dari atap ini kita bisa melihat Kabah di bawah dan juga sekeliling Masjidil Haram yang dikitari banyak Hotel. Karenanya, atap Masjidil Haram merupakan spot foto yang ramai. Setelah shalat Ashar dan menunggu Maghrib, didatangi seorang anak muda, dengan berbahasa Inggris, ia mengaku dari Palestina dan meminta sedekah karena merasa Fi Sabilillah. Ia berkelit ketika saya mintai identitas haji, dia mengatakan kalo dia adalah mahasiswa Palestina yang mendapatkan beasiswa program Hafidz Al Quran. Ia juga tidak bisa menunjukkan Kartu mahasiswa dan identitas lainnya. Akhirnya, karena dia mengaku mahasiswa Tahfidz, saya minta dia membaca QS Al Mulk. Ternyata dia hanya hafal 7 ayat, padahal QS Al Mulk kan termasuk Surah yang sering dibaca. Akhirnya, setelah habis saya kerjain dan ditanyain macem-macem,  saya kasih 5 Reyal, dia terima, sambil dia minta tambahan 5 Reyal lagi. Waduh, jelas kalo seperti itu adalah mental penipu! Kalo sedekah ya seikhlasnya-lah…

Kejadian kriminal terjadi juga waktu di Mina. Rombongan KBIH saya memang mengambil program Tarwiyah atau program yang mengikuti sunah rasul dalam berhaji. Tanggal 8 Dzulhijjah kita sudah berada di Mina, dan berangkat wukuf di Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah dari Mina. Kalo program pemerintah, masuk ke Mina setelah dari Arafah. Melempar jumrah, jika sebagian besar jemaah haji Indonesia, mengikuti Nafar Awal, maka untuk program tarwiyah kita mengambil Nafar Sani, yang mengharuskan kita tinggal lebih lama di Mina.

Nah, pada saat jemaah haji yang lain telah meninggalkan Mina, kita masih bermalam semalam lagi, pada saat itu, untuk shalat berjemaah kita mengambil tempat di tenda yang telah kosong, sedangkan barang-barang tetap ditenda asal. Pada waktu kita mau shalat Maghrib dan Isya (dijamak tapi tidak di qashar), semua jemaah sedang berada di tenda sebelah untuk shalat. Beberapa saat kemudian, seorang petugas haji mendatangi tenda shalat kami dan meminta kami agar memeriksa apakah ada barang yang hilang, karena baru saja ia mengejar seorang maling. Dan benar saja, ketika masuk ke tenda kami untuk memeriksanya, beberapa handphone yang lagi di charge sudah hilang gak berbekas. Total ada 7 handphone yang digondol maling saat itu.

Seorang teman bercerita juga kalo uangnya hilang pada waktu mau perjalanan untuk melempar jumrah. Dan seorang saudara juga pernah kecopetan ketika sedang tawaf di Masjidil Haram.

Apapun, dan dimanapun, kita harus selalu berhati-hati menjaga barang kita. Jangan meninggalkan koper atau tas dalam keadaan terbuka. Berhati-hati ketika kita berada di kerumunan. Selektif melayani orang-orang yang minta sedekah. Dan jangan terpancing dengan tawaran-tawaran yang aneh-aneh, seperti joki mencium Hajar Aswad, tawaran bayar dam yang murah, atau yang lainnya.

Ikuti segala petunjuk resmi dari Pemerintah Saudi ataupun Pemerintah Indonesia, dan banyaklah bertanya kepada petugas haji Indonesia yang jumlahnya lumayan banyak dan tersebar serta selalu bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan!

Dipublikasi di Perjalanan | 1 Komentar

Pulang haji…

??????????

Ada pertanyaan yang saya rasa ‘aneh’ oleh orang-orang yang datang bersilaturahmi kepada saya habis pulang haji. ‘Gimana di Mekkah? Ada hal-hal yang aneh gak?’, dan beberapa pertanyaan yang senada yang saya bilang ‘aneh’.

Pertanyaan yang dikeluarkan oleh seseorang akan menggambarkan persepsi apa yang ada didalam benaknya tentang haji.

