Harapan…

Apakah yang membuat seorang ibu bersakit-sakit penuh penderitaan selama 9 bulan mengandung anaknya? Apa yang membuat seorang mahasiswa menjadi giat belajar untuk mencapai nilai-nilai yang baik? Ketika seorang atlet berlatih dengan keras apa yang ia kejar? Apa yang membuat orang berbondong-bondong memilih Jokowi dalam pilgub DKI? Dan apakah juga yang membuat banyak orang bertahan hidup menerjang ganasnya alam untuk mencari penghidupan?

Harapan, itulah yang membuat orang menjadi bersemangat. Dan harapan ada bila diiringi oleh sebuah kepercayaan atau keyakinan!

Sang ibu merasa yakin, bahwa bayi yang dikandungnya akan menjadi anak yang dibanggakannya, dan membuatnya ia bahagia kelak, sehingga anak sering dibilang sebagai tumpuan harapan! Sang ibupun lupa akan penderitaan 9 bulan mengandungnya dan juga selama mengasuhnya. Bukan hanya itu, penderitaanpun bahkan menjelma menjadi suatu kebahagiaan tersendiri seiring dengan tingkat keyakinannya akan indahnya sebuah harapan.

Harapan, itu juga yang menjadi jawaban kenapa seorang pelajar bekerja dengan giat, seorang atlet berlatih dengan keras, jutaan penduduk DKI berbondong-bondong memilih Jokowi dalam Pilgub DKI,  dan banyak orang mempunyai ketangguhan untuk bertahan hidup ditengah kesulitan yang menderanya.

Disisi lain, sebuah harapan kadang ‘membutakan’ akal sehat. Misalnya, pada orang yang sedang jatuh cinta. Sehingga kadang sulit dibedakan, apakah sebenarnya ia mencintai orangnya atau ia mencintai harapannya sendiri? Sering seorang istri mengeluh, karena perlakuan suaminya ‘sudah berubah’ dan tidak ‘seperti dulu’ lagi. Dikatakan bahwa suaminya menjadi seorang yang kasar dalam berkata-kata, selalu menyakiti perasaannya dan mengeluh karena perhatian suaminya sangat berkurang.

Padahal, kadang, sebenarnya tidak ada yang berubah dari suaminya itu. Sinyal-sinyal kalau suaminya kasar, selalu menyakiti hati, dan kurang memberikan perhatian sebenarnya telah ada pada waktu pacaran. Cuman, pada saat itu, harapan dari sang wanita akan indahnya kebahagiaan pernikahan dengan pria pilihannya yang mungkin kaya, ganteng, tersohor atau mungkin karena rayuan gombal telah membutakan inderanya akan sifat-sifat sebenarnya dari sang calon suami. Dan ketika pernikahan terjadi, dimana intensitas hubungan terjadi setiap hari, dan sebuah hubungan sudah dalam suatu ikatan yang mempunyai konsekwensi moral dan sosial, sebenarnya bukan suami yang ‘terbuka topeng’nya, tetapi istri yang terbuka logikanya yang menurunkan keyakinannya akan harapan rumah tangga yang indah bila suaminya masih saja berbuat kasar dan selalu menyakiti hatinya.

Harapan ada seiring dengan tingkat keyakinan atau kepercayaan. Jika harapan adalah sebuah perasaan, maka yang mendorong sebuah tingkat keyakinan atau kepercayaan bisa bersifat logika dan bisa bersifat perasaan.

Ketika berjuta penduduk DKI memilih Jokowi sebagai Gubernur mendatang (2012-2017), dibenak setiap pemilihnya, harapan baru untuk sebuah Jakarta yang bebas macet, banjir dan lebih berkualitas muncul. Harapan itu ada karena sosok Jokowi yang pemberitaan akan sepak terjangnya memberikan keyakinan, kalau ia akan dapat mengatasi permasalahan Jakarta. Kelak, waktu yang akan membuktikan, jika ia memang dapat membuktikan dengan membangun kota Jakarta, mengurai kemacetan, mengatasi banjir dan mengurangi kemiskinan di pemukiman kumuh, maka keyakinan warga Jakarta tidak akan berubah untuk selalu mendukung dia dengan harapan Jakarta yang lebih baik!

Kepada siapakah harapan terbesar disandarkan?

Seorang anak yang digadang-gadang oleh orang-tuanya menjadi sandaran pada hari tuanya bisa jadi harapan tersebut sia-sia karena ternya sang anak menjadi seorang yang durhaka, atau mungkin meninggal lebih dahulu daripada orangtuanya sendiri. Kala kita berharap pada seorang sahabat untuk mendapatkan pertolongan, boleh jadi kita akan sakit hati, karena pada saat yang dibutuhkan, sang sahabat ternyata tidak bisa memberikan bantuan yang diharapkan. Jika kita berbuat baik dengan berharap untuk mendapatkan balasan dari orang, akan sering kita gigit jari, karena tidak semua orang akan membalasnya. Berharap pada Jokowi atau tokoh lain untuk menyelesaikan masalah Jakarta, boleh jadi akan menuai kekecewaan, ketika Jokowi ternyata tidak seperti yang diharapkan.

Ketika harapan kita kandas, apalagi yang telah dibangun bertahun-tahun, kekecewaan yang akan kita dapatkan, sakit hati dan hidup seolah telah berakhir sehingga banyak yang mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Pada saat harapan-harapan yang kita gantungkan ternyata berakhir sia-sia, kita kemudian bergantung kepada harapan-harapan baru, yang kita bangun sendiri dan bisa jadi berakhir sia-sia juga. Padahal, kita memerlukan sebuah harapan yang ‘pasti’ akan memberikan kesuksesan sebagai semangat untuk menjalani hidup. Lalu kepada siapakah harapan tertinggi perlu ditambatkan?

Kepada Allah SWT-lah seharusnya semua harapan disandarkan. Dan harapan akan disandarkan kepada Allah SWT apabila kita mempunyai kepercayaan dan keyakinan keberadaan-Nya dan suatu saat nanti akan menemui-Nya. Keyakinan bahwa hidup didunia bukanlah kehidupan satu-satunya, dan suatu saat nanti kita harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kita perbuat di dunia ini.

Dengan-Nya kita tidak akan pernah kecewa. Kita berbuat baik semata-mata ditujukan hanya kepada-Nya. Orang tua mengasuh anaknya dengan tujuan untuk memperoleh keridhaan-Nya karena memang perintah dari Allah untuk tidak meninggalkan anak dalam keadaan terlantar. Membantu tetangga hanya karena mengharapkan kebaikan dari Allah, karena memang itu perintah-Nya. Mungkin juga kita telah berbuat benar, tetapi merasa diperlakukan tidak adil oleh seseorang selama didunia, tapi ingatlah bahwa dunia bukanlah akhir dari kehidupan kita. Semua yang kita perbuat kita sandarkan harapan pada-Nya. Dengan keyakinan bahwa Allah memberikan apa yang kita butuhkan untuk kebaikan kita, bukan hanya apa yang kita inginkan.

Barangsiapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.

-Qs Al Ankabuut 29:5-

Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Tuhan; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami, terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amat buruklah apa yang mereka pikul itu.

-Qs Al An’aam 6:31-

Semoga kita selalu diberi petunjuk dan kesadaran untuk selalu menyandarkan harapan kepada Allah SWT, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang!

Pos ini dipublikasikan di Renungan dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s