Gaduh

Gaduh, mungkin itu kata yang tepat mengenai situasi Indonesia pada umumnya. Gaduh berarti bising, ramai, tapi tidak disukai untuk didengarkan. Kalau kita memutar musik instrumentalia atau lagu yang kita suka, mungkin sama ramainya, tapi suaranya teratur dan kita suka, yang mendengarkanpun terhibur dan ber-rekreasi lagi.

Gaduh bisa jadi berasal dari bahasa Melayu. Soalnya, kalau dalam bahasa istriku yang Melayu Medan, ‘gaduh’ berarti bertengkar atau cekcok, sehingga kemudian timbul suara bising yang tidak diinginkan tadi.

Habis lepas dari kasus Sampang yang ‘dibikin’ heboh, kemudian sekarang headline tentang teroris kembali menyeruak, menggantikan berita-berita tentang ramenya putaran ke 2 Pilkada DKI dan sidang suap Angie juga pemeriksaan Siti Hartati Murdaya.

Kebetulan, pas lagi heboh-hebohnya kasus Sampang, saya ada di Sampang – Madura. Sekitar dua hari sesudah kejadian, ada rombongan setingkat menteri berkunjung kesana dengan menggunakan 2 helikopter. Entah apa yang dilakukan pejabat tinggi untuk kasus seperti ini, ikut turun langsung mengatasi masalah, mengawasi kerja anak buah di daerah, sekedar melihat kejadian atau apa? Yang jelas semakin menambah heboh dan gaduh. Kasus yang semula ‘kriminal biasa’ tingkat lokal naik daun menjadi masalah nasional. Televisi dan media cetakpun memperbesar volume kegaduhannya. Tiap hari memberitakan tentang Sampang, dan komentar-komentar dari orang-orang yang diberi gelar pakar-pun bermunculan. Para pakar itu melihat dari kejauhan, mendengarpun sepotong-sepotong dan bahkan menginjak Madura-pun banyak yang belum pernah, tetapi kemudian menjadi pandai berkicau.

Kemudian dalam sekejap, berita Sampang bagai hilang ditelan bumi, ketika teroris Solo dibekuk. Dan juga diiringi dengan penangkapan teroris yang di Jakarta, Sukabumi dan Depok. Berita Sampang bener-bener hilang, padahal masalahnya belum tentu udah tuntas selesai, para petinggi itupun seakan berganti kesibukan dan melupakan Sampang. Para pakar yang bicara ditelevisi dan media juga berganti nama, sekarang saatnya para pakar teroris ber-talk show.

Kembali ke kasus Sampang. Kalau sebelumnya sempat menghebohkan tapi kemudian dengan mudahnya tenggelam oleh kasus yang lain, akan timbul pertanyaan ‘Apakah memang kasus itu pantas untuk dihebohkan sedemikian rupa?’. Apakah kasus Sampang itu tidak bias karena ‘gaduh’ saja?. Maksud saya, karena pemberitaan yang membikin heboh membuat semua orang jadi ingin melihatnya, dan kemudian setiap orang berkomentar karena ‘kepedulian’ untuk ikut menyelesaikan, yang ujung-ujungnya permasalahanpun bereskalasi naik tingkat, dari yang semula sederhana menjadi diperumit, karena pihak yang bertikai saling mencari sokongan dan pembenaran, kemudian meluas, menjadi bias!!

Tentang kegaduhan ini, mungkin bisa kita bayangkan dengan mengibaratkan kita bertetangga dengan orang yang suka bergaduh dan membuat keributan. Rumahnya sering ramai dengan pertengkaran karena masalah kecil dan sepele, dan kalau udah bertengkar suranya bising dan gaduh, mengundang perhatian tetangga lain. Anaknyapun, yang tidak tahan dengan pertengkaran orang tua, sering menangis meraung-raung, menambah kegaduhan rumah tersebut.

Sebagai tetangga yang peduli, pada awalnya kita akan membantu, sama dengan tetangga-tetangga yang lain yang ikut berdatangan. Karena ikut campur banyak tetangga, satu permasalahanpun selesai. Tetapi ternyata tetangga yang satu ini emang sudah karakternya bergaduh, ada aja yang diributkan!

Sikap kita sebagai tetanggapun juga akan berubah. Kita menjadi berpikir betapa tidak produktifnya tetangga sebelah itu dengan waktu yang dipergunakan hanya untuk bergaduh yang sangat menguras energi, pantaslah anak-anaknya kurus kurang perhatian. Kita juga sebagai tetangga juga berkurang kepeduliannya, karena permasalahan yang mereka alami hanya sepele dan seharusnya bisa diselesaikan tanpa kegaduhan. Dan terakhir, kita akan kurang respek ke tetangga yang suka ribut itu, jangankan mau datang berkunjung untuk bersilaturahmi, kalau bisa rasanya ingin mengusir tetangga itu dari kampung kita!

Yah itulah efek yang akan didapat Indonesia dari negara-negara tetangga apabila ‘rumah kita’ ini sering gaduh. Waktu dan tenaga habis tergerus hanya untuk gaduh, banyak permasalahan yang tidak terurus, sehingga rakyatnya miskin dan kurus-kurus, tetanggapun pada mencibir kita karena selalu membuat keributan, dan mereka enggan untuk datang ke Indonesia baik sebagai turis maupun untuk investasi!

Coba kita bandingkan dengan Jepang setelah terjadinya gempa 9.0 SR yang disusul tsunami pada Maret 2011. Walaupun bencana itu sangatlah parah, tetapi pemberitaan televisi dan media cetak Jepang tidaklah lebay. Tidak ada pemutaran berulang-ulang bencana tsunami itu yang diiringi dengan lagu sendu ala Ebiet G Ade seperti waktu Tsunami Aceh dulu, juga tidak ada potret tangisan dan suasana pilu pengungsian. Yang ada adalah berita yang tidak gaduh, yang menyejukkan dan memberi semangat. Beritanya mengenai peringatan pemerintah agar tetap waspada, himbauan dari pemerintah agar masyarakat bahu membahu, permintaan maaf dari pemerintah atas pemadaman listrik, tips menghadapi bencana, nomer telepon call center bencana, pengiriman tim SAR ke daerah bencana, pengobaran semangat dari pemerintah dan berita positif lainnya. Semangat Gambaru, pantang menyerah sampai titik penghabisan, itulah inti pemberitaannya tentang tsunami tersebut.

Yang diberitakan oleh televisi Jepang adalah bagaimana cara mengatasi suatu masalah dan tindakan nyata untuk mengatasi masalah tersebut. Sedangkan pemberitaan dari Indonesia mengenai suatu masalah biasanya adalah: kenapa masalah itu terjadi sambil mencari kambing hitam apa penyebabnya, kemudian komentar-komentar bagaimana seharusnya  mengatasi masalah itu secara sepotong-sepotong dari kacamata masing-masing pihak yang berakhir di debat kusir. Tiap orang berpendapat bagaimana seharusnya orang lain berbuat, bukan berkata apa yang seharusnya ia bisa perbuat. Hughhhh, capek dehhh!!

Seperti quote dari Eleanor Roosevelt: Small minds discuss people, average minds discuss events and great minds discuss ideas. Pikiran kecil membicarakan tentang orang, pikiran sedang membicarakan peristiwa dan pikiran besar membicarakan gagasan dan ide-ide.

Malu untuk mengatakan bahwa bangsa kita masih termasuk orang-orang yang berpikiran kecil dan sedang saja. Itu tercermin dari gaduhnya ‘rumah kita’ ini dengan pemberitaan dan pembicaraan yang lebih banyak tidak membawa manfaat!

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Opini dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s