Dalam kadar yang ringan dan bisa dibenarkan, pertanyaan itu mengandung maksud ‘pengalaman spiritual’ apa yang dialami dan bisa membawa peningkatan keimanan dari jamaah haji tersebut.

Yang kebangetan dan menurut saya sudah cenderung syirik apabila ‘pengalaman spiritual’ yang ditanyakan tersebut adalah hal mistis yang dialami dengan persepsi merupakan ‘pembalasan’ Allah terhadap hal buruk yang pernah kita lakukan sebelum haji yang kemudian pembalasan tersebut ditimpakan kepada kita selama berhaji!

Betapa kerdilnya cara pandang kita kepada Allah SWT, sang Maha Pencipta yang Maha Agung. Benar-benar mengecilkan arti ke-Maha Agung-an-Nya dengan menampilkan sosok Dia sebagai yang ‘pendendam’, yang akan menaburkan adzabnya pada saat kita memenuhi panggilan ke rumah-Nya.

Pada sebagian masyarakat, persepsi ‘pembalasan’ dan adzab Allah yang akan ditimpakan disaat kita berhaji sudah melekat erat.  Sedemikian kuatnya sehingga sebagian masyarakat merasa takut untuk berhaji. Haji adalah sesuatu yang menyeramkan!

Yang benar dan itu berlaku dimana-mana, apabila kita suka menolong dan mempermudah kehidupan seseorang, maka Allah akan mempermudah juga jalan hidup kita. Itu adalah suatu kausalitas! Apabila kita mempunyai mindset tersebut, maka dengan sendirinya semua hal yang kita hadapi didunia ini adalah suatu ‘kemudahan’, kalaupun kita menjumpai suatu ‘kesulitan’ itu merupakan pintu gerbang untuk menuju ‘kemudahan’ yang lain!

Berangkat dengan kesadaran dan rasa syukur mendalam bahwa saya terpilih untuk dapat ke tanah suci untuk memenuhi panggilan-Nya. Berangkat ke tanah suci menjadi tamu-Nya!

Mindset ‘menjadi tamu’ saya tanamkan dalam-dalam di benak saya. Tentu kita semua berkeinginan agar menjadi tamu yang baik yang akan menyenangkan bagi ‘pemilik rumah’. Tamu yang baik akan selalu menerima dengan lapang dada dan bersyukur atas segala jamuan tuan rumah.

Bukan hanya saya yang menjadi tamu-Nya, tetapi ada jutaan umat-Nya. Sehingga ‘rumah Allah’ menjadi sesak. Diantara berjuta tamu Allah yang akan menghantarkan rasa syukur dan pujian kepada-Nya, pada saat kita berdesakan, maka permudahkanlah sesama untuk dapat menemui-Nya, maka Allah akan melapangkan dan mendekatkan kita untuk menuju kepada-Nya.

Pada saat tawaf, dilingkaran yang terdekat dengan Ka’bah, yang menjadi pusat kerumunan jemaah, ikutilah arus, beri jalan kepada orang yang telah lanjut usia dan ibu-ibu. Dan lihatlah wajah-wajah dengan sorot mata yang penuh berterima kasih kepada kita, walaupun kadang tak terucap, karena kita telah memberikan jalan kepadanya. Apabila kita didorong, berusahalah agar dorongan itu berhenti di kita saja dengan menahannya, tidak meneruskannya ke yang lain. Apabila kita disikut, janganlah membalasnya, cukup dengan memandang orang yang menyikut kita dengan ‘wajah yang tidak senang’, sebagai peringatan buatnya agar tidak terus berbuat hal itu.

Alhamdulillah, hal itu akan membuat kita selalu ‘lapang’ meskipun berdesakan. Tanpa terasa kita akan semakin ke dalam, semakin dekat ke fisik bangunan Kabah, dan menyentuhnya dengan perasaan bersyukur kepada-Nya.

Sesampai di Hijr Ismail, tempat yang mustajab untuk berdoa, shalatlah dan berdoa secukupnya dan tidak berlebihan dengan berlama-lama. Beri kesempatan kepada yang lain, bukankah dengan memberikan kemudahan kepada yang lain untuk dapat berdoa kita akan mendapatkan pahala yang sama dengan berdoa!!

Orang-orang akan berterima kasih ketika kita memberikan tempat kita untuk bergilir dia pakai. Rasa senang tak terhingga yang akan sama kita alami apabila orang lain berbuat yang serupa kepada kita, benar-benar kita merasakan pemberian yang seketika dari Allah SWT!

Di Mekkah atau Madinah, dua kota yang menjelma menjadi metropolitan dengan hiruk pikuk jamaah berbagai bangsa, akan menjadi terasa membingungkan bagi sebagian besar jemaah yang kadang datang dari daerah pelosok di belahan bumi yang lain. Banyak orang yang tersesat, biasanya orang tua atau ibu-ibu.

Apabila ada wajah kebingungan menghampiri kita karena tersesat, jadilah orang yang melayani dengan baik.  Apapun, dia menghampiri kita dengan suatu alasan, dengan penuh harap, agar kita menjadi penunjuk jalan. Dan itu juga berarti, Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk berbuat baik. Bila dari negara lain, dan mungkin kita tidak tahu bahasanya, kita carikan saja jamaah yang senegaranya, dan memintanya untuk memberikan petunjuk jalan kepadanya. Bila dari bangsa Indonesia sendiri, antarkan kepada petugas Haji Indonesia, atau ke rumah penginapan haji Indonesia terdekat, disana biasanya ada petugas haji dari pemerintah.

Di suatu senja di Madinah selepas shalat maghrib, saya dihampiri dua orang ibu-ibu yang tersesat, dan saya antarkan ke Posko Jemaah Haji untuk ditangani petugas. Alhamdulillah, sangat bersyukur melihat wajah yang sumringah dari ibu tersebut, karena ia akan diantar oleh petugas ke pemondokannya. Dan keesokan harinya, ketika dini hari dan berniat untuk memasuki Raudah, sungguh sangat mudah, diantara berjubelnya orang, saya bisa menyelinap di celah sempit yang ‘lupa’ ditutup oleh Askar. Bisa shalat sunnah dengan lapangnya!

Insya Allah, jika kita memudahkan orang lain, maka kemudahan akan selalu menyertai kita!

Dipublikasi di Perjalanan | Tag | Tinggalkan komentar

Multiplier effect itu misalnya…

multiplier-effectAir Asia menjual tiket murah dari banyak tempat di Indonesia menuju banyak tujuan di Malaysia. Tiketnya sangat murah, gak masuk akal, kalo diitung dengan kalkulator apapun pasti rugi. Efeknya, banyak orang yang jadinya bepergian ke Malaysia. Orang-orang yang sebelumnya gak merencanakan ke Malaysia-pun jadi bepergian kesana. Kunjungan ke Malaysia jadi meningkat berlipat-lipat. Di Malaysia, mereka pasti menginap, mereka kemudian memenuhi banyak hotel disana. Mereka pasti juga makan, wisata kulinerpun menjadi hidup dengan banyak pengunjung. Pengrajin souvenir dan barang khas juga kebanjiran order. Selama di Malaysia, para wisatawan juga bepergian ke banyak tempat, rental mobil dan motor menjamur.

Sekarang coba dihitung lagi, Air Asia menjual tiket yang sangat murah, emang rugi, tapi akan ada banyak hotel dan penginapan berbagai kelas yang terisi penuh, tempat wisata yang padat pengunjung, pengunjung warung dan restoran yang ramai, toko-toko berbagai macam kebutuhan yang laris, rental mobil, motor dan berbagai sarana transportasi yang sibuk mengantarkan banyak penumpangnya!!

Apabila berlangsung dalam waktu yang lama. Hotel-hotel baru akan dibangun, tempat wisata baru bermunculan, restoran baru yang muncul, pusat perbelanjaan dan sarana transportasi yang semakin ramai. Semuanya membutuhkan banyak tenaga kerja, pengangguran sangat sedikit, bahkan harus mendatangkan  tenaga kerja dari luar negeri. Penduduk semakin sejahtera!

Air Asia memang sengaja dibuat rugi, karena akan memberikan multiplier effect atau efek berganda yang menguntungkan!

Untuk menarik minat pedagang tidak lagi berjualan di jalan, Jokowi merenovasi Blok G Pasar Tanah Abang khusus untuk pedagang kaki lima. Sewapun dimurahkan, bahkan diberikan gratis uang sewa untuk 6 (enam) bulan pertama. Jika kebijakan ini diberlakukan secara konsisten dibanyak tempat di Jakarta, akan menimbulkan multiplier effect yang positif.

Tempat berdagang yang nyaman dan murah akan banyak mendatangkan pembeli. Pembeli yang banyak adalah berkah. Banyak pembeli akan meningkatkan penjualan. Penjualan yang banyak akan meningkatkan order kepada para produsen. Produsen yang kebanjiran order akan meningkatkan produksi, pabrik diperbesar dan tenaga kerja baru banyak direkrut.

Bukan hanya penduduk Jakarta, banyak pendatang dari luar daerah datang bahkan juga dari luar negeri.Penjualan semakin meningkat. Dan akan banyak pusat perbelanjaan baru, akan banyak pabrik baru dan akan banyak tenaga kerja yang dibutuhkan. Penduduk semakin sejahtera!

Sebuah warung dalam menyajikan menunya memerlukan banyak bahan baku. Ada beras, sayuran, buah-buhan, bumbu masak, daging, ikan, gas, tissue, alat-alat dapur, minuman dan lainnya. Ada banyak pemasok barang yang semuanya bersumber dari petani, peternak, produsen minuman dan jasa lainnya. Ada banyak tenaga kerja yang terlibat, mulai tukang masak, pelayan, tukang cuci piring, tukang antar, kasir dan lainnya. Jika warungnya rame, ia akan lebih banyak lagi memerlukan bahan baku. Akan memerlukan lebih banyak pemasok dan akan memerlukan lebih banyak lagi petani, peternak dan produsen lainnya. Sebuah contoh kecil multiplier effect.

efekdominoSeorang teman yang ingin mempunyai pendapatan tambahan memulai usaha baru disebuah desa tak jauh dari Jakarta. Ia memilih usaha peternakan ayam petelur. Ia memulainya dengan sangat antusias. Mendirikan kandang-kandang, rumah dengan kamar-kamar untuk pekerjanya dan juga kendaraan untuk transportasi. Beberapa tahun kemudian saya bertemu lagi, dan menanyakan perkembangan usahanya. Jawabnya ‘Saya tutup, pusing, banyak pungutannya, baik pungutan resmi maupun enggak,  belum lagi premannya. Jalan ke pasar juga sering jelek, bikin telur bayak yang pecah!’.

Ia terpaksa menutup usaha peternakan ayamnya. Otomatis memberhentikan juga karyawannya.

Seorang teman yang punya usaha peleburan aluminium sering memilih berbohong menyuruh karyawannya mengatakan kalau ia tidak ada ditempat jika ada orang pemerintahan yang datang ingin menemuinya di pabriknya. Orang pemerintahan yang ia maksud bermacam-macam, mulai dari tingkat desa sampai ditingkat kabupaten dan juga dari TNI/Polri. Komentarnya ketika saya menanyakan kenapa ia menutup pintu: ‘Jika saya bertemu dengan 5 orang pemerintahan, maka saya akan bertemu dengan 5 masalah yang berbeda!’. Karenanya, teman saya memilih berhati-hati untuk ekspansi perusahaannya, menghindari banyaknya biaya yang gak jelas peruntukannya, bahkan ia lebih suka merencanakan untuk ekspansi diluar Indonesia.

PT Indonesia Semen Tbk yang terdiri dari beberapa BUMN produsen Semen sekarang juga mempunyai pabrik semen di Vietnam yaitu Thang Lhong Cement Company, bahkan bersiap-siap mengakuisisi pabrik semen di Bangladesh. Tentu ada alasan khusus kenapa holding company tersebut lebih memilih menanam uangnya di Vietnam daripada di Indonesia sendiri. Saya teringat, puluhan tahun silam, Indocement berminat mendirikan pabrik semen di Madura dan telah membebaskan ratusan hektar tanah di Pulau Madura. Rencana tersebut kandas, karena penolakan dari masyarakat. Seandainya saja tidak ada penolakan dari masyarakat atas pabrik semen tersebut, tentunya akan lebih banyak orang Indonesia yang dipekerjakan daripada mempekerjakan orang Vietnam seperti sekarang.

Bukan hanya di Bangkalan Madura yang terjadi penolakan terhadap pembangunan Pabrik Semen . Tetapi juga di Maros Sulawesi Selatan dan Pangandaran Jawa Barat pada bulan November 2013 ini, Dan para investor-pun lebih baik balik punggung daripada memperoleh prospek yang tidak cerah di masa depan, dan memilih berinvestasi di negara lain yang lebih kondusif.

Tingkat keamanan sosial yang buruk dan juga banyaknya macam pungutan liar dan korupsi juga menimbulkan multiplier effect, tetapi multiplier effect yang buruk dan sering disebut efek domino! Runtuhnya satu domino yang akan menimbulkan keruntuhan domino yang lain!

Semoga akan semakin banyak pemimpin bangsa dengan integritas tinggi yang kebijakannya akan menimbulkan multiplier effect yang baik bagi Indonesia!

Dipublikasi di Opini | Tag , , | 2 Komentar

‘Diam’

itikaf

Ada banyak istilah yang mungkin berkonotasi sama dengan ‘diam’, seperti meditasi, instropeksi diri, retreat, perenungan, rehat dan sebagainya. Dan semua kegiatan tersebut hanya bisa dilakukan ketika kita ‘diam’ dengan tenang, berhenti dari kegiatan yang lain, memusatkan perhatian, tidak tegang  dan tidak tergesa-gesa.

Kelihatannya sepele, tetapi banyak kegiatan ibadah, ‘puncak’ dari suatu prosesi ibadahnya adalah dengan ‘diam’.

Dalam shalat, tuma’ninah adalah salah satu rukunnya. Artinya tuma’ninah harus dilaksanakan dalam setiap gerakan shalat agar sah shalatnya. Tuma’ninah artinya tenang dan diam sejenak. Tuma’ninah dalam shalat adalah aspek meditasi, dan itu tidak mungkin bisa dilakukan bila jiwa tidak tenang, tegang dan terburu-buru.

Pun didalam pelaksanaan ibadah puasa Ramadan. Ada eskalasi peningkatan keimanan dalam jiwa pada setiap hari dari puasa yang kita lalui. Pada saat 10 hari terakhir, disunnahkan untuk melakukan itikaf. Itikaf artinya ‘berdiam diri’, dilakukan didalam masjid, melakukan perenungan dan kegiatan peningkatan keimanan. Bisa dikatakan, bahwa ‘mahkota’ dari ibadah puasa untuk diri sendiri dan secara personal adalah dengan melakukan itikaf, dan untuk yang bersifat sosial dan komunal adalah dengan membayar zakat fitrah dan shalat Idul Fitri berjemaah.

Pelaksanaan ibadah haji juga tidak luput dari kegiatan ‘diam’. ‘Mahkota’ haji disematkan ketika para calon haji selesai melakukan prosesi ‘wukuf’ di Arafah. Wukuf artinya ‘berhenti’. Tentu tidak sekedar ‘berhenti’, banyak melakukan kegiatan perenungan, mengingat Allah (dzikir), memohon ampun kepada-Nya dan mengadu kepada-Nya. Pada saat wukuf di Arafah, kita seakan dibangkitkan dari kematian, berada dalam padang masyhar, dan kita merenungkan perjalanan kehidupan kita yang diputar ulang untuk menerima pembalasan. Subhanallah!

Tuma’ninah dalam shalat, i’tikaf pada waktu ibadah puasa Ramadan, dan wukuf di Arafah ketika kita melaksanakan ibadah haji, mengisyaratkan betapa pentingnya ‘diam’.

Apabila kita melaksanakannya semua ibadah tersebut dengan baik, betapa banyak ‘meditasi’ yang telah kita lakukan, yang seharusnya membuat hati kita lembut. Semoga Allah menjadikan kita orang yang berserah diri kepada-Nya.

Dipublikasi di Renungan | Tag , , | Tinggalkan komentar

Para atasan…

Leadership

Pengalaman loncat beberapa perusahaan saat saya bekerja, membuat saya punya banyak mantan atasan. Kultur perusahaanpun beraneka, ada BUMN, perusahaan swasta lokal dan nasional dan juga MNC. Yang MNC pun ada yang timur dan juga dari barat.

Para atasan tersebut mempunyai karakter masing-masing. Karakter unggul yang mereka miliki membuat saya yakin mengatakan ‘Bahwa karakter unggul itulah yang membuat mereka terpilih menjadi atasan!’. Tentu, ada beberapa anomali, atasan yang seharusnya tidak mempunyai sifat yang tidak semestinya, dan biasanya, secara seleksi alam, atasan tersebut tidak akan lama bertahan.

Yang akan saya tuliskan adalah yang mempunyai karakter unggul, yang sedikit banyak mempengaruhi saya, dan apabila itu suatu hal yang baik, kenapa tidak saya share aja… Hehehe…

Mungkin karena banyak dapat didikan luar negeri, suasana kantor yang multi bangsa, membuat atasan pertama saya adalah seorang yang egaliter. Dia memperlakukan bawahan sebagai seorang teman, tidak ada instruksi yang kaku, dan sama sekali tidak ada sekat! Kalau ada kesulitan dia siap membantu, sangat peduli! Down to earth tidak membuat seorang atasan menjadi kehilangan wibawa, bahkan kalo saya lihat, egaliter akan membuat proses kerja lebih efektif!

Gigih dan bicara berdasarkan data! Tuh dia profil atasan ditempat kerja yang kedua. Meski dia adalah atasan dari atasan saya, tapi saya kebanyakan merasa ‘click’ dengan dia. Bisa dibilang, awal-awal karier itu masa pembentukan karakter, dan dimasa itu kita seolah-olah mencari warna diri kita, dan sering terombang-ambing dan tidak mempunyai ‘sikap’. Karena itu kita sering mencari role model dari kepemimpinan atasan.

Orangnya sangat sederhana, tutur katanya lembut dan jarang banyak berbicara. Tetapi ia diakui sebagai problem solver. Karena jarang bicara, jika bicara malah seakan mempunyai kekuatan magis yang membuat lawan bicara ataupun audiens jadi hening untuk mendengarkan apa yang akan ia bicarakan. Kekuatannya di data! Data tentunya ada referensi, dan referensi kita ketahui tentu kalau kita rajin mempelajarinya. Jika fakta yang kemudian diungkapkan, lengkap dengan angka dan detail lainnya, maka audiens akan cepat untuk mengamininya. Yang sering terjadi adalah banyak orang berbicara ‘ngawur’ seenak perutnya tanpa tahu apa yang dia katakan itu benar atau gak, atau sering terjadi orang mempunyai fakta yang setengah-setengah, sehingga jika ditelusuri lebih jauh dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih investigatif, ia akan kewalahan, dan akhirnya membuat faktanya jadi tak bersuara!

Atasan yang lain diperusahaan yang kedua ini adalah seorang wanita. Leadership in venus, hehehe. Yang pertama dan terakhir (sampai saat ini!) saya mempunyai atasan seorang wanita. Dia adalah atasan atasannya saya. Yang bisa saya rasakan, saya bisa membedakan antara atasan sebagai seorang leader dengan atasan yang hanya sebagai seorang manager saja. Dan ia adalah seorang leader!

Dari segi pengetahuan teknis, ia dengan terang-terangan sudah ‘mengaku’ kalah dengan para anak buahnya. ‘Kejujuran’ kalo ‘bodoh’ itu malah membuat anak buahnya jadi bangga dan seakan memperoleh pengakuan bahwa mereka anak buah yang pintar-pintar. Dia juga bisa membangkitkan spirit para anak buahnya untuk berlomba bekerja, tanpa menjadikannya sebagai beban. Mempercayai anak buah dengan setulusnya! Memang, kepercayaan akan menimbulkan kepercayaan!

Kemudian dia ‘Transparan’, tidak ada yang ditutup-tutupinya (tetapi tidak telanjang ya…). Budaya transparans membuat mekanisme kontrol pada diri sendiri anak buahnya menjadi sangat efektif, dan menular kepada saling kontrol antar teman, sehingga semua mekanisme kerja akan menjadi transparan juga.

Secara berkala, dan sesibuk apapun, akan ada meeting internal. Pada saat itu, dia biasanya akan memotivasi para anak buahnya, mungkin karena seorang psikolog kali dia yah, hehehe. Motivasi akan membuat spirit kelompok gak akan ada matinya.

Karena seorang wanita, dia peka pada etika! Dan etika itu memang sangat perlu dalam dunia kerja, baik korespondensi, melalui telpon, bertatap muka ataupun dalam rapat. Bukan masalah tentang apa yang anda katakan, tetapi cara anda mengatakannya! Dan cara itu adalah etika!

Atasan berikutnya adalah seorang warga negara asing. Secara berkala saya ketemu dia, dan lebih banyak melalui telpon dan email-email serta tele-conference karena memang ruangan kerja yang berbeda negara walaupun ia adalah atasan langsung saya.

Dia sangat menghargai proses atau usaha! Dalam segala hal kita dibolehkan gagal, tetapi satu hal yang harus dilalui sebelumnya: setelah kita berusaha mati-matian! Jadi kalau sejak awal kita tidak mencoba tetapi sudah menyampaikan alasan-alasan penolakan terlebih dahulu dan pesimis, wah bakalan marah besar dia! Usaha yang keras itu yang lebih utama, masalah keberhasilan itu nomer berikutnya.

Mindset bahwa ‘usaha itu lebih baik daripada hasil’ itu membuka pikiran saya. Mindset itu sangatlah religius, karena memang hasil adalah kuasa yang Maha Pencipta, yang diwajibkan dari kita adalah berusaha untuk mendapatkannya. Mindset itu juga membuat kita semangat walaupun gagal, karena kita yakin telah berusaha dengan sebaik-baiknya dan itu akan membuat karakter kita lebih baik, sedangkan masalah hasil itu adalah kuasa ilahi.

Atasan yang terakhir adalah seorang yang sangat sabar! Beberapa hal mungkin akan membuat kita kesal akan kesabarannya, tapi terbukti bahwa sikap sabar itu akan lebih baik hasilnya. Dia juga seorang yang sangat optimis, tidak pernah memandang suatu kegagalan itu sebagai penutup jalan untuk mencapai keberhasilan, selalu dicoba dan dicoba lagi.

Pernah suatu hari, ketika sebuah program kita gagal total dan malah didemo habis-habisan, ia kemudian berkomentar: ‘Hari ini bukannya kita gagal, tetapi kita jadi mengetahui bahwa ada yang kurang dalam persiapan program ini!’ Dahsyat abis kan, positive thinking dan selalu mengambil hikmahnya!

Satu nasehat dia yang sangat berkesan dan berusaha saya pegang teguh, bahwa kalau kita bekerja ataupun memimpin, janganlah kita mempunyai ‘kepentingan’ atau interest, karena hal tersebut yang akan menimbulkan konflik kepentingan yang membuat kita menjadi tidak objektif dan kadang takut bersuara!

Itulah para atasan! Seperti yang saya katakan diawal, karakter unggul seperti itulah yang membuat mereka menjadi yang diatas, memimpin anak buahnya, dan sampai sekarang, mereka masih eksis!

Dipublikasi di Motivasi | Tag , | 5 Komentar